
Dua bersaudara Zhu dan Rui terlihat yakin dengan keputusannya membawa Yuan Lu pulang bersama mereka. Bahkan mereka berani menjamin di hadapan kedua orangtua Yuan Lu jika adik sepupunya itu akan dijaga baik-baik. Zhu juga mengatakan jika lusa kedua orangtuanya akan pulang. Jadi, Yuan Lu tidak akan kesepian di rumah.
Yukihira terlihat tidak yakin dengan keputusan Rui dan Zhu untuk mengajak Yuan Lu kembali ke Tianjin. Bukannya dia tidak percaya dengan kakak beradik itu. Hanya saja Yukihira khawatir di sana Yuan Lu akan mengalami hal yang menyakitkan lebih dari keadaannya pasca kecelakaan.
Akan tetapi Zhu dan Rui berkeyakinan kuat dan mereka berani bertukar shif untuk menjaga Yuan Lu. Parahnya, Zhu menyuruh kekasihnya untuk mempercepat pernikahan mereka supaya Mei bisa ia suruh menjaga Yuan Lu.
"Dasar bajingan licik, kau menikahiku untuk dijadikan pengasuh atau istri?" gerutu Mei.
Zhu berdecak tidak suka. "Ayolah, kau kan perempuan, masa tidak punya belas kasih sama sekali?"
Mei menyatukan kedua tangannya dan berkata layaknya sedang berdoa. "Tuhan, jika Zhu memang jodohku, maka izinkan aku bisa memukul wajahnya walau hanya sekali," ujarnya dan berlalu pergi.
Rui dan Yukihira tergelak bersama. Pasangan yang sedang berdiri di dekat mereka sungguh terlihat menggemaskan. Selalu bertengkar jika bersama tapi saling merindu jika berjauhan.
Yukihira menghentikan tawanya dan kembali pada pembahasan. Dia bertanya apakah Zhu dan Rui bisa menjaga Yuan Lu dengan baik, atau malah membuatnya semakin parah karena mereka berdua sama-sama sibuk dengan pekerjaannya.
Rui mengangguk penuh keyakinan, dia juga mengatakan kalau Yuan Lu harus menyelesaikan kuliahnya di Tianjin. Jika kuliahnya selesai maka semua keputusan ada pada Yuan Lu. Ingin kebali ke Jepang atau menetap di sana.
“Kau takut ingatan Yuan Lu pulih ‘kan?” tanya Zhu yang langsung membuat Yukihira mematung. Pertanyaan itu tepat mengenai hatinya yang sedang gundah.
Yukihira mengusap leher belakangnya mengurangi rasa gugup. “Aku hanya khawatir dia akan sakit hati saat ingatannya kembali dan mengetahui pernikahan Xue He dengan Alexa. Aku tidak berani menjamin keadaan hatinya akan baik-baik saja.”
Zhu dan Rui hanya saling lihat satu sama lain, tapi wajah keduanya menyunggingkan senyum. Zhu menepuk bahu Yukihira dan menyuruhnya percaya kalau Yuan Lu akan baik-baik saja selama mereka berdua berada di dekat Yuan Lu apa lagi ada Nara yang selalu siaga di dekatnya.
Yukihira ingin memercayai perkataan Zhu, tapi hatinya tidak sanggup untuk percaya. Pikirannya logis, dia tahu seberapa besar Yuan Lu mencintai Xue He.
“Kalau begitu aku akan kembali ke Jepang lusa. Beberapa karyawan sudah menelpon dan menyuruhku kembali karena Alexa menggunakan menu restoran kami untuk acara pernikahannya.”
Zhu dan Rui mengiyakan. Namun sebelum Yukihira pergi Rui mengatakan sesuatu yang membuat ekspresi Yukihira menjadi tegang.
__ADS_1
“Kau memang iblis, Rui,” ujar Yukihira.
“Itu adalah trik supaya kau bisa mendapatkan Yuan Lu seutuhnya!” tukas Rui penuh semangat.
Sebuah pukulan mendarat sempurna di punggung Rui sampai terdegar suara keras. Itu adalah perbuatan Zhu. “Jangan menghasut orang untuk melakukan kejahatan, bodoh!”
Rui membela diri. “Siapa yang menghasut? Aku hanya memberinya ide bagus supaya mereka bisa bersama saat Yuan Lu tiba di Jepang.”
Zhu memicingkan matanya tidak percaya. Rui adalah manusia penuh tipu muslihat, jadi ide apa pun yang dia berikan pasti akan merugikan orang lain.
Yukihira hanya tertawa melihat perdebatan kakak beradik itu. Rasa lelah yang sebelumnya hinggap di dirinya seolah hilang hanya karena melihat Zhu dan Rui berdebat. Dia melambaikan tangannya dan pergi ke ruang rawat Yuan Lu.
Ketika Yukihira sudah masuk ke dalam ruang rawat Yuan Lu, saat itu Zhu sedikit penasaran dengan ide Rui dan menanyakannya.
"Kenapa kau sangat penasaran?" tanya Rui.
"Cepat beritahu saja, kenapa susah sekali!"
Zhu terkesiap. Dia tidak bisa berkata apa-apa saat mendengar ide Rui yang sudah dia ketahui bagaimana akhirnya nanti.
"Aku hanya ingin membawa Yuan Lu kembali ketika Xue He dan perempuan itu menikah."
Zhu memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana, dia tidak memberi komentar apa pun karena dia sendiri juga sudah lelah dengan kisah percintaan Yuan Lu akhir-akhir ini. Belum lagi soal orangtua Xue He yang tiba-tiba datang ke rumah sakit menjenguk Yuan Lu.
Mengingat itu membuat Zhu kesal sampai ingin menjauhkan Yuan Lu dari kehidupan Xue He sejauh-jauhnya. Parahnya dia dan Rui lebih memilih supaya ingatan Yuan Lu tidak pernah kembali.
...***...
Yukihira memberikan bunga mawar merah ke pada Yuan Lu. Dia mendapatkan bunga itu di taman rumah sakit.
__ADS_1
"Tidak ada aroma wanginya," keluh Yuan Lu.
Sudut bibir Yukihira terangkat. Dia langsung meminta bunga itu dari Yuan Lu lalu ditolak mentah-mentah.
"Barang yang sudah dikasih tidak boleh diminta lagi!" tegur Yuan Lu.
"Aku tidak memintanya, hanya pinjam sebentar. Cepat berikan!"
Yuan Lu berdecak dan memberikan bunga itu walau enggan. Namun, dia bingung ketika Yukihira mengambil parfume dari dalam tasnya dan disemprot ke bunga mawar tersebut.
"Nah, sudah." Yukihira mengembalikan bunga itu kepada Yuan Lu, "kalau begini kau bisa mencium wangiku sepanjang hari."
Hal berikutnya yang terjadi adalah Yuan Lu tertawa ketika melihat tingkah Yukihira dan bunga itu diciumnya. Aroma parfume yang disemprot Yukihira membuatnya menjadi harum.
Sebuah ide tiba-tiba terlintas di kepala Yukihira saat melihat Yuan Lu sedang menikmati aroma yang ada di bunga mawar.
"Hey A-Yuan," panggil Yukihira.
"Kalau kau sangat menyukai itu, kenapa tidak memelukku saja? Bukankah wanginya sama?" ujar Yukihira ringan tapi langsung mendapat cacian dari Yuan Lu.
"Kenapa kau tidak mati saja?" ujar Yuan Lu yang langsung dibalas gelakan Yukihira.
"Kalau aku mati, siapa yang akan mencintaimu sepenuh hati?" ujar Yukihira tapi beberapa detik kemudian dia menutup mulunya dengan tangan, "ah, tidak. Bukan, bukan! Maafkan aku!" Yukihira menundukkan kepalanya merasa malu dengan ucapannya barusan.
Yuan Lu bergeming. Wajahnya tiba-tiba terasa panas mendengar perkataan Yukihira. Dia malu tapi juga merasa lucu karena sikap Yukihira yang mendadak menjadi malu-malu.
"Oh ya, lusa aku kembali ke Jepang. Cepat sembuh supaya kau bisa makan masakanku lagi," ujar Yukihira.
Yuan Lu mengacungkan ibu jarinya dan mengangguk. "Pasti," ujarnya.
__ADS_1
Bersambung ....
Sabtu, 30 Oktober 2021