
Semburat cahaya mulai muncul dari ufuk timur. Ketenangan yang Senja rasakan tiga bulan terakhir akan kehamilannya mulai menunjukkan penolakan di tubuhnya. Sakit kepala yang mendera tak kunjung hilang dalam satu pekan. Dia tau ini akibat tensinya yang tidak stabil, apalagi kondisi kehamilan dengan preklamsia sangat tidak mudah. Walau sudah berbagai hal di lakukan, mulai meminum herbal, menjaga pola makan dan sebagainya. Sama sekali tidak ada perubahan yang signifikan.
"Ya Allaah.... hamba serahkan hidup dan mati hamba padamu, namun sebelumnya pertemukanlah hamba dengan suami hamba, agar suami hamba tau ada anaknya di dalam rahimku yang suatu saat sangat membutuhkannya."gumam lirih Senja, dengan masih kondisi yang sangat memprihatinkan. Hanya bisa menutup mata, agar sakit kepalanya tidak semakin menjadi. Dia hanya bisa berbaring, hingga merasa kasihan melihat putra bungsunya yang kini baru masuk umur 3 tahun itu.
"Umma.... Umma.... Asih atit, umma au minum?"tanyanya si kecil Khunais, yang penuh perhatian pada sang umma.
"Iya umma sedang sakit kepala, adek main sendiri dulu tidak apa-apa kan? Umma belum haus sayang, nanti ya klo Umma sudah haus, umma minta tolong adek ambil minum. Adek ga marah kan?" tanya senja dengan sedikit trenyuh melihat sang putra.
Kehamilan senja yang sudah memasuki bulan ke tujuh, memang sudah sangat rawan. Saran dari dokter pun untuk segera melakukan sectio caesar untuk menyelamatkan keduanya. Namun bagaimanapun semuanya butuh biaya, bagaimana juga dengan anak-anaknya jika nanti dia tinggal di rumah sakit. Melahirkan secara caesar tidak secepat melahirkan secara normal. Pemulihannya lebih lama, dan selama itu bagaimana dengan anak-anaknya.
***
Kabar yang di nanti akhirnya datang juga, walau kabar itu belum pasti. Namun bagi Fajar itu sebuah kemajuan yang bisa segera di temukan.
Anak buahnya menginfokan bahwa satu pekan sebelumnya, ada seorang wanita hamil memeriksakan diri di rumah sakit daerah, yang cukup terpencil di daerah Bogor. Dari nama sama dengan nama istri sang bos.
Tak perlu menunggu lama, Fajar dan keluarganya segera meluncur ke rumah sakit yang di beritahukan oleh anak buah Fajar.
"Semoga menantu bunda baik-baik saja, Kamu harus fit kak. Jangan sampai terlihat lemes seperti ini nanti ketika bertemu Senja."ucap Bunda Tiara
__ADS_1
"Fa juga maunya seperti yang bunda katakan, namun bagaimana lagi bund. Fa sama sekali tidak bisa menolak ini."bantah Fajar.
"Ya sudah, sekarang kamu istirahat saja dulu Fa. Sesampainya disana bunda bangunkan, perjalanan masih kurang 3 jam lagi. Lumayan biar tubuhmu lebih segar nantinya."pinta bunda pada Fajar, yang juga di iyakan oleh sang suami.
Dalam perjalanan , tiada henti-hentinya sang mertua mendokan yang terbaik untuk rumah tangga sang putra. Harapan kebahagiaan sang putra setelah menemukan wanita yang mampu mengembalikan putranya masih sangat tinggi. Dia tau Senja tidak menginginkan semua ini, namun bagaimana lagi jika dalam kondisi tertekan dan terdesak.
Akhirnya mereka sampai di rumah sakit tempat Senja memeriksakan kandungannya. Segera tiga orang yang sudah tidak sabar untuk bertanya dengan dokter obgyn pun melangkah lebar dan tergesa-gesa.
Tok
Tok
Tok
"Ada yang bisa di bantu Pak, Bu?"tanya Dokter setelah tamunya duduk dengan tenang.
"Begini dokter kami mencari keluarga kami, menantu saya memeriksakan kehamilannya kepada dokter apa dokter bisa memberi tahu kami? Apakah itu benar menantu kami?" tanya Bunda Tiara dengan sangat mengebu-gebu, perasaannya campur aduk antara bahagia dan juga cemas.
"Dokter ini foto istri saya, saya berharap dokter tidak menutupinya dari kami."ucap Fajar dengan tegas.
__ADS_1
"Begini Pak, Bu... Data pasien kami sebenernya adalah sangat rahasia. Namun saya akan menjawab pertanyaan bapak serta ibu apakah beliau pasien saya atau bukan, dan setelahnya saya berharap bapak serta ibu bisa segera mengambil tindakan.
Dari foto yang di tunjukkan ke saya, benar beliau adalah pasien saya. Baru satu pekan yang lalu beliau datang kemati untuk mengecek kondisi kehamilannya. Saya harap setelah saya beritahukan kondisi beliau bapak serta ibu segera membujuk ibu Senja untuk segera melakukan tindakan. Beliau bukan tidak ingin melakukan tindakan, namun sepemahaman saya beliau ada kendala di biaya. Kondisi beliau hamil 7 bulan dengan kehamilan kembar, dengan kehamilan ang cukup berbahaya karena beliau mengalami preklamsia, yang sangat berbahaya bagi keduanya baik si ibu dan si jabang bayi itu sendiri. Kami sudah merayunya namun beliau tetap kekeh dengan pendiriannya. Setau saya beliau tinggal di asrama di pondok pesantren An Najiyah. Saya harap malam ini bapak serta ibu sudah bisa membawa ibu Senja untuk melakukan tindakan.
Ketiga orang yang berada di depan sang dokter masih saja terpaku, antara senang, sedih dan takut. Apalagi Fajar, pikirannya hanya di gelayuti oleh rasa takut kehilangan istrinya. Namun juga bahagia dengan adanya anak-anaknya yang sedang dalam kandungan istrinya.
"Bund, kita harus cepat kesana bund!"Fajar tanpa berpamitan segera berlari keluar meninggalkan dua orang paruh baya yang sedang sama-sama kaget dengan penjelasan sang dokter
"Ma..maaf dokter, kami izin undur diri. Kami akan secepatnya membawa menantu kami kesini untuk segera diambil tindakan. Minta tolong dokter, jika berkenan dokter bisa persiapkan terlebih dahulu. Kami permisi dokter, terima kasih banyak atas bantuan dokter." akhirnya mereka meninggalkan rumah sakit dengan perasaan campur aduk, takut, bahagia, sedih semua rasa seakan tak bisa di sampaikan. Fajar sudah tak sabar untuk bertemu dengan sang istri.
Perjalanan tak membutuhkan waktu lama, akhirnya mereka sampai di sebuah pesantren yang cukup terlihat rame. Namun dari kejauhan terlihat pemandangan yang membuat Fajar semakin ketakutan. Kenapa ada mobil ambulance, kenapa sedang rame dan terdengar isak tangis anak kecil.
"Umma.... bangun umma, umma bangun umma...."Fajar seketika berlari mencari sumber suara itu dan seketika....
DEG
...----------------...
...~ "Pertemuan tak selalu indah, Tapi satu yang pasti harapan untuk berakhir dengan indah. Kemuning senja selamanya akan nikmat di pandang mata, bukan hanya untuk di kenang, namun di peluk erat bersama keindahan malam" ~...
__ADS_1