
Hari di mana Yuan Lu mendapatkan dokter baru pun tiba. Dia mendapat rekomendasi untuk menemui dokter barunya di hari selasa pagi.
Namun, keberangkatannya ke rumah sakit hatus tertunda karena Yuan Lu mengamuk di rumah sejak semalam.
"Astaga, A-Yuan!" pekik Mito, ibunya.
"Zhu, cepat tahan adikmu atau dia bisa semakin gila!" perintah Mito. Zhu bergegas memeluk Yuan Lu dengan erat.
Kakinya yang masih belum pulih tidak menjadikannya hambatan untuk melakukan pemberontakan. Yuan Lu mendaratkan sebuah gigitan ke tangan Zhu dengan keras. Zhu memang tidak merasa sakit, tapi bekas gigitan itu lumayan dalam.
"A-Yuan! Dengarkan aku, kita hanya konsultasi. Tidak satu pun dari kami yang beranggapan kau ini sakit." Zhu menangkup wajah Yuan Lu, memerhatikannya dengan lekat, "tidak satu pun."
"Pembohong!" gumam Yuan Lu.
Zhu kembali meyakinkan Yuan Lu yang masih sedikit berontak. "Tidak, aku janji. Kali ini kita hanya konsultasi, bukan berobat. Okey?"
"Apa buktinya?"
"Tidak ada bukti, tapi kau bisa memegang ucapanku. Kita hanya konsultasi, oke?"
Perlahan Yuan Lu mulai tenang. Kedua orangtuanya juga menghela napas. Kamar yang sebelumnya rapi kini sudah berubah seperti kapal pecah. Mereka mengabaikan kondisi kamar tersebut, yang penting saat itu adalah Yuan Lu menurut.
__ADS_1
Hari pertama Yuan Lu bertemu dengan dokter barunya hanya didampingi Zhu dan Mito. Yuan Lu sempat meminta Yukihira menemaninya, tapi tidak bisa. Orang itu sedang sibuk mengurus usahanya yang tidak bisa ditinggal.
Di rumah sakit Yuan Lu tidak banyak bersuara, dia hanya memerhatikan seisi rumah sakit sepanjang dia berjalan menuju ruangan dokter. Sampai akhirnya mereka sampai dan disambut seorang perawat.
"Oh, anda Tuan Zhu yang tadi menelpon saya?" tanya perawat itu memastikan, Zhu hanya mengangguk.
Mereka di antar ke ruangan dokter. Namun, saat mereka masuk, Yuan Lu terkesiap melihat siapa dokter yang direkomendasikan untuknya.
Kedua mata Yuan Lu berkedip beberapa kali. Dia sampai melihat nama yang tersemat di jas orang itu.
Benar saja, orang itu adalah laki-laki yang tidak sengaja bertemu dengannya menonton pertandingan basket jalanan.
Wajah Zhu mendadak pucat. "Kau mengenalnya?"
"Tidak, aku hanya pernah bertemu dengannya waktu menonton pertandingan basket jalanan. Dia XueHe," ujar Yuan Lu dengan santai sambil berjalan ke kursi. Dia tidak sadar jika XueHe sedang memandanginya.
Yuan Lu mendengarkan pembicaraan Zhu dan XueHe. Hari pertama berjumpa, Yuan Lu hanya banyak diberi pertanyaan oleh XueHe.
"Apa tidak ada pertanyaan lain? Dari tadi kau hanya bertanya bagaimana perasaanku," protes Yuan Lu. Dia bosan.
"Perasaan pasien itu penting. Makanya aku selalu bertanya begitu."
__ADS_1
"Tidak semua perasaan itu penting, karena yang tulus bisa saja terhianati." Semua orang menatap Yuan Lu dalam diam. Bahkan XueHe sampai membeku.
"A-Yuan?" panggil Zhu. "Kau barusan mengatakan apa?"
"Ah, tidak. Aku juga tidak tahu kenapa mengatakan itu. Rasanya kalimat itu muncul begitu saja di dalam kepalaku," jelas Yuan Lu.
Mito terlihat tidak nyaman saat melihat Yuan Lu mengatakan sesuatu tanpa sadar. Pikirannya kembali ke masa di mana Yuan Lu terbujur tidak berdaya di atas brankar rumah sakit dengan alat penyambung hidup. Lalu beberapa orang datang menemuinya dan memaksa untuk melihat keadaan Yuan Lu.
Ingatan mengerikan itu membuatnya ketakutan. Di tambah lagi sekarang anaknya malah bertemu dengan XueHe, mantan kekasihnya.
Zhu menyadari perubahan ekspresi Mito. Dia hanya menepuk bahu bibinya dengan lembut dan berusaha menenangkannya.
"Apa ada yang terasa sakit?" tanya XueHe.
"Entah, aku tidak tahu ini sakit atau bukan. Tapi sejak tadi aku kesulitan bernapas, kepalaku agak sakit."
Helaan napas berat XueHe terdengar oleh Yuan Lu. Laki-laki itu hanya tersenyum dan menyudahi pemeriksaannya. Dia juga memberi saran kepada Yuan Lu agar datang menemuinya tiga hari lagi.
Yuan Lu tidak pernah tahu jika hidupnya akan kembali berubah sejak hari itu.
Bersambung ....
__ADS_1