FAJAR TERPINANG SENJA

FAJAR TERPINANG SENJA
21. FTS


__ADS_3

Hembusan angin malam yang di selingi dengan suara merdu dzikir dari mulut Senja seakan membius suara-suara malam yang menyeramkan. Setelah melakukan sholat malam yang juga sekaligus rutinitas Senja, Dia melanjutkan dengan dzikir. Senja juga sudah melakukan sholat istikharah untuk menentukan jawaban apa yang akan di berikan pada Fajar. Namun hatinya belum mendapatkan jawaban itu sama sekali, karena itulah untuk meredakan hatinya yang sedang gundah di lampiaskannya dengan berdzikir.


Semburat orange di ufuk timur menghiasi langit, tanda pagi telah menyapa. Senja berfikir tentang laki-laki yang bernama Fajar. Seperti apa yang sedang Dia nikmati pagi ini di balik jendela kamarnya "Fajar".


Duhai Fajar.....


Kelembutan sinarmu menghangatkan dinginnya pagi.


Semburat sinarmu yang mulai menarik diri dari peraduan seakan menandakan hari ini akan berjalan dengan indah.


Duhai Fajar....


Apakah Aku bisa melabuhkan rasa di dermaga hatimu?


Sedangkan tapak kaki belum terpijak duri sudah menghadang.


Apakah Aku mampu menyamaimu?


Jika dalam segala arah Aku terlihat tak pantas bersandar dibahumu.


Hatiku....


Mulai menghangat....


Mulai merasa taluan deguban yang menbiru di hatiku...


Aku ingin menggapaimu....


Aku ingin mengabulkan rasamu


Namun....


Aku ragu, Aku bisa...


Waktu...


Hanya waktu yang akan menjawabmu.


Apakah takdirku bersamamu,


Atau tidak di hatimu...


Senja terus melamun kan apa yang dia rasakan saat ini. Dia bersyukur dengan keluarga yang hangat yang terbuka menerimanya. Namun ketakutan itu ada, entah apa yang membuat dia takut dan ragu. Mungkin keselamatannya dan juga anak-anaknya. Belum juga dia menjadi bagian dari keluarga ini, sudah ada masalah yang timbul yang membahayakannya. Walau semua masalah itu sudah selesai tapi baginya itu sangat tidak nyaman. "Huffft.... Bagaimana ini ya Allah, apa yang harus aku lakukan?"ucap Senja dalam hatinya.


TOK


TOK


TOK


Suara ketukan pintu kamar Senja, membuyarkan lamunannya seketika. Segera dia merapikan diri dan membuka pintunya melihat siapa yang mengetuk pintu kamarnya.


"Sayang.... Joging yuk!"Ucap Fajar, Fajarlah yang mengetuk pintu itu ternyata.

__ADS_1


"Ta... Tapi saya ga ada baju untuk olahraga mas.''


"Sudah pakai itu saja, kamu temenin mas aja."


"Ba... Baiklah tunggu sebentar." Senja memakai hijab luarnya yang lebih besar, khimar yang dipakainya seperti biasa untuk dalaman hijabnya.


Hijab adalah kain yang menutupi seluruh tubuh, kalau khimar adalah kerudung yang menjuntai hanya sampai dada saja.


Mereka berdua akhirnya berjalan berdua menuju taman di kompleks elit perumahan Fajar. Belum terlalu banyak orang di taman itu, walau semburat fajar mulai pudar berganti dengan sinar mentari yang mulai terang. Bisa jadi karena bukan weekend semua orang masih sibuk dengan rutinitas hariannya yang akan di sibukkan dengan persiapan akan berangkat bekerja.


GREP


Fajar memeluk bahu Senja, Senja hanya bisa menghela nafas kasar sudah berusaha memberontak untuk lepas dari pelukan itupun mustahil. Karena eratnya pelukan dan cengkraman Fahar di bahu Senja.


"Mas lepas." Paksa Senja, yang juga belum bisa terlepas dari rengkuhan Fajar.


"Kalau saya ga mau?" Ucap Fajar dengan entengnya.


"Mas....!"


"Baiklah saya lepas, namun.... Seperti ini tidak mengapa kan?" Sambil menunjukkan tautan tangannya yang menggenggam erat tangan Senja.


"Hahhh.... Terserah!"


"Senja...."


Senja mengernyitkan alisnya, "tumbenan ini orang, biasanya sayang sayang sekarang panggil nama doank."gumam Senja dalam hatinya, sedikit aneh karena Senja mulai nyaman dengan panggilan itu, Ehhh... Senja senja....


"Bagaimana apakah sudah ada jawabannya?"


"Jawaban apa yang mas harapkan?"


"Jawaban yang tentu bisa mengubah hidupku dan hidupmu."


"Jika jawabanku ini memberatkan bagaimana?"


"Tidak yang berat bagiku, apapun akan aku lakukan demi mendapatkanmu! Lalu apa jawabanmu?"


"Saya tidak ingin Mas melakukan banyak dosa lagi dengan menyentuh wanita yang bukan mahrom yaitu saya. Dengan itu jawaban saya, jika memang mas memiliki niat hidup bersamaku. HALAL kan aku lewat anak-anakku."


TRING


TRING


TRING


Belum sempat Fajar menjawab ponsel dalam genggaman Senja berdering, setelah di lihatnya telphone dari sang putra. Dan Senja bergegas menggeser tombol hijau untuk menerima panggilan itu.


"Assalamu'alaykum Umma?"


"Wa'alaykumussalam bang? Kok tumben telphone pagi-pagi bang, ada apa nak?"


"Tidak ada umma, abang hanya kangen saja."

__ADS_1


"Bagaimana adek-adek nak?"


"Adek-adek masih mandi umma di bantu mbak. Umma..."


"Iya bang...."


"Abang mau tanya? Apa umma sama Abi akan menikah?"


"Abang? Abang kenapa bicara seperti itu? Umma masih bisa membahagiakan anak-anak umma, abang sama adek-adek nak."


"Iya kami bahagia, lalu siapa yang membahagiakan umma?"


DEG


Fajar yang sedari tadi diam menyimak seketika tersentuh dengan kalimat anak umur 8 tahun itu. "Sungguh anak yang sangat pengertian. Baiklah hari ini juga aku akan menghalalkanmu Senja."lirih Fajar dalam hatinya sambil memandang Senja yang terlihat bingung dengan pertanyaan sang putra. Dan saat itulah Fajar mengambil ponsel milik Senja dari tangan Senja.


"Assalamu'alaykum bang, ini Abi."


"Wa'alaykumussalam Abi."


"Abi janji, Abi yang akan membahagiakan umma sapanjang hidup Abi. Abang maukan?"


"Mau Abi, yang penting umma bahagia."


"Baiklah, hari ini izin dulu tidak sekolah nanti akan ada yang menjemput kalian. Bersiap-siaplah ya sayang."


"Baik Abi."


"Ya sudah Abi tutup ya?"


"Iya Abi, wasalamu'alaykum."


"Wa'alaykumussalam...."


Senja menatap bingung kepada Fajar dengan apa yang di bicarakan fajar bersama putranya.


"Ma...maksud mas Apa?"


"Menurutmu?"


CUP


"Mas!" Senja tersentak karena Fajar berhasil mencuri kecupan singkat di bibir Senja.


"Ayo pulang! Dan bersiaplah hari ini aku akan menhalalkan ikatan kita, dan bersiaplah untuk malam pengantin kita!".


Senja tertegun dengan apa yang di dengarnya barusan, "ternyata keputusan untuk menjawab seperti itu malah menjadi boomerang untuknya....''gumam Senja dalam hatinya.


"Malam Pengantin?"


...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...


..."Senja selalu menggiring keceriaan menuju kegelapan. Mungkin hanya mereka yang bersyukur yang mampu menyeka air mata untuk melihat bintang."...

__ADS_1


__ADS_2