FAJAR TERPINANG SENJA

FAJAR TERPINANG SENJA
8. FTS


__ADS_3

Senja menegang, laki-laki didepannya kenapa berani sekali mencuri ciumannya. Kesadaran Senja yang juga belum kembali di manfaatkan Fajar untuk kembali ******* bibir Senja. ******* seperti itu sama sekali belum pernah Senja rasakan. Dia sedikit terbuai namun segera menepisnya, yang di fikirkannya sekarang apakah Dia harus melawan atau cukup diam. Jika melawan ber efekkah dengan proposal yang di ajukannya, jika tidak melawan serasa laki-laki di depannya sudah berhasil melecehkan dirinya. Ingin sekali menampar dan mencakar-cakar wajah laki-laki ini, tapi siapalah Dia rakyat kecil yang bisa jadi tak akan ada orang yang oercaya dengan pembelaannya. Fajar menghentikan ******* di bibir Senja, karena merasakan ada yang mengalir di pipi Senja. Setelah Dia membuka mata, Dia melihat Senja yang sudah menangis tanpa suara di tengah ciuman mereka.


"Maafkan Aku Sayang, maafkan Aku yang tidak bisa menahannya lagi. Aku mencintaimu Senja Lazuardi Permana." Fajar memeluk erat Senja yang semakin tergugu dengan tangisnya, posisi tubuh yang sudah merosot ke bawah. Dia takut dosa dengan yang di lakukannya.


"Lepaskan saya pak... Saya bukan siapa-siapa Anda, panggilan Anda seperti itu ke saya bisa buat salah paham saya maupun orang lain. Lepaskan saya, tinggalkan saya sendiri dan berikan kunci kamar saya."ucap Senja dengan bibir gemetar sambil perlahan berdiri dan menuju kamarnya.


Setelah pintu lift terbuka, Senja segera keluar dan segera menuju kamar tempatnya menginap selama berada di Jakarta.


"Nanti malam ada acara makan malam, datanglah Aku tidak akan mengganggumu."


Senja berhenti sejenak untuk mendengarkan apa yang fajar katakan. "Apa yang Dia bilang? Tidak akan menggangguku? Apa bisa di percaya? Bukankah dari awal tidak akan melewati batasannya? Lihatlah apa yang barusan Dia lakukan?


Senja tak menggubris lagi apa yang di katakan oleh Fajar, tujuannya sekarang hanya kamar Dia ingin segera menumpahkan tangisnya disana.


BRAKKK


Senja menutup pintu kamarnya dengan sangat keras, seketika tubuhnya merosot di balik pintu. Tangis Senja tak bisa di bendung lagi seketika pecah tanpa harus di tahannya lagi. "Aku ga mau seperti ini ya Allah..."


Fajar tertegun melihat pintu kamar Senja yang di tutup dengan keras, Dia meraba pintu itu dengan sebuncah rasa sesal. Ini baru hati pertamanya kenapa demgan begitu cepat Dia membuat masalah. Terdengar Senja sedang menangis di balik pintu, rasa bersalah semakin besar yang di rasakan Fajar. "Bodoh... Aku terlalu terburu-buru, Aku sudah menyakitinya. Maafkan Aku Senja.... Maafkan Aku...."


Sesuai yang di bilang oleh Fajar tadi, malam ini adalah malam penyambutan para tamu undangan dari berbagai lembaga dan juga dari berbagai daerah. Fajar sudah siap dengan setelan formal yang cukup mempesona, semakin terlihat tampan dan gagah. Aura ketegasan mencuat seketika, namun bagi Fajar semua tidak akan berarti jika sang pujaan hati dalam keadaan tersakiti olehnya.


Fajar keluar dari kamarnya, berhenti sejenak di depan pintu kamar milik Senja. "Sudah keluar apa belum Dia?"tanya Fajar pada dirinya sendiri. Akhirnya Fajarpun melangkahkan kakinya meninggalkan pintu itu menuju ke lift, setelah Dia masuk tersengar suara langkah kaki yang terburu-buru seperti mengejar pintu lift yang hendak tertutup. Tanpa melihat siapa yang di dalam, orang yang barusan masuk segera mengucapkan terima kasih kepada orang yang telah menunggunya.


DEG


Seketika Senja terpaku, setelah mendongkakkan kepalanya dan melihat orang yang telah membukakan pintu lift. Mereka berdua sama-sama terdiam, baru saja mereka saling pandang namun sekarang sama-sama mengalihkan pandangan.


GLUDUK

__ADS_1


GLUDUK


Lift yang sedang mereka naiki terjadi masalah, hingga mereka tidak bisa berbuat apa-apa selain mencari bantuan dengan cara menekan tombol emergency.


Senja begitu kalut karena lampu di dalam barusan juga ikutan mati hingga di dalam sangat gelap gulita.


Tring


Tring


"Maaf pak kami terjebak di dalam lift, bisa segera di bantu untuk memperbaiki."


"Baik ibu, segera! Mohon jangan panik."


"Baik pak."


"Halo-halo, Maaf jika boleh tau saya bicara dengan siapa?"tanya Bayu pada Senja


"Syukurlah.... Apa Anda bersama dengan Pak Fajar?"


"Be.... Benar pak."


"Ibu Senja, tolong dengarkan saya baik-baik. Tolong Anda lihat kondisi pak Fajar apa baik-baik saja?"


Senja segera melihat ke arah Fajar dengan bantu lampu sorot dari hpnya. Mencoba mencari keberadaan Fajar, beruntungnya lampu telah hidup kemabli namun lift yang mereka naiki belum juga bisa di gerakkan.


"Pak Fajar Anda baik-baik saja?" Fajar menggelang pelan.


"Halo... Halo... Maaf pak, sepertinya pak Fajar sedang tidak baik-baik saja."

__ADS_1


"Baiklah bu Senja, kami sangat membutuhkan bantuan dari Anda. Tolong pantau dan jaga pak Fajar selama lift di perbaiki. Suggest beliau jika tidak akan terjadi apa-apa."


"Ba...baik pak saya usahakan."


Senja dilema apa yang harus Dia lakukan kenapa harus terjebak dengan orang ini lagi, takdir sedang menguji kesabarannya.


"Pak Fajar Anda baik-baik saja? Apa yang Anda rasakan sekarang?" Senja mulai mendekat hatinya trenyuh melihat laki-laki di depannya ini tak setegas biasanya. Kemana laki-laki yang biasanya bicara ketus dan memaksa. Fajar berusaha melwan ketakutannya, keringat sudah memenuhi dahinya tarikan nafasnya tersengal terlihat dari dadanya.


"Astahgfirullaah...." Senja terpekik kaget melihat Fajar yang tiba-tiba jatuh, jika tidak segera di tangkap oleh Senja bisa jadi Fajar sidah tersungkur ke bawah. Senja mendekap tubuh Fajar berusaha menegakkan ke tempat yang nyaman. Di posisi sedekat ini membuat jantung Senja bagai genderang oerang yang bertalu-talu. Dia mengesampingkan rasa marahnya, mungkin bisa di bilang rasa marahnya telah hilang.


"Ayo pak Anda pasti baik-baik saja, Saya bantu duduk ya."


Senja berhasil membantu Fajar, dengan susah payah berusaha membuat Fajar dengan posisi yang nyaman.


"Senja....."ucap lirih Fajar. "Maafkan Aku,maafkan Aku."


"Iya Saya maafkan, sekarang coba ceritakan kenapa Anda bisa seperti ini."


"Aku trauma dengan insiden yang sama seperti sekarang." hanya itu yang terucap dari mulut Fajar.


"Dengarkan Saya.... Entah apa yang oernah terjadi oada Anda sebelumnya yang oasti sekarang Anda hanya cukup mendengarkan Saya." Senja mulai menuntun Fajar agar lebih rileks, mensuggestnya agar tidak teringat lagi dengan traumanya. "Pak Fajar... Apa Anda masih mendengar saya?" Anggukan lemah dari kepala Fajar. "Baik dengarkan Saya, bukankah Anda pernah bilang menyukai Saya. Saya akan membawa Anda ke suatu tempat yang indah, yang hanya ada Saya dan Anda. Bunga terhampar dimana-mana, pemandangan yang hijau semakin menyejukkan mata Kita. Kita bahagia berada disana, Kita tinggalkan semua kesedihan yang mendera dalam dada. Apakah Anda mau menjaga Saya?" di jawab anggukan kepala oleh Fajar. "Baiklah tetaplah seperti ini, cobalah melupakan apa yang sudah terjadi masa lalu. Ketakutan cobalah di lawan, jangan jadikan sebagai kelemahan. Lihatlah mana Fajar yang angkuh kemarin, yang dengan beraninya mencium seorang wanita tanpa permisi. Mana Fajar yang kemarin bersikap cool, ketus, dan tegas."Senja sekalian mengeluarkan uneg-uneg yang ada di dalam hatinya. "Konyol juga Dia,bisa-bisanya memarahiku di waktu Aku sedang lemah seperti ini."gumam Fajar dalam hatinya.


"Apa Kau mau memelukku?"Ucap Fajar dengan nada penuh permohonan.


"Baiklah Aku akan memelukmu, tapi ini hanya sebatas rasa kemanusiaan saja ya ingat itu!"


Senja memeluk Fajar sambil mengelus surai hitam sang Fajar.


"I LOVE U SENJA."

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


..."Bukan senja namanya jika tak sendu, bukan senja namanya jika tak sunyi, dan bukan senja namanya jika tak mencipta rindu.”...


__ADS_2