
Kamar tidur yang jarang sekali dihuni sepasang suami istri itu terasa lebih dingin dari biasanya. Tidak ada kehangatan sama sekali yang terasa. Kasur empuk yang seharusnya terasa hangat justru menjadi saksi bisu betapa tidak sehatnya hubungan XueHe dan Alexa.
Alexa masih duduk di kursi riasnya memerhatikan sang suami yang masih bergeming sambil memegangi hasil tes kehamilan.
"Bagaimana? Apa kau masih ingin berkata aku bohong?" tekan Alexa.
dia benar-benar lelah dengan sikap suaminya beberapa bulan ini. Kehamilan yang seharusnya membuat Alexa senang justru tidak bisa ia rasakan. Suami tercintanya masih sibuk dengan masa lalunya.
"Tapi Alexa, kapan aku melakukannya? Kita bahkan tidak pernah tidur satu kamar." XueHe memalingkan wajah.
Alexa bangkit dari tempat duduknya menuju XueHe. "Tidak pernah? Tolong diingat sekali lagi, kau meniduriku ketika sedang mabuk! Mengerangkan nama Yuan Lu! Mendesahkan namanya!" tangannya memukul pelan dada XueHe, "kau jahat! Aku yang melayanimu, tapi kau mendesahkan nama wanita lain!"
"Alexa, aku--"
"Cukup! Jangan berkelit dengan kalimatmu. Aku lelah dengan sikapmu yang selalu mendamba Yuan Lu!"
Alexa menggeram. "Sadar, Xue! Kau sudah menikah dan Yuan Lu hilang ingatan. Dia juga sudah memiliki tunangan." Alexa mencengkram kerah kemeja suaminya sambil berbicara pelan, "kau bahkan tidak ada dalam ingatannya."
Meski terdengar pelan, tapi napas Alexa begitu membara. Emosinya benar-benar meledak. Keheningan kembali menyelimuti keduanya. Alexa benar-benat kesal dengan sikap suaminya, dengan Yuan Lu, dan juga dengan dirinya sendiri.
Dia yang mencintai XueHe, dia yang berjuang mendapatkan cintanya, dia juga yang bertahan dalam pernikahan yang tidak sehat ini. Mengapa semua itu tidak cukup untuk menyentuh hati suaminya. Kenapa hanya ada Yuan Lu seorang dalam hati suaminya. Apa kurangnya dia.
Mengapa XueHe sebuta itu sampai tidak bisa melihat sedikit saja cinta yang ditunjukkan Alexa untuknya.
Tidak jarang Alexa berpikiran untuk mengusir keberadaan Yuan Lu sejauh mungkin. Menghilangnya sampai tidak ada yang bisa menemukannya.
"Maaf, tapi hatiku begini adanya. Biarkan dia berjalan semestinya. Kita awalnya berteman, lalu kenapa berakhir di pernikahan?" XueHe menengadah, memerhatikan istrinya yang masih berdiri menatapnya tidak percaya.
__ADS_1
Air mata yang membahasi pipinya sama sekali tidak membuat XueHe merasa iba sedikitpun. Sejak awal pernikahannya adalah kesalahan. Salahnya yang mau menerima perjodohan, salahnya yang tidak bisa bersabar menunggu Yuan Lu kembali ke pelukannya, salahnya yang terlalu patuh dengan perintah ayahnya.
"Jika pernikahan ini adalah kesalahan, lalu mengapa kau meniduriku!" pekik Alexa.
"Itu kecelakaan, Lexa. Aku mabuk! Tolong jangan bahas itu lagi!"
"Dalam pernikahan tidak pernah ada kata kecelakaan, Xue. Yang ada hanya kesengajaan. Kau bilang apa? Jangan dibahas? Mana bisa, dalam perutku ada anakmu!"
Xue He memijit pelan keningnya yang semakin pening. Perdebatan itu tidak akan selesai sampai kapan pun. Semakin dia menanggapi Alexa, maka perempuan itu akan semakin menjadi emosinya. Sedangka dia mau melawan pun enggan.
Hari semakin larut, emosi Alexa perlahan mulai mereda. Dia juga merasa lelah. Baik hati, pikiran, batin, dan raga. Dia perlu istirahat untuk memulihkan semuanya, tapi tidak dengan hatinya. Luka yang ditorehkan XueHe untuknya terlalu dalam sampai dia kesulitan menangani hatinya sendiri.
Alexa harus segera tidur, besok dia memiliki janji dengan Yuan Lu. Gadis itu meminta untuk bertemu untuk pertama kalinya setelah sekian lama.
Sejak mereka pertama kali bertemu, Alexa tidak oernah mendapatkan banyak informasi atau apa pun dari Yuan Lu. Ingatan yang rusak dan kenangan yang hilang membuatnya terbatas dalam mengingat.
Alexa memerhatikan sisi kanannya. Kosong seperti biasa.
"Kapan aku bisa melihatmu setiap pagi di tempat ini, Xue?" gumamnya.
"Tidak apa, aku akan bersabar menunggumu mencintaiku. Menerima kenyataan jika aku adalah istrimu yang sah. Aku yang mencintaimu, menunggumu dan mendambamu lebih dari siapapun. Bahkan Yuan Lu tidak akan pernah sebanding denganku."
...***...
Semua pelayan memberi salam kepada Alexa. Dia bangun lebih awal dan menyiapkan keperluan XueHe seperti biasa, tapi salah satu pelayan berkata jika XueHe sudah berangkat lebih awal.
"Apa dia mengatakan sesuatu?"
__ADS_1
"Tidak, Nona. Tuan Muda justru sangat diam sejak bangun. Beliau tidak menyentuh makana dan minumannya sama sekali."
Alexa mengehela napas lalu memerintahkan pelayan itu pergi. Tiba-tiba suara ponselnya berdering, terlihat nama ayahnya di layar ponsel.
"Ada apa, Ayah?" tanya Alexa.
[Sayang, kapan kau mau melakukannya? Ayah sudah mempersiapkan semuanya.]
"Aku masih mencari waktunya. Untuk sekarang aku tidak ingin melakukan sesuatu yang akan merugikan hubunganku dan XueHe. Fokusku saat ini untuk memastikan apakah Yuan Lu benar-benar hilang ingatan atau dia hanya berpura-pura untuk mengelabui XueHe."
Suara tawa terdengar dari seberang telepon. [Perusahaan ayah dan saudaranya sudah ada di tangan Ayah, tapi ada salah satu yang akan sedikit mengganggu rencanaku.]
"Mengganggu? Apa maksud Ayah?"
[Alexa, aku hanya mengatakan ini sekali. Kau harus berhati-hati dengan keluarga Zen. Sepertinya keluarga itu akan menarik semua aset milik keluarga Yuan Lu. Ketertarikannya dengan Keluarga itu sungguh tidak tertandingi]
"Zen?"
[Ya. Sudah dulu, Ayah akan menghubungimu lagi nanti.]
Panggilan itu berhenti sepihak, padahal Alexa ingin bertanya banyak.
"Zen? Marga siapa itu?" gumamnya. Hatinya mendadak gelisah, dia bahkan tidak tahu siapa itu, di mana tinggalnya, perusahaan apa, dan yang terakhir, kenapa dia begitu tertarik dengan keluarga Yuan Lu.
Bersambung ....
Senin, 15 Agustus 2022
__ADS_1