
Zhu mengajak Yuan Lu keliling desa sekadar merelakskan kepala. Beberapa hari ini mereka berdua jarang sekali pergi bersama. Semenjak Yuan Lu melakukan terapi waktu untuk bersama menjadi sangat berkurang, terlebih Zhu sibuk mengurus acara pernikahannya.
Yuan Lu menunjuk salah satu tempat duduk di bawah pohon rindang. Semilir angin sore membuat mereka berdua semakin asik untuk bercanda. Sesekali Zhu melempar ledekan kepada Yuan Lu sampai sepupunya merajuk.
Perbincangan keduanya sampai di pembahasan pengobatan Yuan Lu. Zhu melihat ada banyak perubahan dalam diri Yuan Lu termasuk beberapa ingatannya. Meski sudah banyak perkembangan, Yuan Lu masih tidak ingat tentang satu hal pasca kecelakaan itu.
“Apa Dokter Xue sama sekali tidak mengatakan apa pun tentang ingatanmu?” tanya Zhu.
Yuan Lu menggeleng pelan. “Sama sekali tidak ada pembahasan apa pun. Dia hanya berkata jika keadaanku semakin membaik. Tapi …,” Yuan Lu menggantung kalimatnya sejenak dan melanjutkan kembali. “Aku hanya bingung dengan isi kepalaku.”
“Apa yang membuatmu bingung?”
Yuan Lu memerhatikan Zhu dan mengatakan semua yang mengganggu pikirannya. “Aku sering mendengar suara tawa laki-laki. Sangat mirip dengan Dokter Xue. Tapi sewaktu aku memintanya untuk melakukan pengecekan di kepalaku, dia menolak.”
Zhu hanya bergeming sesaat sebelum senyum di wajahnya muncul. “Serahkan semuanya pada Dokter Zhu. Dia lebih tahu dan memahami apa yang terbaik untuk pasiennya.”
Yuan Lu hanya mengangguk setuju. Ada banyak hal yang ingin dia utarakan kepada Zhu, tapi dia menahannya. Hatinya memaksa untuk tetap diam tentang bagiamana sikap XueHe yang selalu sangat hati-hati kepadanya.
Tentang bagaimana XueHe memperlakukannya, merawatnya dengan baik, dan semua hal yang menurutnya agak berlebihan untuk seorang dokter yang merawat pasiennya. Sikap XueHe membuat hatinya selalu berdebar tidak karuan. Memikirkan itu hatinya kembali berdegup kencang, pipinya juga terasa panas.
__ADS_1
Ada satu hal yang saat itu Yuan Lu lupa, XueHe sudah memiliki istri.
“Bulan depan aku akan menikah dengan Mei. Semoga hari itu Yukihira bisa datang dan kembali berkumpul dengan kita,” ujar Zhu.
Yuan Lu merasa hatinya seperti dihantam sesuatu yang berat sampai membuatnya sesak. Selama pengobatannya, dia tidak menyadari jika Yukihira tidak pernah mengunjunginya. Dia melupakan tunangannya.
Kedua tangannya gemetar, hatinya tidak karuan, pikirannya sibuk memutar memori tentang kapan terakhir kali mereka bertemu. Yuan Lu sama sekali tidak tahu harus melakkukan apa. Tangannya meraih ponsel di dalam tas, mencari nama Yukihira dan segera menelponnya, tapi tidak bisa. Panggilannya selalu dialihkan, pesannya juga tidak terkirim.
Yuan Lu terus menekkan tombol memanggil sampai berhasil, tapi hasilnya nihil. Dia sampai tidak bisa mendengar apa saja yang sedang dikatakan oleh Zhu. Hatiny amendadak tidak enak, dahinya sedikit berkeringat juga kepalanya agak pusing. Hatiny amendadak tidak enak, dahinya sedikit berkeringat juga kepalanya agak pusing.
Saat itu Yuan Lu benar-benar panik.
---
Perasaan menyesal melintas dalam hatinya karena tanpa sengaja melupakan Yukihira dan mengabaikannya. Yukihira bagaikan memori baru yang tidak sengaja ia lupakan dan lewatkan.
“Kenapa kau masih sulit untuk dihubungi!” gumam Yuan Lu. Diamulai lelah. Sedikit rasa pasrah menyelimuti hatinya.
Jam sudah menujukkan pukul 12 malam. Matanya sudah mengantuk tapi belum ingin terpejam. Dia masih berusaha untuk berjaga supaya nanti saat ada balasan pesan masuk dari Yukihira dia bisa langsung untuk membalasnya.
__ADS_1
Sayangnya hal itu sama sekali tidak terjadi sampai pagi. Pada akhirnya Yuan Lu hanya bisa menanti dengan rasa bersalah.
Di sisi lain, hal yang berbeda sedang dialami oleh XueHe. JikaYuan Lu merasa bersalah terhadap Yukihira, di sisi lain XueHe malah bersemangat untuk selalu bearada di dekat Yuan Lu. Dia ingin menebus semua perasaan bersalah karena sudah meninggalkan Yuan Lu ketika kekasihnya sedang koma.
Jauh di dalam lubuk hatinya, dia ingin membuat ingatan Yuan Lu kembali dan membuat kekasihnya kembali dalam pelukannya. Jika perlu, dia rela melepas Alexa untuk membuka peluang bagi Yuan Lu kembali padanya.
XueHe sama sekali tidak peduli dengan kondisi istrinya. Karena bagi XueHe istrinya cukup pandai dalam menjaga diri dan sangat hati-hati. Cintanya terhadap Yuan Lu semakin meningkat dan mengabaikan semua dinding pembatas yang seharusnya tidak boleh ia lewati.
“Jika memang harus melawan orangtuaku, aku siap melakukannya. Aku tidak ingin melakukan kesalahan untuk kedua kalinya,” gumam XueHe. Dia bear-benar berharap bisa kembali bersama dengan Yuan Lu.
Yuan Lu yang ingin tahu keadaan Yukihira.
Yukihira yang pergi tanpa kabar.
Rencana Alexa dan ayahnya untuk Yuan Lu.
Lalu keininan XueHe untuk bisa kembali bersama Yuan Lu.
Mereka semua tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Entah hal baik atau buruk yang sedang menanti mereka. Karena yang saat itu mereka pikirkan hanyalah sesuatu yang harus mereka capai entah dengan cara apa pun.
__ADS_1
Sedikit demi sedikit perasaan yang menyelimuti hati mereka mulai menggunung dan mulai dihempaskan dengan paksa. Penyadaran yang terlambat adalah permasalahan utama. Mereka hanya sibuk dengan perasaan yang sedang menguasai hati masing-masing.
To be continued ....