
“Hentikan aku jika kau tidak menginginkannya.” Andreas mulai membuka kancing kemejanya satu per satu. Andreas sudah sangat bergairah. Disaat ingin melepas kancing yang terakhir tiba-tiba Naura menggenggam lengan Andreas membuat lelaki itu langsung menghentikan gerakan untuk membuka baju. Kemudian menatap wajah istrinya penuh tanya.
“Tunggu kak.” Andreas masih terdiam tanpa mengalihkan pandangan dari Naura. Ada rasa kecewa di dalam hati saat mendengar penolakan dari istrinya. Mungkin Naura masih belum sepenuhnya percaya sehingga dia belum siap untuk melakukan percintaan ini. Andreas berusaha mengerti dan memahami Naura meskipun hasratnya sudah sampai di ubun-ubun. Akhirnya dia mulai memperbaiki kembali kancing yang sebelumnya sempat dia buka sendiri.
Naura kembali menggenggam tangan Andreas membuat lelaki itu memicingkan mata. Apa maksud istrinya ini. Membuka dilarang menutup kancing pun dilarang jadi apa sebenarnya yang Naura inginkan. Melihat ekspresi kesal suaminya Naura pun berbisik lembut di dekat daun telinga Andreas.
“Aku tidak ingin melakukannya diatas sofa.” kedua bola mata Andreas hampir saja melompat dari tempatnya saat mendengar suara sensual Naura yang menggelitik indera pendengaran Andreas.
Tanpa berbasa-basi Andreas pun menggendong Naura ala bridal. Naura pun mengalungkan kedua tangan di leher Andreas karena tidak ingin terjatuh. Begitu sampai di kamar Andreas meletakkan tubuh Naura dengan perlahan di atas tempat tidur tanpa menutup kembali pintu kamar mereka. Karena bibi hari ini ijin tidak masuk dan sudah dipastikan tidak ada orang lain selain mereka berdua. Terlebih pintu utama juga sudah dikunci oleh Naura.
“Kau yakin ingin melakukan ini.” tanya Andreas ingin memastikan keputusan Naura agar istrinya tidak akan menyesal dengan keputusan yang sudah dia ambil.
“Asal kakak sungguh-sungguh dengan ucapan kakak tadi.” Andreas tersenyum kemudian mulai mencium bibir istrinya dengan lembut. Naura kembali membalas meskipun tidak sepandai Andreas. Mereka saling bertukar saliva dengan rasa manis yang memabukkan. Andreas menyudahi ciuman panas mereka. Menatap dalam wajah Naura dengan penuh damba.
“Percaya padaku, aku akan mengakhiri semuanya segera.” ucapan Andreas mendapat anggukan dari Naura. Gadis itu mengalungkan tangannya dileher Andreas dan memulai ciuman terlebih dahulu.
Sementara Celine yang menunggu di ruangan Andreas merasa kesal. Sudah lebih dari satu jam dia berada disana. Tidak ada tanda-tanda bahwa kekasihnya akan segera kembali ke kantor. Beberapa kali dia menghubungi Andreas dengan nomer telepon kantor namun tidak ada satu panggilan pun yang terjawab. Membuat Celine melampiaskan kekesalannya pada asisten pribadi Andreas yang sementara siang ini menghandle semua pekerjaaan Andreas.
“Sebenarnya kemana bosmu itu pergi?” asisten pribadi Andreas hanya mengangkat kedua bahu sebagai jawaban.
“Asisten macam apa kau yang tidak tahu kemana bos pergi.” hembusan nafas berat terdengar dari Asisten Andreas. Sebenarnya dia tahu kalau setiap jam makan siang bosnya akan pergi ke perusahaan istrinya. Namun dia tidak berniat memberitahukan itu pada wanita menyebalkan ini.
“Maaf nona, pekerjaanku hanya membantu tuan Andreas dalam bekerja bukan untuk mencampuri urusan pribadinya.”
__ADS_1
“Kau.” Celine menunjuk kemudian mengepalkan tangannya di udara.
Celine begitu kesal mendengar jawaban asisten pribadi Andreas. Dia mengambil tas kemudian keluar ruangan tanpa permisi kepada orang yang sedang mengambil alih pekerjaan kekasihnya di atas sofa di dalam ruangan yang sama. Sungguh sulit sekali mencari informasi disini. Baik sekretaris maupun asisten pribadi Andreas begitu kompak dalam setiap jawaban mereka.
Saat berapa di lobi ponsel milik Celine di dalam tas yang dia tenteng berdering. Dia pikir itu panggilan dari Andreas. Senyum yang sempat terukir memudar saat membaca identitas pemanggil. Dengan malas Celine menggeser icon berwarna hijau kemudian menempelkan benda pipih tersebut di dekat daun telinga.
“Ada apa?” jawabnya dengan ketus.
“Honey, kau dimana? Aku kangen…”
“Bukankah baru tiga hari kemarin kita bertemu. Lagi pula bukannya Luna ada di Jakarta kenapa kau tidak hubungi dia saja.” Celine membuka mobil kemudian duduk di kursi kemudi. Memutar kunci untuk menyalakan mesin mobil miliknya.
“Entahlah, aku hanya ingin terus berada di dekatmu saat ini.” Stevan pun juga tidak mengerti kenapa akhir-akhir ini dia ingin terus berada di samping Celine.
Tubuhnya juga terasa aneh. Kadang baik kadang kurang baik. Seperti pagi tadi saat bangun tidur dan ingin menggosok gigi tiba-tiba saja perutnya terasa mual. Namun tidak ada yang keluar dari dalam perut. Rasanya seperti mabuk kendaraan. Ditambah rasa pusing di kepala. Membuat tubuhnya terasa lemas seperti orang sakit.
“Sudahlah, aku masih ada urusan dengan Andreas. Kau hubungi saja Luna.” Celine memutus sambungan telepon secara sepihak kemudian melajukan mobilnya menuju rumah Andreas. Meskipun tidak yakin Andreas ada disana.
***
“Sebaiknya kita ke dokter saja.” Ajak Luna sambil menyuapi kekasihnya yang bersandar di di atas ranjang.
“Aku tidak sakit.” Luna menghembuskan nafas ini sudah kesekian kali dia membujuk Stevan untuk memeriksakan kesehatannya. Namun selalu ditolak oleh lelaki itu.
__ADS_1
“Kau yakin?”
“Kau tidak percaya padaku. Aku yang memiliki tubuh aku juga yang merasakan tubuhku. Kalau aku bilang tidak sakit ya tidak sakit. Kalau kau masih cerewet pergilah.” Stevan mengambil alih makanan ditangan Luna kemudian menyuapkan makanan itu sendiri ke dalam mulutnya.
Luna masih terdiam di tempat. Dia sudah sangat sabar akhir-akhir ini dengan sikap Stevan yang sangat sensitif. Ditambah dengan pekerjaan yang banyak di kantor membuat Luna merasa sangat lelah. Beruntung Daniel rekan kerjanya tidak marah saat dirinya membatalkan meeting siang ini hanya untuk menemani Stevan.
Ting tong
Bel berbunyi, Stevan pikir itu mungkin Celine sehingga dia buru-buru bangun dari tempat tidur untuk membukakan pintu. Dia tidak ingin Celine pergi saat mengetahui ada Luna disini. Lebih baik Luna saja yang pergi daripada Celine.
“Selamat siang Tuan.” Sapa seseorang pria yang berdiri di depan pintu.
“Siapa kau?”
“Dia adalah dokter pribadi keluarga kami.” jawaban itu bukan berasal dari pria itu melainkan Luna yang baru saja datang dan berdiri tepat disamping Stevan.
“Untuk apa dia datang?” Stevan masuk meninggalkan dokter tersebut tanpa berniat untuk menyuruhnya masuk ke dalam rumah.
“Karena kau tidak mau ke rumah sakit maka aku meminta dokter Utomo untuk datang kesini memeriksa kesehatanmu.”
“Sudah aku katakana aku tidak sakit.”
“Biarkan dokter memeriksa mu terlebih dahulu setelah itu aku tidak akan memaksamu lagi untuk ke rumah sakit.”
__ADS_1
Stevan terdiam tidak menolak maupun mengiyakan. Luna mengajak dokter Utomo masuk. Kemudian mulai memeriksa dan menanyakan keluhan apa yang dirasakan oleh Stevan. Setelah mendengar keluhan tatapan dokter beralih ke Luna.
“Apa anda sedang hamil nona?”