
Sudah hampir satu bulan Xue He tidak mendapatkan kabar tentang Yuan Lu. Ruang lingkup hidupnya mendadak menyempit, untuk bernapas saja terasa sesak. Dia tidak tahu harus melakukan apa lagi yang dibutuhkannya saat itu hanya Yuan Lu. Hilangnya Yuan Lu sungguh memukul hatinya.
Malam itu Xue He benar-benar di luar kendali. Dia mengamuk di dalam kamar. Ruangan yang sebelumnya rapi sudah berubah menjadi tidak berbentuk. Semua berserakan di lantai termasuk pecahan kaca dan benda lainnya. Dua alat musik kesukaannya pun hancur ia lempar.
Suara bising yang disebabkan Xue He membuat beberapa pelayan di luar kamar khawatir. Kepala pelayan mengetuk pintu beberapa kali bahkan kali ini dengan suara agak keras berharap Xue He mau membuka pintu.
Hampir setengah jam para pelayan menunggu di depan pintu dengan penuh harap Tuan Mudanya akan keluar. Kesabaran itu akhirnya membuahkan hasil. Xue He keluar Dari kamarnya tapi semua mata pelayan di sana terbelalak melihat ada banyak darah di kaki Xue He. Bahkan kepala pelayan terkejut saat mendapati kamar tuannya berantakan, mungkin itu sudah tidak layak disebut sebagai kamar.
Xue He berjalan mengabaikan semua pelayan yang hendak membantunya turun tangga. Namun sebelum menginjakkan kakinya ke anak tangga, dia melarang semua pelayan masuk ke dalam kamarnya.
“Tapi Tuan, kalau tidak dibereskan nanti barang-barang itu bisa melukai anda,” bujuk salah satu pelayan.
“Kalau aku bilang jangan dibereskan, artinya jangan!” Xue He segera turun ke lantai satu. Dia tidak ingin berdebat soal apapun. Saat ini kondisi hatinya yang tidak stabil membuat emosinya sulit dikendalikan. Karena itu dia memilih untuk menghindar dari semua orang.
Dia sudah kehilangan orang yang dicintainya karena hal ini. Karena itu dia tidak mau mengulangi kesalahan yang sama.
Saat di lantai bawah, Xue He mendengar suara adiknya sedang tertawa dengan seseorang. Dia berjalan ke dekat teras dan mendapati Alexa di sana sedang berbincang dengan adiknya.
Dia tidak tertarik untuk mendekat dan bergabung. Saat ini dia hanya butuh sesuatu yang bisa mendinginkan hatinya, tapi niatnya untuk menyendiri digagalkan oleh suara Alexa yang terkejut melihat keadaan Xue He dan mendekatinya.
“Xue He? Apa yang terjadi denganmu? Kenapa kakimu berdarah?” tanya Alexa. Gurat kekhawatiran terlihat jelas di wajahnya.
“Aku baik-baik saja.”
“Apanya yang baik-baik saja? Wajahmu pucat, kakimu penuh dengan darah!” Alexa menarik lengan Xue He dan menyuruhnya duduk di kursi meja makan.
"Diam di sini, aku obati dulu." Alexa menuntun Xue He ke sofa dan meminta pelayan mengambilkan kotak obat.
Adik Xue He yang sedang berada di teras langsung menghampiri Alexa yang sedang memeriksa keadaan Kakaknya. "Astaga! Kakak? Apa yang terjadi?"
Xue He tidak menjawab. Dia memilih diam dan membiarkan Alexa mengobatinya sampai selesai.
__ADS_1
"Apa ini tentang Yuan Lu?" tanya Alexa hati-hati.
Xue He masih bergeming. Wajahnya tidak menunjukkan ekspresi apapun. Mendengar nama Yuan Lu hatinya terasa sesak. Kenapa gadisnya hilang dari kehidupannya tanpa ada jejak sedikitpun. Semarah itu kah Yuan Lu padanya?
"Kenapa?" gumam Xue He, Alexa dan Adik Xue He mengerenyit, "kenapa dia pergi, Alexa!"
Alexa tidak sanggup melihat keadaan Xue He yang rapuh seperti itu. Rupanya sebesar itu dia mencintai Yuan Lu sampai tidak ada celah baginya untuk masuk ke dalam hati laki-laki yabg sudah dicintainya sejak masih kanak-kanak.
"Xue He!" panggil Alexa, "dia akan kembali. Mungkin saat ini sedang pergi ke suatu tempat dan tidak ada sinyal."
"Tidak, Alexa! Aku sudah memastikannya di kampus. Bahkan Nara sendiri tidak tau keberadaan temannya itu."
Alexa bergeming. Namun hal yang dilakukan berikutnya justru mengejutkan Xue He. Dia memeluk laki-laki itu. Tepukan pelan di punggungnya membuat Xue He benar-benar menangis. Rasanya beban di hatinya sudah tidak bisa dibendung lagi. Dia ingin segera menemukan gadisnya yang berisik dan selalu seenaknya.
"Menangislah, Xue He. Itu bisa melegakan hatimu. Besok kita cari Yuan Lu," ujar Alexa walau hatinya perih.
Sungguh tidak ada celah baginya untuk masuk di dalam hati Xue He.
Seperti yang disepakati semalam, Alexa benar-benar menemani Xue He mencari Yuan Lu. Namun sudah seharian mencari tetap tidak mendapatkan hasil apapun.
"Kita istirahat dulu. Kau makan, ya?" bujuk Alexa, "kalau kau tidak makan, bagaimana nanti saat bertemu Yuan Lu? Dia pasti marah kalau tau kau sakit."
Xue He hanya melirik dan mengangguk. Perkataan Alexa memang ada benarnya. Yuan Lu mudah sekali marah dengan hal kecil apa lagi soal kesehatannya, padahal Yuan Lu sendiri selalu mengabaikan kondisinya saat menekuni hobinya.
Dia mencari rumah makan dan entah bagaimana dia malah berhenti di tempat Yukihira.
Kedua mata Xue He mengerjap beberapa kali. Dia berpikir kenapa tangan dan kakinya malah membawa mobilnya berhenti di rumah makan laki-laki yang membuatnya kesal. Namun pandangan Xue He tiba-tiba tertuju pada mobil yang dia kenal. Itu milik Rui.
Xue He masuk ke dalan restorant itu dan mencari keberadaan Rui. Matanya meneliti ke seisi ruangan dan berhasil menemukannya. Rui terlihat sedang berbincang dengan tiga orang. Itu Zhu dan Mei sedang yang satunya dia tidak tahu karena memunggunginya.
"Rui!" panggil Xue He.
__ADS_1
Keempat orang yang sedang berbincang itu menoleh bersama. Kening Xue He mengerut saat melihat Yukihira sedang berbincang dengan ketiga sahabatnya.
"Ah, Xue He. Kebetulan sekali." Rui menarik kursi di belakangnya dan memberikan ruang untuk Xue He duduk.
Namun posisinya dia harus duduk di sebelah Yukihira. Sedangkan Mei memberi ruang kepada Alexa untuk duduk di sampingnya.
Suasana meja makan saat itu bisa dibilang sangat sempit. Meja yang seharusnya hanya untuk empat orang malah jadi enam orang.
Sudut mata Yukihira berkedut beberapa kali. Rasanya agak jengkel karena ada dua tamu yang tiba-tiba datang ke restorannya. Apa lagi dua orang itu adalah pelaku yang membuat Yuan Lu menangis.
"Kenapa kau ke sini?" tanya Yukihira. Akhirnya dia mengatakan itu.
"Lapar," ujar Xue He seadanya, dia menatap Yukihira begitu lama, "kau sendiri kenapa di sini?"
"Hah? Ini restoranku. Hal yang wajar kalau aku di sini!" tukas Yukihira membalas tatapa itu dengan geram.
Xue He berdeham. Dia lupa kalau ini adalah restoran Yukihira.
Percakapan Yukihira dan Xue He membuat keempat orang di sana merasa seperti ada angin salju di sekitar mereka. Terlalu dingin sampai terasa ke tulang. Bahkan Xue He yang tadinya hendak menyapa Zhu dan Mei malah lupa karena fokus dengan Yukihira.
Bersambung ....
Sabtu, 23 Oktober 2021
Yukihira dan Yuan Lu
#pictfrompinterest
__ADS_1