
Senja hari itu terasa lebih indah bagi Yukihira. Mungkin karena di sebelahnya ada Yuan Lu yang sedang duduk membaca buku. Beberapa helai rambut Yuan Lu mengenai wajah Yukihira.
'Harum', batin Yukihira memejamkan kedua matanya. Dia menyukai semua yang ada di Yuan Lu, apa lagi senyumannya.
Ini adalah tahun ketiga dia di SMA. Minggu depan sudah ujian nasional, itu artinya waktu untuk melihat Yuan Lu akan hilang lebih dari separuh kebiasaannya.
Yukihira menghela napas, sudah 19 kali dia mengungkapkan isi hatinya tapi tidak sekali pun Yuan Lu menerima. Jangankan menerima, meresponsnya dengan serius saja tidak pernah. Yuan Lu selalu beranggapan kalau Yukihira hanya bergurau. Mana ada laki-laki yang terus-terusan mengungkapkan isi hati sejak SMP.
"Yuan Lu, mungkin setelah lulus SMA aku akan pergi jauh," ujar Yukira.
Tangan Yuan Lu tiba-tiba mwmegang erat buku yang dibacanya. Dia tidak langsung bertanya ke mana Yukihira akan pergi, pandangan matanya hanya tertuju pada rumput yang bergerak ditiup angin.
"Kau akan kuliah atau bekerja?" tanya Yukihira.
Yuan Lu membuat garis lengkung di wajahnya. "Sepertinya aku akan kuliah. Aku ingin menjadi komikus hebat seperti Takoma yang sudah berhasil menerbitkan banyak seri untuk manganya. Bahkan semua manganya sudah berhasil diangkat kedalam animasi."
Yukihira tergelak. "Wah, cita-citamu tinggi juga, ya. Sepertinya aku tidak punya ruang untuk mengganggumu lagi kedepannya."
"Itu hal yang bagus. Dengan begitu kita bisa fokus dengan impian kita sendiri 'kan?"
Kalimat Yuan Lu membuat Yukihira meremas rumput yang ada di bawah telapak tangannya. Perasaan kecewa bercampur sesak sungguh mengganggu hatinya. Dia masih ingin di dekat Yuan Lu lebih lama lagi, tapi sepertinya itu mustahil dilakukan.
"Kalau begitu, aku mau mengatakan ini sekali lagi." Yukihira menoleh ke samping dan berkata, "aku akan menyimpanmu di sini. Lihat saja, aku pasti akan menemuimu, ketika hari itu tiba kau akan menjadi milikku sepenuhnya, Tuan Puteri."
"Aku mencintaimu dan aku tidak peduli bagaimana anggapanmu tentangku, jalan hidupmu, prinsipmu, dan keburukanmu," bisik Yukihira.
...***...
Beberapa hari ini Yuan Lu tidak bisa berhenti memikirkan Yukihira. Setelah mengatakan isi hatinya, Yukihira bergegas pergi lebih dulu meningalkan Yuan Lu yang masih bergeming di atas bukit. Cara Yukihira mengungkapakan cintanya berbeda dari sebelumnya.
Saat itu wajah Yukihira terlihat begitu tenang, suaranya juga lebih dewasa, dan caranya menatap Yuan Lu sungguh sangat dalam. Namu dia tidk bisa berkata apa-apa ketika Yukihira membisikkan kalimat yang mengutarakan isi hati.
__ADS_1
Mengingat itu membuat Yuan Lu ingin berbicara dengan Yukihira, tapi dia tidak pernah bisa menemukan orang itu sampai hari di mana mereka semua sudah selesai ujian nasional dan melakukan perpisahan.
Wajah murung Yuan Lu membuat Nara khawatir. Ini kali pertama Nara melihat Yuan Lu murung seperti itu.
"Ada apa, Yuan Lu?" tanya Nara.
Yuan Lu tersntak saat Nara menyentuh bahunya,l. "T-tidak ada."
"Jangan bohong, kau mencari Yukihira 'kan?" tanya Nara lagi.
Yuan Lu mengalihkan pandangannya. Dia sendiri tidak tahu apa yang membuatnya gelisah. Mungkin kah karena Yukihira, atau karena hal lain.
"Kenapa juga aku memikirkan dia!" guamam Yuan Lu.
...***...
Hari-hari Yuan Lu berlalu tanpa adanya godaan dari Yukihira. Tidak ada sapaan romantis dan panggilan tuan puteri lagi. Yuan Lu mencoba menghubungi Yukihira, tapi nomornya tidak aktif. Ini sudah yang kelima kalinya dia menghubungi Yukihira tapi tidak pernah tersambung.
Untuk pertama kalinya Yuan Lu ingin bertemu Yukihira lebih dulu. Jika sebelumnya Yukihira yang datang mengganggu, kali ini justru Yuan Lu yang sangat ingin bertemu Yukihira.
"Setidaknya berikan aku waktu sebentar untuk mengucapkan terima kasih," gumam Yuan Lu.
...***...
"Kuliah?" tanya kedua orangtua Yuan Lu bersamaan saat mendengar permintaan anaknya.
Kedua sepupunya ikut menoleh ke Yuan Lu yang terlihat serius dengan ucapannya barusan.
"Ya, aku mau kuliah." Dia meletakkan roti yang ada di tangan ke atas piring, "aku mau mengembangkan hobiku."
Ayah Yuan Lu tersenyum. Dia juga meletakkan sendoknya dan menanggapi permintaan anak semata wayangnya.
__ADS_1
"Hobi yang ingin dikembangkan melalui kuliah? Kenapa tidak berkelana saja untuk mendapat lebih banyak pengalaman dan wawasan di dunia luar?" tanya Ayah Yuan Lu.
"Semua itu perlu pengetahuan akademis, Ayah. Intinya aku mau kuliah. Terserah di mana, yang penting aku bisa menekuni hobiku melalui pendidikan."
Yuan Lu mengambil rotinya dan kembali makan. Kedua orangtua dan sepupunya hanya mengerjap beberapa kali. Kalau suda punya keinginan, maka sulit untuk dilawan. Itu lah Yuan Lu.
"Kalau begitu kuliah saja di Tianjin. Kau bisa tinggal dengan kami atau tinggal di asrama dengan kenalanku."
Wajah Yuan Lu langsung semringah. "Benarkah?" tanyanya meyakinkan. Rui dan Zhu mengangguk membuat Yuan Lu langsung bangun dari kursinya dan memeluk mereka berdua.
"Kalian terbaik, Kak."
"Ah, tapi di sana tidak gratis. kau harus diap dengan segala aturan yang aku buat, A-Yuan." Rui membenarkan kacamatanya membuat Yuan Lu berdecak dan melapas pelukannya.
Dia sudah bisa membayangkan akan ada banyak aturan jika dia tinggal bersama kakak sepupunya. Rui yang terlalu disiplin, dan Zhu yang terlalu tegas.
'Kenapa aku bisa lupa kalau mereka berdua ini monster peraturan!' batin Yuan Lu meronta.
Bersambung ....
Minggu, 07 November 2021
Next episode kita kembali ke masa sekarang, ya.
Terima kasih untuk kesetiannya yang selalu mengikuti cerita Endless Love ❤️
#pictfrompinters
(Mak, ganteng banget Yukihiranya)
__ADS_1
(。・//ε//・。)