
Tanggal pernikahan sudah ditentukan, kedua belah pihak juga sudah sepakat. Alexa begitu bahagia karena pernikahan itu akan diselenggarakan lebih cepat dari rencana sebelumnya.
Hari ini Alexa dan Xue He menyiapkan keperluan pernikahan mereka. Mulai dari undangan, makanan, sampai baju pernikahan.
Alexa menunjukkan beberapa foto baju pernikahan kepada Xue He yang menurutnya begitu indah. "Gaun ini cantik, apa aku cocok memakai ini?"
Xue He hanya membalas dengan gumaman, kedua matanya masih fokus kepada ponsel untuk membaca beberapa pesan.
"Kalau ini?" tanya Alexa lagi.
"Kalau kau yang pakai, sekua terlihat indah." Begitulah tanggapan Xue He.
Kepala dan hatinya tidak berada di tempat yang sama seperti raganya. Kapalanya sibuk memikirkan Yuan Lu, hatinya terus gelisah karena merasa ragu dengan pernikahan Yuan Lu, sedangkan jemarinya sibuk membalas beberapa pesan dari asistennya di rumah sakit dan orang suruhannya untuk mencari Yuan Lu.
Alexa mengembungkan pipinya karena diabaikan, tapi caranya merajuk adalah dengan memeluk lengan Xue He dan menggerutu sambil menyandarkan kepalanya ke lengan itu.
"Xue He, jangan abaikan aku. Minggu depan kita akan menikah," ujarnya sambil menunjukkan beberapa gambar baju pernikahan, "lihat, bantu aku memilihnya."
“Alexa, pilih yang kau suka. Aku pasti akan memakainya,” ujar Xue He tidak ingin berdebat.
__ADS_1
Jika saat itu yang di sisinya adalah Yuan Lu, mungkin sikap Xue He akan lebih baik dan mengabaikan semua hal yang mengganggu dunianya dan Yuan Lu. Prinsipnya hanya satu, membahagiakan Yuan Lu.
Namun, semakin dia mengingat kenangannya bersama Yuan Lu hatinya justru semakin terasa sakit. Rasanya seperti ada batu besar yang menimpa dadanya sampai kesulitan bernapas.
......
Alexa hanya menghela napas. Seharian bersama Xue He rasanya seperti sedang pergi dengan robot. Minim bicara, minim ekspresi, seperti tidak memiliki semangat. Semua itu membuat Alexa ingin berteriak.
Bahkan sampai mengantar pulang ke rumah pun Xue He masih irit bicara dan lebih memerhatikan ponselnya daripada pernikahannya. Seperti biasa, dia hanya menunjukkan senyumnya seperti tidak ada masalah.
“Langsung tidur, jangan begadang,” ujar Xue He ketika Alexa hendak membuka pintu mobil.
“Baik.”
Saat itu dia teringat saat pertama kali melihat Yuan Lu di rumah sakit dan mereka berkenalan. Alexa melihat dengan jelas bagaimana Xue he memperlakukan Yuan Lu dengan sangat lembut dan penuh kasih sayang. Bahkan wajahnya tidak berhenti berekspresi.
“Aku sangat iri denganmu, Yuan Lu. Semoga kita bisa bertemu lagi.”
Alexa masuk ke dalam rumah sambil membawa rasa iri, kecewa dan lelah bersamaan. Dia ingin segera mandi air hangat dan merebahkan badannya berharap besok pagi mendapat kebahagiaan yang jauh lebih baik.
__ADS_1
Akan tetapi saat tiba di dalam rumah Alexa justru diajak mengobrol oleh ayahnya. Untuk membahas sejauh mana persiapan Alexa dan Xue He untuk pernikahan minggu depan.
Sayangnya jawaban yang didapat hanyalah helaan napas berat dan senyuman Alexa yang terlihat dipaksakan.
"Masih diabaikan olehnya?" tanya Ayah Alexa.
Alexa mengangguk dan memeluk ayahnya. "Bagaimana aku menaklukan A-Xue?"
"Kau sakit? Kalau berat bagimu, lepas saja. Ayah akan bicara pada Tuan Tian untuk membatalkan perjodohan kalian."
Alexa terkejut mendengar ucapannya dan langsung menolak mentah-mentah. "Jangan ayah! Aku mencintai A-Xue! Aku tidak mau kehilangan dia."
"Sudah lama aku menantikan hari di mana bisa bersanding dengannya. Kalau ayah melakukan itu, aku akan sakit hati."
Tidak ada kebohongan dalam kalimat Alexa. Dia memang mencintai Xue He sepenuh hatinya. Namun, rasa cintanya itu justru menjadi duri untuk hatinya.
Bersambung ....
Kamis, 28 Oktober 2021
__ADS_1