
Yuan Lu melakukan pengobatannya dengan sangat baik. XueHe benar-benar menjaganya selama menjalani terapi. Lambat laun kondisi Yuan Lu mulai stabil, hanya saja emosinya sering kali tidak terkontrol ketika ingatannya seperti berbenturan dengan suatu kejadian yang dialaminya tanpa sengaja.
Tidak jarang Yuan Lu mengamuk karena sakit di kepalanya yang sangat mengganggu. Dia juga sering mendengar suara langkah kaki yang berat sampai tawa seseorang yang menurutnya sangat dekat di dalam hatinya.
Yuan Lu sesekali mengeluh soal suasana hatinya kepada XueHe. "Aku merasa sangat tidak asing dengan suara dokter," ujarnya.
XueHe tidak terlalu menanggapi perkataan Yuan Lu. Dia hanya membalas dengan seulas senyum sambil menulis sesuatu di laporan medis milik Yuan Lu.
"Dokter, apa anda sama sekali tidak merasa ada yang aneh dengan kepalaku? anda tidak ingin melakukan pemeriksaan dengan kepala ini? Kenapa aku selalu merasa suara anda mirip sekali dengan seseorang?" keluh Yuan Lu lagi.
Xue He meletakkan penanya di atas meja, dia juga memerhatikan Yuan Lu sangat lama sampai membuat lawan bicaranya tidak nyaman. Dia sangat mengetahui jika suara yang selalu diingat oleh YuanLu adalah suaranya. Ingatan mereka masih terpati dalam memori kekasihnya. Sayangnya Yuan Lu tidak menyadari itu dan XueHe memilih untuk diam.
"Sudah berapa kali aku katakan padamu, jika kita sedang berdua jangan pernah menggunakan bahasa saya dan anda. Pakai aku dan kau saja, itu terdengar lebih akrab, kan?" pinta XueHe, yang diajak bicara hanya berdecak sebal.
"Anda dan saya terpaut usia yang sangat jauh, bagaiman bisa saya menggunakan sebutan itu. Rasanya terdengar sangat tidak sopan."
Perkataan Yuan Lu membuat wajah XueHe masam. Dia membatin, 'bukankah dulu kau selalu memanggilku dengan cara seperti itu, A-Yuan?'
XueHe merasa hatinya seperti teriris sembilu. Wanita yang selama ini menenmpati hatinya pernah menghilang, lalu sekarang berada tepat di hadapannya. Hatinya ingin sekali menggapai dan mendekap, tapi dia sadar jika mereka berdua sudah terhalang oleh dinding yang amat besar.
Setiap gerak bibir Yuan Lu membuat Xue merasa sesak. Gerak matanya yang selalu menjadi candu, suaranya yang selalu membuatnya merindu, serta tawa yang selalu menjadi obat lelahnya. XueHe sangat merindukan gadis yang saat ini sedang berada di hadapannya.
Terlalu larut dalam pikirannya sendiri membuat XueHe tidak sadar jika Yuan Lu telah memanggil namanya sampai tiga kali, dia bahkan sampai melambaikan tangannya.
"Anda melamun, Dokter?" tanya Yuan Lu.
XueHe langsung membenarkan posisi duduknya dan mengusap leher belakangnya. "Maaf, sepertinya hari ini pasienku terlalu banyak sampai tidak sadar melamun," ujar XueHe sedikit tak enak hati.
__ADS_1
***
XueHe memilih untuk pulang ke rumah tengah malam. Karena di jam itu lah dia tidak melihat Alexa dan menenangkan diri di ruang bawah sampai pagi. Dia lelah jiak setiap pulang ke rumah selalu bertengkar dengan istriny ahanya karena masalah Yuan Lu.
Bagi XueHe sifat cemburu Alexa sangat menyebalkan. Apa lagi sebulan ini dia sangat risi dengan sikap Alexa yang terlalu posesif dan sering datang ke rumah sakit. Dia juga pernah memaksa untuk diijinkan masuk ke dalam ruang kerja XueHe untuk menemaninya. Dia tidak tahu mengapa istrinya berubah menjadi lebih manja.
XueHe merebahkan tubuhnya di atas sofa. Dia meletakkan asal tas serta jasnya. Saat itu dia hanya ingin memejamkan kedua matanya sampai pagi. Mengumpulkan energi sebanyak mungkin untuk bisa menjalani aktivitas esok hari dengan keadaan tubuh yang terbaik.
Baru saja XueHe ingin memejamkan kedua matanya, tiba-tiba dia merasa tubuhnya menjadi berat. Saat matanya terbuka, dia melihat Alexa sudah berbaring di atasnya.
"Kenapa tidak masuk ke dalam kamar saja?" tanya Alexa. Kedua tangannya memeluk erat tubuh XueHe.
"Kembalilah ke kamar, Alexa. Aku lelah."
"Tidak mau."
Alexa langsung bangkit dari posisinya dan memerhatikan XueHe dengan lekat. Dia melempar bantal yanga da di dekatnya tepat ke wajah XueHe sambil memakinya.
Setiap malam selalu terjadi hal yang membuat XueHe muak. Alexa kembali menggila dan memakinya. Dia juga menyebut nama Yuan Lu beberapa kali.
"Kenapa hanya wanita itu yang bisa mendapatkanmu!" pekik Alexa.
"Kenapa! Kenapa kau begini padaku, apa kurangnya aku? Apa setiaku selama ini kurang? Apa cintaku tidak sebanding dengan Yuan Lu? Apa gadis itu benar-benar sudah membuatmu buta! Hah!"
Emosi yang selalu meluap di malam hari membuat XueHe hanya bisa terdiam. Dia tidak mau membela diri atau memberi penjelasan apa pun lagi. Rasanya semua sudah ia jelaskan dengan detil. Fakta jika dia tidak bisa meraih Yuan Lu itu sungguh besar. Jadi percuma jika penjelasan itu selalu diulang setiap malam.
"Kau!" Alexa menunjuk wajah suaminya, "aku akan melaporkan ini pada ayah?"
__ADS_1
XueHe dengan cepat menarik lengan istrinya sampai dia mengeluh kesakitan. "Sepatah kata saja keluar untuk mengadu kepada ayah, kupastikan besok statusmu bukan lagi Nyonya XueHe!"
Perkataan XueHe benar adanya. Sorot matanya sama sekali tidak menunjukkan jika dia sedang berbohong atau hanya sekadar mengancam.
Wajah XueHe saat itu amat mengerikan. Alexa hanya bisa mundur beberapa lamvkah dan kembali ke dalam kamar dengan air mata yang terus mengalir.
Dengkusan ringan XueHe adalah gambaran suasana hatinya. Menikah dengan Alexa bukanlah keinginannya. Pernikahan mereka terjadi karena keinginan orangtua dan Alexa yang menyetujuinya, sedangkan dia hanya bisa menuruti permintaan ayahnya dan meninggalkan kekasih yang ternyata hilang tanpa ia tahu dimana keberadaannya. Nahasnya, kekasihnya kembali dengan ingatan yang berbeda dan statusnya sendiri yang sudah menjadi milik orang lain
***
Suara tangis Alex malam itu hanya bisa didengar olehnya sendiri. Kamar dan seisinya hanyalah saksi bisu tentang kesedihannya setiap kali bertemgkar dengan XueHe.
Dia merasa tidak ada yang kurang pada dirinya. Cantiknya imbang dengan Yuan Lu, bisa dikatakan dia lebih cantik. Dia merasa lebih pintar, bahkan dia juga merasa jika dia lebih baik dari Yuan Lu.
Namun, XueHe sama sekali tidak melihat semua itu dalam diri Alexa. Apa lagi semenjak dia mengetahui jika Yuan Lu kembali dan saat ini justru menjadi pasien XueHe atas rekomendasi dokter sebelumnya.
"Tidak, aku tidak bisa membiarkan Yuan Lu kembali. Anakku butuh ayahnya, dan Yuan Lu harus pergi sebelum XueHe semakin mencintainya," ujarnya menggebu.
Kedua tangannya mengepal. Dia segera meraih ponsel di atas nakas dan menelpon ayahnya. Semua yang terjadi barusan dia ceritakan dengan detil. Ancamam XueHe sebelumnya sama sekali tidak dihiraukan, karena saat itu yang ada si delam kepalanya hanyalah satu, dia ingin XueHe.
"Ayah tidak tahu jika Yuan Lu kembali, kan? Dia selamat tapi tidak dengan ingatannya. Saat ini dia justru menjadi pasien suamiku." Rahangnya mengeras, "aku ingin ayah mengurusnya."
Di seberang telepon, Alexa bisa mendengar suara helaan napas ayahnya lalu tertawa kecil.
"Tolong jangan kecewakan aku, Ayah."
To be continued ....
__ADS_1
(Gue lupa ini naskah udah mendem lama 🗿)