
Sore hari Naura sudah terlihat rapi dengan pakaian casual celana jeans berwarna biru dan kaos putih polos. Rambutnya yang panjang dia ikat ke belakang menunjukkan leher jenjangnya yang putih mulus. Wanita itu masuk ke dalam mobil. Mendaratkan tubuhnya di kursi kemudi. Baru saja menyalakan mesin mobil, terlihat mobil Andreas yang baru saja masuk ke garasi tepat disamping Naura.
Andreas langsung turun dan menghampiri istrinya.
“Kau mau kemana?”
“Ehm…” rasanya Naura malas menjawab pertanyaan Andreas.
“Naura.” Andreas mematikan mesin mobil.
“Kak…”teriak Naura saat kontak mobil miliknya dicabut oleh Andreas.
“Tunggu disini aku akan berganti baju dan mengantarmu.” Kedua mata Naura mengamati langkah Andreas yang terburu-buru masuk ke dalam rumah. Tidak berselang lama Andreas keluar dengan pakaian santainya. Celana jeans yang senada dengan warna Naura dan kaos polos. Dengan membawa sebuah sweater di tangan.
“Pakailah, semakin malam udara semakin dingin.” Andreas membuka pintu mobil memberikan sweter tersebut dan meminta Naura untuk bergeser ke kursi samping.
“Terima kasih.”
“Berangkat sekarang.” Andreas menyalakan mesin mobil kemudian melajukan mobil dengan kecepatan sedang.
“Kau mau kemana?”
“Mall.”
“Baiklah.”Andreas kemudian mengarahkan laju mobilnya menuju salah satu mall yang ada pusat kota.
Setibanya di mall Andreas langsung memarkirkan mobilnya di parkiran yang memang dikhususkan untuk mobil. Bersama deretan mobil-mobil yang lain yang terparkir rapi berjejer disana. Dia membuka pintu mobil mengajak Naura untuk turun dan masuk ke dalam mall.
“Kau ingin membeli sesuatu disini?” tanya Andreas.
“Tidak, aku hanya ingin jalan-jalan saja. Bila kau lelah kau boleh pulang aku akan naik taksi nanti.” Naura tidak ingin membuat repot Andreas. Dia tahu lelaki itu lelah sebab dia baru saja pulang dari kantor.
“Tidak aku akan menemanimu. Kebetulan dua hari lagi mama ulang tahun. Aku sekalian akan mencari kado untuk mama.”
“Apa? Mama mau ulang tahun.”
“Benar.”
“Kenapa kakak tidak memberitahuku.”
__ADS_1
“Ini aku sudah memberitahumu.” Ucap Andreas santai kemudian menuntun langkah Naura untuk masuk ke salah satu brand tas ternama.
“Kau ingin membelikan mama tas?”
“Bukan aku tapi kau. Pilihlah sesuai seleramu untuk mama. Aku rasa sesama perempuan pasti selera kalian tidak jauh beda.” Naura berkeliling namun belum ada satu tas yang menarik perhatiannya.
“Kak bolehkah aku memilih hadiah yang lain?” Andreas menautkan kedua alisnya. Meletakkan majalah bisnis yang sebelumnya dia baca untuk menunggu Naura saat memilih tas.
“Apa tidak ada yang menarik untukmu?” Naura menggeleng menjawab pertanyaan Andreas.
“Baiklah , kalau begitu kau ingin membeli apa?” Andreas menggenggam tangan Naura untuk keluar toko. Mereka melihat-lihat seisi mall. Hingga sebuah toko perhiasan menjadi pusat Naura. Wanita itu menghentikan langkah membuat Andreas pun ikut menghentikan langkahnya. Andreas melihat kemana arah pandang Naura. Lelaki itu tersenyum kemuadian mengajak Naura untuk ke toko itu.
“Kau ingin kesana?” Naura mengangguk.
Naura sudah berdiri di depan etalase. Dimana segala jenis perhiasan tersusun rapi disana. Mulai dari kalung ,gelang,anting ,cincin dan perhiasan lainnya. Sebuah kalung bermata berlian ditengahnya menarik perhatian Naura.
“Permisi, boleh saya lihat kalung ini?” ucap Naura ramah kepada salah satu pelayan toko disana.
“Yang ini nona.” Naura mengangguk, pelayan itu mengambil kalung yang dimaksud oleh Naura dan memberikan kalung itu kepada Naura.
“Cantik sekali.” Naura memperhatikan setiap inci kalung yang baru saja dia pegang dan lihat lebih dekat.
“Berapa harga untuk kalung ini?” Naura tidak bisa menyembunyikan kekagumannya dengan kalung itu.
“500 juta nona.” Pelayan toko tersenyum ramah saat menyebutkan nominal harga kalung tersebut.
“500 juta.” Naura menelan ludahnya saat mengulangi berapa nominal harga kalung tersebut. Dia pikir harganya tidak lebih dari 100 juta. Jadi dia bisa patungan dengan Andreas untuk membeli kalung itu. Namun siapa sangka kalung dengan aksen berlian itu dibanderol dengan harga setengah milyar.
“Baiklah, kalung ini terlalu mahal untukku aku pikir harganya tidak lebih dari 100 juta.” Naura mengembalikan kalung itu kepada pelayan toko. Pegawai wanita itu tersenyum walaupun Naura tidak jadi membelinya. Andreas mendekat saat Naura tidak jadi mengambil kalung tersebut.
“Kenapa? Kau tidak jadi membeli kalung itu?”
“Tidak, kita cari barang lain saja.” Nampak raut sedih di wajah Naura.
“Bungkus kalung tadi dan selesaikan pembayarannya segera.” Andreas memberikan kartu kepada pelayan toko. Dan wanita ramah yang melayani Naura tadi segera menggesek kartu tersebut untuk menyelesaikan transaksi.
“Silahkan nona, ini milik anda sekarang.” Pelayan toko menyerahkan paper bag kecil berisi kalung tadi dan menyerahkan kembali kartu milik Andreas. Tidak lupa mengucapkan terima kasih sebelum sepasang suami istri itu pergi meninggalkan toko.
Di salah satu sudut mall sepasang mata memperhatikan mereka Ketika keluar dari toko perhiasan dengan bergandengan tangan. Celine sudah merasakan jika Andreas mulai menaruh perhatian dengan kekasihnya. Dia tidak bisa tinggal diam. Dia harus berbuat sesuatu. Kemudian wanita itu mengambil ponsel yang sebelumnya dia simpan di dalam tas. Mencari salah satu kontak yang bernama Stevan.Dia pun melakukan panggilan segera.
__ADS_1
“Halo.”
“Sayang aku butuh bantuanmu.”
***
Hari ini semua keluarga akan berkumpul untuk merayakan ulang tahun mama Andreas. Namun seperti biasa adik Andreas hanya mengirim hadiah ke mamanya tanpa datang. Hal itu membuat mama Andreas sedikit bersedih. Anak itu selalu saja mementingkan kepentingan pribadi dengan teman-temannya.
“Jangan sedih ma, bukankah itu sudah biasa.” Ucap papa Andreas saat istrinya melihat hadiah yang baru saja dikirim oleh putranya.
“Iya pa.” mereka berdua pun duduk di meja di salah satu hotel bintang lima. Menunggu satu per satu keluarga yang mulai berdatangan.
Sementara di rumah Andreas dan Naura masih Bersiap di dalam kamar. Naura baru saja memoles wajahnya dengan make up tipis dan natural. Membuat wanita itu terlihat cantik alami.
“Kak apa kau sudah siap?”
“Belum, tunggulah sebentar.” Naura yang sudah berdiri kembali duduk di depan meja rias. Andreas membuka lemari mengambil sebuah kotak berisi kalung yang dia beli bersama Naura.
“Ini untukmu.” Naura tiba-tiba mengangkat wajahnya menatap cermin. Setelah sebelumnya memainkan ponsel untuk menunggu Andreas bersiap.
Andreas mengaitkan pengait kalung tersebut ke leher Naura. Mengangkat rambut Naura yang tergerai agar kalung tersebut tidak tersangkut.
“Bukankah ini hadiah untuk mama? Aku tidak bisa memakainya.” Naura hendak melepas kalung tersebut namun dicegah oleh Andreas.
“Kak.”
“Aku sudah membelikan satu set perhiasan untuk mama, kamu tidak perlu khawatir. Ayo berangkat.” Andreas mengulurkan tangan kepada Naura. Mengajak istrinya untuk pergi berangkat ke hotel dimana acara diadakan.
“Selamat malam ma, pa.” sapa Naura.
“Malam sayang.” Mereka pun saling menempelkan pipi secara bergantian sebagai salam pertemuan. Naura duduk di samping Andreas setelah lelaki itu menarik kursi untuk istrinya.
Acara makan malam dalam rangka ulang tahun mama berjalan dengan lancar. Hingga semua orang memberikan hadiahnya masing-masing kepada mama.
“Ini untuk mama dari kami.” Andreas memberikan satu kotak perhiasan untuk mamanya.
“Kalian tidak perlu repot-repot. Padahal bukan hadiah ini yang aku harapkan.” Keluh mama yang selama ini sedang menunggu kabar bahagia dari mereka.
“Memang apa yang mama inginkan dari kami?” Naura pun penasaran dengan jawaban mama. Namun dia ingin minum terlebih dahulu karena tenggorokannya terasa kering. Terlalu asyik mengobrol dengan anggota keluarga yang lain.
__ADS_1
“Tentu saja cucu.”