
“Kecelakaan pesawat yang terjadi di hutan Shiratani Unsuikyo menyebabkan lima korban mengingal dan 20 korban lainnya dalam keadaan kritis. Pilot dan wakapilot serta pramugari yang lain juga mengalami keadaan yang sama dengan para penumpang.” Sebuah berita yang sudah didengar Xue He selama empat hari ini.
Xue He mematikan televisi yang baru saja di tontonnya. Dia merogoh ponsel yang ada di saku bermasud menghubungi Yuan Lu, tapi nomor yang dihubunginya tidak aktif sejak empat hari lalu. Dia terlalu jenuh karena tidak mendapat kabar dari Yuan Lu beberapa hari ini.
Perasaan gundah melanda hatinya sampai tidak bisa konsentrasi menangani beberapa pasien. Hal itu membuatnya sampai meminta tolong kepada Alexa menggantikannya beberapa waktu untuk menjaga pasien dan adiknya. Hari itu pikirannya sungguh tidak tenang kerena dipenuhi dengan wajah Yuan Lu.
Semakin ditahan perasaannya, hatinya semakin gundah. Dia sangat tidak menyukai kegelisahan yang terus menghantui pikiran dan hatinya.
“Ada apa? Kau terlihat tidak seperti dirimu yang selalu tenang, ada masalah?” tanya Alexa, dia heran melihat Xue gelisah sejak kemarin.
Xue He menghela napas, “Yuan Lu.”
“Ada apa dengannya?”
“Sudah empat hari aku tidak bisa menghubunginya. Padahal seminggu yang lalu aku masih bisa menghubunginya.” Wajahnya terlihat begitu lesu. Sungguh pemandangan yang tidak Alexa sukai.
Melihat Xue He seperti kehilangan separuh hidupnya membuat Alexa tidak tega. Dia menyarankan Xue He untuk menemui Yuan Lu dan mengajaknya kencan untuk mengganti beberapa waktu yang hilang karena kesibukannya di rumah sakit.
Wajah Xue He saat itu terlihat sedikit cerah saat mendengar saran dari Alexa. Perkataan sahabatnya itu ada benarnya. Dia segera bangkit dari kursi dan bergegas pergi ke apartemen tempat Yuan Lu tinggal.
Ketika Xue He hendak membuka pintu tangannya ditahan oleh Alexa. Gadis itu tiba-tiba memeluk Xue He dan berkata dengan pelan, “Maaf karena sudah mencuri ciuman pertamamu.”
Tubuh Xue He tiba-tiba menegang, dia tidak menunjukkan ekspresi apapun. Hatinya melemah, tidak tahu harus bersikap bagai mana. Pikirannya memang tertuju pada Yuan Lu, tapi di hadapannya ada perempuan yang ternyata sudah mencintainya sejak mereka masih kecil.
Meski begitu, Xue He tetap tidak bisa menerimanya. Hatinya hanya milik Yuan Lu, dan hanya ada dia seorang. Kedua tangannya melepas pelukan Alexa dan pergi tanpa menoleh ke belakang meninggalkan Alexa yang masih bergeming di tempatnya sambil menatap punggung Xue He yang semakin menjauh.
... ...
Pintu apartemen Yuan Lu terkunci rapat. Beberapa penghuni di sekitarnya mengatakan sudah lebih dari satu minggu ini Yuan Lu tidak kembali ke apartemen. Mendengar itu hati Xue He semakin gelisah.
__ADS_1
Dia mengecek ponselnya dan membuka pesan Yuan Lu. Sebuah pesan yang dikirim Yuan Lu sepuluh hari lalu yang berisi dia meminta Xue He menjemputnya di restoran milik Yukihira. Namun hal tidak terduga terjadi saat mereka berdua dalam perjalanan pulang.
Dia ingat suasana malam itu, saat kondisi hatinya sedang tidak baik dan kelelahan. Ia justru melampiaskan kekesalannya kepada Yuan Lu yang sedang terlihat begitu bahagia karena baru bertemu teman lamanya.
“Sial!” geram Xue He menarik rambutnya dengan kencang. Dia merutuki kebodohannya sendiri. Kenapa harus semarah itu kalau mereka hanya berteman. Padahal dia bisa merespons dengan perkataan yang lebih lembut.
Di saat pikirannya kacau dengan penyesalan, tiba-tiba wajah Rui melintas dalam kepalanya. Saat itu juga dia langsung bergegas menuju kediaman Rui untuk menanyakan keadaan Yuan Lu. Ya, untuk saat ini hanya Rui satu-satunya harapan Xue He karena kedua sahabatnya Zhu dan Mei sedang berada di Beijing mengurus proyek pembangunan.
Setibanya di kediaman Rui, dia langsung mencari laki-laki itu. Setibanya di sana dia disambut oleh Rui. Saat hendak masuk ke dalam rumah bersama Rui, sebuah pemandangan yang tidak disukainya tiba-tiba menyengat hati. Dia melihat Yukihira yang tengah duduk dengan ekspresi yang sangat tidak bersahabat. Tatapan matanya terlihat tidak ada kehidupan dan penuh kebingungan.
Xue He menyapa Yukihira, tapi laki-laki itu hanya melirik dan mengabaikan. Dia bangun dari tempat duduknya langsung berpamitan.
"Aku harus kembali untuk mengurus sesuatu," ujar Yukihira.
"Datanglah kemari kalau sudah selesai." Rui meminta izin Xue He sebentar untuk mengantar Yukihira ke depan.
"Beri aku waktu tiga hari untuk menyelesaikannya." Usai mengatakan itu Yukihira langsung pergi menggunakan motor yang biasa ia kenakan.
"Apa yang membuatmu sampai datang ke rumahku?" ujar Rui secara langsung tanpa basa basi.
"Aku tidak bisa menemui Yuan Lu di apartemennya, ponselnya tidak aktif. Beberapa hari yang lalu dia juga mengabaikan semua panggilan dan pesanku. Jadi aku berpikir dia mungkin ada di sini."
"Maaf harus mengecewakan, tapi dia tidak di sini." Wajah Rui terlihat tidak berekspresi sama sekali. Dia menyandarkan tubuhnya dan memerhatikan Xue He dengan lekat.
"Kau sepupunya, pasti tahu di mana biasanya dia pergi 'kan?" cecar Xue He.
Wajah Rui langsung masam, "Bukankah kau kekasihnya? Harusnya kau lebih tau keberadaan dia 'kan?"
Xue He bergeming. Perkataan Rui bagaikan pisau yang menancap hati. Dia memang kekasihnya, tapi banyak hal yang belum dia ketahui tentang Yuan Lu.
__ADS_1
"Pulanglah, Xue He. Wajahmu tampak lelah. Istirahat adalah sesuatu yang penting supaya pikiranmu menjadi tenang." Sebuah saran yang lebih mirip seperti pengusiran, "kalau aku mendapatkan kabar soal Yuan Lu. Pasti kau langsung kuberi tahu."
Xue He menuruti perkataan Rui. Kalau di sini dia tidak menemukan Yuan Lu, dia hanya bisa menunggu dan mencarinya dengan cara lain yang lebih pasti. Dia hanya perlu menunggu beberapa hari, kalau selama itu dia tidak menemukannya, dia akan meminta bantuan orang lain.
Bersambung ....
Kamis, 22 Oktober 2021
Xue He
Rui
Alexa
__ADS_1
#pictfrompinterest