FAKE PSYCHO

FAKE PSYCHO
Chapter3_Mencarinya


__ADS_3

"Jangan sekarang"


"Kamu lagi sakit, nanti aja"


"Kamu perlu istirahat. Mungkin istirahat bikin kamu tenang juga"


cegah Kenzo, ia tahu betul kondisi Chua sekarang dan Chua pun menurutinya dengan mengangguk.


"Sore"


Ucap Kenzo dan meninggalkan Chua sendirian dikamar.


Yahh benar sepertinya Chua butuh waktu lagi.


|


"Heh lo"


Panggil Lily


"Ya sayang?"


Ace menjawab sapaan Lily


"Dihh, gak usah pake sayang-sayangan"


"Janji lo mana? Tepatin!!!"


Ucap Lily agak membentak. Seminggu bersamanya membuat Lily tak bisa mengendalikan moral dan sopan santun kepada Ace, bahkan untuk sekedar menyapa ia sering ogah-ogahan.


"Janji apa?"


Tanya Ace pura-pura tak tau dan memasang wajah orang bingung


"Hah? Lo lupa? Dasar cowok"


"Tanggung jawab gak?"


Plakk


Lily menggeplak kepala Ace. Nah kan, pura-pura lupa lagi, padahal tiap hari Lily bertanya itu.


"Perasaan belum diapa-apain deh, kok minta ditanggung jawabin"


Tanya Ace senyum-senyum nakal


"Ishh, jangan pura-pura lupa dong"


"Bukannya lu dah janji mo bantu gue cari adik gue"


Ucap Lily menagih-nagih janji yang dulu Ace katakan. Katanya dia tahu apa yang dicari Lily, yaitu adiknya. Dan Ace berjanji akan membantunya bila dia mau ikut bersama Ace. Bukannya tingal serumah siang pagi malam, tapi saat-saat tertentu, misalnya Lily harus menemaninya saat bermain game, makan, tiduran atau tak melakukan apapun karena Ace tak terlalu banyak bicara, sehingga Lily bosan dan melampiaskannya dengan marah-marah.


Tanpa diketahui sebenarnya Lily marah-marah itulah, ekspresi yang sangat disukai Ace. Dan Ace selalu mencari car bagaimana membuat Lily kesal kepadanya.


"Lily manis, nanti aja ya"


"Bay, ummach nanti aku datang lagi. Kalo ada apa-apa telpon aja"


"Pengeran siap membantu"


Ace menghentikan aktivitasnya yaitu geser-geser beranda hape, lalu keluar dari penginapan Lily.


"Yaudah, gue butuh bantuan lo. Cariin adik gue, gue takut keliaran sediri disini"


"Tega lo ya"


"Katanya gue meth lo"


"Mate sayang, bukan meth"


Ucap Ace yang sudah diatas motor kebesarannya.


"Dah lahh lupain. Yok bantu, jan kabur"


Lily berlari mendekati Ace dan menaiki motor Ace juga.


"Ayoookk pliss, ini udah seminggu. Gue dah nemenin lo seharian selama seminggu ini"


"Jadi temenin gue juga sekarang buat nyari adik gue"


Mohon Lily mengguncang-guncangkan badan Ace


"Gak tau"


Jawab Ace


"Jangan bohong, katanya tau pas waktu itu"

__ADS_1


"Itu cuma bualan aku saja, biar kamu bisa nemenin aku. Jadi aku gak tau dimana adik kamu Lily"


"Apa?"


"APA LO BILANG HAH?!!"


"Jadi lo udah bohongin gue? Hah?"


"Jahat"


"LO TUH JAHAT TAU GAK SIH"


Triak Lily dihadapan Ace tapi sebenarnya ia tak marah. Lily sudah pasrah, Ace tetap tak mau menolongnya walau sudah dimarahi Lily habis-habisan. Bahkan ia terlihat bahagia.


"Hikss"


"Haaaaa"


"Mamaaaaaa"


"Ace jahat"


"Haaaa hikss"


Tangis Lily sekencang-kencangnya. Ia sudah melupakan rasa takutnya terhadap mapis dan tak mengendap-endap atau berdiam diri dirumah itu lagi, rumah yang berbeda dari yang ditinggali Ace tapi itu rumah Ace juga hemmm punya dua rumah ternyata. Lily berlari dan berjalan tak tau kemana. Beberapa mapis kerap mencuri-curi pandangan ke Lily, tapi Lily tak mengkhawatirkan itu. Dilihat dari sikap Ace yang sama sekali tak melukainya, mungkin mereka juga seperti itu. Aman.


Lily masih menangis dijalan sendirian, tak ada Chua yang menemaninya.


"Eh?"


"Chua"


"Chua disini juga kan?"


"Iss kok bisa-bisanya gue lupa"


"Gue juga harus cari Chua"


Gumam Lily. Ia merutuki kebodohannya, bagaimana dia bisa melupakan sahabat karibnya itu. Lily merasa bersalah.


"Chua kamu dimana ya?"


"Ini kota serem amat, semua rumah ditutupi pohon"


"Mana sepi lagi"


"Eh?"


Kaget Lily. Saat melihat ada yang memperhatikannya.


Lily pura-pura tak melihat dan melanjutkan jalannya lagi. Tapi orang itu malah mengikuti. Apa dia tahu kalau Lily manusia?. Gawat.


"Hey, mau kemana cantik?"


Ucap orang tadi dibelakang Lily. Lily tak berbalik dan hanya bergeming.


Lily takut kalau salah bicara, bisa-bisa nyawa taruhannya.


"Cantik liat sini dong"


Merasa terpanggil Lily membalik dan memasang wajah datarnya.


"Hm?"


Dehem Lily bertanya


"Iss cantik jangan sangar-sangar gitu dong"


Ucap orang itu


"Lepas"


Lily menghentikan tangan yang dipegang oleh orang itu


"Hahaha tangan kamu cantik sayang"


"Ayo sini ikut, biar bisa dijadiin koleksi"


Ucap Orang itu menyengir kesenangan. Orang bodoh mana yang berjalan-jalan sendirian dikota mapis ini. Apalagi orang itu adalah gadis yang lemah.


Lily sangat kaget mendengarnya. Orang ini akan memutilasi tangannya kalau Lily tak kabur. Tapi kalau pun kabur, dia pasti bisa mengejar Lily.


"Ayo"


Orang itu mengkap tangan Lily dan dengan mudah menyeret Lily kerumahnya.


"Ja jangan"

__ADS_1


"Lepas"


"Lepasiinn"


Lily memukul-mukul tangan orang itu berharap bisa lepas dan kabur. Tapi apa daya, orang itu seperti tak merasakan apapun saat Lily memukulnya.


"Tolong!!"


Triak Lily


"Haha ngapain teriak-teriak"


"Gak ada yang mau nolong kok"


"Lagian cari mati kalau kau berteriak gitu"


"Manusia lemah"


Ucap orang itu dan Lily hanya pasrah saat dia diseret ke gudang belakang rumahnya.


Lily mencium bau yang tak sedap, sangat menyengat dan membuat Lily ingin merasa muntah. Perasaan saat masih didepan gudang dan pintunya tertutup, tak ada bau busuk seperti ini. Ada sesuatu di dindingnya ya? Agar bau busuk itu tak ketahuan sama orang lain.


Mata Lily membulat sempurna saat matanya dihadapkan dengan jejeran tangan, kaki dan juga kepala, menghiasi lemari itu dengan rapi.


Tidak ada noda darah


Bersih


Tapi Lily yakin bahwa tangan kaki dan kepala yang berjejer itu adalah asli. Yang membuat tubuh Lily gemetar dan berkeringat dingin.


"Engg"


"Engg"


Lily mendengar suara seseorang yang seperti sedang ditutup mulutnya.


Lily menengok kebelakang dan betapa terkejutnya dia, ternyata ada seorang gadis lagi yang diikat dan ditutup mulutnya pakai lakban.


"Bagus"


"Dua gadis dalam satu hari"


"Apalagi yang satunya malah datang sendiri"


Gumam orang itu kesenangan. Dia baru saja dari kota silver dan menculik seorang gadis cantik untuk anggota tubuhnya dijadikan pajangan. Dan sekarang ia malah mendapat bonus yang lebih cantik dari sebelumnya. Benar-benar haru keberuntungan.


"Siapa yang mau duluan?"


Tanya orang itu. Lily dan gadis satunya menggelang keras.


"Hem gak ada yang mau jadi pertama ya?"


"Gini aja, kita mulai dari gadis yang pertama ditangkap aja"


Si gadis itu kaget, apa hari ini adalah akhir hidupnya?. Lily melihat gadis itu menangis saat ia diseret ketengah ruangan.


Lily sangat merasa bersalah, ia tak bisa melakukan apapun kepada gadis itu dan sekarang Lily menangis karena dalam beberapa waktu lagi, dialah orang yang akan diambil nyawanya hanya untuk barang koleksi.


Srekk


Orang itu membuka lakban yang menutupi mulut gadis itu.


Tak seru jika tak ada irama yang menemani aktivitasnya.


"Ja jangan"


Ucap gadis itu terbata dan lemah


Lelaki itu tak mendengar permohonan sang gadis yang masih muda itu, ia berjalan ke rak koleksi senjata-senjatanya diletakkan.


"Untuk gadis-gadis yang cantik, pisaunya juga harus cantik"


"Hehe"


Kekeh laki-laki itu dan mengambil dua pisau buah yang pinggirnya di hiasi oleh pola-pola yang indah


"You ready? sweet?"


Ucap laki-laki itu berbalik dan tersenyum manis. Ia lalu berjalan dan mulai mendekati, bersiap untuk memulai game yang diasukai sejak dini.


"Jangan"


"Ja jangan ku mohon"


Ucap gadis itu


"Tunggu jangan!"

__ADS_1


Triak Lily


__ADS_2