
Ini sudah hari ketiga Yuan Lu sering berkunjung ke rumah makan milik Yukihira, dan selama itu juga dia selalu mendapat banyak cerita menarik darinya. Yuan Lu seolah lupa kalau sudah hampir seminggu tidak bertemu dan bertukar kabar dengan Xue He. Di pihak Xue He pun sama sekali tidak ada keluhan ataupun permintaan untuk sekadar menelpon mengatakan rindu.
Akan tetapi, untuk hari ini Yuan Lu meminta Xue He menjemputnya di rumah makan Yukihira tapi tidak ada jawaban apapun. Yuan Lu hanya berdecak lalu meletakkan ponselnya kembali ke dalam tas.
"Tidak dibalas?" Yukihira tertawa meledek.
"Dia sibuk, tidak sepertimu yang menganggur!" sindir Yuan Lu.
"Hei, mana ada aku menganggur?" Yukihira merentangkan tangannya dan menoleh ke kanan lalu ke kiri, "pelangganku banyak, aku sibuk 'kan?"
Sudut bibir Yuan Lu sedikit naik, dia siap memaki, "Mana ada orang yang sibuk tapi duduk di sini dan bercerita banyak hal?"
Yukihira tersenyum dan bertopang dagu, "Kesibukanku saat ini adalah membuat Tuan Puteriku tersenyum."
Yuan Lu tergelak dengan penuturan Yukihira. Laki-laki di hadapannya ini sungguh pandai merangkai kata manis.
Percakapan mereka terus berlamgsung sampai tidak terasa kalau sudah satu jam berlalu. Sebuah mobil parkir di depan rumah makan Yukihira. Seorang laki-laki berpakaian rapi menghampiri Yuan Lu dan Yukihira yang terlihat asik bercengkrama. Tawa Yuan Lu yang begitu lepas membuat laki-laki itu mempercepat langkah kakinya.
“Yuan Lu,” panggil laki-laki itu.
Yuan Lu dan Yukihira menoleh bersamaan, mereka melihat Xue He berdiri dengan wajah yang terlihat begitu lelah.
“Kak Xue He?” ujar Yuan Lu, dia bangkit dari kursinya dan langsung memeluk Xue He. Dia juga mengenalkan Xue He ke Yukihira. Namun ekspresi kedua laki-laki itu sangat tidak bersahabat walau saling melempar senyum.
__ADS_1
“Sudah selesai? Bisa kita pulang sekarang?” tanya Xue He.
Yuan Lu mengangguk dan mengucapkan terima kasih kepada Yukihira, begitupun dengan Xue He. Yukihira terus memerhatikan Yuan Lu keluar bersama Xue He sampai mereka benar-benar pergi jauh dari jangkauan matanya.
Sebuah dengkusan terdengar samar, “Apa dia tipe laki-laki yang kau suka, A-Yuan?” gumam Yukihira.
...***...
Di dalam mobil Yuan Lu sama sekali tidak berhenti menceritakan tentang apa saja yang dilakukannya bersama Yukihira. Dia bercerita dari awal mereka bertemu sampai hari ini. Bahkan Yuan Lu tidak segan mengomentari soal perubahan yang dialami Yukihira. Laki-laki itu semakin tampan, mandiri dan sangat dewasa, begitulah katanya.
Mobil yang dikndarai Xue He tiba-tiba berhenti di pinggir jalan. Hal itu membaut Yuan Lu menggeram dan mengeluh karena hampir saja menubruk jendela mobil.
“Kenapa tiba-tiba berhenti?” tukas Yuan Lu.
“Apa sebahagia itu bertemu dengan Yukihira?” kalimat pertama yang dilontarkan Xue He sejak mereka masuk ke dalam mobil membuat Yuan Lu mengerenyit.
“Apa kau tidak senang kalau bersamaku?”
Kali ini Yuan Lu benar-benar dibuat terperangah dengan perkataan Xue He. Dia berpikir kenapa kekasihnya bertanya seperti itu. Bukankah dia jelas tau jawabannya? Setiap hari Yuan Lu selalu merindukannya. Selalu ingin menghabiskan waktu bersama sampai larut malam. Namun waktu yang Xue He berikan sungguh singkat.
“Kalau kau sebahagia itu, kenapa menyuruhku datang menjemput? Bukankah lebih bagus jika dia yang mengantarmu pulang?”
Jawaban Xue He membuat Yuan Lu terperangah. Dahinya mengerenyit, "Kakak lelah, ya?"
__ADS_1
Terdengar helaan napas berat dari Xue He, "Aku lelah. Di rumah sakit masih banyak pekerjaan. Lalu kau minta aku menjemputmu yang sedang berduaan dengan laki-laki lain. Apa itu pantas untuk kulihat?" cercanya.
Yuan Lu merasa ada jarum yang menusuk jantungnya. Dia belum pernah melihat wajah Xue He yang dingin
seperti malam ini, tapi hal yang paling menyakiti hatinya adalah ucapan Xue barusan.
Apakah Xue He menyesal karena sudah menjemputnya? Begitulah yang ada di pikiran Yuan Lu saat itu.
“Aku sedang mengurus beberapa pasien di rumah sakit sampai menyerahkan adikku kepada Alexa untuk mengurusnya yang masih dirawat. Aku menyempatkan waktu untuk menjemputmu karena sadar kita jarang bersama belakangan ini, tapi kau? Kau malah bersenang-senang di luar dengan laki-laki lain?” geram Xue He.
“Aku ….” Yuan Lu meremas tali tas yang dikenakannya.
“Yuan Lu, aku tau kau marah karena kesibukanku di rumah sakit. Aku juga tau kau marah karena kasus Alexa yang dekat dengan keluargaku, tapi bisakah sedikit saja kau mengerti soal keadaanku?” geram Xue He.
Yuan Lu hanya menunduk, belum pernah dia melihat apa lagi mendengar Xue He marah sampai seperti ini, tapi kali ini dia benar-benar melihatnya. Memang tidak sampai berteriak, tapi setiap kalimat yang keluar dari mulut Xue He bagaikan belati yang menyayat hatinya.
“Maaf,” gumam Yuan Lu. Tidak ada kata-kata lain yang bisa ia ucapkan selain maaf.
Xue He tidak mengindahkan. Dia kembali mengendarai mobilnya. Tidak ada yang memulai percakapan.
Bahkan Yuan Lu yang ceria sampai menggigit bibirnya agar tidak menangis. Keheningan itu terus berlangsung sampai mereka tiba di rumah Yuan Lu.
“Terima kasih sudah menyempatkan waktu untuk menjemputku, Kak,” ujar Yuan Lu sebelum keluar mobil.
__ADS_1
Di dalam mobil, Xue hanya bisa menghela napas sambil memijit pelan keningnya yang terasa pening.
Bersambung ....