Endless Love

Endless Love
Sayap yang Patah


__ADS_3

Rui tidak menyangka jika Yuan Lu akan sebahagia itu bertemu Yukihira. Semua terlihat jelas dalam penglihatanya saat mereka berdua baru saja tiba di restoran tapi Yuan Lu langsung mencari Yukihira dan mengajaknya ngobrol di salah satu meja yang agak jauh dari kerumunan.


Rui hanya bisa bergeming melihat adik sepupunya yang tidak berhenti bicara. Namun yang membuatnya heran adalah cara Yukihira merespons cerita Yuan Lu yang menurutnya sangat membosankan. Laki-laki yang ada di hadapannya itu nampak menikmati setiap kata yang keluar dari mulut Yuan Lu.


Rui membatin, benarkah yang dia lihat? Apa Yukihira benar-benar teman Yuan Lu?


Namun, pikiran Rui langsung buyar saat mendengar Yuan Lu meminta Yukihira membuatkan bekal makan siang dan menemaninya ke rumah sakit mengantar makanan untuk Xue He, tapi Rui langsung menolak.


"Kenapa cepat sekali menolaknya?" tanya Yuan Lu.


"Makananku tidak akan cocok dengannya. Lagi pula karya masakku hanya berlaku untukmu, bukan orang lain." Yukihira bersedekap dan menyandarkan tubuhnya.


Mendengar jawaban Yukihira tadi membuat Yuan Lu berdecak kesal. Biasanya Yukihira akan mengabulkan semua keinginannya, tapi untuk yang satu ini dia benar-benar tertolak. Meski sudah memasang wajah melas, permintaannya tetap ditolak.


"Baiklah, aku akan beli di luar saja," gumam Yuan Lu tapi masih tetap terdengar oleh Yukihra dan Rui.


Yukihira mengedikan bahu, "Begitu jauh lebih baik. Aku bisa menghemat tenaga dan tidak perlu mengotori tanganku."


Percakapan Yukihira dan Yuan Lu membuat garis senyuman di wajah Rui. Ternyata sejak tadi dia menikmati percakapan itu walau tidak diajak bicara sama sekali.


"Jadi kapan kau berangkat ke Jepang?" tanya Yukihira.


"Akhir pekan ini."


"Padahal kita baru bertemu, tapi sudah berpisah. Betapa tidak beruntungnya aku." Yukihira memasang wajah melas seolah tidak rela melepas kepergian Yuan Lu.


Namun, sikap Yukihira barusan malah membuat Yuan Lu tertawa. Dia berkata, "Bagaimana kalau kita pergi keluar?"


Wajah Yukihira langsung ceria saat itu juga. Dia tidak menyangka Yuan Lu memiliki inisiatif lebih dulu untuk mengajaknya kencan.

__ADS_1


"Harusnya itu dialogku 'kan?" gurau Yukihira.


Mereka berdua tertawa dan melupakan kehadiran Rui yang sejak tadi hanya bisa tersenyum melihat keseruan dua manusia dihadapannya.


Tidak hanya itu, mereka juga pergi ke rumah makan lain tanpa berpamitan dengan Rui. Saat itu Rui hanya bisa menyesali permintaannya yang ingin sekali pergi menemani Yuan Lu bertemu Yukihira. Jika saja dia tau akan berakhir seperti obat nyamuk, dia tidak akan datang.


...***...


Yukihira memarkirkan motornya dan menemani Yuan Lu ke dalam rumah sakit. Sesekali Yukihira melirik Yuan Lu yang terlihat sangat senang membawa makanan yang dibelinya untuk Xue He. Dia merasa iri pada laki-laki yang bisa mendapati hati Yuan Lu yang tidak pekaan dengan cinta.


"Biasanya Kak Xue He selalu membuatkanku makan. Apa lagi kalau Kak Rui dan Kak Zhu tidak ada di rumah. Dia benar-benar sangat tahu ketika aku sedang kelaparan," ujar Yuan Lu.


"Jadi, dia itu kekasihmu atau kokimu?" gurau Yukihira.


Yuan Lu berdecak tapi kembali bercerita soal Xue He yang begitu dicintainya. Yukihira meletakkan kedua tangannya ke belakang kepala. Dia berjalan sambil terus mendengarkan Yuan Lu yang sedang berbicara dengan wajah malu-malu.


"Kau terlalu mencintainya. Aku khawatir itu akan membuatmu terluka," gumam Yukihira.


"Tidak ada."


Mereka berdua terus berjalan menuju ruangan Xue He. Saat itu Yukihira tidak sadar jika suara Yuan Lu semakin pelan dan menghilang. Rupanya Yuan Lu menghentikan langkahnya di depan salah satu pintu ruang rawat.


Wajah Yuan Lu terlihat tidak berekspresi sama sekali. Dia juga meletakkan kotak nasi di depan pintu itu dan mundur beberapa langkah lalu berlari meninggalkan tempat itu.


Yukihira membalikkan badan saat mendengar suara langkah lari. Dia terheran melihat Yuan Lu yang berlari ke arah keluar. Dia juga melihat kotak nasi yang dibawa Yuan Lu ada di depan pintu salah satu ruang rawat yang baru saja dilewatinya.


Dia berjalan mendekati pintu itu bermaksud mengambil kotak nasinya, dia juga sempat melirik ke kaca pintu. Namun, saat itu hatinya bagai disiram minyak dan dilempar percikan api.


Dalam ruangan itu Yukihira melihat Xue He tengah berciuman dengan perempuan yang memakai setelan seragam sama seperti Xue He. Kedua tangannya mengepal bahkan tanpa sadar dia menendang pintu ruangan itu dan pergi begitu saja membuat orang yang ada di dalam sana terkejut.

__ADS_1


"Bajingan!" geram Yukihira saat mengejar Yuan Lu yang sudah tidak dalam jangkauan pandangannya. Dia terus berlari sampai ke tempat di mana motornya berada.


Matanya meneti ke seluruh tempat mencari keberadaan Yuan Lu tapi nihil. Gadis itu benar-benar hilang dalam jangkauannya. Dia kesal. Kakinya menendang asal kerikil sampai mengenai tiang lampu.


"A-Yuan! Kau di mana?" teriak Yukihira.


"Aku di sini."


Yukihira langsung membalikkan tubuhnya ketika mendengar suara Yuan Lu. Rahangnya tiba-tiba mengeras, wajah perempuan yang ada di hadapannya terlihat biasa saja bahkan tersenyum seolah tidak terjadi apa-apa.


"Ah, maafkan aku. Tadi perutku mendadak sakit, jadi aku pergi keluar." Yuan Lu berjalan mendahului Yukihira menuju tempat duduk di bawah pohon.


"Kenapa kau hanya berdiri, duduklah." Yuan Lu menepuk sisi sebelahnya yang kosong.


Yukihira hanya menghela napas dan menuruti perkataan Yuan Lu. Dia duduk tepat di samping Yuan Lu tanpa mengeluarkan suara apapun.


Mereka berdua bergeming. Hanya terdengar suara beberapa orang yang sedang bercengkrama dan semilir angin siang. Helaan napas berat beberapa kali terdengar dati Yuan Lu.


Dia berkata, "Yukihira, bagaimana cara agar manusia bisa lupa ingatan?"


Yukihira menyandarkan tubuhnya dan memejamkan kedua mata, "Dipukul pipa besi."


Yuan Lu bergidik ngeri mendengar jawaban Yukihira. Rasanya bukan ingatan saja yang hilang, tapi nyawa pun bisa melayang.


"Terkadang aku ingin sekali memukul kepalamu dengan bambu," ujar Yuan Lu.


Yukihira tertawa, dia memberikan tangannya dan berkata, "Pukul saja. Pukul sampai kau puas."


Yuan Lu mengerenyit. Dia meraih tangan Yukihira dan menggigitnya dengan keras sampai si empunya berteriak, tapi sesaat kemudian wajahnya langsung berubah datar karena tangannya basah. Bukan karena air liur, tapi Yuan Lu sedang menangis.

__ADS_1


Bersambung ....


Rabu, 20 Oktober 2021


__ADS_2