FAKE PSYCHO

FAKE PSYCHO
Chapter4_Mencarinya


__ADS_3

"Hm?"


"Kenapa swety?"


"Mau duluan?"


Percuma


Percuma lo ngelawan ly. Lo gak bisa


Saat ini lo gak bisa nyelamatin diri sendiri apalagi orang lain


"Hahh"


Harus gimana?


"Jangan ganggu ya swety, kebagian kok"


"Kamu habis ini. Jadi gak usah sedih"


Grep


Laki-laki itu menangkap bahu sigadis yang kian menjauh darinya.


Laki-laki itu tak bisa menyakiti atau melukai tangan, kaki, dan kepala, jadi ia harus ekstra hati-hati


"Kau tau sweet? Aku ini seorang seniman loh"


"Jadi lihat, aku akan membuat karya yang bagus di paha dan perut mu"


"Hahaha senangnya"


Ucap orang itu dan mulai menggores-goreskan pisaunya membentuk pola yang indah, apalagi darah merah yang menjadi perwarna alami sangat lah Indah.


"Akhh"


"Jangan"


"Jangan"


"Hiks"


"Sakit"


Mohon-mohon gadis itu. Pahanya sangat perih dan lama kelamaan laki-laki itu menyayatkan pahanya dengan pisau semakin dalam.


Sakitnya bertambah pedih, karena dia menggunakan pisau buah yang tumpul, sehingga dagingnya ditekan dengan paksa agar bisa menembus kulit dan daging.


"Aaaaakkhh"


"Stopp"


"Stop"


"STOOPPP"


"SAKITT"


gadis itu memukul-mukul punggung mapis itu kencang.


"Ck, tangannya ganggu"


"Mau di ikat ya?"


Ucap mapis dan mengambil tadi dipojok, lalu mengikatkan tali itu ketangnnya, tak terlalu kencang!. Ia tak suka barang yang rusak dan tak indah.


"Nah, jangan gerak-gerak lagi ya? Nanti tangannya lecet"


"Gimana aku baikkan? Merhatiin kamu"


Ucap mapis mendongakkan kepala gadis itu kearahnya


"Akhh"


Triak sigadis, anggap saja namanya Dana dan si mapis Dany.


Dana menagis keras merasakan perih dan sakitnya saat dany menggores-goreskan pisaunya ke leher dana.


Lily tak kuasa menahan air mata. Lily tak bisa membayangkan kalau dia akan berada diposisi ini, posisi dimana nyawanya sedikit lagi akan direnggut. Apalagi Dana yang dari tadi meminta tolong kepadanya. Lily sangat bersalah. Benar-benar.


Satu jam kemudian


Sudah semenjak satu jam lalu, Dany telah selesai bermain-main dengan Dana sekarang giliran Lily.


Lily sedari tadi menangis, genangan darah dilantai mulai membuat Lily mual. Belum lagi usus yang berhamburan sana sini.


"Jangan"


Rintih Lily pelan


"Tentang aja, gak papa manis. Habis sakit nanti kamu bisa tenang kok"


"Dialam sana hahaha"


"GAK!!"


"JANGAN NGELAWAN"


BHUKKK


BUKKK

__ADS_1


"AKH"


"SIAPA LO!?"


tanya Dany setelah ia dipukul seseorang.


"Numpang lewat, jodoh gue ketinggalan disini"


"Ayo prinses jangan nangis lagi"


"Alay banget sih. Gini aja nangis"


Ucap Ace


"Ap"


"Apa?!"


Beo Lily


"ACEE!"


Lily berdiri dan langsung memeluk Ace


"Ace tolong"


Mohon Lily ketakutan yang terdengar imut sekali ditelinga Ace.


"Gak papa sayang"


"Umach"


Cium Ace dipuncak kepala Lily. Ciyeahh


"Ayo sini"


"Gelut lagi. Tenang aja gue gak bunuh kok"


Tantang Ace. Dany pun bangkit dan mulai membalas pukulan Ace tadi. Tapi ditangkis Ace dengan mudah.


Buk


Buk buk


Tanpa ampun Ace memukuli Dany berkali-kali tanpa niatan untuk menghentikan aksinya, bahkan Dany sudah pingsan sekarang, wajahnya juga sudah tak berbentuk lagi. Hanya tonjolan merah ungu dan dilumuri darah yang menghiasi wajah Dany.


"Ace udah"


"Stop Ace"


"Jangan Ace. Aku takut"


"Shhh kamu takut?"


"Hahaha jangan takut sama aku. Kan aku yang nolongin kamu"


Ucap Ace mengubah ekspresinya menjadi lembut.


"Takut Ace"


"Takuut"


Ucap Lily mengeleng-geleng, ia masih trauma.


"Maaf ya Lily sayang"


"Kan cuma hilaf dikit"


"Jadi jangan takut lagi ya"


Pinta Ace uang di angguki Lily.


"Ace dia bunuh orang didepan gue"


"Takut Aceee"


"Hiks"


Tangis Lily dan memeluk Ace lagi


"Yaudah kita pergi dari sini"


"Kamu harus istirahat dulu"


Lily mengangguk


"Tapi istirahatnya dirumah aku ya"


Lanjut Ace


"Kenapa?"


Tanya Lily. Kenapa harus kerumah yang ditinggali Ace, kalau dia macam-macam gimana?


"Kalo aku tinggal kamu sendirian disana takutnya kamu di sekap orang lagi. Makanya dibawa kerumah aku, biar ada yang ngawasin"


"Kamu tenang aja, gak aku apa-apain kok"


Ucap Ace seakan tau isi pikiran Lily


"Ah ha, iya tau kok"

__ADS_1


Ucap Lily jadi gugup sendiri


Mereka pun pergi ke rumah Ace, Lily yang masih berjalan sempoyongan dibantu Ace agar tak jatuh. Yahh namanya juga dikota Balck Blood, Lily harus terbiasa.


-


Lily memeluk erat pinggang Ace di kendaraan. Ace sekali-kali mengelus punggung tapak tangan Lily, berharap ini bisa menenangkan Lily. Tapi Lily merasa terbayang kejadian tadi, otaknya menolak lupa untuk melupakan peristiwa ini seumuran hidupnya.


Masih gemeteran


"Huft"


Ucap Ace diam-diam masih mengkhawatirkan keadaan Lily.


Ace membawa pulang Lily kerumahnya berharap kondisi metal Lily membaik. Keputusannya untuk memisahkan Lily dan Arza sebentar lagi sepertinya salah. Entahlah, apa yang dipikirkan Ace sehingga tak mau mempertemukan kakanya dengan adiknya.


Tapi sepertinya itu tak perlu lagi, ia tak mau mate-nya menderita lebih lama. Mungkin saja adiknya bisa membuat Lily bahagia.


"Ly"


Panggil Ace. Ia memutuskan untuk berhenti dahulu disebuah taman. Ia ingin membicarakan hal penting kepada Lily.


"Hm"


Jawab Lily


"Aku tadi bohong"


"Maaf"


Ucap Ace


"Bohong?"


Tanya Lily bingung, bohong apa lagi sih?.


"Iya bohong"


"Aku tau kok dimana adik kamu"


Jujur Ace


"Di dimana Ace!?"


Tanya Lily dengan semangatnya


"Tapi janji ya"


Ucap Ace memberi syarat


"Janji?"


"Janji apa?"


"Iya Ace aku janji"


Lily langsung mengiyakan, tanpa mendengarkan terlebih dahulu apa yang ingin disampaikan Ace.


"Janji jangan pernah ninggalin aku"


"Gimana? Kamu janji kan?"


Ucap Ace, dan bertanya apa Lily benar-benar menepati janjinya


"Apa maksud lo Ace"


"Gak pernah ninggalin lo? A apa maksudnya"


Tanya Lily dengan gugupnya. Ini seperti pernyataan cinta, tapi yang menyatakan itu seorang mapis.


"Aku cinta kamu ly"


Ucap Ace dengan tatapan serius dan Lily sangat terkejut mendengarnya


"Bohong"


Tolak Lily


"Aku gak bohong"


Jawab Ace


"Gak, lo kan pakboi. Lo sering banget godain gue. Bilang sayang manis"


Ucap Lily mengalihkan pembicaraan agar Ace tidak terlalu serius lagi.


"Jangan bohong tentang perasaan Ace! Gue gak suka"


Ujar Lily


"Aku serius"


"Maaf selama ini aku cuman ngebuang-buang waktu kamu selama seminggu ini. Tapi itu karena aku pengen lebih lama sama kamu Ly"


"Kamu gak tau. Aku Mendam rasa ini udah dua tahun sejak pertemuan pertama kita"


"Dan kamu gak tau. Waktu aku terpaksa merhatiin kamu dari jauh. Aku pangen banget bisa kenalan sama kamu"


"Tapi aku cuman bisa ngagumin kamu dari jauh doang dan kamu gak pernah tau kalau ada seseorang yang selama ini selalu ngekhawatirin kamu. Kamu gak tau"


"Ly aku-"

__ADS_1


__ADS_2