Enam Bulan Menikah

Enam Bulan Menikah
Bab 28


__ADS_3

Keesokan harinya


Dengan mata yang masih mengantuk Naura memaksakan diri untuk mengikuti ajakan Andreas. Bagaimana tidak mengantuk jika mereka berdua mengobrol hingga tengah malam. Entah apa saja yang mereka bicarakan. Yang pasti hubungan keduanya kini semakin dekat.


“Pakai ini karena diluar pasti dingin.” Andreas memberikan sebuah sweater yang sebelumnya dia ambil di dalam koper untuk Naura.


“Sebenarnya kita mau kemana pagi-pagi begini sih kak. Aku masih mengantuk tau.” Naura merebahkan tubuhnya kembali diatas ranjang setelah memakai sweater pemberian Andreas.


“Naura ayo bangun.” Meskipun tubuhnya digerak-gerakan oleh Andreas supaya bangun namun sama sekali itu tidak mengusik tidur Naura. Andreas sedikit kesal dan mengancam gadisnya.


“Naura kau mau bangun atau aku cium sekarang juga.”


“Ehmm.” Bukannya bangun Naura malah mengubah posisi dari miring menjadi telentang diatas tempat tidur.


“Sepertinya kau memang ingin aku cium.”


Kedua sudut bibir Andreas tertarik keatas kemudian dia pun perlahan naik ke atas ranjang. Dia tempelkan bibir miliknya dengan bibir milik Naura. Tidak ada pergerakan sedikit pun dari Naura terlebih untuk membuka mata. Perlahan Andreas melu*mat bibir Naura dengan lembut. Dalam mata terpejam Naura seolah sedang memakan es krim cokelat bercampur strawberry yang lembut dan creamy. Tanpa dia sadari Naura membalas ******* bibir Andreas membuat lelaki itu membelalakkan mata. Detik berikutnya keduanya pun saling memagut dalam keheningan. Niat hati ingin membangunkan Naura justru milik Andreas yang malah terbangun di bawah sana. Membuat celananya menjadi terasa sempit.


“Sial.” umpatnya kemudian melepaskan tautan bibir mereka.


“Naura.” teriak Andreas di dekat daun telinga Naura. Sebab dia tidak ingin gagal melihat sunrise pagi ini. Terlebih nanti sore mereka harus kembali ke Jakarta.


Naura memegang telinganya. Rasanya gendang telinganya seakan mau pecah saat Andreas berteriak begitu kencang.


“Apa sih kak…”


“Kau mau bangun atau aku akan memakanmu sekarang juga.”


“Ish kakak nih kayak Sumanto aja memakan daging sesama manusia.” ucap Naura setengah sadar kemudian duduk di tepi ranjang.


“Nauraaaa.” Geram Andreas.

__ADS_1


“Iya-iya memangnya kita mau kemana sih kak aku tuh masih ngantuk tau. Kakak lupa kita semalam tidur jam berapa.” setelah mengatakan itu Naura kembali memejamkan mata sambil duduk di tepi ranjang.


“Aaaaaa.” teriak Naura saat tubuhnya melayang diangkat oleh Andreas dengan paksa seperti mengangkat sebuah karung beras.


“Kak turunkan aku. Aku bisa jalan sendiri.”


Andreas pun menurunkan Naura kemudian menggenggam tangan gadis itu untuk mengikuti langkahnya. Dia tidak mempedulikan gerutuan Naura yang sedari tadi mulutnya seperti komat-kamit tidak jelas.


Lima belas menit berjalan kaki. Keduanya pun kini duduk di tepi pantai. Menanti sisi teratas matahari muncul di atas horizon sebelah timur. Langit yang tadinya gelap mulai sedikit terang dengan warna jingga yang menghiasi. Burung-burung pun mulai pergi meninggalkan sarang mereka untuk mencari makan.


Matahari belum naik sepenuhnya di ufuk timur. Namun pembiasan cahaya oleh molekul udara membuat warna langit yang tadinya gelap menjadi kemerah-merahan atau orange. Menciptakan keindahan tersendiri di atas pantai. Bahkan membuat kedua mata Naura terbuka lebar menyaksikan keindahan alam di pagi hari.


“Wow…” dia pun berdiri mendekat ke arah pantai untuk lebih dekat menatap matahari yang sebentar lagi ingin menampakkan dirinya.


Andreas tersenyum kemudian dia ikut bangkit dan mendekap tubuh Naura dari belakang. Menempelkan dagunya diatas pundak Naura.


“Kau menyukainya.” Bisik Andreas di dekat daun telinga Naura. Seketika hembusan nafas Andreas membuat tubuhnya meremang.


“Aku lupa membawa ponsel gara-gara kakak.” Andreas menghela nafas kemudian memberikan ponsel miliknya sebagai ganti.


“Pakai saja ini nanti aku akan kirimkan gambarnya ke ponsel milikmu.”


“Terima kasih. Ayo selfie.” Naura mulai membuka kamera di dalam ponsel. Mengambil beberapa gambar. Kemudian memilih gambar yang bagus dan menghapus yang kurang bagus.


“Bisa tidak kakak kalo foto itu senyum. Muka kok kaku amat seperti kanebo.” Keluh Naura. Semua foto yang dia ambil tidak ada satu foto pun yang memperlihatkan tampang Andreas sedang bahagia saat berlibur. Foto yang dia tampilkan lebih mirip seperti foto untuk buku nikah saja.


“Ayo sekali lagi dan jangan lupa senyum.”


“Bawel.”


***

__ADS_1


Setelah puas melihat sunrise keduanya memutuskan untuk mengisi perut disalah satu restoran dekat pantai. Sebelum mereka melakukan aktifitas water sports di Lalasa beach club di pantai tanjung lesung. Pantainya yang indah dengan ombak yang tidak terlalu besar dan pasirnya yang berwarna putih dan halus membuat pantai ini sangat cocok sebagai pusat kegiatan wahana air.


“Kak sebaiknya kita ganti pakaian terlebih dahulu.” ucap Naura saat selesai memasukkan suapan terakhir makanan miliknya.


“Sekalian tolong ambilkan punyaku. Aku malas kesana.”


“Baiklah.” Naura kembali ke kamar berganti baju dan membawakan baju renang milik Andreas. Begitu keluar dari kamar seorang wanita tanpa sengaja menabraknya. Membuat baju Andreas yang sebelumnya dia pegang terjatuh ke lantai.


“Maaf, saya tidak sengaja.” ucap gadis itu sambil mengambilkan baju milik Naura yang terjatuh di lantai.


“Tidak apa-apa.”


“Sekali lagi maaf tadi saya terburu-buru sehingga tidak melihat Anda.”


“Jangan panggil Anda, panggil saja Naura. Sepertinya usia kita tidak beda jauh.”


“Oh iya sekali lagi saya minta maaf Naura.”


“Sudahlah tidak perlu minta maaf terus-terusan. Lagipula aku juga tidak terluka. Apa kau sedang berlibur disini?” tanya Naura yang dibalas gelengan kepala oleh wanita itu. Membuat dahi Naura berkerut dan hampir menyatukan kedua alisnya.


Wanita itu tersenyum melihat ekspresi yang ditunjukan oleh Naura. “Tenang saja aku bukan maling kok. Aku disini untuk bisnis.”


“Aku pikir kau masih kuliah.”


“Ceritanya panjang. Jika bertemu lagi nanti akan aku ceritakan. Senang bertemu denganmu Naura.”


Wanita itu selangkah demi selangkah mulai meninggalkan Naura yang masih berdiri di depan pintu kamar hotel. Keduanya saling melambaikan tangan. Hingga Naura ingat bahwa dia belum menanyakan siapa nama wanita muda yang baru saja berbicara dengannya.


“Hey siapa namamu?” teriak Naura berharap didengar oleh wanita itu.


“Luna.” Teriaknya sebelum menghilang di balik tembok hotel.

__ADS_1


“Luna, nama yang bagus. Cantik lagi orangnya.” gumam Naura kemudian pergi menyusul Andreas untuk melakukan aktifitas wahana air yang pastinya akan sangat menyenangkan. Sungguh dia sudah tidak sabar untuk menaiki beberapa jenis wahana di atas air. Namun sebelum itu dia akan melindungi kulitnya dengan sunblock agar tidak terpapar sinar matahari.


__ADS_2