
Senja tidak lagi mengambil pusing dengan kata-kata laki-laki di depannya. Baginya semua yang di katakannya tidak akan berarti selama belum terbukti. Senja tidak menampik rasa bahagianya jika memamg benar laki-laki ini akan memperistrinya. Namun tetap pada pendiriannya, jika Dia ingin menikahinya maka Dia Juga harus menerima ke empat anaknya.
Setelah seharian menghabiskan waktu bersama Fajar di tempat pembukaan acara di hotel dan meeting di kantor. Senja merasakan begitu lelahnya, namun apa boleh jadi hanya bisa ditahan saja. Kini mereka dalam perjalanan ke mansion milik keluarga Fajar. Yang sebelumnya mereka mampir ke hotel tempat Senja menginap untuk mengambil semua barang-barang milik Senja. Dalam perjalanan ponsel dalam genggaman Senja berdering, namun Senja yang tertidur pulas sama sekali tidak terganggu dengan suara itu. Tidak bermaksud lancang namun Fajar tetap mencoba akan menjawab panggilan telphone milik Senja. Ternyata bukan hanya panggilan telphone biasa melainkan panggilan video call. Fajar menepikan mobilnya dan segera mengangkat panggilan itu.
"Assalamu'alaykum Umma." Suara dari anak pertama Senja.
"Wa'alaykumussalam." Fajar melihat wajah keterkejutan dati seorang anak lelaki di panggilan itu.
"Ma...Maaf Pak, kenapa handphone umma saya ada bapak?"
"Umma sedang tidur nak, sepertinya kelelahan setelah seharian bekerja.'' di lihatnya anak lelaki itu hanya menganggukan kepalanya.
"Siapa namamu boy?"
"Nama Daya Khurayya Pak."
"Jangan panggil Pak, panggil saja Abi."
"A...Abi..."
"Iya... Sebentar lagi daya akan menikahi ummamu."
"Benarkah?"
"Tentu!Apakah kamu mau kesini melihat ummah menikah?"
"Mau Abi." Dada Fajar berdesir hangat mendengar panggilan itu untuknya.
"Jika waktunya sudah tiba akan ada yang menjemput kalian, bersiaplah sedari sekarang oke. Nanti Abi jemput di bandara, kita buat kejutan buat Umma. Dan jangan lupa ajak juga adek-adek ya."
__ADS_1
"Baik Abi."
"Oh ya boy, apakah ada sesuatu yang ingin kamu katakan untuk umma, karena kamu menelphonenya?"
"Abang waktunya setor hafalan Abi."
"Ohh... Sebentar lagi Abi sama Umma sudah sampai, 30 menit lagi kamu bisa telp lagi ya."
"Baik Abi."
"Abang, Uni mau ngomong juga sama Umma."
"Tapi umma sedamg tidur dek."
"Terus abang bicara sama siapa kalau umma tidur?"
"Sama Abi dek."
"Abi... Maaf adek pengen ngomong juga sama Abi."
"Tidak apa-apa boy, mana adek?"
"As... Assalamualaykum Ab... Abi."
"Wa'alaykumsalam anak cantik."
"Namaku Khaulah Abi."
"Nama yang cantik, secantik orangnya."
__ADS_1
"Abi namanya siapa?"
"Nama Abi, Fajar sayang."
"Abi sedang dimana?"
"Abi sedang perjalanan pulang sayang."
"Abi habis dari mana?"
"Abi sama umma habis kerja sayang, baru pulang dari kantor."
"Ohhh.... Umma capek ya Abi sampek ketiduran."
"Iya umma kecapekan sayang." terdengar suara gaduh di belakang, saling berebut ingin bicara. dan terdengar juga suara anak sulung Senja yang menginterupsi adek-adeknya
"Sudah dek kapan Abi sampai rumahnya, sudah sini kasih abang."
"Abi... Baiklah nanti abamg telp lagi."
"Oke boy, jaga adek-adek ya. Nanti Abi telphone kalian lagi."
"Baik Abi, Assalamu'alaykum."
"Wa'alaykumsalam."
Fajar menutup panggilan video itu dengan hati yang dangat bahagia. Belum oernah dia merasakan sebahagia ini. Hanya karena sebuah panggilan saja rasa bahagia Fajar seperti menggila, bagaimana jika dia berhasil menikahi Senja dan akan selalu bersama dengan anak-anak Senja. Sama sekali kebahagiaan yang tidak pernah di bayangkan olehnya. Terima kasih Senja, semoga apa yang aku impikan kamu dapat mengabulkan dengan menjadi istriku.
"Aku Sangat Bahagia."
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
... "Tidak ada yang lebih indah di dunia ini selain sebuah keluarga yang utuh."...