
GLEKK! GLEKK!! Dira meminum habis satu gelas besar air putih hanya dengan dua kali tegukan. Lalu menghenyakkan diri dengan leganya di bangku kantin yang nyaman. Menghembuskan nafas panjang seakan melepaskan beban yang berat.
“OMG!! kalap banget lo minum, Ra. Dehidrasi berat ya?”. Resti geleng-geleng kepala melihat kelakuan kawannya itu.
“Biasa, abis lolos dari Mr. Jonly”.
“Oooo...pantes lah. Bai de wei, si putri Sion mana? Kok nggak bareng lo?”. Sambung Sonia sambil tanpa henti mengunyah keripik kentang favoritnya.
"Nah itu dia. Cewek ajaib itu merupakan salah satu penyebab ke-dehidrasian-nya gue. Rasanya nggak bernafas selama satu jam gara-gara pak Jonly dan kelakuan si Sion”. Pernyataan Dira membuat Resti dan Sonia menghentikan sejenak aktifitas makan mereka.
"Loh, kok bisa? Memang ada apa dengan Sion?”. Tanya Resti penasaran.
"Asal lo bedua tau ya. Si Sion hari ini aneh bin ajaib banget. Dia kayak orang yang...gimana ya ngomongnya. Ehm, oh ya! Kayak orang kesurupan gitu. Nggak kayak Sion yang biasanya. Dari tadi pagi dia nopang dagu terus sambil nggak hentinya senyam-senyum dengan mata yang berbinar-binar. Dan yang lebih parah dia berani nggak ngerjain pr kimia. Padahal dah gue suruh nyalin pr-nya Agnes. Eh, dia malah bilang ‘ntar aja ya. Pak jonly orangnya ramah kok’ gitu deh”. Jelas Dira menggebu-gebu.
Sonia dan Resti saling pandang heran, ”Kok bisa sih, Ra? Kesambet kali tu anak. Atau ada suatu hal yang bikin dia senang banget dan merasa melayang-layang?”.
"Maksud lo Res, Sion make obat makanya melayang-layang? Nge-fly kan maksud lo? Gawat, gawat!!! Duh gimana dong? Apa yang harus kita lakukan?!”. Tanya Sonia panik sampai nggak sadar cemilan keripik kentangnya yang berharga jatuh berhamburan di lantai.
"Ya ampun Sonia! Ajaib banget cara otak lo berpikir dan mengambil kesimpulan. Maksud gue pasti ada kejadian yang bikin sion happy banget ampe dia lupa diri seperti itu”.
“Oooh begitu. Syukurlah”. Sonia menarik nafas lega dan sekarang ia baru menyadari keripik kentangnya berhamburan di lantai. "Hik..hik..hik keripik kentang gue. Kan sayang banget”.
Resti dan Dira hanya tersenyum geli melihat kelakuan Sonia. Gadis montok yang imut itu hampir nggak pernah membiarkan mulutnya diam. Selalu sedang mengunyah dan mengunyah. Makanan adalah hartanya yang paling berharga.
"Trus kemana sekarang tu anak, Ra?”.
"Lagi dihukum ma pak Jonly. Nggak mungkin pak Jonly melepasnya begitu saja”.
“Dasar si Sion. Apa sih yang ada di otaknya sampe harus nyari masalah ma Mr. Jonly?”. Resti nggak habis pikir.
"Kalo menurut analisa gue nih. Pasti ada hubungannya dengan Ryan. Sumber kebahagiaan terbesar Sion kan ya si Ryan itu”.
"Kebetulan nih ngomongin si Ryan. Tadi gue dengar dari anak-anak, cewek yang digosipkan pacaran ma Ryan besok udah mulai masuk sekolah loh”. Sambung Sonia.
"Maksud lo si Zetta? Astaga! Siap-siap perang dunia ketiga deh. Apa Sion udah tau berita ini?”.
"Gue udah tau, Ra”. Suara Sion yang menggema tiba-tiba mengagetkan ketiga sahabat karibnya itu. Suasana hati Sion berubah 180 derajat dibandingkan tadi pagi. Gadis itu menghenyakkan diri di bangku dengan kesal. Mukanya ditekuk berlipat-lipat.
"Astaga Si, lo bikin jantung kita-kita mau copot. Jangan muncul tiba-tiba kayak hantu dong trus seenaknya masang muka lecek gitu”. Protes Resti sambil mengurut dada.
“Sori deh. Ah, gue bete banget dengar berita Zetta dah mulai masuk. Tadi gue merasa sedang berada di surga dan sekarang jatuh terhempas di neraka”.
"Sabar honey. Menurut lo Zetta bakalan berubah nggak di SMA ini?”
"Gue kasih tau lo ya Ra. Anak itu perlu waktu seribu taon buat merubah kepribadiannya yang sakit itu”. Jawab Sion sebal.
Zetta Putri Carolina adalah musuh bebuyutannya. Mereka berdua sejak kecil selalu bersaing dan menjadi rival sampai sekarang. Terutama rival cinta. Mereka sama-sama menyukai orang yang sama. Tidak lain tidak bukan adalah cowok beruntung yang bernama Ryan.
"Eh, gue juga dengar dari anak-anak, si Zetta itu dapat juara 3 loh dalam kontes piano nasional di Jakarta”. Celetuk Sonia.
Resti dan Dira seketika membeku mendengar ucapan Sonia. Resti berusaha memberi tanda kepada Sonia dengan membolakkan kedua matanya. Tapi Sonia masih nggak ngeh. Barulah ketika Dira mencubit lengan Sonia sambil membisikkan sesuatu dengan gemes, gadis tambun itu sadar akan kesalahan fatal yang telah dibuatnya. Sontak Sonia menutup mulut dengan kaget. Dia merasa bersalah sekali. Sonia memandang Sion dengan takut-takut.
"Ehmm...sori Si. Gue kelepasan tadi”.
Sion hanya menghela nafas pendek.
" Emang lo salah apa Son, kok minta maaf. Gue nggak papa kok. Oh, ya gue cabut dulu ya. Mau nyari bahan di perpus buat tugas tambahannya pak Jonly. Bye”. Kata Sion sambil beranjak pergi dengan langkah lemas.
Dira, Resti dan Sonia memandang kepergian Sion dengan hati gundah.
“Lo sih Son, bisa-bisanya kelepasan kayak tadi. Lupa ya ‘piano’ kata yang tabu?!”. Dira mendelik sebal kepada Sonia.
“Soriii....gue benar-benar lupa”. Sahut sonia lirih. Tampangnya seakan mau nangis karena merasa sangat bersalah.
“Sudah...Sudah. Kita nggak usah bertengkar gara-gara hal ini. Ntar Sion malah tambah marah loh”. Resti menengahi.
__ADS_1
Dira hanya diam merenung. Begitu pula dengan Sonia dan Resti. Mereka sama-sama memikirkan nasib malang temannya itu. Semenjak kehilangan ayahnya di waktu kecil. Sion hanya hidup berdua dengan ibunya. Mereka berjuang keras untuk bertahan hidup tanpa pernah mengandalkan bantuan keluarga dari pihak ibu maupun keluarga dari pihak ayahnya. Ibu Sion, tante Rosa membuka usaha katering sebagai sumber penghasilan. Dari situlah mereka bertahan hidup.
Dan tentang piano. Sion tak pernah lagi menyentuh alat musik itu setelah ayahnya meninggal. Baginya ayahnya adalah piano. Piano adalah ayahnya. Jika ayahnya sudah tiada tak ada alasan lagi baginya untuk tetap bermain piano. Tangannya tak mampu lagi menari diatas tuts-tuts piano. Hal itu lah membuatnya merasa tak mungkin menang bersaing dengan Zetta. Zetta seorang pianis cemerlang. Seringkali menjuarai berbagai kontes piano. Tak seperti dirinya yang telah lama meninggalkan piano. Sebenarnya Sion tak ingin terus-terusan bersaing dengan Zetta. Dia hanya ingin hidup tenang sepertihalnya remaja normal tanpa harus menghawatirkan menang dan kalah dari berbagai hal yang di lakukannya. Tapi rupanya Zetta telah mengecap dahi Sion dengan tulisan “MUSUH”. Sehingga selalu berusaha menang dan mengganggu Sion. Kadar mengganggunya sudah masuk tahap bulying. Apalagi kecemburuan terbesar Zetta adalah kedekatan Ryan dan Sion. Gadis itu tak menyukai cewek manapun yang dekat dengan Ryan. Sejak smp dia sudah berhasil menyingkirkan berbagai jenis cewek yang berusaha mendekati Ryan. Tentu saja tanpa sepengetahuan Ryan. Dan usahanya yang terbaru di SMA adalah sengaja menyebarkan gosip kalau dia dan Ryan berpacaran. Ini ampuh untuk menyurutkan nyali para penggemar Ryan. Nggak ada yang berani menentang Zetta karena sikapnya yang seperti ratu. Dan yang paling menyebalkan, kakek Zetta adalah pemilik saham terbesar sekolah itu. Yang artinya sekolah itu sama saja miliknya. Kali ini Zetta kembali ke sekolah setelah izin selama sepuluh hari untuk mengikuti kontes piano di Jakarta. Sion dan teman-temannya bisa merasakan ada hawa pembunuhan disini. Zetta pasti akan mulai melancarkan aksinya untuk membuat hidup Sion di sekolah bagai neraka. Gadis itu kadang bisa berlaku kejam kepada siapapun terutama terhadap Sion.
****************
Sion tampak serius membaca buku kimia di perpustakaan sekolah. Waktu istirahatnya yang berharga terpaksa dimanfaatkannya untuk mencari bahan-bahan tugas kimia dari Pak Jonly. Tentu saja sebagai hukuman karena tidak mengerjakan pr kimia minggu lalu. Gadis itu berusaha berkonsentrasi dalam mengerjakan tugasnya yang paling ia benci ini untuk mengubur keresahannya akibat kedatangan Zetta. Dia menyadari inilah salah satu resikonya jika masuk sekolah yang sama dengan Zetta. Namun ia tak bisa dan tak mau masuk kesekolah lain karena ingin selalu dekat sama Ryan, teman-temannya dan tak ingin jauh dari ibunya. SMA Chandrawinata memang sekolah yang paling dekat dengan tempat tinggalnya.
“UHH!!! Susah banget sih!”. Sion melempar pulpennya dengan jengkel. Mencoba berkonsentrasi ternyata bukanlah hal yang gampang jika harus mengerjakan soal kimia yang rumit. Sion mengacak-acak poninya dengan gemas. Masalah satu belum beres malah timbul lagi masalah berikutnya. Rutuk gadis itu dalam hati. Daripada harus mengerjakan soal-soal kimia yang njelimet, gadis itu lebih memilih menelungkupkan mukanya di meja.
“Eh, Nyon. Jangan ngacak-ngacak poni, ntar keliatan jidat lo yang nonong itu”. JLEB! Seperti ada anak panah yang menancap di jantung Sion. Siapa lagi yang memanggilnya dengan sebutan ‘Nyon’ kalau bukan Ryan. Tokoh utama dari semua masalahnya. Sion mengenadahkan mukanya dan melihat Ryan duduk di hadapannya. Di seberang meja.
“Ini kan jidat-jidat gue. Biar nonong juga jidat gue, napa lo yang repot”. Mulailah mouth attack. Sion memandang Ryan heran ketika dilihatnya cowok itu tersenyum alih-alih manyun dan membalas ucapannya seperti biasa.
“Hari ini gue nggak ada mood mau perang ma lo, Nyon. Gue cuma mau ngomong beberapa patah kata aja ma lo”.
Beberapa pikiran konyol mampir di benak Sion. Apa Ryan mau nembak gue ya? Apa mungkin Ryan baru sadar kalau dah suka sama gue? Atau yang lebih ekstrim, Ryan mau ngelamar gue? Atau ini lanjutan yang nyata dari igauannya pas sakit waktu itu?
“Eh, Nyon. Kok malah bengong”. Tegur Ryan.
“Eh, oh, ya deh. Lo mau ngomong apa?”. Sion menunggu dengan harap-harap cemas. Semoga apa yang akan di omongin Ryan nggak jauh meleset dari dugaannya.
“Gue cuma mau bilang makasih sama elo karna dah ngebantu nyokap ngerawat gue pas sakit”.
“Oh, cuma itu”. Sion sedikit kecewa. Apa cuma itu yang mau di omongin? Nggak ada yang lain? Misalnya ngebahas tentang igauan waktu itu.
“Memang cuma itu. Mangnya lo ngarap gue ngomong apa?”.
Sion termenung. Apa dia harus nanya tentang igauan Ryan waktu itu? Tentang pengakuan cowok itu. Apakah harus? Sion menyadari dia nggak punya nyali untuk nanya hal itu sekarang. Dia hanya belum siap.
"Nggak ada. Selain ketampanan dan kejeniusan gue”. Jawab Ryan narsis.
Sion melengos, “Lo pikir lo yang paling tampan di sekolah sini, Mr. Narsis?”.
“Iya pastinya! Emang ada yang lebih tampan dari gue? Kalo ada gue mau liat”.
“ Ya ada lah!”. Jawab Sion kesal. Gadis itu melihat sekeliling untuk mencari makhluk yang lebih tampan dari cowok didepannya itu. Dia? Nggak. Dia? Bukan. Dia? Sedikitpun nggak bisa ngalahin Ryan. Beberapa cowok yang dilihatnya di perpus nggak ada setengah bahkan seperempat melampui ketampanan Ryan. Ah, apa benar nggak ada cowok yang lebih cakep dari Ryan. Biasanya juga kan jarang banget ada cowok tampan yang sudi mampir ke perpustakaan. Sudah jadi hukum alam cowok tampan anti banget yang namanya nampang di perpustakaan. Kebanyakan nampangnya di lapangan basket atau di lapangan futsal sekolah.
"Nyerah aja deh, Nyon. Gue bilang nggak ada, nggak percaya”. Kata Ryan jumawa setelah melihat Sion nggak bisa menunjuk seseorang yang lebih cakep dari dirinya.
Sion tampaknya belum mau menyerah begitu saja. Matanya terus mencari, siapa tahu ada sesosok makhluk rupawan yang luput dari pengamatannya. Sekaligus mematahkan hukum alam kalau tak ada cowok tampan yang menghuni perpustakaan. Akhirnya disana, disudut perpustakaan di sisi jendela Sion merasa telah menemukan seseorang yang pantas untuk bersaing dengan Ryan. Seberkas cahaya dari jendela menyinari wajah makhluk rupawan itu. Memberikan efek kemilau pada rambut cepaknya yang hitam. Cowok itu tertidur dengan menyandarkan diri dengan relaks di bangku. Membiarkan sinar sang mentari menerpa wajahnya yang rupawan. Sion seperti sedang melihat karya seni yang indah. Karya seni yang nyata dari Sang Maha Pencipta. Tanpa disadarinya, gadis itu telah terpesona untuk sesaat. Sion tersenyum dengan penuh kemenangan. Kali ini ia merasa dapat menang dari Ryan.
“Menurut gue, DIA adalah lawan lo yang terberat”. Ujar Sion sambil menunjuk ke arah makhluk rupawan yang baru saja ia temukan. Ryan menoleh ke arah jari Sion menunjuk dan cowok itu mendapati dirinya mau nggak mau harus setuju dengan ucapan Sion. Dia memperoleh saingan yang terberat.
“Siapa dia?”.
"Masa lo nggak tau sih. Dia kan terkenal banget. Liat saja cewek-cewek itu, mereka pasti datang keperpus bukan untuk baca buku tapi cuma pengen liat wajahnya yang lagi tidur”. Sion menunjuk gerombolan cewek-cewek yang berbisik-bisik dengan serunya sambil tanpa henti melirik wajah cowok rupawan yang lagi tidur itu.
"Maksud lo dia anak baru dari SMK tridaya yang heboh di ceritakan anak-anak itu?”.
"Nah, kan pasti lo tau. Namanya Tyson dan sekelas ma gue”.
"Lucu banget namanya seperti petinju Mike Tyson”.
“Eitss. Jangan ngomentari nama orang. Tu kan nama yang dipilih orangtuanya. Nggak pantes kalo kita komentari. Lagian dia nggak ada miripnya ama Tyson si petinju. Dia itu muka pangeran bukan muka petinju ”. Protes Sion.
"Jangan-jangan lo juga sama dengan cewek-cewek itu. Klepek-klepek sama wajah tampannya sampe ngebela segitunya”. Selidik Ryan penasaran seraya memandang wajah Sion lekat-lekat. Sion memalingkan mukanya, nggak sanggup di pandangi selekat itu oleh orang yang disukainya.
"Mana mungkin. Biar tampan tapi dia bukan tipe gue”.
“Baguslah”. Ryan menghela nafas lega, "Gue jadi nggak perlu bawa si Tyson ke dukun buat ngilangi kutukan karena di kejar-kejar sama elo”.
__ADS_1
"Sialan!”. Sion berusaha memukul Ryan dengan buku kimia yang tebalnya amit-amit. Ryan hanya tertawa sambil menghindari pukulan Sion.
"Eh, STOP, STOP!! Bisa bocor kepala gue, kalo di pukul ma buku setebal itu”.
"Biarin! Lo nyebelin banget sih”.
Ryan cepat-cepat menangkap buku kimia yang super tebel itu dari tangan Sion. Berabe kalau Sion benar-benar berniat memukulnya dengan buku itu. Bisa gepeng kepalanya.
"Dah Nyon, gitu aja kok sewot. Pokoknya gue makasih banget kemarin lo dah ngerawat gue”. Ryan meletakkan buku itu di meja dengan hati-hati. Masih berusaha menjauhkannya dari jangkauan Sion.
“Kerjakan yang bener tuh tugas dari Pak Jonly. Makanya kalo ada tugas tuh di kerjain. Oke? Gue cabut ya. Dah”. Pamitnya sambil sedikit berlari-lari kecil. Mungkin takut jika Sion tetap berniat mengejarnya sambil membawa buku tebal itu.
Sion memandangi punggung Ryan yang perlahan menghilang di balik pintu perpus. Kok dia tau sih aku di hukum Pak Jonly? Pasti ada diantara tiga kurcaci itu yang ngebocorin rahasia negara nih! Pikir gadis itu sebel.Namun Sion nggak dapat menahan diri untuk tersenyum. Kadang-kadang ada waktu seperti ini, waktu yang disebut Sion sebagai gencatan senjata mereka. Saling bercanda tanpa harus beradu mulut. Seandainya setiap hari mereka bisa begini. Tapi sion tau jauh di lubuk hatinya, tanpa bertengkar sedikitpun akan membuat hubungan mereka mendingin dan menjadi biasa.
Sion memutuskan membereskan peralatan perangnya. Dia sudah menyerah untuk mengerjakan tugas Pak Jonly. Untuk saat ini Sion merasa harus resign dulu. Kini pikirannya kembali ke Zetta. Dia tahu Zetta sudah masuk hari ini dan anehnya sampai istirahat kedua ini Sion sama sekali belum melihat Zetta dan dayang-dayangnya. Normalnya, seharusnya ia merasa senang. Namun entah mengapa gadis itu tak merasa tenang. Tidak biasanya Zetta seperti ini. Terlalu diam. Sebagai seorang Zetta yang normal, semestinya cewek berparas Ratu berhati The witch itu akan mulai menerornya. Paling tidak Sang Ratu dan dayang-dayangnya mampir ke kelasnya dulu untuksekedar salam kembali pulangnya Sang Ratu. Dan si Upik Abu harus siap-siap melayani Sang Ratu untuk tiga tahun kedepan ini. Siapa sih si Upik Abu? Yah, gampang di tebak, Sion lah orangnya. Sampai sekarang The Queen of The Witch itu belum juga menampakkan batang hidungnya. Sion merasa resah. Apa yang sedang di rencanakan Zetta?
Setelah selesai merapikan buku dan alat tulisnya, Sion melangkah keluar perpustakaan. Dia memutuskan kembali ke kelas daripada harus diam di perpus memolototin buku kimia super tebel yang isinya sama sekali nggak mampu di terima syaraf-syaraf otaknya. Langkahnya terhenti ketika melihat Adri sedang berdiri bersandar di tembok koridor sekolah dengan sikap superior. NING NONG NING NONG! Alarm bahaya berbunyi di kepala Sion. Ini dia! Sepertinya Sang Ratu mulai beraksi. Kali ini Sang Ratu mengirimkan dayangnya yang paling tomboi, Si Adriana atau Adri, untuk menghadapinya. Gadis tomboi dengan rambut di potong cepak layaknya lelaki itu, memandanginya atau lebih tepat memelototkan kedua bola matanya dari atas sampai bawah dengan pandangan menghina.
“Lo memang bebal banget ya. Nggak bisa di bilangi. Dasar The Silly Girl”. Adri memulai penyerangan. Sion memejamkan mata sejenak. Dia sudah biasa dengan perlakuan Zetta dan pengikutnya. Sudah sejak SMP mereka selalu mem-buly-nya. Selama ini gadis itu masih mampu menerima itu semua karena dia memiliki sahabat-sahabat yang selalu mendukung dan membelanya. Pengalaman selama tiga tahun di SMP, sukses membuat gadis itu dapat mengontrol emosinya dengan baik.
“Maksud lo apa, Drie?”.
"Nggak usah bawel deh. Ikut gue, Zetta mau ketemu!”.
Alih-alih menjawab Adrie justru meng-command Sion untuk mengikutinya. Sion mengikuti Adrie dengan patuh. Dia sebenarnya tak ingin seperti kerbau yang di cucuk hidungnya, yang mau saja datang kapanpun Zetta memanggilnya. Dia sangat tak ingin. Tapi terpaksa. Ia tak ingin orang-orang terdekatnya mendapat getah dari ketidakpatuhannya pada Zetta. Zetta itu Si Ratu Tega yang bisa melakukan apa saja jika dia sedang murka.
Sion di bawa kebelakang gedung perpustakaan. Sebuah taman bunga indah, salah satu tempat penelitian Klub Alam di sekolahnya.
Disanalah Sang Ratu berada di kelilingi dayang-dayangnya. Zetta duduk di sebuah bangku taman dengan Mitha di samping kiri dan Farah di samping kanan. Lagaknya benar-benar seperti seorang Ratu. Obsesi yang menyesatkan. Sion memandangi Zetta. Ia selalu tampak sama. Muka angkuh yang memuakkan dan arogansinya yang seperti Ratu Lalim masih sama. Sayang, padahal Zetta sangat cantik. Wajah Belanda-Sundanya itu sangat menawan. Jika di ilustrasikan, wajahnya itu sebelas dua belas dengan artis cantik Ryanti Catwright tapi hati dan sifatnya seperti Nia Ramadhani di Sinetron Bawang Merah dan Bawang Putih.
"Wah...wah, Sion. Lama nggak jumpa, kangen juga sama elo”. Jika ada orang lewat dan nggak tau dengan Zetta, pasti akan berpikir dia gadis yang baik dan ramah, karena suara lembut nan merdu mengalun dari bibirnya yang indah. Tapi Sion nggak tertipu. Pengalaman selama tiga tahun di SMP telah cukup membuatnya mengerti semua sifat dan tingkah laku Zetta. Itu bukanlah sekedar sapaan biasa. Sion menyadari ada tekanan yang tajam di kata ‘Kangen’. Ia mengerti methafor dari kata itu. Rupanya Sang Ratu ‘kangen’ untuk mem-buly-nya lagi seperti yang sudah-sudah.
“Ada perlu apa sama gue, Zet?”. Sion langsung to the point.
Sion terpana ketika sekonyong-konyong Zetta tertawa. Tertawanya pun tawa ala ratu. Hello, Zett! Sampai kapan lo mau berperan seperti Ratu. Sadar dong lo ada di negeri Indonesia dengan sistem negara Republik bukan Kerajaan.
"Seharusnya lo dah tau. Kalo gue panggil lo kesini, pasti lo dah buat sesuatu yang tabu dan buat gue terusik”.
Tabu? OMG! Sion mengernyitkan dahinya. Kesalahan apalagi yang dibuatnya sampai mengusik Sang Ratu.
"Lo masih nggak paham? Adrie coba jelaskan!”. Perintah Zetta ketika melihat Sion yang belum paham akan maksudnya.
“Lo dah salah karena dekatin Ryan di perpus. Sok mesra-mesraan lagi. Lo tau kan itu kesalahan lo yang paling fatal”.
Akhirnya Sion mengerti. Pantas saja tadi Adrie bilang dia bebal dan silly, ternyata itu semua gara-gara Ryan. Mesra? Sion nggak habis pikir. Apa yang mereka lakukan tadi sampai bisa di kategorikan mesra. Kecemburuan Zetta tampaknya sudah sampai puncak tertinggi.
“Gue nggak ada apa-apa ma Ryan, Zett. Lo salah paham”.
Seperti biasa Sion mencoba mengalah. Nggak ada gunanya melawan Zetta, ia lebih memilih untuk mengikuti permainan Zetta. Gadis itu tau dia berada dalam posisi sulit. Ketentraman hidup Dira, Resti dan Sonia bahkan keluarga mereka berada di tangannya. Sedikit saja ia berulah, nggak lama kemudian ia akan mendengar salah satu keluarga temannya akan di PHK atau di mutasi ketempat yang jauh. Keluarga para sahabatnya memang kebanyakan bekerja di perusahaan-perusahaan milik kakek Zetta. Sion benci sekali dengan kelicikan Zetta. Tapi ia nggak bisa berbuat apa-apa. Yang bisa dia lakukan hanyalah menyenangkan Zetta. Dira, Resti dan Sonia nggak tau jika Sion rela melayani Zetta karena khawatir dengan mereka. Ia terlalu baik untuk mengatakannya. Untuk penderitaan seperti ini Sion merasa masih sanggup untuk menanggungnya. Hal-hal yang dilakukan Zetta kepadanya bagi Sion belum dapat menandingi penderitaannya ketika kehilangan ayahnya. Sehingga selama Zetta dan dayang-dayangnya tidak melakukan sesuatu yang membahayakan jiwa, Sion yakin ia masih tetap kuat. Ia memandang Zetta seperti gadis manja yang ingin semua hal terjadi sesuai kehendaknya. Gadis itu belum dewasa. Ia belum tau arti penderitaan hidup yang sebenarnya.
“Yah, lo tau kan Si. Ryan itu milik gue. Jadi gue nggak suka ada cewek-cewek yang nggak jelas dekat-dekat ma Ryan. Apalagi cewek miskin, jelek, yatim macem lo. Nggak ada pantas pantasnya".
Sion mengangguk. Jelas dia tau. Kata-kata yang sama selalu di dengarnya selama tiga tahun ini. Mana mungkin ia nggak tau. Tiba-tiba Sion tersadar. Beberapa minggu ini ia lupa jika Zetta juga bersekolah di tempat yang sama. Hampir saja ia ingin menanyakan perasaan Ryan sekaligus menyatakan perasaannya sendiri. Berbahaya sekali. Nyaris saja ia membuat kesalahan fatal yang dapat membuat sahabat-sahabatnya sengsara. Sion merasa sedih. Kali ini lagi-lagi ia harus menekan perasaannya dalam-dalam demi keegoisan Zetta.
“Ya gue tau. Ryan itu milik lo, gue cuma sekedar teman kecilnya aja”.
Zetta tersenyum penuh kemenangan. Ia berdiri dan langsung diikuti pula oleh Mitha, Adrie dan Farah. Zetta mendekati Sion dan membisikkan kata-kata ancaman.
"Bagus Si. Kali ini lo gue ampuni. Tapi kalo lain kali gue liat lo ada di dekat Ryan. Siap-siap mendengar sesuatu yang menyedihkan dari mulut sahabat-sahabat lo”.
Zetta mengakhiri ancamannya dengan tawa gembira kemudian pergi meninggalkan taman itu bersama dayang-dayangnya.
Sion bergeming di tempatnya berdiri. Rasanya sulit menerima kenyataan kalau Zetta benar-benar kembali dalam hidupnya. Ancaman Zetta tadi seakan menegaskan keberadaan Zetta. Sion harus bersiap dengan sepak terjang Zetta dalam tiga tahun ini. Sion berharap tiga tahun itu akan berlangsung cepat bagai tiga minggu. AHH! Sion menghembuskan nafas kuat-kuat. Mustahil sudah menjalani kehidupan SMA yang normal. Kehidupannya bagai neraka saat di SMP dulu nampaknya akan kembali di rasakannya. Sejarah berulang.
__ADS_1