Endless Love

Endless Love
Pergi


__ADS_3

Yuan Lu masih mengurung diri di dalam kamar sejak kepulangannya bersama Xue He. Suara ketukan pintu yang terus berbunyi sama sekali tidak diindahkannya. Dia lebih memilih untuk bersebunyi di balik bantal. Menikmati air mata yang terus keluar seolah tidak bis berhenti.


Rui terus mengetuk pintu dan memberi beberapa ancaman kepada Yuan Lu untuk mendobrak pintu kamar. Tidak ada respons sama sekali, tapi dia tidak menyerah sampai adik sepupunya itu benar-benar menunjukkan dirinya.



“A-Yuan, keluar atau kutendang pintu kamarmu?” geram Rui, tapi tidak juga mendapat jawaban.



“Katakan apa yang terjadi? Kenapa kau mengurung diri di dalam kamar terus? Ini sudah jam sepuluh, kau harus ke kampus!” omel Rui. Sayangnya ucapannya itu sama sekali tidak diindahkan oleh Yuan Lu.



Rui yang memiliki tempramen buruk akhirnya benar-benar mencari cara untuk membuka pintu kamar Yuan Lu. Sayangnya, yang terlintas di dalam kepalanya saat itu hanya mendobrak pintu.


Saat Rui hampir menendang pintu, tiba-tiba dia ingat kalau masih memiliki kunci cadangan di rumah ini. Dengan cepat dia turun ke lantai bawah dan mencari kunci cadangan yang selalu disimpan di kamar Zhu.


“Ketemu!” ujar Rui saat berhasil menemukan kunci kamar Yuan Lu di dalam lemari buku milik Zhu. Dia segera berlari menuju kamar Yuan Lu dan sudah menyiapkan banyak pertanyaan yang harus dijawab oleh sepupunya itu.



Akan tetapi langkah kaki Rui tiba-tiba terhenti saat mendengar suara samar tawa dari dalam kamar Yuan Lu. Dia menempelkan telinganya ke pintu untuk memastikan suara itu benar berasal dari dalam atau hanya salah dengar. Rui mengerutkan dahinya sambil memasang wajah bingung waktu mendengar suara laki-laki dari dalam kamar sepupunya.



“Kau masih cengeng, ya? Memang apa bagusnya menangis semalaman hanya karena laki-laki?” ujar laki-laki itu.



“Diam! Kalau kau datang hanya untuk mengejekku, lebih baik pulang saja!” omel Yuan Lu dengan suara serak habis menangis.



Laki-laki itu tertawa, “Kalau aku pulang sekarang, bagaimana aku bisa memastikan kau memakan makanannya atau membuangnya.”



Perlahan Rui menjauh dari pintu dan membenarkan posisi kaca matanya. Wajahnya yang semula panik perlahan mulai terlihat santai. Dia juga mengurung niatnya yang hendak membuka paksa pintu dan memilih pergi ke lantai satu.


...***...


Yuan Lu duduk di atas tempat tidur dengan keadaan rambut yang acak-acakan, baju tidur yang masih melekat di tubuhnya, dan kedua mata yang sembab. Sedangkan laki-laki yang sedang mengajaknya bicara duduk di jendela sambil menunggu Yuan Lu menghabiskan makanan yang dibawanya.

__ADS_1



“Kau mau, Yukihira?” tawar Yuan Lu.



“Tidak, \*\*\*\*\* makanku hilang waktu melihat keadaanmu yang lebih mirip seperti orang frustasi dan bisa mati kapan saja,” tukas Yukihira meledek.



Mendengar perkataan Yukihira sontak membuat Yuan Lu geram. Dia melempar bantal yang ada di sebelahnya kearah Yukihira. Tidak cukup dengan bantal, dia juga melempar beberapa boneka yang ada di kasur.



Yukihira tergelak, “Aku pergi dulu! Sampai nanti, Tuan Puteri.”



Yuan Lu bangkit dari tempat tidur saat Yukihira melompat dari atas jendela. Namun ekspresinya berubah waktu melihat ada tangga yang menempel ke balkon kamar. Wajahnya langsung berubah datar dan menyumpahi Yukihira dengan beberapa umpatan kasar.



“Menyesal aku khawatir,” ujar Yuan Lu saat melihat Yukihira tengah tertawa geli ke arahnya.




“Ada apa dengan wajahmu? Salah urat?” ketus Yuan Lu.



Rui tergelak dan menghampiri adik sepupunya yang duduk di kursi balkon, “Tidak keluar semalaman, tidak sarapan, bahkan tidak menghiraukan panggilanku. Tapi dengan mudahnya menurut dengan orang lain. Harga diriku merasa ternodai,” sindir Rui.



“Siapa laki-laki itu?” tanya Rui lagi.



Yuan Lu mengerling diiringi decakan kecil, “Yukihira Zen.”


__ADS_1


“Kuliah?”



“Hanya pemilik restourant kecil di dekat kampus.”



Rui mengangguk beberapa kali saat mendengar jawaban Yuan Lu. Namun senyumnya tidak berhenti saat mengingat percakapan Yuan Lu dan Rui beberapa saat lalu. Begitu lucu dan sangat lepas. Dari banyaknya laki-laki yang dekat dengan sepupunya, baru kali ini ada yang berani mengejek Yuan Lu begitu.


"Katakan, apa maumu, Kak?" tukas Yuan Lu. Dia sangat tahu kalau Rui bukan orang yang mudah menaruh perhatian kepada orang lain.


"Tidak ada, hanya khawatir kau mati bunuh diri." Rui menyamankan posisi duduknya, mengabaikan wajah Yuan Lu yang tidak menunjukkan ekspresi apapun.


Rui merogoh sesuatu di dalam saku jasnya. Dia memberikan selembar tiket dan kertas amplop kepada Yuan Lu.


"Untuk apa?" tanya Yuan Lu heran.


"Ibumu semalam menelpon, dia minta tolong untuk menyiapkan tiket pesawat supaya kau bisa pergi ke Jepang," jelas Rui.


Yuan Lu hanya tersenyum mengambil tiket pesawat itu. Dia memang sudah merindukan kedua orangtuanya. Jadwal keberangkatannya akhir pekan ini. Dia langsung bangkit dari kursinya dan membuka lemari baju.


Rui mengerenyit melihat ekspresi Yuan Lu yang berubah drastis dari muram ke ceria. Dia bertanya mengapa suasana hati Yuan Lu tiba-tiba berubah dan jawaban yang didengarnya sungguh mengejutkan.


"Aku ingin pergi ke restoran Yukihira dan memintanya menyipakan banyak camilan untukku selama di Jepang," ujar Yuan Lu.


Rui terperangah. Rupanya penyebab suasana hati Yuan Lu berubah adalah Yukihira. Sungguh, adik sepupunya ini benar-benar sulit ditebak. Dia memijit keningnya dengan lembut, dan berkata, "Apa aku boleh ikut ke tempat Yukihira?"


Kedua tangan Yuan Lu langsung berhenti mencari pakaian di dalam lemari dan menoleh ke arah Rui. Pikirannya saat itu berkeliaran memutar memori, biasanya Rui tidak pernah peduli kemana dan dengan siapa dia pergi.


"Kenapa harus ikut? Kau kan bisa masak sendiri," tukas Yuan Lu.


"Adik kecil, apakah orang yang bisa masak tidak boleh pergi ke restoran?"


Yuan Lu tampak sedikit berpikir. Dia membenarkan ucapan Rui lalu mengangguk sambil tertawa kecil, "Baiklah, aku izinkan."


Rui mengacungkan ibu jarinya sambil berjalan keluar dari kamar Yuan Lu. "Aku tunggu di bawah, ya. Jangan lama-lama mandinya."


"Memangnya kau ibuku sampai harus menyuruhku jangan mandi terlalu lama," gerutu Yuan Lu.


Bersambung ....


Selasa, 19 Oktober 2021

__ADS_1


__ADS_2