Endless Love

Endless Love
Rindu


__ADS_3

Biasanya kesan pertama saat berjumpa itu hanya ada dua, baik atau tidak baik. salah satu dari kedua hal itu yang datang pada Yuan Lu adalah pertemuan yang baik.


Laki-laki yang menyapanya beberapa detik lalu adalah Yukihira Zen. Seseorang yang pernah ditolak Yuan Lu sebanyak 20 kali. Benar-benar sebuah rekor yang lumayan untuk seorang laki-laki.


“Kau datang?” tanya Yukihira agak canggung.


“Kau lebih suka aku tidak datang?” ujar Yuan Lu.


Wajah Yukihira tampak gugup. “Bukan begitu, aku kira kau tidak mau datang karena ini sudah malam.”


Sudut bibir Yuan Lu naik, dia tersenyum melihat Yukihira yang berbicara tapi tidak melihat ke arahnya. Dia tiba-tiba teringat masa di mana Yukihira tidak pernah menatap matanya ketika sedang berbicara, dan sikap malu-malunya yang sekarang masih sama seperti beberapa tahun lalu.


“Apa kau tidak mau mengajakku duduk?” sindir Yan Lu menggerakkan matanya ke arah kursi yang kosong, “kakiku sudah berteriak meminta istirahat.”


Yukihira menepuk dahinya. Mendadak dia merasa menjadi orang bodoh saat berhadapan dengan Yuan Lu. Apa lagi dengan perubahan Yuan Lu yang saat ini. Dia benar-benar sudah menjadi wanita cantik yang menggemaskan walau cara berpakaiannya masih seperti anak laki-laki.


Dengan perasaan gugup Yukihira mengajak Yuan Lu duduk di dekat jendela. Dia juga menyajikan beberapa makanan ringan buatannya khusus untuk Yuan Lu.


“Kau suka makanan ringan, kan? Aku buatkan ini khusus untukmu.”


Yuan Lu mengambilnya dan memerhatikan sejenak sebelum memakannya, “Mmm, enak! Ini buatanmu?” tanya Yuan Lu.


“Hanya coba-coba. Syukurlah kalau enak, aku bisa buatkan ini untukmu setiap hari.”

__ADS_1


Ucapan Yukihira membuat Yuan Lu bergidik ngeri. Kalau dia memakan kue setiap hari, badannya bisa besar seperti bola. Satu lagi, bagaimana cara dia membayar makanan ini setiap harinya? Uang bulanannya saja kadang kurang, makanya dia mencari uang sampingan dengan membuat komik.


Yuan Lu sedikit mendekatkan wajahnya dan berbisik, “Aku tidak punya uang untuk membayar semuanya, Tuan Yukihira! Aku adalah mahasiswi miskin,” ujarnya agak memelas.


Yukihira tertawa keras sampai semua temannya menoleh dan mereka berdua menjadi pusat perhatian, “Tuan Putri, kau sama sekali tidak berubah. Aku tidak menyuruhmu untuk membayar kue yang kuberikan. Apa ada orang memberi tapi minta bayaran?”


“Ada”


“Oh, ya? Siapa?”


“Para pembisnis.”


Yukihira berdecak, “Jangan samakan aku dengan mereka. Tapi, kalau kau tidak mau makan kue ini dengan gratis, bagai mana jika bayarannya kencan?”


“Kau busuk, Akihiko!” ketus Yuan Lu.


Yuan Lu yang dasarnya tidak peka dengan beberapa hal sensitif sama sekali tidak mengindahkan perkataan laki-laki yang tengah mengajaknya bicara. Dia lebih asik menikmati makanan yang ada di hadapannya tanpa suara. Namun keasikannya terganggu saat Yukihira kembali bertanya.


“Kau tinggal di dekat sini, kan? Boleh aku mengantarmu pulang?” tanya Yukihira penuh harap agar bisa lebih lama bersama Yuan Lu.


Yuan Lu mengangkat jempolnya, “Baik, antar aku dan Nara pulang. Lumayan, kebaikanmu bisa membuat isi dompetku awet untuk beberapa hari kedepan."


Yukihira kembali tertawa. Dia benar-benar menyukai Yuan Lu yang blak-blakan seperti ini. Satu hal yang Yukihira syukuri, dia masih bisa melihat Yuan Lu dengan beragam ekspresi yang mudah berubah-ubah.

__ADS_1


"Dengan senang hati."


...***...


Yukihira benar-benar menepati ucapannya. Dia mengantar Nara dan Yuan Lu pulang tanpa meminta imbalan apapun. Selama perjalanan, mereka bertiga banyak bercerita tentang masa sekolah. Obrolan yang mengundang rasa rindu setelah lulus.


Saat ini Yukihira tengah menatap Yuan Lu yang sedang melambaikan ke arahnya sambil tersenyum.


"Terima kasih banyak, Yukihira," ujar Yuan Lu.


"Masuklah, sudah malam."


Yuan Lu menaikkan tangannya memberi hormat, dan benar-benar masuk ke dalam tanpa menoleh ke belakang.


Sudut bibir Yukihira terus naik sampai membentuk senyuman. Tangannya bahkan menyentuh dadanya yang terus berdebar tidak karuan.


"Oh ayolah, kenapa tidak bisa tenang!" gerutunya.


Cukup lama Yukihira berusaha menenangkan hatinya. Hampir 30 menit dia mengatur napas, dirasa hatinya sudah mulai tenang dia pun pergi.


Di dalam rumah, tepatnya di lantai dua ada seseorang yang tengah serius memerhatikan keluar tepat di mana Yukihira tadi memberhentikan mobilnya. Wajahnya tersenyum, dia juga menelpon seseorang.


"Awasi siapa dia." Begitulah katanya sebelum mematikan panggilan dan kembali menyesap kopinya.

__ADS_1


Bersambung ....


Selasa, 12 Oktober 2021


__ADS_2