
"Udah Ace. Cukup"
"Gue baru kenal lo baru seminggu"
"Mana mungkin gue langsung jatuh cinta sama lo juga"
"Udah ya Ace"
"Gue gak jamin bisa sama lo terus. Lo mapis, gue manusia, hubungan kayak gini emangnya bisa?"
Tolak Lily
"Oke ly"
ucap Ace menerima keputusan Lily
"Tapi aku gak jamin. Bisa nemuin kamu sama adik kamu"
Tegas Ace
"Ap"
"Pa?"
Lily tercengang, Ace ini!!.
"ACE!"
"Cari sendiri ya"
Ace berbalik dan menaiki motornya, bermaksud meninggalkan Lily.
"Tunggu Ace!"
"Ace!"
Cegah Lily
"Hm?!"
"Lo egois"
"LO CUMAN MIKIRIN DIRI LO SENDIRI"
"Kok lo jahat gitu Ace"
Triak Lily emosi. Apa tadi? Dia akan mempertemukan Lily dan adiknya apa bila Lily bersamanya, selalu?.
"Yaa~"
"Aku memang egois"
"Aku memang jahat"
"Tapi, itu karena aku pengen kamu tau kalau aku benar-benar cinta sama kamu Ly"
Ucap Ace lemah. Seharusnya ia tak mengucapkannya hari ini, mungkin nanti? Atau tak pernah? Ace sudah tau, kalau selama ini Lily membenci mapis, dan Ace adalah mapis. Ace tau kalau ayahnya Lily dibunuh oleh mapis, ia tahu semua tentang Lily.
"Tapi gak gini caranya Ace"
"Salah"
"Ini salah ACE!"
"Bukannya bikin gue bahagia, lo bikin gue menderita Ace"
"Lo salah. Kalau bener cinta, apa kayak gini caranya"
Ucap Lily mengutarakan isi pikirannya. Begitukah cara dia mengutarakan cinta? Apa dia benar-benar cinta?.
"Iya Ly"
"Aku salah. Dan itu memang benar"
Ace membenarkan perkataan Lily yang menyebutnya salah.
"Maaf"
"Ini karena aku pertama kalinya jatuh cinta"
"Jadi aku masih gak tau, cara bikin orang yang aku cinta supaya bahagia"
"Maaf. Aku gak tau"
Bukan masalah tau gak tau, Ace cuman ingin melindungi dan menjaga Mate-nya selalu. Dunia ini bukanlah tempat yang aman lagi, semuanya sudah berubah. Dan Ace ingin bertanggung jawab akan hal itu, karena dia telah menghilangkan pelindung Lily yang sebenarnya. Ayahnya.
"Lalu ly"
"Kalo aku kasih tau tau dimana adik kamu. Terus kalian pergi ninggalin aku gimana"
"Siapa yang egois?"
"Kamu manfaatin aku buat cari adik kamu. Trus kalau gak butuh lagi. Kamu ninggalin aku kan?"
__ADS_1
"Makanya. Aku minta syarat sama kamu"
"Supaya aku bisa terus sama kamu"
Ucap Ace tepat sasaran. Lily akan berencana meninggalkan Ace apabila dia telah menemukan adiknya.
"Sudah aku bilang kan? Seminggu yang lalu. Kamu itu mate aku, jodoh ku"
"Aku gak mungkin bisa hidup tanpa kamu"
"Tapi kayaknya, kebersamaan kita ini terlalu singkat. Sampai kamu gak nyadar, selama ini aku terus merhatiin kamu"
"Dan kamu gak pernah ngangap aku ada"
Lily terguncang mendengarnya, sebesar itukah cinta Ace ke Lily?. Tapi jujur, sebenarnya saat pertama kali Lily tahu Ace itu mapis, Lily sangat membencinya dan takut berdekatan dengannya. Cuman, kelakuan Ace yang biasa-biasa saja, membuat Lily berpikir Ace adalah mapis yang baik.
Tapi bukan berarti Lily menyukai Ace, ia masih tak terima dengan kematian ayahnya yang disebabkan oleh mapis. Entah siapa itu, tapi yang pasti kalau dia punya kesempatan, dia akan membalaskan dendam itu.
"Ace"
"Gue gak tau"
"Maaf"
"Jangan tinggain gue disini. Maaf Ace"
"Hiks"
"Maaf. Sebenarnya gue yang egois"
ucap Lily benar-benar bersalah, sepertinya ia salah kaprah mengartikan perasaan Ace.
"Udahlah Ly. Aku dah tau isi hati kamu ke aku"
"Ayo sini aku anter ke adik kamu"
"Dan besoknya nanti aku pulangin kalian berdua"
Ucap Ace dan menarik tangan Lily tapi Lily malah diam dan menggeleng-gelengkan kepalanya sambil menangis
"Kenapa? Masih ada orang lain ya?"
"Oh iya"
"Ini!!"
"Surat ini! Punya temen kamu yang sekarang ada disini kan?. Aku nemuinnya semalam"
"Dan aku cari juga dia. Biar kalian bisa pergi dari sini"
"Gak Ace. Gak"
"Bukan begitu Ace"
"Gue memang pengen pulang"
"Tapi kenapa lo ngomongnnya kayak orang marah gitu"
"Maaf Ace. Gue salah. Pliss jangan marah"
"Hikss, Ace"
Lily memeluk Ace. Perasaan Lily sekarang ini tak karuan. Ia marah, sedih, rindu, benci, merasa bersalah dan lainnya. Ace benar-benar membuat Lily tak bisa berpikir jernih. Ia tak bisa membenci Ace, karena Ace orang yang baik dan selalu baik kepadanya.
"Dah lah Ly. Aku selalu ngecintain kamu kok"
"Aku cuman ngasih kamu waktu aja"
Ace
Setelah selesai singgah ditaman sebentar, akhirnya Ace benar-benar mengantar kerumahnya. Lily sangat gugup, sepertinya ucapan Ace tadi sangat mengena kehatinya, dan membuat Lily merasa bersalah. Ia benar-benar tak memperhatikan Ace yang selama ini selalu mencari-cari perhatiannya, dan sama sekali tidak merasa kalau Ace selama ini selalu menjaga dan melindunginya, walau harus meninggalkan banyak pekerjaan.
Dan Ace
Sedari tadi dia sedang menahan amarah, tapi ia tak bisa membentak dan memarahi Lily, bagaimana pun dia itu manusia yang tak menyadari tentang keberadaan seorang Mate, jadi Ace tak bisa menyalahi itu. Ace tak bisa memaksa supaya Lily menyukainya juga. Ace tak bisa.
Tapi tetap saja Ace merasa marah dan sakit hati. Mungkin amarah ini akan dilampiaskan keorang lain.
-
Lily berpegangan erat di baju jaket Ace. Ace sangat cepat mengemudikan motornya, tapi Lily tetap diam, tak mau mengganggu Ace. Ia tahu, pasti Ace sangat marah kepadanya.
cccttttttt
Ace mengerem mendadak, untung saja didepannya ada punggung Ace yang menahan tubuh Lily saat mau terjungkal kedepan.
"Turun"
"Ha?"
"Turun. Masuk sana"
Tunjuk Ace kerumahnya yang tertutupi banyak pohon besar.
__ADS_1
"Tunggu Ace. Mau kemana?"
Ace tak mendengarkan pertanyaan Lily dan melajukan motornya entah mau kemana
"Haaaa dia marah"
Gumam Lily
Tok tok
"Gak ada yang jawab"
"Hem masuk aja deh. Mungkin dia tinggal sendirian"
Sepi
Harus kemana nih?
"Duduk di sofa aja deh"
"Siapa?"
Tanya Arza saat ia melihat ada orang yang sedang duduk di sofa tamu
"Eh?"
Lily kaget dan berbalik melihat orang yang dibelakangnya
"Arza!"
Kaget Lily saat tau kalau orang itu adalah Arza
"Kak Lily!?"
"Kakak ngapain disini"
Tanya Arza. Ia juga kaget dengan keberadaan Lily disini
"Yaa cari kamu lah Arza"
"Kamu kemana aja selama ini!?"
"Arza"
"Ayo kita pulang"
Lily memeluk adiknya yang selama ini ia sudah mati dan tak kan kembali lagi
"Maaf ka, tapi aku gak mau pulang bareng kaka"
"Hah? Kenapa!? Kenapa Kamu mau tetap disini"
"Dan"
"Kenapa kamu tinggal bareng Ace? Kamu sama dia ada hubungan apa!?"
"Kakak jangan pura-pura gak tau"
"Kakak pasti sudah tau kenapa aku milih tinggal disini"
"Maaf ka, aku gak mau ngelukain kaka"
Gak! Gak mungkin kan kamu itu mapis, udah jelas-jelas kamu itu adik kandung kakak.
Kita gak pernah punya hubungan apapun sama mapis.
Lily tahu maksud ucapan Arza itu, apa dia mengakui kalau dia adalah seorang mapis?
"Apa maksud kamu Ar"
"Kita bakalan pulang"
"Aku bilang kakak jangan pura-pura gak tau!. Udahlah kakak pulang aja sana"
"KAKAK GAK PERCAYA!"
"Kakak ga percaya kamu itu mapis"
"Maaf kak, tapi itu kenyataannya. Aku bukan Azra yang dulu lagi. Maaf"
"Hiks Arza"
"Kenapa?"
"Kenapa bisa kayak gini?"
Kakak
Arza memejamkan matanya. Perasaan ini datang lagi. Kakaknya terlalu baik, ia tetap ingin merawat Arza yang bukan orang yang normal lagi.
"Huuft"
Arza menarik dan menghembuskan nafasnya pelan-pelan sebelum emosinya mengambil alih dan membuat kakanya terluka.
__ADS_1
"Aku butuh waktu kak"
Ucap Arza dan meninggalkan Lily sendiri. Ia butuh angin segar yang dapat meredakan emosinya, karena paksaan Lily tadi memengaruhi perasaannya.