
Keadaan Yuan Lu memang semaikn baik, hanya ingatannya saja yang belum terlihat ada perkembangan apa pun. Perban di tangannya sudah dibuka. Dia juga melakukan pergerakan ringan agar kondisi tangan dan kakinya semakim baik.
Kadang kala Yukihira dan Nara menyempatkan waktu untuk berkunjung ke kediaman Zhu sekadar melihat dan membantu Yuan Lu latihan berjalan. Mereka berdua sering bertukar jam untuk berkunjung. Namun hari ini keduanya datang bersamaan tanpa janjian.
Rui tidak banyak berkomentar ketika Yukihira dan Nara datang. Dia malah menyiapkan banyak makanan dan minuman di dalam kulkas untuk mereka berdua. Sayangnya makanan di kulkas malah habis dimakan Yuan Lu.
"Baik, karena hari ini sedang libur kuliah dan minggu depan kau masuk, bagaimana kalau kita senang-senang?" ujar Nara penuh bangga.
"Tidak, jangan bersenang-senang," tahan Yukihira. Dia memberikan buku paket dan memberikannya ke Luan, "kau harus belajar! Kau harus mengingat semua plajaran kuliahmu atau kau tinggal kelas."
Nara dan Yuan Lu saling melempar pandangan. Padahal yang kuliah itu mereka berdua, tapi Yukihira malah bersikap seperti mahasiswa.
"Kenapa diam? Tidak suka?" tanya Yukihira merasa dirinya diabaikan.
"Tidak, bukan begitu. Aku hanya tekesan dengan usahamu yang menyuruhku belajar," ujar Yuan Lu. Dia mengambil buku itu dan meletakkannya di meja, "nanti aku baca. Untuk sekarang, aku sedang ingin bersama kau dan Nara."
Yuan Lu mengedipkan salah satu matanya sambil tersenyum. Dia tidak ada maksud untuk menggoda Yukihira, tapi senyum Yuan Lu sungguh menawan sampai membuat jantungnya tidak bisa berdetak normal.
'Tenang, tenang lah jantungku. Jangan sampai kau lompat keluar!' batin Yukihira nelangsa.
"Kalau begitu, kita jalan-jalan ke taman kota saja. Aku dengar di sana sedang ada pertunjukkan," usul Nara.
"Apa?" tanya Yukihira.
"Klub basket jalanan."
Mendengar sebuah kata basket kepala Yuan Lu tiba-tiba sakit. Telinganya bahkan berdengung walau tidak kencang. Sebuah bayangan melintas singkat dalam kepalanya. Kerumunan orang, laki-laki berkaki panjang, dan sebuah tawa yang smar ia dengar.
Yuan Lu mendesis pelan. Dia menggerakkan kepalanya beberapa kali sampai rasa sakit di kepalanya perlahan menghilang, ia juga bisa mendengar kembali suara dua orang yang sedang berdebat soal tempat yang akan mereka datangi.
...***...
Pada akhirnya, pilihan Nara yang dipilih Yuan Lu. Mereka bertiga pergi ke taman kota untuk melihat pertandingan basket jalanan. Banyak para anak muda yang datang untuk menonton. Tidak jarang orang tua ikut hadir.
__ADS_1
Yuan Lu terlihat senang, bahkan dia yang paling antusias untuk menonton. Sikap Yuan Lu membuat Yukihira terdiam. Dia baru tahu jika Yuan Lu menyukai basket. Apa lagi beberapa kali dia melihat respons Yuan Lu yang kesal saat klub jagoannya tidak berhasil memasukkan bola.
Yukihira mendekat untuk menepikan helaian rambut yang terbang ke wajah Yuan Lu akibat terpaan angin. Mereka berdua saling menatap satu sama lain. Terlihat betul wajah Yukihira yang merona. Rasanya seperti mimpi bisa sedekat itu dengan pujaan hatinya.
Akan tetapi, nuansa romansa yang baru saja dirasakan Yukihira tiba-tiba buyar akibat ulah Nara yang berdeham beberapa kali membuat dua orang di depannya langsung menjaga jarak. "Kalau mau menebar keromantisan jangan di dekatku. Tolong hargaistatusku yang masih menjomlo."
'Pengganggu!' batin Yukihira kesal.
Yukihira pamit pergi sejenak untuk membeli minum, tidak lama setelah itu Nara juga pamit untuk ke kamar kecil. Saat ini Yuan Lu sendirian melihat pertandingan tanpa dua orang tadi.
Terlalu lama berdiri membuat kaki dan bahunya lelah. Yuan Lu mencari tempat untuk duduk, sayangnya semua tempat duduk sudah penuh.
Yuan Lu menghela napas, dia hanya menemukan tempat kosong di bawah pohon. Dengan perlahan dia mendudukkan dirinya di sana. Setidaknya begitu lebih baik daripada berdiri terlalu lama.
Semilir angin membuat helaian rambutnya terhempas ke belakang. Kening dan lehernya terasa dingin karena hembusan tadi.
"Hari yang sangat cerah," ujar Yuan Lu sambil mengibaskan tangannya ke wajah beberapa kali. Topi yang dikenakannya ia gunakan untuk mengipasi tubuhnya yang sudah berkeringat.
Sambil menunggu Nara dan Yukihira, Yuan Lu menyandarkan tubuhnya ke pohon. Dia mengambil sebuah buku di dalam tasnya, saat dia hendak membuka buku tersebut, tiba-tiba seseorang datang menghampirinya.
Yuan Lu menengadah memperhatikan orang yang menyapanya. Tinggi, putih, tampan dan menawan. Perhatiannya tertuju pada kaki orang itu.
'Kaki yang cukup panjang.' batin Yuan Lu terkesima dengan tinggi orang di hadapannya. Dia iri dengan tinggi itu.
"Boleh aku duduk?" tanya laki-laki itu.
Yuan Lu menepuk sisi kanannya mempersilahkan laki-laki itu duduk di sampingnya. "Silahkan."
Laki-laki itu mendudukkan dirinya tepat di samping Yuan Lu. Teriknya mata hari sama sekali tidak membuatnya mengeluh seperti Yuan Lu yang selalu mendesis sambil menggerutu.
"Aku punya air, kau mau?" tawar laki-laki tadi. Yuan Lu menolak dengan halus.
"Suka melihat pertandingan basket di sini?" tanya laki-laki itu.
__ADS_1
"Tidak juga, aku baru pertama kali melihatnya."
Laki-laki tadi mengerenyit dan menoleh. Dia kembali bertanya, "Kau baru pertama kali? Benarkah?"
Yuan Lu mengangguk. Dia mengaku baru pertama kali walau rasanya tempat itu tidak asing baginya. Bayangan laki-laki berkaki panjang kembali melintas di kepalanya. Dia menggerakkan kepalanya beberapa kali untuk membuang bayangan itu tapi gagal. Keringat muncul di kening Yuan Lu, tangannya juga mengepal. Pemandangan itu membuat orang di sebelahnya terlihat khawatir.
"Kau sedang tidak sehat?" tanya laki-laki itu.
Yuan Lu tidak menjawab. Untuk beberapa saat Yuan Lu memilih diam sampai rasa peningnya berkurang. Ketika keadaannya sudah membaik dia langsung menoleh dan menjulurkan tangannya.
"Kita belum saling kenal. Namaku Yuan Lu," ujar Yuan Lu dengan nada ceria seperti sebelumnya.
Laki-laki itu menerima jabatan jangan Yuan Lu. Seulas senyum menghiasi wajahnya. "Aku XueHe."
"Nama yang bagus. Pasti kau orang terpandang ya, Kak?" gurau Yuan Lu yang hanya dibalas tawa ringan XueHe.
"Bukan terpandang. Aku hanya anak dari keluarga biasa."
"Jangan bergurau."
Mereka berdua tergelak bersama lalu berbincang ringan. XueHe yang asik menikmati wajah Yuan Lu, dan Yuan Lu yang nampak asik dengan ceritanya yang sangat senang bisa datang ke tempat pertandingan basket jalanan digelar.
Tidak jauh dari tempat Yuan Lu duduk, Yukihira tengah menahan diri untuk tidak mendekat sejak kedatangan XueHe.
Perasaan kesal yang sejak tadi ditahan Yukihira membuatnya pergi dari sana. Dia tidak mau mendekat jika akhirnya tidak bisa menahan diri untuk memukul wajah XueHe.
"Tidak tahu malu!" sungutnya sambil menendang-nendang pohon di dekatnya. "Kenapa laki-laki itu bisa tahu kita ada di sini! Sial!"
Bersambung ....
Kamis, 18 November 2021
__ADS_1
#pictfrompinterest