
Tepat hari ini adalah hari dimana Senja akan berangkat ke Jakarta. Sungguh berat meninggalkan anak-anaknya, walau selama satu pekan ini Senja sudah mulai akrab dengan baby sitter dan supir yang di kirim Fajar, namun tetap hatinya sangat berat karena Dia sama sekali tidak pernah berjauhan dengan anak-anaknya apalagi si bungsu. Senja memandang satu per satu anak-anaknya, Dia berusaha kuat agar tidak menangis, jika itu terjadi sudah pasti Dia sama sekali tidak akan bisa beranjak apalagi dengan si bungsu. Semua pemandangan itu tidak luput dari penglihatan Fajar, iya begitulah entah itu beneran cinta atau obsesi belaka. Namun jika rasa obsesi, apa yang perlu di obsesikan dari seorang Senja harta tidak punya, badan juga sudah ga sesingset kala gadis dulu beranak 4 lagi plus janda. Walau slogan sekarang terkenal dengan "janda semakin di depan" namun tetap bagi Senja tidak ada yang special dalam dirinya.
"Abang.... Umma nitip adik-adik ya nak. Jangan di marahin adeknya, ingat sholat jangan bolong dan semangat menambah hafalannya."
"Iya umma, in sya Allaah abang akan selalu ingat pesan umma. Umma jaga diri baik-baik ya, sering-sering telphone ke Abang sama adik-adik juga."
"In sya Allaah nak,..." Setelah berpamitan dengan anak-anakku, Aku pergi di antar pak Budi supir yang telah di kirim oleh pihak Sky Company. Dan satu lagi, hanphone barupun diberinya agar Aku bisa komunikasi bersama anak-anak nantinya. Sebenernya laki-laki itu baik juga, ada rasa kagum padanya dengan sifat dermawan nya semoga Allah menggantinya dengan rezeki yang berlimpah ruah,Aamiin.
Karena tau Senja sudah akan berangkat dengan segera Pak Budi mengakhiri panggilan videonya bersama bosnya.
"Mari pak, Saya sudah siap berangkat."
"Baik bu Senja."
Mereka pun segera berangkat menuju bandara Abdurahman Shaleh, sejak awal Senja tidak berminat menaiki alat transpot satu ini. Namun bagaimana lagi, perintah yang tidak bisa di tolak.
Senja pada akhirnya berangkat ke Jakarta seorang diri. Di planning awal Dia akan berangkat berdua bersama admin sekolah namun qadarullaah musibah tidak tahu kapan terjadinya. Keluarga mbak Ida selaku admin sekolah yang akan menemani Senja meninggal dunia hingga tidak bisa menemani ke Jakarta. Teman-teman di kantornya tidak ada yang bisa menemani, karena semua sidah sibuk dengan jadwalnya masing-masing. Ada yang harus mendampingi anak didik yang akan AKM, ada yang akan mendampingi anak didik yang akan lomba Tahfidz, lomba Futsal, olimpiade matematika, olimpiade ipa dan masih banyak lagi kegiatan yang lainnya. Seharusnya Senja sama padatnya dengan teman-temannya namun bagaimana lagi semua juga demi lembaga tempat Dia bekerja dan tentu semua teman-teman sejawatnya memahami akan hal itu.
Masih ingat celetukan teman seakrabnya di kantor..."Ustadzah Senja, Saya doakan pulang statusnya sudah engaged yess...! Kalau ingat itu gemes rasanya. Emang ke Jakarta buat cari jodoh, malah rasa-rasa akan berangkat perang (sok sok an kayak Senja pernah ikut perang ya guys). Gimana ga kayak ikut perang, nanti Dia akan merasakan adem panas rekkk harus presentasi di depan orang banyak plus di depan para petinggi perusahan yang menerima proposalnya. Senja pasti bisa, ga boleh gagal perjalanan sudah sangat jauh harus pulang membawa kabar bahagia.
Penerbangan Malang ke Jakarta memakan waktu 1 jam 40 menitan. Kini Senja sudah landing di bandara Soekarno Hatta, seseorang sudah menantinya di terminal domestik hendak menjemputnya. Siapa lagi kalau bukan Fajar, Dia dengan sangat percaya dirinya menjemput Senja. Dia memanfaatkan perjumpaan pertamanya untuk berkenalan langsung dengan Senja.
Bermodal nama yang sudah di tulisnya di sebuah kertas, kini Dia sudah melihat sang wanita pujaannya sedang berjalan menyongsongnya. Ahhh.... Lagi-lagi Fajar membayangkan jika wanita ini sudah menjadi miliknya pasti sudah di peluknya dan di kecupnya. Sayang hanya masih sebagai khayalan semoga segera terwujud ya Fa.
"Selamat siang benar dengan ibu Senja?"
"Benar pak Saya Senja."
"Perkenalkan Saya Fajar...." Fajar menyodorkan tangannya untuk bersalaman, namun sayang Senja malah justru menangkupkan kedua tangannya ke dadanya. Dan pada akhirnya Fajarpun mengikuti gerakan Senja.
"Maaf pak, bukannya tidak sopan. Karena bapak bukan mahrom saya."
"Oh... Tidak mengapa ibu Senja, mari kopernya saya bawakan." Senja pun memberikan kopernya pada Fajar, mereka berjalan beriringan dan sejajar sudah seperti pasangan suami istri. Sungguh hati Fajar sangat berbunga-bunga kali ini.
"Ibu Senja duduk di depan saja tidak mengapa, karena di bagasi ada barang-barang sehingga koper ibu Senja harus Saya taruk di jok belakang.''
"Baik pak.''
Fajar mulai melajukan mobilnya menuju hotel tempat mereka akan menginap, sampai detik ini Senja belum sadar jika yang menjemputnya adalah pemimpin perusahaan Sky Company.
__ADS_1
Handphone Senja berdering menandakan ada panggilan yang harus di jawabnya.
"Maaf pak, Saya angkat telp sebentar."
"Iya silakan ibu Senja." Fajar tersenyum tipis menahan rasa bahagianya bisa duduk berdekatan dengan wanita yang beberapa waktu ini menari-nari dalam hatinya.
"Assalamu'alaykum Ibu Senja."
"Wa'alaukumussalam mbak, kenapa mbak?"
"Ini Bu adek rewel nangis dari tadi nyari-nyari ibu."
"Baiklah arahkan ke adek mbak...."Senja tidak tega melihat putra bungsunya yang sedang menangis.
"Assalamu'alaykum anak umma..." Tidak ada jawaban hanya suara raungan tangisan yang menggema. "Adek mau bicara sama umma tidak? Kalau mau bicara sama umma, harus berhenti nangis dulu. Sekarang adek nangisnya sudah selesai belum? Kalau sudah selesai kasih tau umma ya, baru deh kita bisa bicara?" Lama Senja menunggu putranya yang masih menangis, Fajar pun sebenernya tak sampai hati melihat itu. Namun terpaksa Dia melakukan itu untuk meraih cinta Senja. Lama menunggu akhirnya kini hanya tinggal isakan-isakan kecil yang terdengar.
"Umma...."
"Alhamdulillaah.... Sudah selesai nangisnya sayang?" Di jawab anggukan kepala oleh putra bungsunya."Adek kenapa nangis?"
"Adek mau cama umma."
"Benelan umma?"
"Bener sayang..."
"Umma boleh adek minta es klim?"
"Boleh tapi ga boleh banyak-banyak ya... Tetap harus mam nasinya ya!"
"Iya umma..."
"Maa sya Allaah anak sholehnya umma in sya Allaah, sekarang main dulu sama mbak ya nak. Nanti malam umma telpon lagi ya."
"Iya umma, acalamualaikum"
"Wa'alaykumussalam sayang..."
Senja menitikkan air matanya, belum ada setengah hari, rindu pada buah hatinya sudah tidak terbendung lagi. Fajar melihat itu ada rasa bersalah telah memisahkan anak dari ibunya.
__ADS_1
"Ini ibu Senja...." Fajar menyodorkan selembar tissue kepada Senja.
"Terima kasih pak..."
"Ibu Senja sudah menikah?" pertanyaan yang seharusnya tidak di tanyakan, karena Fajar sudah tahu siapa Senja sebelumnya hanya alasan saja bertanya seperti itu.
"Sudah pak alhamdulillaah."
"Saya kira masih lajang."
"Bapak bisa saja, anak saya sudah 4 pak."
"Wahh hebat bu Senja, tapi beneran Saya kira masih perawan."
"Bapak bisa Saja."
Tak berapa lama mereka sudah sampai di hotel tempat mereka menginap, sepanjang mereka berjalan menuju resepsionis tak henti-hentinya orang yang bertemu dengan laki-laki di sebelahnya menundukkan kepalanya. Senja di buat bingung, siapa laki-laki disebelahnya.
"Selamat siang pak Fajar, ini kunci kamar pak Fajar beserta kunci kamar ibu Senja."
"Terima kasih."dengan suara sedikit tegas, tetap datar dan dingin. Perubahan cepat ini seketika membuat Senja membeku. "Apakah laki-laki ini laki-laki yang sama yang selama ini menghubunginya." Ucap Senja dalam hati, Dia mengambil ponselnya dan menelphone nomor orang yang selama ini menghubunginya. Dan benar saja, dering suara handphone terdengar dari saku laki-laki di sebelahnya.
"Sudah matikan saja, Saya di sebelahmu tidak usah telphone. Jika ada yang mau Kamu bicarakan langsung saja Bicarakan."
'A...Anda pemim..." Lagi-lagi Senja belum selesai bicara sudah di potong oleh Fajar.
"Tidak perlu di perjelas jika Kamu sudah tahu!" Fajar segera mengandeng tangan Senja dan membawanya menuju kamar mereka masing-masing.
"Lepaskan.... Lepaskan pak!" Senja berusaha melepaskan genggaman tangan Fajar. Bertepatan pintu lift yang terbuka, Fajar segera membawa Senja masuk dan mendorongnya ke pojok dan memepetnya.
"Akhirnya penantianku tak sia-sia Senja!" Fajar semakin memepet tubuh Senja, berusaha memberontak pun tak bisa karena kedua tangannya di cekal begitu eratnya. Fajar menurunkan masker yang di pakai oleh Senja.
"Kamu Cantik!"
CUP
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
..."Di dalam dekapan sang senja, diriku mengharapkan sebuah asa, yang dapat membuat semesta yang fana menjadi semesta yang penuh warna."...
__ADS_1