
Zean mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang. Jarak dari perusahaan Naura ke perusahaan Andreas cukup dekat hanya memakan waktu kurang dari tiga puluh menit.
Zean melirik ke arah Naura yang sedari tadi menatap keluar jendela. Melihat pemandangan malam jalanan yang dipenuhi dengan lampu-lampu penerangan dan lampu kendaraan yang berlalu lalang di jalan.
“Naura.” panggil Zean.
“Iya.” Naura mengalihkan pandangan menatap wajah Zean yang sedang fokus mengemudi.
“Boleh aku bertanya?” ucap Zean pelan.
“Boleh, apa yang ingin kau tanyakan?” Naura memperbaiki posisi duduknya. Menatap Zean untuk mendengar apa yang ingin pria itu ketahui darinya. Jarang-jarang Zean yang dingin dan tidak banyak bicara bertanya dengan dirinya terlebih dahulu. Biasanya dia yang mulai pembicaraan terlebih dahulu jika bertemu.
Zean berdehem sekali sebelum bertanya. Jujur dia sedikit takut jika Naura berpikir macam-macam dengan apa yang hendak dia tanyakan.
“Apa kau mempercayai Andreas?” Naura memicingkan mata menatap Zean sesaat setelah ucapan itu keluar dari bibir Zean.
“Apa maksudmu Zean?”
“Dalam setiap hubungan pasti akan selalu ada cobaan. Dan salah satu pondasi agar hubungan tetap berjalan baik adalah dengan saling percaya pada pasangan. Dan apakah kau akan tetap percaya dengan Andreas jika suatu saat dia akan jujur dengan sesuatu hal yang membuatmu kecewa dengan masa lalunya?” Naura terdiam belum berniat menjawab ucapan Zean. Melihat reaksi Naura Zean kembali berucap. “ Karena setiap manusia pasti memiliki masa lalu yang mungkin bisa mempengaruhi masa depannya. Dan apakah kau siap seumpama masa lalu Andreas tidak sebaik yang kau kira? Ini hanya umpama ya dan belum tentu juga terjadi.”
Selama pernikahan mereka Naura memang tidak pernah bertanya tentang masa lalu suaminya. Yang dia tahu hanya sebelum menikah dengan dirinya. Lelaki itu memiliki wanita idaman lain yaitu Celine. Mungkinkah ada masa lalu lain selain wanita itu.
“Aku tidak tahu Zean. Yang aku tahu sekarang hubungan kami atau pernikahan kami baik-baik saja. Dan semoga masa lalu itu tidak menggoyahkan hubungan kami. Dan semoga kami dapat melewati setiap ujian dan rintangan dalam menjalani kehidupan rumah tangga.” Zean senang Naura memiliki pemikiran seperti itu.
Mobil Zean berhenti tepat di depan lobby. Naura turun disana sedangkan Zean memarkirkan mobilnya di tempat parkir mobil.
__ADS_1
Saat ingin masuk ke dalam lift tiba-tiba saja ada seseorang yang menarik lengan Naura dengan kasar. Membawanya ke sudut tembok.
“Celine.” Lirih Naura saat melihat siapa yang menariknya.
“Apa kabar Naura?” tanya Celine dengan tatapan tidak suka saat melihat wanita berstatus istri Andreas itu datang.
“Kabarku baik.” Naura memberikan seulas senyum kepada wanita yang usianya sama dengan suaminya.
“Sedang apa kau disini?”
“Tentu saja menemui suamiku.” Naura memberi penekanan di akhir kalimatnya.
Celine nampak murka namun dia masih bisa mengontrol emosinya. Wanita itu mendekat kemudian berbisaik di dekat daun telinga Naura. “Aku baru saja menemui laki-laki yang kau anggap suami. Dan dia adalah kekasihku. Kau tidak lupa kan? Dan kami baru saja…” Celine menggantung kalimatnya. Dia menatap lekat-lekat wajah Naura. Sejenak keheningan tercipta diantara dua wanita itu.
“Kau pasti tahu maksudku, kan?”
Naura pergi meninggalkan Celine begitu saja. Dia begitu malas meladeni wanita itu. Naura memasuki ruangan Andreas dan menghampiri suaminya yang masih sibuk dengan berkas di atas meja.
Andreas dibuat terkejut saat tiba-tiba Naura duduk di pangkuannya. Wanita itu mengalungkan kedua tangannya pada leher Andreas. Kemudian mengecup singkat bibir lelaki itu.
“Mulai nakal kamu ya.” kedua sudut bibir Andreas melengkung ke atas. Kemudian memeluk pinggang Naura agar lebih merapat.
“Jangan bergerak sayang.” Pinta Andreas dengan suara parau.
“Kenapa?” Naura justru menggerak-gerakkan tubuhnya diatas pangkuan Andreas.
__ADS_1
“Kau membangunkan sesuatu yang sedang tidur. Dan kau harus tanggung akibatnya.”
Andreas mengangkat tubuh Naura. Membawa istrinya ke dalam sebuah ruangan seperti kamar. Namun tidak terlalu luas dan juga tidak terlalu sempit. Ruangan itu sengaja Andreas buat saat dirinya harus lembur dan mengharuskan dirinya menginap di kantor.
Pergumulan singkat terjadi disana. Naura memandang wajah Andreas yang penuh dengan keringat namun tidak mengurangi ketampanan lelaki itu. Tubuh keduanya masih saling memeluk walau tanpa penghalang. Saling berhadap-hadapan di atas ranjang.
Sejujurnya perasaan Naura sedang tidak baik-baik saja setelah percakapannya dengan Celine tadi. Dia tidak tahu harus percaya siapa. Satu yang dia tahu bahwa dia sangat mencintai Andreas.
“Sayang.”
“Ehm.” Naura mengeratkan pelukannya di tubuh Andreas. Seakan ada ketakutan tersendiri yang menghinggapi hatinya.
“Aku harus menyelesaikan pekerjaanku segera. Dan kita bisa melanjutkan ini nanti di rumah.”
Mereka pun memakai kembali pakaian yang sebelumnya berserakan di lantai akibat ulah Andreas. Kemudian keluar ruangan dengan saling bergandengan tangan. Disana mereka sudah mendapati Zean yang duduk di sofa sambil makan makanan yang baru saja dia bawa. Kehadiran Zean membuat Naura merasa malu. Seakan sudah terpergok melakukan sesuatu yang tidak-tidak.
“Sedang apa kau?” tanya Andreas.
“Tentu saja makan. Apa kalian tidak lapar setelah olah raga ranjang?”
Blush…
Kedua pipi Naura bersemu merah. Merasa malu kegiatannya diketahui oleh orang lain. Sedangkan Andreas terlihat lebih cuek. Dia tidak peduli dengan ucapan Zean yang terkesan menyindir dirinya.
“Ini makanan untuk kalian.” Zean menunjukkan dua buah kotak makan yang baru saja dipesan dan diantar oleh ojek online.
__ADS_1
“Kau makanlah aku akan menyelesaikan pekerjaanku dengan cepat.” ucapan Andreas mendapat anggukan dari Naura. Kebetulan dia memang belum makan. Dan sekarang perutnya terasa sangat lapar.
Tidak ada percakapan diantara Zean dan Naura. Meskipun sesekali Zean melihat Naura namun wanita itu berpura-pura untuk tidak melihat karena merasa malu. Zean hanya tersenyum melihat wajah dan sikap Naura yang terkesan malu dengan dirinya. Mereka berdua menghabiskan makan dalam keheningan sambil menunggu Andreas menyelesaikan pekerjaannya.