Endless Love

Endless Love
SOMETHING NEW


__ADS_3

Ah...Uhh....berkali-kali Sion menghela napas sambil bolak-balik menelungkupkan mukanya di meja. Hari ini merupakan salah satu hari terbosan dalam hidupnya. Nggak ada satupun yang menarik. Bad mood tingkat tinggi meruntuhkan semangat gadis itu. Hari ini berjalan begitu lambat dan monoton. Seperti biasa dia harus melewati rutinitas yang sama sehari-hari. Nggak ada satu kejadian pun yang dapat memacu adrenalinnya.


"Lo napa sih, Si? Dari tadi nggak tenang banget. Grasak-grusuk aja”. Dira, sobat sekaligus teman sebangku Sion menegurnya heran.


“Ah, gue bete banget hari ini, Ra. Nggak ada yang menarik. Uhhh”. Sion mendesah untuk kesekian kalinya sambil matanya memandang keluar jendela. Jauh, di bawah sana mata Sion berusaha mencari sesosok orang di antara puluhan siswa-siswi sekolahnya yang tampak hilir mudik keluar masuk kelas. Bel masuk memang belum berbunyi. Sekitar lima belas menit lagi.


Kelas Sion berada di lantai dua. Dari tempat duduknya, Sion dapat dengan leluasa melihat lapangan upacara sekaligus lapangan basket sekolahnya. Dilapangan itu Ryan sering bermain basket bersama teman-teman klub basketnya.


"Hmmm, gue tau kenapa lo bete. Pasti hari ini lo belom lihat Ryan kan? Pasti sekarang lo melihat keluar jendela untuk mencari Ryan kan?” Tebak Dira sambil senyam-senyum.


“Ah, sembarangan ngomong lo, Ra. Nggak mungkinlah, Ra. Ngapain juga gue nyariin tu anak. Nggak penting tau lah”. Elak Sion.


"Alah nggak usah ngeles gitu donk. Jujur aja donk manis. Hahaha”. Melihat reaksinya, Dira justru semakin senang menggoda.


“Aiss, elo Ra. Bener,gue tuu....”


Tok, tok, tok. Sion urung melanjutkan ucapannya dan sertamerta menoleh ke arah pintu kelas. Disana, di depan pintu kelas tampak pak wakil kepala sekolah memandang ke dalam kelas dengan senyum ramahnya.


"Maaf ya, bapak ganggu sebentar”. Kata Pak Bima sambil melangkah masuk ke dalam kelas. Sion menegakkan kepalanya. Pasti ada hal penting sampai wakil kepala sekolah sendiri yang datang ke kelasnya.


"Ada apa ya, Si?” Dira juga ikut penasaran dengan kedatangan bapak wakil kepala sekolah. Sion hanya mengedikkan bahunya.


"Begini anak-anak. Bapak masuk ke kelas kalian karena bapak ingin memperkenalkan seseorang pada kalian”.


SIAPA PAK?! SIAPA PAK?!. Seketika suasana kelas menjadi ricuh. Siapa ya? Sion bertanya hal yang sama dalam benaknya.


“Hari ini, di kelas kalian akan mendapatkan salah satu penghuni baru”. Seperti biasa pak Bima senang membuat orang penasaran.


“Hmm, penghuni baru?? Kemungkinan anak baru kan, Si?”. Bisik Dira di telinga Sion.


“Mungkin juga, Ra. Pak wakepsek sih suka bikin kita penasaran. Suka basa-basi dulu.” Jawab Sion dengan sedikit menggerutu.


“Oh ya, kenapa bukan bu wali kelas yang mengantarkan anak baru. Biasanya kan itu tugas bu Anjar, kan Si? Trus kenapa nggak masuk dari tadi, pas jam pelajaran pertama? Kok nunggu istirahat baru datang, ya kan?!”.


“Nggak tau juga, Ra. Kita tunggu aja apa kata pak Bima”.


Kelas semakin riuh rendah karena pak wakil kepala sekolah belum juga memberitahu siapa gerangan penghuni baru itu.


“Stop anak-anak! Tenang dulu sebentar.” Pak Bima mencoba meredam keributan di dalam kelas. “ Hari ini dikelas kalian ada seorang murid baru pindahan dari SMK Tridaya Balikpapan. Bapak harap kalian dapat menerimanya dengan baik sebagai teman kalian. Bantu lah dia kalau mengalami kesulitan dengan suasana baru di sekolah kita ini, ya”.


WOWW! Anak-anak semakin ribut setelah mendengar penjelasan wakil kepala sekolah.


“Eh, bukannya itu sekolah sangat amat favorit di kota sebelah kan?!”. Cetus Panji, salah satu teman sekelas Sion. Sion dan Dira pun terkejut. Ini suatu hal yang langka ada seseorang yang berasal dari sekolah itu masuk ke sekolah mereka. Dan yang agak aneh juga, sekolah itu kan SMK bukan SMA seperti sekolah mereka ini.


“Eh, bukannya itu SMK ya? Emang bisa pindah ke SMA?”. Anak-anak di dalam kelas mulai beralih topik diskusi dari yang terkejut terhadap hebatnya SMK Tridaya. Kini terfokus dengan keanehan siswa baru itu yang pindah jurusan sekolah dari SMK ke SMA. Jurusannya kan sangat jauh berbeda.


“Betul itu anak-anak. Mengenai kepindahan murid ini dari SMK ke SMA itu bukanlah masalah. Kalian kan baru saja memulai semester satu dua bulan yang lalu di kelas X. Jadi sekolah bisa memberikan kebijakan untuk siswa-siswi yang ingin pindah jurusan sekolah dengan alasan yang masuk akal tentunya.”


“Ooooooooo!”. Anak-anak dikelas ber-o panjang atas penjelasan wakil kepala sekolah.


"Hmmm, daripada kalian penasaran. Lebih baik orangnya sendiri yang menjelaskan. Tyson, silahkan masuk”.


"Tyson, Si. Pasti murid cowok!”.


Sion nggak menjawab pertanyaan konyol Dira. Emang ada cewek bernama Tyson. Dia hanya ingin segera melihat siapa sih anak baru itu.


Pertama. Sion hanya melihat secara keseluruhan sosok murid baru itu. Dia tinggi dan agak kurus. Kedua, ketika murid baru itu sudah tepat berada di depan kelas. Sion tampak sedikit menahan napas. Nggak hanya dia. Hampir semua penghuni kelas bereaksi sama.


Murid baru itu menjulang di depan kelas dengan kedua tangan masuk ke dalam kantong celananya. Sejenak kelas menjadi hening. Anak itu seakan memiliki semacam aura yang dapat membuat orang terdiam ketika melihatnya. Tampangnya sempurna. Sangat tampan jika bisa dibilang. Mata elangnya yang tajam di padu dengan hidung bangir serta bibirnya yang tipis. Alisnya tebal. Dan jika dilihat dengan seksama, alis itu tampak menyambung satu sama lain. Dagunya tidak terlalu panjang, dan di balut dengan rahang yang kokoh namun sedikit tirus tapi itu justru membuat tampangnya semakin sempurna. Rambutnya hitam dan di potong cepak. Kulitnya putih. Sangat serasi ketika dipadankan dengan seragam kemeja lengan pendek SMK Tridaya yang berwarna putih bersih dengan dasi merah yang apik serta dipadu celana panjang merah kotak-kotak yang membungkus kakinya yang panjang. Penampilannya perfect.


“Silahkan Tyson, kenalkan dirimu”. Pak wakil kepala sekolah memecahkan keheningan di dalam kelas. Dalam sekejap seisi kelas menjadi ribut kembali. Kasak-kusuk di setiap sisi kelas.


“Sssttttt”. Pak Bima menempelkan jari telunjuk di mulutnya. Seisi kelas mulai kembali kondusif, menunggu anak baru itu mengenalkan diri.


“Gue Tyson. Asal dari SMK Tridaya Balikpapan”. Katanya pendek. Seisi kelas menunggu lanjutan dari kalimat pendek itu dengan antusias. Tapi justru Tyson terlihat nggak berniat melanjutkan kalimatnya. Anak-anak saling berpandangan bingung.


“Begini saja anak-anak. Kalian boleh nanya apa saja yang ingin kalian ketahui dari Tyson. Gimana Tyson, kamu keberatan?”. Pak Bima memberikan solusi setelah keheningan yang cukup mengganggu.


“Tidak”. Lagi-lagi kalimat pendek.


“Tyson, sekarang lo tinggal dimana?”. Anggi bertanya lebih dahulu dengan mata berbinar-binar.


“Di kontrakan dekat pantai”.


“Eh, lo tinggal ma siapa?”. Anggi melanjutkan pertanyaanya.


“Sendiri”.

__ADS_1


“Hmm. lo suka nggak dengan suasana kota ini?”


“Lumayan”.


“Tyson, Tyson. Permisi gue juga mau nanya. Hobi lo apa?”. Icha menyerobot dengan semangat.


“Nggak ada yang spesifik”.


“Hmmm. Jadi lo suka apa aja, ya?”.


“Ya”.


“Oh, ya. Kenapa lo pindah ke kota kecil ini dan masuk ke sekolah kami?”. Icha tampak nggak pantang menyerah.


“My privacy”.


Glek! Icha melongo. Cowok ini benar-benar sangat dingin. Semua pertanyaan di jawabnya dengan tanpa ekspresi dan hanya dalam satu helaan nafas.


“Ok, anak-anak. Bapak kira cukup perkenalan dan pertanyaannya. Sebentar lagi bel masuk berbunyi. Tyson silahkan duduk di bangku kosong di pojok belakang sebelah kanan yang dekat jendela itu”. Kata pak wakepsek sambil jarinya menunjuk kearah yang dimaksud. Tyson mengangguk singkat dan langsung menuju bangku yang di peruntukkan untuknya. Semua mata memandang dirinya. Dia seakan nggak tahu dan nggak ambil pusing. Duduk menyandar di bangkunya dengan santai. Dengan mata memandang lurus kedepan. Dan tetap. Tanpa ekspresi.


“Duh, Boby. Maaf!”. Dira tiba-tiba berkata lirih sambil mengatupkan kedua tangan layaknya memohon maaf. Boby adalah nama pacar Dira.


“Maaf, kenapa Ra?”.


“Maaf, karena sempat terpesona dengan murid baru itu, Si”. Bisik Dira.


“Wajar Ra. Dia memang mempesona. Tapii....”.


“Tapi apa, Si?”. Tanya Dira sambil memandang Sion, heran.


“Dia sangat amat terlalu dingiiiiinnnn. Bbrrrrrrrrrr”. Ujar Sion sambil memeluk dirinya sendiri seakan merasakan kedinginan. Dira hanya diam. Dia juga mengakui, anak baru itu sangat dingin , tertutup juga misterius. Hmmm. Seperti apa sih orang itu sebenarnya?



********




“Rencana besok bagaimana? Jadi nggak?”. Tanya Sonia sambil memandang ketiga temannya.


“Apa sih yang dari tadi lo liat?!”. Tanya Resti sambil ikut melongokkan kepalanya ke luar jendela. Di bawah sana Resti melihat kerumunan siswa-siswi sekolahnya yang sedang menonton pertandingan basket. Resti mulai mencermati para pemain basket. Tahulah dia sekarang siapa objek yang dari tadi mengalihkan perhatian Sion.


"Ah, nggak salah lagi. Sion pasti memperhatikan si Ryan, kan?”. Tebak Resti jitu.


“Ya iyalah Res. Siapa lagi coba yang bisa buat si putri Sion ini mabuk kepayang?”. Sahut Sonia.


“Huss. Kalian jangan terlalu nyaring ngomongnya. Ntar kedengaran orang”.


"Abis elo sih, Si. Dari tadi kita ngomong nggak di dengarkan”. Dira tampak sedikit merajuk.


"Duh maaf teman-teman. Oke sekarang gue dengari apa yang ingin kalian omongkan. Jadi jangan marah, ya. Please”. Sion memohon maaf dengan tampang memelas.


“Nah begini putri Sion. Kita kan semua tau besok itu hari apa. Kalau di tahun-tahun kemarin kan kita selalu memperingati hari tersebut berlima. Tapi, gue mengusulkan ada sedikit perubahan formasi”.


"Formasi apaan sih, Ra? lo ngomongnya berbelit-belit deh. Alay dan lebay pula”.


"Ampun deh, Sonia. Sabar dikit napa? Ini semua demi Sion juga, kok”.


"Gue? Kenapa dengan gue?”. Tanya Sion heran.


"Ups. Sabar dulu. Dengarkan Miss Dira ngomong”. Tegur Resti.


"Begini Sisi, melihat hubungan elo yang nggak ada kemajuan sama sekali ma si Ryan. Makanya kami memutuskan besok itu hanya elo dan Ryan yang pergi. Kami memberikan kesempatan buat kalian berdua untuk memperbaiki hubungan, gue tau di hari itu kalian hampir nggak pernah bertengkar. Ya, kan?”.


“What?!!”. Mata Sion membola. “Pergi berdua dengan Ryan?! No way! Gue malu, Ra”.


“Lo mau hubungan elo dengan Ryan jalan di tempat? Ntar sempat Ryan di ambil orang loh, Si”.


"Betul itu, Si. Ntar nyesel loh”. Sonia memanas-manasi.


“Ya. Kalau lo nggak cepat-cepat. Ntar Ryan bakalan di rebut sama siii...”


“Siapa?”.Sonia, Sion dan Dira serempak bertanya. Resti mesam-mesem.


"Sama gue lah. Hahaaha”.

__ADS_1


"Huuuuu!”. Sonia mencibir. Sion dan Dira hanya geleng-geleng kepala.


"Eh, Sion, Dira. Sekarang gue serius mau nanya sesuatu ma kalian”. Resti berlagak serius.


“Apa sih, Res?”. Tanya Dira.


“Hmmm. Gimana kabar si Tyson. Menurut kalian orangnya gimana? Jangan-jangan dia udah punya pacar atau gebetan. Ayo ceritakan !”.


“Nah ketauan kan maksud kedatangan lo yang terus menerus ke kelas kami. Rupanya Tyson tujuannya”.


Resti dan Sonia memang nggak sekelas dengan Sion dan Dira. Sion dan Dira kelas X IPA 2 sedangkan Resti dan Sonia kelas X IPS 1. Perbedaan kelas dan jurusan tak menghalangi mereka dalam bersahabat.


"Yah, nggak juga melulu Tyson sih, Si. Gue juga kan ingin ketemu ma kalian berdua”.


“Jangan percaya, dia ngeles tuh. Tiap hari gue dipaksanya ke kelas kalian sebenarnya biar dia bisa ngeceng ma Tyson”.


"Yah, Sonia. Kok lo bongkar rahasia sih”.


“Sudah. Sudah”. Dira menengahi. “Ternyata lo naksir Tyson ya Res. Tapi lebih baik pikir-pikir dulu deh”.


"Loh, kenapa Ra?”


"Hmmm. Dia itu orangnya...hmmm...gimanaa yah ngomongnya, yang pasti kalau lo didekatnya, elo akan merasa seperti di bekukan dalam frezeer”.


“Ih, apaan sih maksudnya, Ra”. Resti manyun. Dira nggak menjawab. Hanya terkikik senang melihat ekspresi Resti yang kebingungan. Resti memikirkan perkataan Dira dengan serius. Tyson. Beku. Frezeer. Apa maksudnya?



Di tengah kebingungan Resti dalam memikirkan perkataan Dira. Tyson masuk ke dalam kelas dan berjalan melewati deretan kursi Sion dan Dira. Tempat duduk mereka memang satu jurusan. Sion dan Dira duduk di bagian tengah deretan ketiga dari depan, sedangkan Tyson duduk di pojok belakang. Sendiri. Tanpa teman sebangku. Karena tempat duduk itu memang sudah kosong sejak semester pertama di mulai.


Resti tanpa sadar menahan nafas dan matanya nggak berkedip memandang Tyson.


“Ya, Tuhan! Ada nggak sih cowok sekeren itu?! Aduh, jantung gue nggak berhenti berdegup nih”. Ujar Resti lirih sembari memandang teman-temannya.


"Emangnya mau jantung lo berhenti berdegup? Mati dong”. Kelakar Sion.


"Calm down, girl. Mendapatkan cowok sejenis itu, perlu perjuangan yang panjang dan melelahkan”.


"Ah, Dira. Dari tadi lo ngomong apa sih? Tolong jelaskan donk?”. Pinta Resti.



Sebenarnya Dira ingin langsung menjelaskan maksudnya, ketika terdengar ribut-ribut di luar kelas. Keempat sekawan itu melihat ke luar kelas dan disana mereka melihat gerombolan cewek-cewek dari kelas lain tampak kasak kusuk. Sebentar-sebentar mereka melihat ke dalam kelas dengan bahasa tubuh seakan ingin masuk tapi juga seakan segan. Ada apa sih?


Akhirnya dari gerombolan itu ada tiga cewek yang memberanikan diri masuk. Salah satu dari tiga cewek itu, sangat manis. Tubuh mungil dengan rambut tergerai panjang. Kulit kuning langsat dengan dua lesung pipi membingkai wajahnya. Sion dan kawan-kawan tahu gadis manis itu senior mereka, Jessica dari kelas XI IPS I. Primadona kelas IPS. Ketiga cewek itu berjalan melewati bangku Sion dan Dira. Dan terus menuju...


“Maaf, Tyson mengganggu”. Tegur Jessica sedikit segan. Tyson sepertinya nggak mendengarkan. Dia asyik mendengarkan musik dengan headphone putihnya sembari memejamkan mata.


"Tyson, Tyson!”. Salah satu teman Jessica berusaha mendapatkan perhatian Tyson dengan mengetuk-ngetuk meja. Tyson akhirnya membuka mata dan menyadari ada tiga cewek berdiri di samping mejanya. Perlahan Tyson membuka headphonenya. Tyson memandang heran, satu alis tebalnya perlahan naik. Seakan mengatakan ada apa?


"Hmm...kami semua anak kelas XI IPS I. Kami kesini mau kenalan sama elo. Boleh, kan?”. Jessica memulai percakapan.


Tyson bersedekap dada dan memandang mereka dengan tajam. Ketiga cewek itu tampak nggak mampu membalas pandangan si mata elang. Mereka tertunduk malu.


"Ok”. Jawab Tyson singkat.


"Gue Jessica dan mereka berdua ini Meli dan Nita”. Jessica mengulurkan tangan, berharap dapat berjabatan tangan dengan cowok yang menjadi populer hanya dalam waktu singkat, seminggu sejak kedatangannya.


“Gue Tyson”. Kata Tyson pendek tanpa berusaha menjabat tangan ketiga cewek itu. Jessica menurunkan tangannya dengan tengsin. Tapi dia tampaknya belum menyerah.


“Oh, ya Tyson. Gue suka sekali bikin cookies. Nah kebetulan gue bawa banyak cookies ke sekolah. Guepengen kasih lo setoples cookies”. Ujar Jessica sambil mengambil setoples cookies dari tas jinjing kecil yang sedari tadi dibawanya. Toples cookies itu sangat cantik, berwarna pink bening diikat pita merah di atasnya.


Tyson memandang benda itu sejenak kemudian kembali memandang Jessica.


"Gue nggak suka”. Jawab Tyson pendek sambil kembali memasang headphonenya. Tanpa meminta maaf atau apapun cowok itu kembali tenggelam dalam keasyikannya. Mendengarkan musik sambil memejamkan mata. Jessica dan kedua temannya berdiri terpaku ditempat. Seakan nggak percaya dengan sambutan Tyson yang dingin. Bahkan Jessica, sang princess wajahnya memerah dan buliran air mata mengalir di pipinya yang mulus. Sedetik kemudian mereka bergegas keluar dari kelas itu. Rasa malu, kecewa juga kesal berkecamuk di hati mereka.


Resti dan Sonia melongo menyaksikan drama singkat itu. Sion hanya tersenyum. Sedangkan Dira terkikik geli.


“Dia menolak Jessica?!”. Resti memandang ketiga temannya bergantian dengan ekspresi nggak percaya.


"Dan lagi sikapnya kasar banget ma kakak kelas!”. Tambah Resti sambil mengucek-ucek matanya. Masih nggak percaya jika matanya telah melihat kejadian tadi.


"Gue pengen banget cookiesnya!!”. Seru Sonia nggak nyambung. Resti menjitak jidat lapang gadis tambun itu.


“Aduh sakit, Res!”. Protes Sonia sambil mengusap-usap jidat yang tadi kena jitakan pedas Resti. Resti mendelik sebal ke arah Sonia.


“Itulah yang gue maksud Res. Tyson memang sempurna. Tapiii...dia juga sangat kejam. Lo harus punya jurus jitu untuk bisa dekat sama si Mr. Cool itu. Kalau nggak, mending cari target yang lain aja deh”. Dira berhiperbola.

__ADS_1


Resti hanya mengangguk-angguk saja. Jurus apa ya yang bisa menaklukkan si Mr. Cool itu?


__ADS_2