
Kini Mereka berdua sudah di dalam ruangan privat VIP, Senja merasa sangat tidak nyaman. Berada di dalam ruangan hanya berdua saja dengan lelaki asing baginya. Fajar masih sibuk memilih menu yang di pesannya. Sedangkan Senja sedang berkirim pesan dengan teman sesama guru di tempat Dia mengajar.
"Apa ada yang Kamu inginkan? Aku sudah memesan makanan, mungkin ada yang Kamu inginkan. Lihatlah di buku menu nanti Aku bantu pesankan."ucap Fajar.
"Tidak ada Pak, Saya makan yang sudah Anda pesan saja." jawab Senja
"Baiklah jika itu maumu." jawab Fajar
Tak berselang lama makanan yang sudah dipesan oleh fajar sudah terhidang di meja. Senja membulatkan matanya, dengan banyaknya makanan yang ada di meja, dia segera menatap laki-laki yang ada di depannya.
"Jangan menatapku seperti itu, sebentar lagi keluarga besarku akan datang. Kamu kira aku akan menghabiskan semua ini."ucap Fajar yang mencoba menjelaskan apa yang di tebaknya.
"Oh..." Senja hanya ber oh ria, namun dia juga belum berani memulai kegiatan makannya.
"Kita makan dulu, mereka sepertinya masih lama."ajak Fajar pada Senja.
"Apa tidak sebaiknya menunggu ya pak?"
"Aku sudah lapar, kalau kurang nanti aku bisa pesankan lagi untuk mereka." Fajar sengaja mengatakan itu karena dia tahu wanita di depannya ini sudah kelaparan.
Senja tanpa sungkan lagi memulai makannya, walau tak banyak nasi dan lauk yang dia makan. Namun tetap dia tak mempedulikan tatapan Fajar yang tak lepas darinya. Bukannya tidak tau, Senja sangat tau jika saat ini laki-laki sekaligus bos dadakannya sedang memperhatikannya. Masa bodo yang penting Senja kenyang.
"Anda tidak makan pak?" tanya Senja setelah dia mengakhiri makannya dan meneguk segelas air putih.
"Aku rasa cukup melihatmu makan saja sudah kenyang."
"Mana ada kayak gtu pak, yang lapar itu perut bukan mata."
"Memang kenapa? Aku suka lihat kamu makan, walau judes ternyata kamu masih punya attitude juga di meja makan." ejek Fajar.
"Maksudnya Anda meremehkan saya?"
"Bukan begitu!"
"Tapi arah pembicaraan Anda kesana!''
"Terserah kamu menilainya seperti apa, yang penting aku tidak pernah berfikir apa yang ada dalam fikiranmu."
"Hufft... Selalu saja begini "
"Iya dan akan selalu begitu, selama kamu selalu berfikir buruk tentang orang lain."
__ADS_1
"Saya Tidak pernah berfikir buruk kepada orang lain tanpa bukti, ingat itu ya pak!"Senja sengaja menekankan kata-katanya. Senja akan selalu sopan dan menghargai orang lain selama orang itu bisa dihargai dan di hormati.
"Jika demikian kamu sudah berfikir buruk kepada saya?"
"Anda sendiri yang bilang demikian, bukan Saya. Namun jika Anda menyadarinyavsangat bagus sekali."
Fajar tak berkutik, sungguh perempuan di depannya saat ini bener- bener menguji kesabarannya. Tak seperti yang dia bayangin, jika Senja adalah seorang yang lemah lembut dan tak banyak bicara apalagi judes. Sungguh di luar ekspektasinya.
"Saya permisi ke kamar mandi sebentar pak, emm kamar mandinya dimana ya pak?"
"Kamu tidak melihat jika di dalam ruangan ini juga ada tolet?"
"Mana saya tau pak, Saya juga baru kali ini kesini. Dan saya bukan tipe orang yang gampang kepo kepada sesuatu, lantas baru pertama kali datang udah celingukan!''
"Kamu selalu saja menjawabku, kapan kamu tidak bicara ketus seperti itu kepadaku?!"”
Belum sempat Senja menimpali Fajar, Keluarga Fajar sidah berdatangan. Ayah, Bunda Dan juga Mentari. Senja segera beranjak dari tempat duduknya menghampiri wanita paruh baya itu menyalaminya dengan takhzim. Pemandangan yang terlihat indah di mata Fajar, yang membuat pria itu berandai-andai jika saja Senja adalah istrinya.
"Assalamu'alaykum Bu..."
"Wa'alaykumussalam Nja, anak itu ga ganggu kamu lagi kan?"tanya Bunda sambil melirik ke arah Fajar.
"Apa sih Bund, Fajar ga ada gangguin Senja."
"I..Iya bund, ga ada kok. Pak Fajar ga ada gangguin Senja."
"Alhamdulillaah kalau begitu, jangan takut bilang ke Bunda kalau Fajar masih gangguin kamu."
"Iya bunda..."
"Senja kenalin, ini adiknya Fajar namanya Mentari."Bunda mengenalkan Mentari pada Senja, dan di balas dengan saling berjabatan tangan.
"Mentari kak..."
"Senja..."
"Bund, nama kita sepaket deh kayaknya. Kalau jadi satu keluarga bakalan bagus banget, Ada Fajar, Mentari dan Senja. Bener ga Bund?" tanya Mentari, Bunda hanya mengulas senyum. Sebenernya misinya makan siang kali ini juga ingin mengenal lebih jauh tentang Senja. Wanita paruh baya itu sudah merasa sangat cocok dengan Senja entah apa yang membuat hatinya mantap memilih Senja sebagai calon menantunya, dan tentu saja siang ini tidak akan disia-siakannya.
"Bund, Yah makan dulu. Keburu dingin, Fa sana Senja sudah makan duluan keburu laper soalnya."
"Ya sudah Ayah makan dulu."
__ADS_1
"Maaf semua, saya permisi ke toilet sebentar."
"Oh Iya silakan Nja." Wanita paruh baya ini sudah merasa seperti sangat akrab sekali dan tanpa sekat pada Senja. Melihat Senja yang sedang ke kamar mandi, tidak akan disia-siakannya waktu ini untuk nge warning sang anak lanang kesayangannya.
"Fa... Awas klo ga cepetan kamu halalin." ancam Bunda, Fajarpun tahu jika sang bunda sudah sangat cocok dan suka sekali dengan Senja. Namun semua keputusan ada di Senja, dia tidak bisa main grusa grusu begitu saja.
"Iya Bund, sabar Fa sedang berjuang."
Mereka makan dengan hikmat, dengan sesekali melempar candaan. Setelah selesai makan, dan meja sudah dibersihkan. Kini mereka sedang mengobrol santai di ruangan VVIP tersebut.
"Senja... Maukah tinggal sementara di rumah Bunda selama Senja di Jakarta?"
"Emm tapi Bund Senja....." selalu seperti ini, perkataannya selalu di sela oleh sang laki-laki yang ada di depannya.
"Iya Bund, Mulai malam ini Senja tinggal di rumah Bunda. Nanti Fajar antar Senja pulang."
Senja hanya bisa melebarkan mata dan mulutnya, laki-laki ini selalu berbuat sesuka hatinya dan melewati batas.
"Tapi Pak!"
"Tidak ada tapi Senja, dan tidak ada penolakan."selalu itu dan Senja pun tau endingnya pasti lari ke lembaga yang di wakilinya.
"Baik bu, Saya akan tinggal di rumah ibu selama di Jakarta."
"Terima kasih Senja, Bunda seneng banget."Wanita paruh baya itu mengungkapkan rasa bahagianya, dengan memeluk erat tubuh Senja.
Akhirnya acara makan siang itupun berakhir, karena sebentar lagi Fajar ada meeting dengan perusahaan dari hongkong yang ingin bekerja sama dengannya. Namun sungguh tak disangka-sangka ketika mereka berjalan bersama hendak keluar dari restorant mereka berpapasan dengan wanita yang oernah di tolak oleh Fajar.
"Selamat siang Tante?"
"Eh Agnes selamat siang."
"Kebetulan banget bisa ketemu disini tan, sudah selesai tan?"
"Sudah.. Ini Kami sudah mau pulang."
Tatapan selidik Agnes tidak beralih dari Senja, "Ini siapa Tante?"
"DIA CALON ISTRIKU!"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
💐💐
Hai Readers semua, biar tambah semangat updatenya jangan lupa Like, Vote dan point bintang 5 ⭐⭐⭐⭐⭐dan koment juga ya.