
TOK TOK TOK!!! Sion mengetuk pintu rumah Ryan. Sion merasa sangat khawatir. Mama Ryan barusan menelpon, kalau Ryan sakit. Ryan sakit apa ya? Semoga dia baik-baik saja. Pantas saja Ryan nggak datang ke pantai untuk menepati janji mereka. Pikir gadis itu dalam hati.
Sion menunggu. Tapi nggak ada tanda-tanda pintu di depannya membuka. Nggak ada orang atau nggak dengar ya?
“Oh, Shitt!!!”. Tiba-tiba Sion menepuk jidatnya. “Kenapa gue bisa lupa kalau ada belnya. Pasti orang rumah nggak bakalan dengar ketokan gue. Ni pintu kan tebalnya berapa meter”. Rutuk gadis itu. Dengan gemes dia memencet bel pintu yang tertempel tepat di depan hidungnya. Aneh banget dia nggak menyadari benda di pelupuk matanya itu. Dia merasa sedikit kacau hari ini.
TING TONG TING TONG! Samar Sion dapat mendengar suara bel berbunyi di dalam rumah. Nggak lama kemudian, pintu membuka dan mama Ryan yang cantik, Tante Monik, tersenyum riang kepada Sion.
"Ah, Sisi sudah datang. Ayo masuk”.
“Iya, tante”. Sion mengiringi tante Monik masuk ke dalam rumah mewah itu. Ryan dan keluarganya termasuk orang berada di daerahnya. Mereka juga terkenal dermawan dan nggak sombong. Sehingga orang sekitar sangat menghormati keluarga ini. Ayah Ryan seorang CEO yang memiliki perusahaan sendiri yang bergerak dalam ekspor impor hasil laut dan ibunya memegang jabatan sebagai direktur utama perusahaan tersebut. Orang tua Ryan sangat berjasa kepada kota kecilnya itu karna telah membuka lapangan pekerjaan bagi penduduk lokal sekaligus dapat memberdayakan para nelayan. Hasil laut yang melimpah ruah dapat di manfaatkan dengan sebaik baiknya.
"Ryan sakit apa ya, tante?”. Sion bertanya penasaran.
“Demam tinggi, Sisi. Kamu tau kan dia punya penyakit tipes. Penyakitnya itu kambuh lagi”.
Sion tambah merasa kuatir. Dia juga tahu tentang penyakit Ryan itu. Tapi selama ini yang dia tahu penyakit Ryan jarang kambuh lagi. Mengapa bisa kambuh lagi sih?
“Ehm, kok bisa kambuh lagi tante”.
Tante Monik mendesah. Wajahnya terlihat sangat cemas tapi juga sedikit sebal.
"Kamu tau kan dia itu gila basket. Kemarin dia latihan basket pas hujan deras. Padahal tante udah larang, Si. Tapi dia ngeyel. Di tambah beberapa hari ini dia sering lupa makan. Ya sudah. Tadi malam dia demam tinggi sampai ngeracau nggak jelas. Terus tadi subuh, tante kaget pas ke kamarnya. Dia bangkit dari tempat tidurnya dan pake sepatu kets kesayangannya. Pas tante tanya, dia bilang mau ke pantai. Dengan badan sempoyongan gitu mana bisa jalan. Jadi tante larang pergi. Eh, dia malah marah-marah. Katanya dia harus pergi, soalnya ada hal yang sangat penting. Yah, daripada dia marah terus jadi tante biarkan pergi. tapi baru berapa langkah keluar kamar, dia udah ambruk dan pingsan lagi”.
Sion manggut-manggut mendengar penjelasan panjang lebar Tante Monik. Kasihan Ryan. Meski sedang sakit dia ternyata tetap mengingat janji mereka dan berusaha menepatinya. Dengan badan seperti itu dia masih ingin pergi. Sion merasa sedih dengan keadaannya tapi di sudut hatinya dia merasa senang karena Ryan tetap mengingat janji mereka. Namun Sion juga merasa sedikit jengkel dengan Ryan yang keras kepala itu. Buat apa sih main basket di tengah hujan deras? Kurang kerjaan banget kan. Sion tau pasti dalam waktu dekat ada pertandingan basket sehingga cowok itu mati matian berlatih. Hal itu sudah sering di lakukannya jika mendekati pertandingan. Ryan tidak pernah mau kalah dalam setiap pertandingan. Itu sudah tipikal dirinya. Orang yang sangat percaya diri dengan kemampuannya.
"Sekarang keadaan Ryan gimana, tan?”.
"Dokter sudah periksa tadi. Sekarang dia sudah tidur. Demamnya udah sedikit mendingan daripada tadi malam. Ayo masuk aja ke kamar Ryan”. Ajak mama Ryan sambil menarik tangan Sion masuk kedalam kamar Ryan.
Sion memandangi Ryan yang tergolek lemah di tempat tidur dengan sedih. Cowok yang biasanya terlihat gagah itu kini terbaring lemah dengan selang infus di tangannya.
"Sisi, kamu bisa bantu tante, nggak?”. Sion mengalihkan pandangnya ke Tante Monik.
"Bantu apa, tan?”.
"Tolong kamu bantu tante ngompres Ryan, ya. Kata dokter tadi, kalau mau panasnya cepat turun, harus kita kompres terus. Tante nggak bisa ngompres setiap waktu, soalnya tante banyak tugas dari kantor”.
"Iya, tante sip! Oh, iya. Dari tadi saya nggak liat Bik inah, Tan?”.
__ADS_1
"Bik Inah lagi pulang kampung. Ada keluarganya yang meninggal. Makanya tante agak kerepotan nih ngurus rumah sendirian, mana ayah Ryan ke luar kota mulu”. Keluh Tante Monik.
"Sabar ya, tan. Tenang aja, urusan Ryan biar saya yang urus”. Tawar Sion berbaik hati.
"Makasih ya Sion. Beruntung banget tante ada kamu di sini”. Tante Monik tersenyum lega.
"Bentar ya, tante ambilkan air es sama handuk buat ngompres Ryan. Kamu tunggu di sini aja".
"Ya, tante”.
Sion mendekati tempat tidur Ryan lalu duduk di sisi ranjang. Di pandanginya wajah polos Ryan yang sedang tidur. Wajahnya makin cokelat dari hari ke hari akibat keseringan main basket di bawah sinar matahari. Sangat maskulin. Lalu Sion baru menyadari bulu mata Ryan panjang dan tebal. Gadis itu tersenyum geli melihat anak-anak kumis yang mulai bermunculan di wajah Ryan. Ternyata Ryan yang dulu kecil, cengeng, dan selalu ngikutin kemanapun dia pergi itu sekarang udah dewasa. Dan menjadi pria yang gagah dan tampan.
Perlahan Sion meraba kening Ryan. Sejurus kemudian dia mengangkat tangannya dengan kaget. Panas! Tante benar. Suhu tubuh Ryan masih tinggi. Untunglah nggak lama kemudian, mama Ryan masuk sambil membawa nampan berisi baskom kecil dengan setumpuk handuk putih kecil.
“Nah Sisi, ini dia alat kompresnya”. Tante Monik menyerahkan nampan itu ke tangan Sion.
“Tante tinggal ya Si, kalau ada apa-apa panggil aja tante di kamar depan, yah”.
"Oke, tan. Jangan kuatir”.
Detik demi detik berlalu, Sion tetap setia menemani Ryan. Tanpa sadar gadis itu pun ikut tertidur di samping ranjang sambil tangannya terus menggenggam tangan Ryan.
DING DONG DING! Suara alarm hp dengan bunyi seperti suara bel yang dipencet tak sabaran membangunkan Sion. Dengan gelagapan dan masih dengan mata setengah terbuka Sion merogoh tepatnya mengacak-acak isi di dalam tas selempangnya. Perlu beberapa detik untuk menemukan HP mungilnya. Akhirnya setelah benda itu mantap dipegangannya, Sion berusaha keras membolakkan matanya untuk mendapatkan tombol yang tepat guna mematikan alarm hp. Akhirnya alarm hp itu berhenti berbunyi. Sion sekalian mengecek jam di hp nya. Terkejutlah dia ketika melihat angka 16.00 tertera di screen hpnya. Sudah sekitar tiga jam dia tertidur. Itu berarti dia belum memberitau ibunya jika dia masih ada di rumah Ryan.
Dengan pelan Sion beringsut dari tempat duduknya. Dia ingin menelepon ibunya di luar kamar agar Ryan tidak terbangun. Dengan lembut pula gadis itu berusaha melepaskan genggaman tangannya dari tangan Ryan. Ketika genggaman tangannya hampir terlepas tiba-tiba tangan Ryan bergerak cepat menggenggam tangannya kembali. Hal itu membuat Sion terkejut sekali.
"Ja...jangan pergi Si. Ja...ja..ngan tinggalkan aku”. Bisik Ryan terbata-bata. Tampaknya cowok itu mengigau. Mulutnya berbicara tapi matanya tampak masih terpejam rapat. Sion kembali duduk dan mengusap-usap rambut Ryan.
“Ssstttt...tenang Ryan. Gue nggak akan pergi”. Sion tersenyum simpul. Ternyata dibalik sifat kasar dan cueknya, ada sifat yang nggak pernah berubah dari dulu. Manja. Cowok ini memang selalu manja jika lagi jatuh sakit.
“Sisi, aku suka kamu. Sangat suka”. Igauan Ryan berikutnya membuat Sion sejenak lupa bernafas. Benarkah cowok didepannya ini bilang suka kepadanya? Pertanyaan itu hilir mudik di otaknya.
"Ryan, Ryan. Kamu betulan suka ma aku?”. Bisik Sion di telinga cowok itu. Memang rasanya nggak etis menanyakan hal seperti itu di saat Ryan lagi nggak sadar. Tapi gadis itu terlalu senang dan penasaran sehingga nggak dapat memikirkan apapun selain pernyataan cinta Ryan. Sion menunggu dengan sabar jawaban Ryan, lebih tepatnya menunggu igauan selanjutnya. Namun, cowok itu sepertinya sudah tidur kembali dengan tenang tanpa ada tanda-tanda akan mengigau lagi.
"Hah! Memang bodoh bertanya sama orang yang lagi ngigau”. Rutuk gadis itu kepada dirinya sendiri.
Apa Ryan betul-betul suka padaku? Atau itu cuma igauan semata? Tapi kan biasanya orang mengigau itu asalnya dari pikiran alam bawah sadar? Jadi kemungkinan besar dia memang suka padaku, cuma di simpan dalam hati, terus keluar deh pas dia ngigau. Horee!! Kalau memang begitu, cintaku nggak bertepuk sebelah tangan dong. Asyiiik, asyiiik!!!!
__ADS_1
Sion tersenyum-senyum sendiri dengan pikirannya yang menggila dalam mengartikan pernyataan cinta yang di lakukan secara tak sadar itu. Dia sangat berharap analisanya itu benar. Ryan suka sama dia. Kelak jika Ryan sudah sembuh ia akan sekali lagi menanyakan kepada Ryan apa benar cowok itu suka padanya. Apakah Sion punya nyali? Selama ini saja mereka nggak pernah akur dengan apapun apalagi kali ini Sion ingin menanyakan hal yang seserius ini. Sion nggak tau apakah dia sanggup atau tidak. Yang pasti gadis itu bertekad akan menanyakannya. Ryan apa betul kamu suka aku ?
*************
"GAWAT!!!! Gawat gue belom bikin pr kimia. Pasti gue di gantung ma Pak Jonly nih”. Seru Dira panik sambil sibuk mengeluarkan semua isi tasnya. Sebenarnya hanya ingin mengeluarkan buku tulis kimia. Tapi karena kepanikannya, mencari satu persatu buku kimia dengan sabar di dalam tasnya adalah hal yang merepotkan.
"Eh, Si. Lo napa diam aja? Ayo cepat nyalin punya si Agnes, lima belas menit lagi bel setelah itu siap-siap berada di neraka dunia deh”. Dira semakin ngawur.
Dia merasa yakin Sion belum mengerjakan pr kimia sama seperti dirinya. Mereka memang paling klop kalau berbicara tentang kimia. Sama-sama payah dalam pelajaran itu. Kepanikannya berubah menjadi keheranan tingkat tinggi ketika melihat wajah damainya Sion. Nggak biasanya sebelum pelajaran kimia apalagi ada pr, muka Sion yang biasanya panik, bete dan nggak bernyawa bisa hidup, damai, aman dan tenteram seperti itu. Ini keajaiban! Pasti ni anak lagi nggak sadar atau kepalanya terbentur sebelum berangkat sekolah.
“Lo napa Si. Kok nggak buat Pr? Apa lo dah ngerjain pr nya? Terus kenapa lo jadi mesam-mesem kayak gitu?”. Pertanyaan Dira hanya dianggap angin lalu. Sion masih terus senyam-senyum sambil menopang dagu.
"Ariesta Sion Aoyama, lo nggak buat Pr nih?”. Dira sedikit memperbesar volume suaranya dan sengaja memanggil gadis itu dengan nama lengkapnya. Tapi Sion tetap bergeming. Kesabaran gadis itu habis sudah.
"WOI BANGUN!!!”. Dira berteriak di telinga Sion. Kali ini ampuh. Gadis itu mulai terbangun dari fantasinya.
"Kenapa sih teriak-teriak di telinga orang? Kalau mau bicara yang biasa aja. Gue nggak budeg kok, Ra”.
Dira mendengus sebal. Dari tadi dia ngomong biasa nggak didengar, pas ngomong kenxang baru di gubris. Apa itu bukan budeg namanya?
"Gue dari tadi dah ngomong biasa ma elo. Tapi lo nggak Ngeh. Lo seperti lagi berada di dunia antah berantah, yang mana sangat jauuuh ampe suara merdu gue nggak bisa nyantol ke telinga lo”.
Sion terkikik geli, “Lo marah ya Ra? Gitu aja kok manyun. Oke deh lo ma nanya apa tadi?”.
Dira menganga. Jadi anak ajaib satu ini memang nggak nyimak apa yang dia omongin dari tadi. Kirain sengaja ngebuat dia jengkel.
“Lo nggak buat pr kimia nih, Si?”.
"Oh, pr kimia toh. Ntar aja deh ya”. Sahut Sion enteng. Gerakan tangan kanan Dira yang sedang sibuk menyalin rumus-rumus molekul kimia serta merta berhenti. Sion memang benar-benar sudah gila. Pikir gadis itu. Bisa-bisanya tetap tenang tanpa mengerjakan apapun padahal bel masuk tinggal lima menit lagi. Ditambah Pak Jonly terkenal dengan ketepatan waktunya.
“Lo gila ya Si. Kenapa nyante begitu. Lo mau di hukum Pak Jonly?”. Lagi-lagi Sion hanya tersenyum manis tanpa beban.
“Ah, kamu Ra. Pak Jonly aja tuh. Dia guru yang ramah kok. Nggak papa, tenang aja kok”.
Dira menatap teman sebangkunya itu ngeri. Nih anak kayaknya betul-betul konslet. Pak jonly di bilang ramah. Ramah dari mananya? Tau ah, gelap! Putus Dira dalam hati. Dia nggak mau ikut-ikutan sableng. Dengan kecepatan menulis 80 km/jam dia kembali sibuk menyalin pr kimia.
Sedangkan Sion kembali ke posisi awal. Tangan kanan menopang dagu dengan siku bertumpu pada meja. Bibirnya tak henti-hentinya tersenyum sementara matanya berbinar-binar. Gadis itu sudah hanyut kembali dalam fantasinya. Ia seakan lupa jika sedang berada di dalam kelas, beberapa menit lagi bel berbunyi, langsung masuk pelajaran kimianya pak Jonly dan dia belum bikin pr. Semua itu nggak tersangkut di benaknya. Yang dibenaknya sekarang cuma ada Ryan dan pernyataan cintanya (meskipun dalam igauan). Yah, cinta itu memang buta, menghanyutkan dan memabukkan siapapun yang bersentuhan dengan yang namanya cinta. Kadang-kadang manusia nekat menghadapi cinta tanpa memikirkan logika.
__ADS_1