
Semburat cahaya jingga keemasan tampak berkilau indah di ufuk timur laut dan cahaya keemasan sang mentari itu membanjiri permukaan laut. Lukisan Sang Maha Kuasa yang tak ada tadingannya di dunia ini. Sejauh mata memandang, laut bagaikan bermandi cahaya emas kemilau. Sion menghirup udara segar berbau garam itu dengan nikmat. Selangkah demi selangkah kakinya menapak di hamparan pasir putih. Gadis itu merentangkan tangannya, memejamkan mata dan membiarkan dirinya larut dalam suasana pantai yang syahdu. Dia membiarkan angin pantai yang dingin membelai wajah dan mempermainkan rambut panjangnya. Udara pantai yang segar dan deburan ombak memecah pantai begitu indah dan damai.
Ini surga! Pikir gadis itu. Berada di pantai setiap pagi merupakan aktifitas favorit gadis manis itu sebelum berangkat ke sekolahnya, SMA Chandrawinata, salah satu sekolah swasta unggulan di kota kelahirannya. Dia selalu datang ke pantai yang letaknya nggak jauh dari rumahnya itu setiap hari, setiap pagi. Dia selalu datang kesana. Baginya, sehari saja nggak melihat laut bisa membuatnya resah dan tidak bersemangat. Sion begitu mencintai laut dan pantai. Dia memiliki impian di masa depan, dirinya dan orang yang dicintainya bisa seperti laut dan pantai. Saling mengisi, saling melengkapi dan tak kan terpisahkan sampai kapanpun.
Ditengah lamunannya, tiba-tiba Sion nampak waspada. Sesaat dia merasa mendengar suara asing dibalik suara angin dan deburan ombak. "Seperti langkah kaki?" gumamnya. Perlahan-lahan suara itu semakin jelas dan mendekat ke arahnya. "Uh, siapa sih?" keluh gadis itu merasa terganggu. Biasanya spot yang dipilihnya setiap pagi ini adalah spot yang jarang dikunjungi orang. Sehingga dia nggak mengharap ada orang lain di tempatnya menikmati suasana pantai.
"Sion ..".
Sion terkejut ketika mendengar suara yang memanggil namanya. Suara itu? Suara itu kan? Sion berpikir dengan panik. Dia sangat kenal dengan suara itu. Suara yang mampu membuat jantungnya berdebar-debar kencang. Sion merasa ada sepuluh orang yang sedang menabuh drum di dalam dirinya. Sekarang matanya terbuka dengan lebar.
"Sion....!"
Suara itu semakin jelas karena pemilik suara yang juga semakin dekat ke arah Sion. Perlahan Sion membalikkan tubuhnya, memfokuskan pandangan melalui kacamatanya dan seperti dugaannya orang itu berdiri dihadapannya. Ryan Samuel Anggoro. Yah, nama lengkap cowok itu. Sion mendesah kesal. Mengapa cowok itu bisa dengan santainya berdiri disana dengan tampang cakepnya, dengan tubuhnya yang tinggi, bahkan tetap mempesona walau hanya dengan balutan T-shirt merah tanpa lengan, celana training hitam pendek dan sepatu kets putih Adidas kebanggaannya. Apakah dia nggak merasa kedinginan dengan mengekpos lengan dan kakinya seperti itu? Pikir Sion dalam hati.
"Ngapain lo kesini ". Tanya Sion skeptis.
" Loh, emang ini pantai pribadimu, Nyon?
Sion mendelik marah. "Kenapa sih lo selalu manggil gue, 'Nyon'?! Nama gue SION, es i o en!". Sembur Sion marah sambil berkacak pinggang. Setiap kali mereka bertemu pasti selalu bertengkar. Yah, walaupun Sion nggak pernah bisa benar benar marah kepada cowok itu.
" Hahahaha, whatever Nyon". Ryan malah tertawa dan tetap memanggil gadis itu dengan panggilan 'Nyon'.
"Memang capek ngomong sama elo!". Akhirnya Sion menyerah sambil membuang muka dan kembali memandang laut biru yang terbentang luas.
"Halah, gitu aja ngambek Nyon. Ntar tambah jelek macam monkey loh". Ryan nampaknya belum lelah mengusili Sion.
" Terus aja ejek gue!". Cetus Sion sebal.
" Nggak baik Nyon manyun terus kayak gitu. Gue kesini sebenarnya nggak ada niat untuk gangguin lo. Ada hal penting yang pengen gue omongin ke elo".
" Tentang apa Pino?"
" Lo masih suka manggil gue Pinokio?". Ryan bertanya balik.
"Selama lo tetap manggil gue Nyon, gue juga bakal manggil lo Pinokio. Sesuai banget kan ama hidung lo yang panjang itu. Sekarang katakan, mau ngomong apa!". Desak Sion.
"Beda dong gue dengan Pinokio. Gue kan nggak tukang bohong. Dan hidung gue ini mancung alami bukan mancung karna kutukan". Lagi lagi Ryan mengalihkan pembicaraan dan membuat Sion makin sebal.
"Ya ella. Songong banget sih lo punya hidung kayak gitu aja".
"Harus bangga donk daripada nggak punya hidung kayak elo. Gue bingung lo punya hidung apa nggak? Kok rata aja dilihat dari depan".
"Ya sudah!! Kalo elo datang cuma pengen bikin gue marah, mending lo pergi atau gue yang pergi?". Ancam Sion jengkel.
__ADS_1
Ryan tersenyum simpul melihat kemarahan gadis manis itu. Lalu tanpa diduga, Ryan meraih kedua tangan Sion dan menggenggamnya erat. Sion tampak sangat terkejut dan jantungnya berdetak kencang sekali. Nggak biasanya Ryan bersikap seperti ini. Ada apa sebenarnya?
"Sion...". Panggil Ryan lembut sambil tersenyum manis padanya. Sion tercekat dan seakan nafasnya berhenti sejenak. Dia merasa jantungnya seakan mau meledak.
" Sion, sebenarnya aku sangat sayang, sayaaang sama kamu. Aku mencintaimu Nyon. Dari dulu sampai sekarang hanya kamu yang ada di hatiku. Aku harap kamu mempunyai perasaan yang sama".
Pengakuan cinta Ryan sungguh membuat Sion terkejut meskipun memang ini yang selalu di harap dan dinantikannya. Apalagi dia merubah cara dan nada bicaranya. Nggak ber gue gue elo lagi. So sweet banget. Hati Sion berbunga bunga. Dia sudah sangat lama menyukai Ryan. Semenjak berusia tujuh tahun sampai usianya menginjak enam belas tahun bulan agustus kemarin. Mereka memang bertetangga dan teman sepermainan sejak kecil. Tak heran jika perasaan itu terus tumbuh di hati Sion seiring dengan kebersamaan mereka selama ini.
Sion tersipu malu dan menundukkan kepalanya. Dia nggak sanggup menatap mata Ryan. Dia menarik napas dan menghembuskannya dengan perlahan. Dia siap menjawab pertanyaan dan pernyataan cinta Ryan.
"Aku juga sangat mencin....".
PLAKKK! Sion urung melanjutkan ucapannya ketika ada sesuatu yang memukul kepalanya.
" Aduh! Kok mukul-mukul sih?! Kan sakit!!". Protes Sion kesakitan sambil memijit bagian kepalanya yang kena pukul.
"Berani sekali kamu tidur di jam pelajaran saya. Silahkan keluar sekarang juga! ". Perintah Pak Jonly tegas.
"Maaf Pak. Saya betul betul minta maaf. Saya nggak sengaja tertidur. Mungkin karna tadi malam saya tidur larut malam karna amnesia pak". Sion berusaha mendapat pengampunan.
Seketika terdengar banyak tawa yang ditahan. Teman teman sekelasnya menutup mulut rapat rapat agar suara tawa mereka teredam dan nggak terdengar Pak Jonly. Bisa berabe dan kemungkinan bisa terseret kemarahan beliau.
"Apa kamu belum bangun? Masih linglung jadi nggak bisa membedakan amnesia dan insomnia?!". Tanya guru kimianya itu tajam dan menusuk. Pak Jonly nampaknya nggak merasa typo-nya Sion itu lucu. Sion menepuk jidatnya kesal. Bisa bisanya di saat seperti ini dia bisa salah sebut. Pantas aja seisi kelas menertawainya.
"Iya pak. Ma...Maksud saya insomnia. Saya mohon agar saya tetap di kelas pak". Jawab Sion terbata bata. Pak Jonly menatapnya tajam dan berkata.
"Tidak bisa. Di saat jam pelajaran kalian harusnya belajar bukannya tidur. Silahkan keluar dan menghadap saya jam istirahat nanti".
"Apa nggak bisa dipertimbangkan lagi pak? Saya mohon." Sion berusaha membujuk Pak Jonly. Dia tahu kalau dia keluar dari kelas maka sama saja dengan absen di pelajarannya beliau. Nilainya yang memang merah akan menjadi lebih merah.
"Tidak bisa!". Jawab Pak Jonly tegas. Kali ini beliau bersedekap dada dan menatap lurus dan tajam kepada Sion. Seakan menunggu dia untuk keluar kelas dengan segera.
Seperti biasa, Pak Jonly nggak bisa dibujuk.
Akhirnya dengan pelan Sion beringsut dari bangkunya, menundukkan kepala sejenak ke Pak Jonly kemudian beranjak keluar kelas. Teman-teman sekelasnya tampak mati-matian menahan tawa. Beberapa tidak dapat menyembunyikan cekikikan geli. Nggak ada seorangpun yang punya cukup nyali bertingkah saat di jam pelajaran Pak Jonly. Tapi ada seseorang yang memiliki nyali besar untuk tidur dengan nyenyaknya bahkan sempat bermimpi indah di jam pelajaran beliau. Yah, Sion lah orangnya.
__ADS_1
Sion menyusuri koridor sekolah yang sepi. Semua siswa sedang belajar dikelas masing-masing. Semangatnya menurun drastis. Berkali kali dia menghela napas berat. Hatinya kesal karena semua kejadian di pantai itu ternyata hanya mimpi. Ingin sekali semua itu menjadi kenyataan. Tapi yang terjadi, justru Pak Jonly menendangnya keluar dari kelas. Di tambah dia akan mendapatkan hukuman dari beliau. Pasti akan diberi tugas tambahan yang seabrek banyaknya. Padahal Sion sangat kurang dipelajaran Kimia. Dia lebih oke di pelajaran lain, tetapi entah mengapa hanya pelajaran Kimia yang nggak mampu dipahami otaknya. Gadis itu sudah berusaha keras belajar memahami mata pelajaran itu. Namun sampai sekarang dia masih nggak tau apa apa.
Sion menyadari memang kejadian kali ini seratus persen adalah salahnya karena dengan beraninya ia bobo cantik di jam pelajaran beliau. Hanya ada satu tempat tujuannya jika dia merasa down dan ingin menyendiri. Taman sekolah yang teduh dengan lapangan basket di tengah tengah taman.
Dak, duk, dak!! Sion menghentikan langkahnya dan mendengarkan dengan cermat. Suara dribel bola? Pikirnya heran. Siapa yang main basket di tengah hari terik seperti ini? Layaknya seorang spy, Sion mengendap-endap mendekati taman dan dia melihat seorang cowok sedang asyiknya bermain basket dibawah sinar matahari yang terik. Cowok itu masih memakai seragam SMA lengkap. Kemeja putih dengan celana panjang abu abu. Seragam putihnya tampak melekat dibadan karena keringat dan mempertontonkan secara gratis tubuhnya yang atletis. Perlahan Sion duduk dibangku taman sambil terus memperhatikan cowok itu. Dia merasa senang ada show gratis. Begitu kagumnya dia melihat permainannya yang hebat. Dribel bolanya sangat ahli dan kakinya yang kokoh berlari dengan cepat dan gesit dan langsung memasang posisi lay up dan shuuuttt, bola masuk dengan sukses. Hebat! Pikir Sion dalam hati. Sayang Sion nggak begitu jelas melihat wajah cowok itu. Dia melihat wajah cowok itu seperti mozaik yang buram dan rata. Sion melupakan kacamatanya.
"Ah, kenapa aku lupa membawa kacamata? Aku jadi nggak tau siapa dia". Gumam Sion.
Salah satu kecerobohan Sion. Saat tidur dikelas tadi dia tanpa sadar melepas kacamatanya dan memasukkannya di laci meja. Gadis itu memang telah terbiasa menggunakan kacamata sejak di bangku SMP. Hobinya adalah membaca buku sedari ia mulai bisa membaca. Tetapi sayang dilakukannya dengan cara yang salah. Sion suka sekali membaca buku sambil tidur di ranjang empuknya. Alhasil di umur tiga belas tahun Sion harus menerima benda itu sebagai mata gandanya.
Setelah sekian lama memperhatikan figure cowok itu. Mendadak Sion merasa nggak asing. Sepertinya aku kenal dia deh. Sion membatin. Seakan tau apa yang ada dipikirannya. Cowok itu berbalik dan berjalan kearah Sion. Semakin dekat wajahnya pun semakin terbentuk di mata Sion. Dan yah memang dia. Cowok yang baru saja hadir di mimpinya itu sekarang benar benar berada didepannya. Sion merutuk dalam hati. Mengapa sih anak itu selalu terlihat sempurna dalam keadaan apa pun?
" Kenapa lo ada diluar saat jam pelajaran, Nyon?". Tanya Ryan tanpa basa basi.
"Lo sendiri kenapa ada di luar? Main basket di siang bolong lagi. Kurang kerjaan banget sih. Tuh liat keringat lo sampai membasahi seragam. Bau keringatnya nyampe sini nih, ihhhh!".
Sion bingung dengan dirinya sendiri. Sebenarnya dia ingin sekali saja bersikap manis di depan Ryan, tapi yang keluar dari mulutnya justru kata kata yang menyulut peperangan.
"Bau? Impossible! Mungkin hidung lo harus diperiksakan ke dokter THT dulu. Sekarang ada ujian dikelas, karena gue udah selesai ngerjai ujiannya jadi gue berhak keluar kelas. So, untuk membunuh waktu gue main basket".
"Iya sih. Tapi apa lo nggak gerah dan lengket pake baju yang basah kuyup ma keringat gitu? Apa mau di pake seharian ini, seragam itu?".
"Eh, Nyon. Lo pikir gue cuma punya satu seragam. Gue punya banyak. Bentar lagi gue mau ganti baju kok".
"Yee, siapa yang nanya". Ejek Sion lebih lanjut.
"Ah, up to you dah, Nyon". Sahut Ryan sambil beranjak pergi.
Sion menatap punggung Ryan yang pergi menjauh dengan nelangsa. Lalu ia menarik narik rambutnya sendiri dengan gemas dan mengacak acak poninya.
"Aduh! Kenapa sih selalu seperti ini kalau kami bertemu. Nggak di mimpi, nggak di dunia nyata, ternyata sama saja. Selalu saja bertengkar!". Sion terus merutuki dirinya. Gadis itu menyadari mungkin selama ini perasaannya kepada Ryan bertepuk sebelah tangan. Ryan nggak pernah menunjukkan tanda tanda kalau dia memiliki ketertarikan kepada dirinya. Perlakuannya selama ini kepada dirinya nggak pernah terasa istimewa. Hubungan mereka selama ini seperti jalan ditempat. Tidak ada kemajuan sama sekali. Sion merasa sangat sedih. Dia sering bertanya kepada dirinya sendiri. Apakah cinta pertamanya akan berlalu sia sia? Belum cukup kah perjuangannya selama ini? Apa yang harus dilakukannya agar Ryan berpaling kepadanya?
__ADS_1