
Sion menatap bayangan wajahnya dicermin. Wajah oval dengan kulit putih susu. Kedua alisnya melengkung indah membingkai matanya yang besar. Hidungnya yang bangir di perindah dengan bibir yang tipis di bagian atas dan penuh dibagian bawah. Di sempurna dengan dagunya yang kecil. Sion termasuk gadis yang cantik meski dia nggak pernah menyadarinya.
Sion menyisir rambut panjangnya perlahan. Gadis manis itu menarik napas panjang. Hari ini, hari yang special. Aku harus bisa mengontrol emosi! Tekad Sion dalam hati. Sion kembali menatap bayangannya di cermin. Iris matanya berwarna coklat tampak berbinar indah. Kali ini Sion memakai softlens dan meninggalkan kacamata kesayangannya sejenak. Setelah merasa penampilannya cukup sempurna. Sion mengambil syal sutra hijau di lemari bajunya sebelum beranjak keluar dari kamar. Cuaca akan sangat dingin nantinya.
Sion juga mengambil pigura foto ukuran 4 R dari meja belajar di kamar tidurnya dan memasukkan pigura itu kedalam tas selempang hijau miliknya.
Ting tong ting tong. Suara jam dinding mengejutkan Sion. Jam dinding berdentang lima kali. Sion tersentak. Sebentar lagi dia harus pergi, menepati janji dengan orang yang tercinta. Mereka akan melihat sunrise bersama. Gadis manis itu nggak menyadari sedari tadi ibunya memperhatikan tingkahnya.
"Sion, nggak ada yang tertinggal ?”. Sion berpaling dari kesibukannya dan tersenyum.
“Nggak ada ma. Semua udah perfect”.
“Sama siapa kamu pergi? Seperti biasa?”.
“Hmm. Iya ma”.
"Apa kamu nggak mau sarapan dulu Si?"
"Nggak usah ma. Sion janji bakal sarapan bersama teman teman". Sion menolak dengan halus tawaran ibunya.
Sion sengaja nggak memberitau ibunya jika kali ini dia hanya pergi berdua dengan Ryan. Dia malu. Ibunya nggak tahu jika perasaannya kepada Ryan bukan hanya sebatas teman masa kecil saja. Selain itu sudah sembilan tahun lamanya dia selalu merayakan hari special ini berlima. Dan baru tahun ini dia hanya berdua Ryan. Dira, Resti dan Sonia sudah bertekad memberikan kesempatan kepada dirinya untuk lebih berani memperjuangkan cinta. Kadang kadang Sion merasa jengah. Mengapa dirinya yang seorang perempuan ingin menyatakan perasaannya lebih dulu? Perempuan sudah terbiasa dan lazim untuk mendapatkan dan menerima pernyataan cinta bukan sebaliknya. Sion menyadari itu. Tapi dia seorang manusia biasa. Dia nggak sanggup menyimpan lebih lama perasaannya ini. Gadis itu ingin segera menyatakannya agar hatinya bisa merasa plong dan lega.
"Ya udah kalau begitu. Buruan pergi, Sion. Jangan biarkan teman-temanmu menunggu”.
“Iya ma. Sip!”. Sion merasa bersalah sudah membohongi ibunya. Dia bertekad ini kebohongan pertama dan terakhirnya. Dia nggak ingin menjadi terbiasa membohongi ibunya.
“Oh, ya Sisi!’. Panggil ibu Sion tepat ketika Sion mau membuka pintu depan. Sion menoleh kebelakang.
“Jangan lupa sampaikan salam mama ya”. Sion tersenyum sambil mengacungkan kedua jempolnya.
“Absolutely ma! Pasti Sion sampaikan, jangan khawatir". Jawab Sion.
"Iya. Makasih sayang".
" Ya udah. Sion pergi dulu ma. Assalammualaikum".
"Walaikumsalam".
Sion bergegas melalui jalan setapak yang menghubungkan rumahnya dengan jalan masuk ke pantai favoritnya. Jarak antara rumahnya dan pantai hanya sekitar sepuluh menit. Yah, hari special ini selalu di rayakan di tempat yang sama. Di pantai. Sion bersyukur hari yang dia tunggu tunggu setiap tahunnya ini jatuh pada hari minggu. Jadi dia punya waktu yang lebih banyak bersama orang yang dia cintai.
Sesampainya di pantai. Sion mengedarkan pandang ke sekelilingnya. Sejauh mata memandang tidak terlihat begitu banyak orang disana. Mereka nampaknya punya tujuan yang sama dengan Sion, melihat kemilau emas matahari di ufuk timur. Sion menatap arlojinya. Sudah pukul 05.15 pagi. Mereka janjian pukul 05.05 pagi di pantai.
“Nggak biasanya Ryan telat”. Gumam Sion. Ryan biasanya selalu tepat janji dan nggak pernah telat dalam menghadiri apapun. Hari ini pengecualiannya. Sudah sepuluh menit dia telat.
Kedua kaki Sion membawanya mendekati bibir pantai. Suasana pantai masih temaram terselimut kabut. Sang mentari belum menampakkan kemilaunya. Perlahan Sion duduk di hamparan pasir putih sambil memandang deburan ombak memecah pantai. Gadis manis itu mengetatkan syal di lehernya. Angin dingin laut menggigit kulitnya.
Sion mengeluarkan figura foto dari dalam tasnya. Memandang dalam dan lama. Foto ayahnya. Mahesa Aoyama. Keluarga Sion dari pihak ayah memang ada keturunan Jepang yaitu dari kakek buyutnya. Sedangkan ibunya asli orang Jogyakarta. Perpaduan jepang-jogya dengan sempurna tercetak di wajah cantik Sion. Dia mewarisi warna mata, kulit putih susu dan hidung bangir ayahnya. Sedang wajah oval, bibir indah dan rambut lurusnya adalah fotokopian ibunya.
Sion mengusap kaca figura itu dengan penuh kasih sayang lalu mendekapnya di dada. Perlahan air mata mengalir deras di pipinya. Dadanya mulai terasa sesak. Hatinya sakit. Gadis manis itu terisak-isak sedih.
__ADS_1
“Ayah...aku kangen ayah”. Bisik Sion disela sedu sedannya.
Hari ini adalah hari ulang tahun sekaligus hari wafatnya ayah gadis itu. Mahesa Aoyama di mata Sion adalah ayah yang terbaik di dunia. Dia ayah yang penyayang, penyabar dan juga ayah yang sangat jenius. Sion memujanya. Ayahnya bekerja sebagai seorang guru piano. Ayahnya juga seorang pianis terkenal di kotanya. Masih segar diingatan Sion, ketika ayahnya mengajarinya bermain piano. Mengajarkan lagu-lagu klasik dari mozart, chopin ataupun bethoveen. Sion sangat menantikan saat-saat itu. Saat-saat berlatih piano bersama ayahnya. Jari-jarinya seakan ingin terus menari di atas tuts- tuts piano. Dulu dia dan Ryan juga sering berlatih piano bersama.
Sembilan tahun yang lalu, Ayah Sion juga membuka les privat piano di rumah. Ayahnya sangat senang mengajar piano kepada anak-anak. Kebahagiaan terbesarnya adalah melihat anak-anak mengenal piano dan dapat memainkannya. Ayahnya pulalah yang mengenalkan piano di kota kecil itu. Menerima siapa saja yang ingin belajar piano. Tanpa memandang usia maupun status. Berkat ayahnya lah kursus piano yang dulu dipandang sebagai kesenian orang kaya dapat dijangkau oleh orang-orang tak mampu. Lelaki itu nggak pernah mempersoalkan berapa pun biaya kursus yang diberikan kepadanya. Seringkali dia mengajar tanpa memungut bayaran. Itulah keistimewaan ayahnya, yang sangat dikagumi Sion dan orang-orang sekitarnya.
Namun hari itu, di hari ulang tahunnya, ayah Sion pergi ke kota sebelah untuk mengajar piano. Sepulangnya dari sana, dia menyetir pulang untuk merayakan ulang tahunnya bersama keluarga tercinta. Perjalanan ke kota sebelah dapat ditempuh dalam waktu dua jam dengan mobil. Ditengah perjalanan ayah Sion tak dapat mengendalikan mobilnya. Apalagi jalanan sangat licin karena cuaca sedang hujan deras. Mobil itu oleng ke kanan dan langsung menabrak pembatas jalan. Bagian samping kanan mobil hancur. Ayah Sion meninggal di tempat.
Sion yang saat itu berumur delapan tahun sedang menunggu kedatangan ayahnya di ruang makan. Dengan tak sabar dia memandang terus kue tart ulang tahun yang dia dan ibunya siapkan. Gadis cilik itu bersenandung ceria.
“Happy birthday, ayah.. happy birthday ayaah...”.
Terdengar suara mobil di luar. Sion berlari keluar dengan gembira. Dia berharap ayahnya yang datang. Gadis cilik itu membuka pintu depan dan mendapati ibunya sedang berbicara dengan Om Bagus. Seorang polisi muda di daerah tempat tinggalnya.
"Cepat katakan ada apa, Gus? Kenapa wajahmu seperti itu?”. Desak ibu Sion. Wajah Bagus terlihat muram dan sedih.
"Dengan amat menyesal bu. Saya harus memberitahu ibu kalau suami ibu, Bapak Aoyama meninggal dunia karena kecelakaan tunggal yang baru saja terjadi. Saya harap ibu dapat tegar dan tabah”.
Ibu Sion diam terpaku. Matanya menatap polisi muda itu tak percaya.
“Bohong!!Kamu bohong kan, Gus. Suamiku nggak mungkin meninggal...nggak mungkin!!”. Wanita malang itu tak dapat menerima kenyataan yang terjadi.
"Kamu bohong, gus! Kamu bohooong....!!”. pertahanan wanita itu runtuh. Dia menangis histeris dan jatuh bersimpuh. Sion mendengarkan semua itu. Dia berlari kearah ibunya dan menarik-narik tangannya.
"Ma, mama! Ayah mana? Ayah mana?!”. Sion mulai menangis. Ibunya tak menjawab dan langsung memeluk anak semata wayangnya itu. Wanita itu berusaha menguasai dirinya. Dia harus tegar demi Sion. Sekarang hanya dia yang di miliki gadis cilik itu.
"Sabar ya sayang. Ayah kamu sekarang sudah ada di tempat yang lebih baik. Kita harus merelakannya ya sayang”. Bisik ibunya.
"Nggak ma! Aku ingin ayahku! Ayahku!”. Sion menjerit histeris dan berontak liar dalam pelukan ibunya. Ibu Sion hanya dapat mengetatkan pelukannya sambil menangis pedih. Hari itu adalah hari perpisahan mereka untuk selama-lamanya dengan suami tercinta dan juga ayah yang terbaik.
Sion menghentikan sedu sedannya ketika menyadari ada seseorang mendekat kearahnya. Ryan sudah datang! Aku nggak boleh kelihatan lemah didepannya! Tekad Sion dalam hati. Gadis itu bergegas menghapus air matanya dengan punggung tangannya. Menarik nafas panjang, mengatur perasaannya. Sekarang dia siap.
“Eh, Pino! Kenapa lo telat?! Tau nggak sih berapa lama gue nungguin lo disini? Elo sengaja ya, bikin gue nunggu?!”. Sembur Sion tanpa membalikkan badannya. Dia sengaja berkata ketus untuk menutupi perasaannya yang sebenarnya. Lama nggak ada sahutan. Sion sedikit heran. Biasanya Ryan pasti akan langsung membalas perkataanya.
“Hei, Pino! Kenapa lo diam? Gue tu marah sama elo...”. Perkataan itu langsung menggantung di udara ketika akhirnya Sion membalikkan badan dan melihat dengan jelas sosok yang berdiri di hadapannya.
"Ti..Ti..Tyson?”. Serunya, kaget.Tyson berdiri diam sambil seperti biasa- memasukkan kedua tangan ke dalam kantong celananya.
"Kenapa lo ada disini?”. Tanya Sion penasaran. Dia lupa kalau pantai itu bukan miliknya pribadi, yang artinya semua orang berhak mendatangi tempat itu.
“Jalan-jalan”.
"Oh”. Sion mengangguk bingung. Dia tak tahu apa yang harus di obrolkan. Selama ini dia belum pernah berbicara dengan cowok itu.
“Oh, iya. Elo mungkin belum tahu gue. Gue...”.
“Sion?”. Potong Tyson.
Sion terperangah. Kok Tyson tahu namanya. Selama ini dia pikir si Mr. Cool itu apatis dengan lingkungan sekitarnya. Sehingga kemungkinan kecil cowok itu tahu namanya.
__ADS_1
“Iya. Gue Sion...Ehm..dari mana lo tau..?"
“Kenapa lo dinamai Sion?”. Potong Tyson lagi. Sion terlihat bingung, ada apa dengan cowok ini? Kenapa dia nggak sepasif biasanya.
"Dulu ayah gue ngefans berat sama pianis dari Jepang, namanya Sion Watashima. Makanya pas gue lahir, ayah bersikeras menamai gue Sion. Itu kata ayahku dulu sih".
Tyson terus menatapnya tajam sampai gadis itu merasa wajahnya terasa terbakar. Sion merutuk dalam hati. Kenapa sih dia menatapku seperti itu? Atau dia memang selalu begitu kalau berbicara dengan orang lain? Seakan ingin menelan lawan bicaranya bulat-bulat.
“Siapa nama lo sebenarnya?”. Lanjut Tyson.
“Ariesta Sion Aoyama”.
“Aoyama?!!”. Suara terkejut cowok itu membuat Sion mengangkat wajahnya.
“Kenapa? Lo kenal ayah gue? Nama ayah gue Mahesa Aoyama. Orang-orang sering manggil beliau Pak Aoyama. Apa lo kenal?”.
"Hmm. Tidak”.
Sekilas Sion merasa melihat mata elang itu berkilat sedih. Atau hanya perasaannya saja? Sion menggelengkan kepalanya. Ah, nggak usah dipikirkan. Itu nggak penting. Putusnya dalam hati.
"Kenapa lo nangis?”. Lagi-lagi pertanyaan Tyson berhasil mengagetkan gadis itu.
“Nangis kenapa? Gue nggak nangis kok”.
“Apa yang buat lo sedih?”. Tyson tak menghiraukan jawaban ngelesnya Sion.
“Beneran, gue nggak nangis!”. Sion kekeuh dengan pendiriannya.
Namun ketika dia memandang mata Tyson. Tampaknya dia harus menyerah. Mata itu seakan mengatakan dia tahu semuanya. Dia tahu Sion menangis. Dia tahu gadis itu sedang bersedih. Sion menghela nafas. Percuma dia ngeles lagi.
"Hari ini hari ulangtahun juga hariwafatnya ayah gue...”. Mata gadis itu menerawang.
“Jujur gue sangat rindu padanya. Rindu sekali sampai jantung terasa sakit”.
"Sama”.
Sion menengadah memandang cowok itu. Mentari yang mulai muncul dari peraduannya, membuat Sion dapat melihat jelas wajah Tyson. Kali ini dia nggak berhayal. Mata elang itu memang bersaput awan. Kelihatan sedih sekali.
“Siapa?”. Sion tanpa sadar bertanya.
“Seorang teman. Teman yang sangat berharga”. Jawabnya lirih bernada sedih.
Entah mengapa Sion merasa sedikit beruntung. Karena dia baru mengetahui sisi lain dari cowok itu. Tyson tak sepenuhnya cuek atau apatis. Sepertinya dia cowok yang cukup baik. Hanya saja, lelaki itu nampak menyimpan luka yang dalam di hatinya.
Saat itu sang mentari dengan malu malu muncul di ufuk timur. Semburat jingga keemasan kembali membanjiri permukaan laut. Sion dan Tyson diam dan terpana melihat keindahannya. Beberapa detik lamanya hingga suara Tyson memecah keheningan di antara mereka.
“Gue pergi”. Ucap Tyson sambil berbalik pergi.
__ADS_1
Sion memandang punggung yang semakin jauh itu. Langkah cowok itu seakan lesu dan nggak bertenaga. Dia seakan hanya menyeret kakinya agar bergerak. Sion mendesah. Punggungnya pun terlihat sedih. Temannya itu pasti sangat berharga. Tyson terlihat sangat sedih dan terluka. Siapa ya teman yang beruntung itu? Jika seorang gadis, apakah Tyson begitu mencintainya? Sion terus bertanya-tanya dalam hatinya.