FAJAR TERPINANG SENJA

FAJAR TERPINANG SENJA
17. FTS


__ADS_3

Setelah perdebatan yang menggelikan anatar ibu dan anak yang membuat Senja terbengong melihatnya. Mereka segera beranjak untuk melakukan sholat maghrib berjama'ah di mushola keluarga.


Senja sejenak terpesona dengan bacaan sang Fajar yang cukup merdu dan dengan bacaan yang benar dari sisi tajwid dan makhrojnya. Namun Senja segera menepis rasa itu dan kembali mengkhusyukkan dirinya untuk beribadah. Selepas sholat mereka pun beranjak ke ruang makan untuk makan malam bersama.


"Sayang.... Jangan sungkan ya makan yang banyak, bunda sudah masakin buat kamu menu special."ucap bunda dari Fajar dengan sangat bahagianya. Ini yang diharapkan sejak lama, berharap menanti dari sang putra segera mengisi kursi di ruang makannya. Tidak hanya itu, bahkan dia juga berharap rumah ini segera terisi dengan celoteh sang menantu yang tidak akan membuatnya kesepian.


"Baik Bund.... Terima kasih."


"Nja... Ga di ambilin nikh nasi buat calon suami."


"Ga!"


"Pelit banget, ga mau pahala nikh?"


"Masih banyak cara untuk mendapat pahala!"jawab Senja dengan sedikit ketus


"Oke-oke sekarang aku ambil sendiri, nanti klo sudah jadi istriku ga akan aku biarin itu terjadi. Bahkan makan pun harus kamu suapin."ucap Fajar dengan sedikit nada ancaman namun itu semua tentu hanya sebuah candaan saja.


"Sudah Fa... Ambil sendiri napa,jangan manja gtu."


"Iya iya bund ini juga mau ambil sendiri."


Akhirnya mereka menikmati makan malam dengan sangat nyaman, suasana penuh kehangatan meliputi mereka malam ini. Candaan dan obrolan ringan menemani berlangsungnya acara makan malam itu. Kini mereka sudah berada di ruang keluarga, setelah acara makan tadi mereka memutuskan untuk berkumpul di ruang keluarga karena akan ada yang Fajar bicarakan. Dan itu juga tak terkecuali untuk Senja, Justru Senjalah peran utama yang akan jadi bahan pembicaraan malam ini. Namun sebelum pembicaraan di mulai ponsel Senja sudah berdering. Tanda panggilan dari sang putra yang tadi sore berjanji akan menelphonenya kembali. Senja akan beranjak dari sana hendak menerima telphone dari anak sulungnya, namun segera di hentikan oleh Fajar.


"Mau kemana?"


"Menerima telphone."


"Dari siapa?"


"Dari putra saya pak."


"Angkat disini saja, aku juga bunda ingin bicara dengan nya."


"Tapi...."

__ADS_1


"Sudah angkat dulu..." Senja lekas mengangkat panggilan video call itu.


"Assalamualaykum umma."


"Wa'alaykumussalam nak, abang gimana hari ini?"


"Alhamdulillaah sekolah abang hari ini di berikan kemudahan sama Allaah umma."


"Alhamdulillaah, baarakallaahu fiyk nak. Adek-adek sedang apa bang?"


"Uni Khaulah sama Khuzama sudah tidur umma, setelah sholat tadi.


"Adek Khunais gimana bang?"


"Adek sama si mbak umma, Alhamdulillah anteng. Tadi sore abang telp umma, tapi kata Abi umma sedang ketiduran."


Senja seketika menatap Fajar dan baru itulah dia sadar jika dari tadi mereka semua sedang menyimak pembicaraannya dengan putranya.


"Iya bang... Tadi umma kecapekan nak, jadi sewaktu pulang kerja umma ga bisa nahan lagi jadi ketiduran di kendaraan."


"Iya sayang, abang bagaimana hafalan hari ini?"


"Abang mau setor Al Mulk umma, besok abang mau ujian suroh Al Mulk. Setelahnya abang mau ikut ujian 2 juz ya umma."


"Iya nak semoga di mudahkan, ya sudah umma dengarkan sekarang ya."


Anak sukung Senja segera menyetorkan hafalan suroh Al Mulknya yang juga di dengarkan oleh Bunda, Ayah dan juga Fajar. Mereka terhipnotis dengan bacaan anak umur 8 tahun itu. Mereka terkagum-kagum dengan anak itu. Dan membuat Fajar semakin yakin dia tidak salah memilih wanita yang akan dijadikan istri olehnya. Termasuk sang bunda yang semakin bukat tekadnya untuk menjadikan Senja sebagai menantunya.


"Alhamdulillaah maa sya Allaah.... Hafalannya sudah lancar bang, tetep ya nak terus di murojaah agar hafalannya lebih kuat." Fajar menyolek-nyolek lengan Senja memberi tahu jika ia ingin bicara dengan anak sulungnya. "Abang ini ada yang bicara sama abang." Senja memberikan telphone miliknya kepada Fajar.


"Assalamu'alaykum abang."


"Wa'alaykumussalam Abi."


"Maa sya Allaah, semangat hafalannya ya nak. Oh iya ada oma nikh mau bicara sama abang, boleh ya?"

__ADS_1


"Oma?"


"Iya, bundanya Abi."


"Ohhh boleh Abi." Fajarpun segera mengoper handphone milik Senja kepada sang Bunda.


"Assalamu'alaykum Oma."


"Wa'alaykumsalam sayang, siapa namamu sayang?"


"Nama saya Khurayya oma."


"Kelas berapa?"


"Kelas 2 oma."


"Maa sya Allaah masih kelas 2 tapi sudah hebat baca al qur'an nya. Kapan-kapan mau ga main ke rumah oma?"


"In sya Allaah mau oma, semoga ada kesempatan bisa main ke rumah oma."


"Aamiin, oma tunggu ya sayang."


"In sya Allaah oma"


"Ya sudah oma kasihkan lagi ke umma ya sayang."


Setelah beberapa saat Senja mengobrol dengan anak sulungnya, akhirnya selesai juga panggilan video itu. Dan kini Fajar sudah mulai akan membuka apa yang di beritahukan tadi jika ada yang ingin di bicarakan.


"Senja... Di depan kedua orang tuaku, Bunda dan Ayah. Aku ingin memberitahukan kepadamu. Aku ingin menjadikanmu istriku, mungkin ada yang belum kamu ketahui tentangku. Namaku Fajar Gumilar Praditya, Aku anak pertama. Statusku adalah duda, jadi Aku berharap kamu tidak merasa rendah didepanku. Aku sama sekali tidak memandangmu dari segi materi atau dunia. Aku hanya berharap ada seorang istri yang bisa mengarahkanku dan mengajakku untuk lebih dekat dengan Tuhanku. Hingga aku dan istriku bisa berkumpul kembali di surga. Senja untuk kesekian kalinya Aku berharap kamu tidak menolakku lagi. Senja Lazuardi Permana maukah kamu menikah denganku?" Ucap Fajar dengan penuh nada permohonan.


Senja sama sekali belum bisa mencerna apa yang di bicarakan oleh laki-laki didepannya. Hanya apa yang di katakan memang sudah sering di ungkapkan oleh laki-laki itu.


"Maaf....."


DEG

__ADS_1


__ADS_2