FAKE PSYCHO

FAKE PSYCHO
Chapter10_Mencarinya


__ADS_3

Bhukk


Ace memukul pakai tangan kiri dan Ricko memukul tangan kanan. Sehingga Bogeman mereka saling bertabrakan dan menyatu.


Masih dalam posisi yang sama, Ace dan Ricko saling dorong mendorong tinju mereka sampai urat tangan keduanya keluar.


Ace dengan kekuatan yanglebih tinggi membuat Ricko mundur dan menjaga jarak sebentar.


"Lumayan, tapi masih belum apa-apa"


Sombong Ace tapi benar, Ricko masih dibawah standarnya.


Ace dengan berutal, meninju bagian bawah rahang Ricko sampai mengeluarkan bunyi khas suara patah tulang.


"Akhh"


Sial


Batin Ricko menahan sakit


"Kenapa? Sakit? Gue bilangkan ini masih belum seberapa baiknya lo nyerah aja mulai sekarang"


"Cuh"


Ricko mengeluarkan ludah yang bercampur darah kental di mulutnya. Serangan membuatnya agak sedikit linglung dan penglihatan kabur.


"Jangan sombong lo Ace!"


"Hyaaaaa"


Bukk


"Huh, lambat"


Ricko hendak menendang pinggang Ace, namun dengan mudah Ace menghindar dan melakukan serangan balik hingga Ricko terpental ke lemari kaca.


Brakkk


"Akhh"


"Kenapa kalian diem aja? Cepet bantu! Mau gue bunuh?"


Ucap Ricko marah


"I iya bos"


Ujar bawahan Ricko yang berjumlah 3 orang


Ck minta bantuan dia. Emang lemah


"Akhh"


"Sakit"


Erang semuanya


"Maaf bos, tapi dia tangguh banget, kami gak bisa ngelawan"


Ucap salah satu dari anak buah Ricko


"Haha lemah! Nyerah aja deh. Dan pergi dari sini"


"Ngotorin rumah gue aja"


"Gue mau ngater dia pulang"


"Maaf bro"


"Tapi dia gak bisa pulang hari ini"


"Atau selamanya?"


Ucap Ricko membuat Lily dan Ace bingung


"Organisasi udah tau, kalau ada manusia yang tinggal di kota Black Blood"


"Whahahaahahahah"


Tawa Ricko kesenangan, huh dia memang selalu menang walau bagaimanapun caranya.


"Ap-"


"Lo gak bisa kabur, Mereka udah ngepung kalian"


"Hahaha"


Ucap Ricko lagi, ia menyiapkan satu anak buah didepan pintu untuk jaga-jaga kalau Ace mengalahkan. Dan benar! Ricko kalah dan anak buah yang bersembunyi itu melepon organisasi dan menuduh Lily sebagai mata-mata.


"Lily! Cepet kamu lari dari sini"


"Aku bakal ngalihin perhatian mereka"


Bisik Ace


"Tapi kemana Ace?"


Tanya Lily berbisik dibelakang Ace


"Ambil HP ini, trus telepon yang namanya Vaska, Shally, atau Kenzo. Mereka bakal nyelamatin kamu"


Lily mengambil handphone disaku Ace dan berlari kebelakang untuk bersembunyi.


"Iya Ace"


Lily


"Jangan takut ya. Kamu harus tenang"


"Iya Ace"

__ADS_1


Ucap Lily lalu benar-benar pergi


"Sialan lo Ricko"


"Awas aja kalo Mate gue kenapa-napa"


Gumam Ace geram


"Oo jadi itu mate lo ya?"


"Kha ha ha kasian, bentar lagi dia mati"


"Akhh"


"Jaga mulut lo. Atau nyawa lo bakal melayang"


Ace menginjak perut Ricko dan berjalan keluar


Disisi lain~


Lily sedang mencari Arza, ia sudah menelepon orang yang tadi disuruh Ace dan Lily sekarang hanya menunggu. Vaska.


"Ar Arza"


Lily celingak-celinguk melihat kesekitar kamar Arza yang kosong tak berpenghuni.


"Kamu kemana?"


Brakk


"Cepat cari mata-mata itu"


Ucap seseorang besuara berat dan diiyakan oleh yang lainnya. Mungkin itu adalah atasannya.


"Mereka kesini, gimana nih?"


Bingung Lily, ia terjebak dikamar Arza


"Pstt kakak, ngapain cuman bediri disitu aja. Cepet kesini"


Arza timbul di jendela dan menyuruh Lily untuk mengikutinya


"Arza"


Lily berlari kearah Arza. Arza menyuruh dia untuk keluar rumah ini dari jendela, dengan Arza yang memimpin.


"Kesini ka"


Ucap Arza berkomando, ia sudah terbiasa dengan situasi seperti ini.


"Eh kakak jangan kesana, disana banyak pasukan mapis"


Cegah Arza saat Lily salah arah.


Mereka mengendap-endap kehutan dari belakang rumah Ace. Serasa cukup jauh dan aman, akhirnya mereka memutuskan berhenti dan mencoba kembali menelepon Vaska atau siapapun, tapi sayangnya jaringan tidak sampai kehutan itu. Kalau mereka terus berjalan dan melintasi hutan ini, maka tembusannya adalah ibu kota Black Blood. Makin tambah parah kalau Lily kesana


"Ini gimana Ar? Harinya juga udah mulai sore"


"Aku juga gak tau"


"Seharusnya kakak jangan kesini"


"Kakak kesini pakai jalur pintas lewat hutan ya?"


"Mungkin"


Jawab Lily ragu, waktu itu dia kan cuman ikut Ace saja, ia pikir itu adalah jalan utamanya. Tentang jalan kearah Black Blood yang dia temui di internet waktu itu, kata Ace itu bohongan.


"Mereka curiga sama kakak"


"Mereka pikir kakak itu mata-mata, apalagi kakak tinggalnya sama Ace si petinggi organisasi kota Black Blood"


Jelas Arza, sebelum dia kesini dia mencari terlebih dahulu apa saja peraturan dikota ini. Manusia biasa boleh saja tinggal disini seatas ijin ketua, tapi kalau tidak mempunya ijin maka dianggap mata-mata atau *******.


"Gitu ya"


"Kakak gak tau"


Jawab Lily


"Bentar lagi malam"


Gumam Arza


"Kita tunggu aja ka Vaska jemput"


"Sisanya aku gak tau, tapi tenang aja, aku janji kok bakal jagain kakak untuk terakhir kalinya"


"Tapi kamu"


"Aku bukan anak kecil!"


"Situasi kayak gini aku dah sering ngalamin"


"Sebagai orang yang paling sayang sama aku. Aku bakal lindungi kakak, walau nyawa taruhannya"


"Toh, aku gak punya juga tuh tujuan hidup"


"Jangan ngomong gitu Ar"


"Iya iya maaf"


"Makasih ya, kamu tuh sebenarnya adik yang baik"


-


"Hey! Ngapain kalian bawa pasukan kerumah gue"


Tegas Ace

__ADS_1


"Maaf pak, tapi ada laporan kalau mata-mata sedang berdiam dirumah bapak"


"Bapak mendingan serahin orang itu, atau bapak akan dicap sebagai penghianat"


Ucap komando sang pasukan, Argus.


"Owh"


"Lo berani sama gue?"


Tanya Ace memandang rendah bawahannya


"Huh"


"Jangan pikir tingkatan bapak bikin saya takut"


Ucap Argus mendekati Ace dan berbisik...


"Ingat lo cuman generasi ketiga yang gak berguna"


Katanya pelan disamping telinga Ace


Bukhh


Ace memukul Argus lalu berkata.......


"Yaudah masuk aja sana"


"Silahkan"


Ace merentangkan tangan kanannya ke arah pintu mempersilahkan sang Argus memasuki rumahnya.


Argus memasuki rumah Ace dengan anak buahnya yang mengekor dibelakang. Argus masuk dengan mata yang menyorot tajam kearah Ace


"Ets"


"Cukup 3 orang aja"


"Ntar rumah gue kotor kalo dimasukin banyak tikus"


Ucap Ace dan Argus menurutinya.


"Kalian semua tunggu aja disini, paham!"


Perintah Ace


"Maaf anda bukan bos kami"


"Jadi kami bakal patroli aja disekitaran rumah bapak"


Ucap anak buah Argus yang sebenarnya lebih tua dari Ace.


Ace memperhatikan mereka yang sana sini mencari keberadaan Lily. Di sela-sela itu, ace menelpon Vaska dengan handphone keduanya.


"Halo Vas"


Panggil Ace


"Iya Ace, udah tau kok gw otw sekarang"


Jawab Vaska to the point


"Kemungkinan ada dihutan. Lo langsung kehutan aja, jangan kesini"


Pikir Ace


"Iya Ace"


"Lo hutang penjelasan ama gue"


Ucap Vaska dan memutuskan sambungnya


"Gimana ada?"


Tanya Ace saat Argus dan lainnya keluar tak membawa seorang pun.


"Dimana dia?"


"Jangan disembunyiin!"


"Atau kamu udah lupa sama ancamanku tadi?"


Tegas Argus


"Semuanya tangkap orang ini"


Tunjuk Argus ke Ace


Sebenarnya Ace akan memberi tahu siapa Lily sebenarnya kalau orang itu bukanlah Argus. Argus terkenal sekali dengan kekejamannya, ia sama sekali tak akan mengampuni siapapun yang masuk kesini tanpa ijin. Ia melakukan itu bukanlah karena tugas, tapi karena kebiasaannya yang suka membunuh orang tak bersalah atau bersalah. Apapun kesalahannya, dikota ini hanya ada satu hukumannya, yaitu mati.


Dan mapis disana aka senang hati memutilasi orang-orang tersebut. Mau manusia atau mapis sendiri.


"Ap-"


"Apa maksud lo hah?"


Tanya Ace sambil ngegas, ia tak menyangka kejadiannya akan berbalik seperti ini.


"Ya apa lagi kalau kamu menyembunyikannya buronan"


"Gak usah ragu kalian, ayo tangkap dia"


"Sial"


"Kenapa? Marah"


"Ayo cepet masuk"


Guds sekarang Lily mungkin udah aman

__ADS_1


Didalam perjalanan Ace hanya diam dengan Argus yang terus memperhatikan gerak-geriknya. Sampai satu jam berlalu dan akhirnya mereka sampai di gedung pengadilan sekaligus tempat para tahanan dikurung.


__ADS_2