Enam Bulan Menikah

Enam Bulan Menikah
Bab31


__ADS_3

Hacing….


Bunyi bersin untuk ketiga kalinya dirasakan oleh Celine. Saat ini dia sedang berkendara menuju perusahaan Andreas dengan membawa hasil pemeriksaan kehamilan miliknya. Sudah beberapa hari dia menghubungi Andreas meminta untuk bertemu namun tidak satu pesan pun dia balas. Dan tidak satu panggilan telepon diangkat oleh kekasihnya.


Sementara Naura yang mendengar pernyataan Andreas terdiam. Ada rasa bahagia dihati namun tidak tahu kenapa ada rasa aneh lain yang dia rasakan juga. Seperti perasaan tidak nyaman. Entahlah dia merasa ada sesuatu yang akan terjadi. Tetapi dia pun tidak tahu hal apa itu.


“Aku akan mengakhiri hubunganku dengan Celine.” ulang Andreas.


“Kenapa? Bukankah kalian saling mencintai.” Ada sedikit rasa sesak yang menyelimuti hati Naura saat mengatakan itu.


Andreas tidak menjawab dia memegang dagu Naura kemudian membenamkan bibirnya diatas bibir ranum istrinya. Dengan lembut Andreas terus mencium bibir Naura hingga lama kelamaan gadis itu membalas ciuman yang Andreas berikan. Lelaki itu memperdalam ciuman hingga menimbulkan hasrat yang mulai menjalar di sekujur tubuhnya. Bahkan tangannya mulai bergerilnya masuk ke dalam baju Naura. Hal yang tidak pernah Andreas lakukan selama berpacaran dengan Celine. Tapi dengan Naura lelaki itu sangat sulit untuk menahan has*ratnya.


Selama ini Andreas hanya sekedar melakukan ciuman saja dengan Celine. Tidak lebih meskipun Celine sering menawarkan tubuhnya untuk dia jamah tetapi Andreas selalu menolak dengan alasan dia berniat menjaga Celine hingga malam pertama mereka nanti. Namun apa yang dia jaga justru Celine yang merusaknya dengan memberikan obat perangsang. Hingga penyatuan tubuh mereka harus terjadi karena pengaruh obat itu.


Semenjak itu Andreas mulai ragu dengan Celine. Sebab setelah percintaaan yang mereka lakukan Andreas tidak melihat ada noda merah diatas sprei. Andreas enggan bertanya dia sudah terlanjur kecewa dengan Celine. Terlebih Celine seperti sudah sangat pandai dalam urusan di atas ranjang. Itu juga menjadi keraguan tersendiri dihati Andreas.


Ciuman Andreas turun ke leher Naura hingga memunculkan getaran yang membuat tubuhnya merasakan sensasi yang nikmat. Lenguhan yang keluar dari bibir Naura membuat hasrat keduanya memanas. Suara cecapan terdengar merdu di dalam mobil.


Hingga dering ponsel yang berbunyi kencang membuat aktifitas keduanya terpaksa terhenti.


“Mengganggu saja.” Umpat Andreas merasa kesal karena kegiatan panas mereka menjadi terusik.


Naura merapikan rambut dan bajunya yang sedikit berantakan karena ulah Andreas. Dia mencuri dengar pembicaraan Andreas dengan asisten pribadinya. Bahwa ada seseorang yang menunggu suaminya di kantor. Tidak jelas siapa yang menunggu karena Andreas sedikit menjauhkan ponsel miliknya saat nama itu disebut.


“Untuk apa dia datang.” gumam Andreas setelah sambungan telepon terputus.

__ADS_1


“Aku harus kembali ke kantor. Ada klien yang sedang menunggu disana.” Bohong Andreas tidak mungkin dia memberitahu Naura jika Celine lah yang menunggu dirinya di kantor.


“Kau ingin aku antar kemana?


“Aku ingin pulang saja.”


“Baiklah aku akan mengantar kau pulang terlebih dahulu.” Naura mengangguk karena memang arah rumah dan perusahaan Andreas searah.


“Aku akan menyelesaikan semuanya dan kita bisa menjalani pernikahan kita layaknya pernikahan pada umumnya.” Naura menoleh ke arah Andreas yang masih fokus dengan kemudinya.


Andreas melempar senyum saat Naura menatapnya. Kemudian menggenggam tangan istrinya. Entah sejak kapan perasaan ini muncul yang jelas dia tidak ingin Naura disentuh atau bahkan dimiliki oleh lelaki lain.


“Sepertinya aku mulai menyukaimu Naura. Maukah kau memulainya dari awal?”


Mobil Andreas sudah tiba di parkiran. Jantung Naura berdegup kencang saat lelaki itu membukakan seatbelt untuk dirinya. Hembusan nafas Andreas yang menerpa wajahnya membuat Naura meremang. Ada rasa ingin menyentuh kembali bibir tebal milik suaminya. Namun dia tidak berani untuk memulai terlebih dahulu.


Tatapan wajah Naura membuat Andreas seperti terhipnotis. Dia kembali mencium bibir ranum milik istrinya. Bibir yang sudah menjadi candu baginya. Ciuman yang lembut kini berubah menjadi lu*matan yang begitu menuntut ingin lebih. Bahkan keduanya kini saling mencecap rasa manis pada bibir masing-masing di sela-sela pertukaran saliva yang memabukkan bagi mereka.


Cukup lama tautan bibir itu berlangsung. Hingga Andreas menyudahi ciuman mereka disaat keduanya hampir kehabisan nafas. Andreas sudah tidak mampu lagi menahan. Hasrat yang kini mulai menguasai tubuhnya. Terlebih dia sudah menahan ini selama berbulan-bulan. Disaat mereka tidur bersama diatas ranjang. Andreas lelaki normal bagaimana mungkin dia tidak tergoda dengan tubuh Naura saat wanita itu selalu memakai pakaian tidur yang tipis berbahan satin. Meskipun selalu ditutupi dengan selimut namun tidak jarang disaat tengah malam selimut yang tadinya menutupi tubuh Naura melorot ke bawah sehingga memperlihatkan sesuatu yang mampu membangkitkan gairah di dalam dirinya. Dan selama ini sekuat tenaga Andreas menahan keinginannya untuk tidak menyentuh Naura.


“Naura.”


“Emm.”


“Ayo masuk ke dalam.”

__ADS_1


“Bukankah klien sudah menunggu kakak di kantor.” Andreas menatap dalam kedua bola mata Naura yang hitam pekat khas orang Indonesia. Dia harus jujur apapun itu. Dia ingin memulai dari awal dengan kejujuran. Tidak ingin ada yang disembunyikan atau pun dia tutup-tutupi.


“Kita masuk dulu ke dalam.” Ajak Andreas, Naura pun mengangguk dan mengikuti langkah suaminya tanpa bertanya lagi.


“Kau mau apa?” tanya Naura saat suaminya masuk ke dalam dapur dan memakai apron berwarna hitam yang membalut tubuh bagian depan.


Andreas membuka lemari pendingin mengambil beberapa bahan untuk dia masak. Dengan lincah lelaki itu memotong mencuci dan mengolah bahan yang ada. Naura duduk dan hanya diam memperhatikan setiap gerakan yang Andreas lakukan.


“Ternyata dia pandai memasak.” Batin Naura sambil meneguk minuman kaleng yang baru saja dia ambil dari dalam lemari pendingin.


“Ayo kita makan dulu.” Andreas meletakkan beberapa hasil masakannya di atas meja makan. Asap yang masih mengebul di atas makanan memunculkan aroma yang lezat dan begitu menggugah selera.


“Dari baunya sepertinya enak.” Andreas tersenyum kemudian keduanya makan dengan begitu lahap. Masakan Andreas enak dan cocok di lidah Naura.


Setelah makan Naura mencuci piring. Wanita itu sudah banyak belajar mengenai aktifitas yang sering dilakukan oleh ibu rumah tangga pada umumnya dengan bibi pekerja. Sehingga ketika bibi tidak ada Naura tidak akan kerepotan lagi. Andreas belum kembali ke kantor. Lelaki itu duduk di sofa ruang tamu.


Naura mendekat dan tanpa sengaja dia tersandung oleh kakinya sendiri. Membuat dirinya jatuh tepat di pangkuan Andreas. Keduanya diam saling menatap. Cukup lama tatapan itu berlangsung hingga mata Andreas kembali berpusat pada bibir ranum milik istrinya. Perlahan Andreas kembali menempelkan bibirnya diatas bibir Naura. Tidak ada penolakan justru Naura mengalungkan kedua tangan di leher Andreas agar tidak terjatuh.


Andreas membaringkan tubuh Naura di atas sofa.Kemudian kembali menikmati makanan penutup yang tiada tara kelezatannya. Turun ke leher hingga kedua tangan mulai menyusup kembali ke dalam baju. Membuat tubuh keduanya semakin memanas. Lenguhan yang keluar dari bibir Naura membuat lelaki itu dengan cepat melepas atasan milik Naura dan membuangnya di atas lantai.


Kecupan yang tadinya di leher dengan meninggalkan beberapa bekas disana kini mulai turun di kedua benda yang berada di balik b*Ra. Yang mampu membuat keduanya mabuk keenakan hanya dengan menyesap secara bergantian.


Naura tidak tahu apa yang terjadi dengan tubuhnya yang jelas rasanya begitu nikmat hingga dia memanggil nama Andreas di setiap lenguhan yang dia keluarkan sambil membusungkan dada. Membiarkan Andreas semakin dalam untuk menikmatinya.


Hingga….Ting-tong ting-tong…

__ADS_1


__ADS_2