
"Ahhh Lily kemana sih? Bukannya cari info-info disini malah keluyuran"
"Niat gak?"
"Yang punya adek siapa?"
"Yang nyari siapa?"
"Awas lu Arza, kalo ketemu gue pites tuh pala lo"
"Yakali bocil pake acara kabur-kaburan segala"
Omel Chua
"Uhuk uhuk debunya"
Chua terbatuk-batuk dan menjatuhkan beberapa koran kebawah.
Chua memungut koran-koran itu, dan saat hendak meletakkannya kembali, mata Chua terbuka sangat lebar dan hampir keluar karena melihat gambar cowok bocil yang beberapa jam kebelakang membuatnya kesal.
"Hahaha Lily pasti senang liat ini"
"Awas lu bocil, kami sudah selangkah buat bawa lo pulang"
"Xixixixixi"
Tawa Chua menggema di gudang koran yang sudah tak terpakai itu.
Chua keluar dan berlari mencari Lily tapi tidak ketemu, Chua memutuskan berteriak saja, lagipula tak ada orang disini jadi tidak menggangu.
jadi tak akan ada yang marah-marah kalau Chua berteriak sana sini. tapi saking sepinya, berasa lagi dikota hantu, pikir Chua.
|
"Bisa jadi cu, tapi mereka hilangnya beda waktu satu tahun"
"Apa kamu yakin kalau sebenarnya ada yang menculik Mereka dan menculiknya orang yang sama?"
"Menurut Lily begitu, bisa saja kan?"
"Ahhh Lily juga bingung, mencari orang yang udah lama hilang memang susah"
Keluh Lily
"Kamu sebelumnya udah laporkan ini kepolisi tidak?"
Tanya kakek
"Iya sering, tiap hari saya kekantor polisi buat nanya apa ada perkembangan jejak Arza berada"
"Tapi pak polisinya bilang kalau mereka udah berusaha keras tapi tetap gak bisa nemuin adik saya kek"
Jawab Lily
"Oh begitu, sama dong. Saat kakek melapor kepolisi, polisinya juga bilang seperti itu"
Ucap kakek
"Ngomong-ngomong nama kakek siapa?"
Tanya Lily
"Haha panggil aja kakek afar"
Jawab Afar
"Oh, oke kek afar"
"Emm Lily mau pamit ya, sebenarnya kesini sama temen"
"Ntar dia nyariin lagi"
Pamit Lily
"Oh begitu, silahkan"
"Sini kakek antar sampai depan"
"Iya makasih kek"
Ucap Lily, mereka sudah didepan pintu Lily berpamitan ingin pulang, senang rasanya bertemu dengan kakek afar dia orang yang sangat baik.
"Woy Lily!"
"Nih anak ya bikin gue gemes banget"
"Adek sama kaka sama-sama nyusahin"
Omel Chua berkecak pinggang bersandar didepan gerbang.
"Eh Chua hehe maaf ya"
"Gue lupa"
__ADS_1
Ucap Lily cengengesan.
"Au ah gue haus mau minum, panas banget ini"
"Lo sih pake ngilang segala"
Ucap Chua nyongsor masuk kedalam rumah dan duduk kesofa.
"Eh lu! Gak beradab banget sih"
"Mau masuk bilang dulu keorang yang punya rumah napa"
Yang dimarahi tak mendengar, ia sedang asik memperhatikan dan meniup-niup kulit putihnya yang memerah karena kepanasan.
"Iya iya, kek numpang neduh ya, neraka bocor diluar sana"
"Ada yang lupa nutup pintunya kali"
Ucap Chua melirik sebentar ke kakek Afar lalu melanjutkan aktivitasnya tadi.
"Haha iya gak papa, oh iya cucu mau minum kan? Kakek ambilkan dulu ya"
Ucap Afar
"Makasih kek, kakek baik banget gak kayak-"
Chua melirik Lily disampingnya, menandakan kalau yang dia maksud itu adalah Lily.
"Iya iya, gue udah bilang minta maaf kan? Masih nyinyir aja lu"
Lily
"Ngomong-ngomong ngapain cari gue? Bukannya gue dah bilang gak perlu cari gue"
Tanya Lily
"Nah itu"
Chua menggebrak meja kencang
"Gue tau"
"Em sebenarnya gak tau"
"Tapi gue dapat ini"
"Gue gak tau sih ini membantu atau enggak"
Chua menyodorkan koran kusam yang ia temui tadi. Lily mengambil itu dengan terburu-buru dan membacanya dengan teliti.
Ucap Lily mengamati gambar dikoran itu, sepertinya gambar itu diambil dari cctv yang kualitasnya tak terlalu bagus.
"Baca tulisannya"
Suruh Chua.
"Rekaman cctv menujukan kalau ada seorang anak lelaki yang kisaran umurnya 11-14 tahun sedang berusaha memanjat dinding pembatas kota yang tingginya 100m"
Lily membaca pelan-pelan.
"Hahhhh????? Apah???"
"Adek lo spedermen ya ly? Gile!"
Kaget Chua.
"Anak ini berhasil memanjat dinding sebelah Barat yang memang permukaan temboknya itu kasar sehingga mudah dinaiki"
"Walau mudah dinaiki, 100 m itu bukanlah hal yang mudah ditakluki oleh seorang anak yang masih berusia belasan"
"Biodata dan asal-usul anak ini pun masih belum diketahui, tapi banyak yang bilang kalau dia iti seorang mapis"
Baca Lily dan kaget membaca kalimat terakhir
"Haaaa? Apah? Tidakkkkkkk!!!"
Chua
"Mana mungkin Arza bukan mapis, buat apa juga Arza manjat tembok itu!?"
Ucap Lily tak yakin, cih orang yang menulis ini pasti cuman mengada-ada.
"Lanjutin lagi ly bacanya, 1 paragraf lagi masih ada"
Suruh Chua menunjuk nunjuk
"Orang-orang mengira dia adalah mapis, karena tak ada anak yang sekuat itu bertahan dan bisa memanjat tembok 100m, belum lagi yang dia tuju adalah sebelah Barat, arah kemana kota Black Blood berada"
Lily tak percaya, ayah dan ibunya manusia dia juga manusia, mustahil Arza juga mapis.
"Hoax itu hoax"
"Mungkin bukan Arza utu ly"
__ADS_1
"Gak ini Arza"
"Trus kalo Arza ngapain dia manjat tembok, diluar tembok kan gak ada apapa, kecuali hutan"
"Gak tau"
"Eh ngomong-ngomong dimana lo dapat ini chu?"
"Di gudang koran lama"
"Polisi bilang mereka udah ngecek semuanya"
"Mau itu koran, internet, cctv, Sampai stasiun mereka bilang sudah dicek"
"Ternyataaa"
"Namanya juga polisi dari kota Cooper ly, ada yang baik ada juga yang enggak, soalnya mereka digaji sama walikota cuman sedikit"
Ucap Chua
"Yah kayaknya emang gitu deh chu, tapi kan? Mereka polisi mereka seharusnya gak ngelalaiin tugas"
"Bukannya mencari orang itu tuhas penting, tugas sepenting itu aja-"
"Udah-udah ly, namanya juga manusia"
"Tenang, sekarang kan kitakan tau kira-kira Arza ada dimana"
"Ayo kita susul"
"G!£@, maksudnya kita cari Arza kekota Black Blood chu?"
"Mau mati?"
"Iya! Kenapa? Gak berani?"
"Chua!!!! Ya ampun!!"
"Mungkin kamu gak tau!, Tapi chu, gue masih ingat betul gimana dia ngancurin dan nggrebek rumah-rumah orang"
"Bukannya berita itu dah nyampe ke kota lo tinggali dulu?"
"Tapi mereka ngebunuh orang gak?"
"ADA!!!"
"Buktinya bapak gue sama bapak Kimberly, mereka meninggal tuh"
"Kimberly siapa?"
"Cucu kakek Afar?"
"Ada kuburannya? Apa dia atau lo liat kalo mereka memang dibunuh mapis? Ngak kan?"
"Iya sih, waktu itu cuman 1 mayat aja yng ditemuin, tetangga gue, aliya"
"Nah Aliya dibunuh tuh"
"Kita kalo nyusup kesitu pasti nanti dibunuh"
Pikir Lily
"Eh lo pasti penyusup! Ayo semua mari kita bunuh dua gadis itu"
"Nah pasti mereka bilang begitu"
Lanjutnya
"Mapis sekarang gak seperti lo bayangin ly"
Ucao Chua
"Hah? Maksudnya?"
"Gue gak faham"
Tanya Lily
"Mapis sekarang gak punya hasrat membunuh atau apalah itu lagi Ly, kita cuman perlu hati-hati aja pasti kita bakal nemuin Arza"
"Kotanya juga kecil jadi gak susah kita nyarinya"
"Banyak Mereka juga gak terlalu bersosialisasi jadi gak ketauan kalo kita ini orang asing"
"Nyusupnya juga mudah, soalnya gak ada yang jaga atau dinding yang ngehalangin"
Jelas Lily
"Kok lo tau sih chu?"
"Tunggu lo pernah ke kota itu? Kok sampai tau serinci itu"
"Lo sebenarnya siapa?"
__ADS_1
Tanya Lily, penjelasan Chua tadi benar-benar membingungkan, sudah bertahun-tahun dia menjadi sahabat Chua. Kalau chua pencinta mapis atau kepo selalu dengan kehidupan mapis pasti Lily iya iya saja Chua tau tentang kota Black Blood. Tapi ini, Chua bahka Sangat jarang mengucap kata mapis, belum lagi dia selalu bersama Lily, pasti Lily tahu.
Seperti ada yang janggal saja