Endless Love

Endless Love
Meja Kosong yang Mulai Terisi


__ADS_3

Dari sekian banyaknya makanan, Yuan Lu hanya ingin nasi goreng rumahan. Dia memaksa Zhu dan Rui untuk membuatkannya. Namun mereka menolak karena harus pergi mengurus pekerjaan mereka.


"Apa urusan perutku tidak penting?" keluh Yuan Lu tidak terima diabaikan.


"Bukannya tidak penting. Kalau hari ini aku tidak bertemu client, aku pasti membuatkan nasi goreng sampai kau muntah," ujar Zhu sambil membenahkan beberapa lembar kertas yang ada di atas meja.


"Kalau begitu boleh aku pergi?" tanya Yuan Lu.


"Kemana?" tanya Zhu dan Rui.


"Mencari makan."


Zhu bergeming sambil berpikir lalu mengambil ponselnya dari dalam saku. "Kau bisa ke sini sebentar?" ujarnya kepada orang yang diteleponnya, "ah, bukan. Ini agak mudah."


"Bagus, aku tunggu lima menit, jangan terlambat." Usai berbicara Zhu langsung mematikan ponselnya. Dia melihat Yuan Lu memiringkan kepalanya dan Rui yang duduk menatapnya sambil menyesap susu cokelat.


"Yukihira akan datang lima menit lagi, aku pergi dulu," ujar Zhu, dia berbalik, "Rui, tunggu sampai Yukihira datang baru kau boleh pergi."


"Hei, kenapa malah aku yang disuruh menunggunya!" teriak Rui.


Zhu hanya tertawa dan melambaikan tangan ketika hendak menutup pintu. Kini tinggal Yuan Lu dan Rui yang sedang duduk di sofa.


Yuan Lu melihat ekspresi Rui ketika menyesap susu cokelatnya dengan rapi dan terlihat berkelas. Sudut bibirnya sedikit bergerak siap untuk mencibir, tapi tiba-tiba tangan Rui sudah ada di wajahnya siap untuk meremas kapan saja.


"A-apa yang Kakak lakukan? Mau membunuhku?" ujar Yuan Lu agak takut.


"Kenapa kau melihatku begitu? Mau bertarung?" ujar Rui tidak suka diperhatikan Yuan Lu begitu lama.


Dahi Yuan Lu berkerut. "Baginda Rui yang terhormat. Bagaimana aku melakukan itu sedangkan keadanku saja seperti orang cacat," ujarnya memelas.

__ADS_1


Rui melepas tangannya dan menghabiskan susu cokelat itu. Dia melihat jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul 06.48.


Suara bel tiba-tiba terdengar sampai dua kali.


"Itu pasti dia," ujar Rui bergegas membuka pintu.


Dugaannya benar. Itu Yukihira. Dia langsung menepuk bahu Yukihira dan berkata, "Tolong jaga tuan putri yang cerewet ini. Aku sudah terlambat untuk bertemu dengan client." Rui langsung pergi tanpa memedulikan Yukihira yang masih bergeming karena bingung.


Akan tetapi, belum lama Rui keluar dari rumah, tiba-tiba pintu kembali terbuka. Rupanya Rui kembali, dia berjalan mendekati Yukihira dan meminta kunci motornya.


"Aku terlambat, kalau pergi pakai mobil pasti macat. Jadi kita tukaran saja," Rui memberikan kunci mobilnya, "Pakai ini."


Yukihira menuruti perintah Rui. Dia mengeluarkan kunci motor dari dalam saku jaketnya. Rui langsung mengambil kunci itu dan berangkat menemui clientnya.


Di rasa Rui sudah benar-benar pergi, Yukihira menoleh ke Yuan Lu yang sedang memerhatikannya dengan kepala sedikit miring yang disangga dengan tangan kanan.


Yuan Lu hendak bicara tetapi perutnya tiba-tiba berbunyi. Hal itu membuat wajahnya memerah karena malu sampai Yukihira tergelak.


"Kau lapar?" tanya Yukihira.


"Sepertinya aku akan mati karena tidak makan dari semalam." Kini Yuan Lu yang tergelak. Rasa laparnya membuat malunya mendadak hilang.


"Mau makan di rumah atau di luar?"


Yuan Lu menjentikkan jari. "Luar!"


...***...


Semua pelayan yang ada di restoran nampak terkejut melihat Yukihira datang bersama seorang perempuan. Bos mereka mendorong kursi roda itu ke arah meja yang paling ujung dekat jendela.

__ADS_1


Sudah lama sekali mereka tidak melihat meja di sudut rumah makan itu berpenghuni. Selama Yuan Lu tidak datang ke rumah makan itu, Yukihira selalu memberi perintah untuk mrngosongkan mejanya, tapi saat ini perempuan yang biasa menempati meja itu datang kembali.


Hal yang membuat mereka semakin takjub adalah ekspresi bos mereka yang tidak bisa berhenti tertawa saat berbicara dengan Yuan Lu.


"Tidakkah kau merasa aneh? Bos Yu terlalu bahagia! Wajahnya yang tampan semakin indah kalau sedang tersenyum," ujar salah satu pelayan itu.


"Hei, bukannya itu bagus? Selama ini kita hanya melihat wajah muramnya 'kan?" Pelayan itu menyentuh dadanya, "setiap kali aku melihat Bos tidak tersenyum, rasanya jantungku bisa berhenti kapan saja. Aura intimidasinya sangat mengerikan."


"Benar sekali!"


Mereka terus membicarakan Yukihira mereka sampai salah satu koki datang memberikan nampan berisi makanan.


"Sampai kapan kalian mau mengintip Bos, hah!" cerca si koki.


Beberapa pelayan yang mengintip Yukihira dan Yuan Lu nampak gugup. Mereka ketahuan sedang menikmati pemandangan yang sudah lama tidak dilihat.


"Ma-maafkan kami!" ujar semua pelayan lalu kembali bekerja.


Koki itu melihat ke arah meja di mana Yukihira duduk. Wajah Yukihira yang terlihat penuh semangat membuat koki itu tersenyum.


"Apa yang akan anda lakukan jika nona itu tidak datang kembali, Tuan Muda?" gumam koki itu.


Bersambung ....


Jum'at, 05 Oktober 2021



#Pict from Pinterest

__ADS_1


__ADS_2