
"Haha maksud lo apa?"
"Gue cuman tau kok, lagian bisa ditebak"
"Jumlah mereka kan sedikit jadi gak perlu buat kota yang besar-besar"
"Pengamanan juga gak perlu, mereka bisa jaga diri sendiri"
"Dan soal hobi mapis yang gak membunuh orang lagi, kamu bisa liat tuh di internet presentasi pembunuhan ulah mapis"
"Tahun ini satu orang pun gak ada"
"Dan soal mapis yang gak terlalu berinteraksi, itu sudah jelas!"
Jelas Chua. ada-ada aja sahabatnya ini.
"Ah iya juga ya"
"Gue jadi yakin sedikit chu, tapi walau gitu gue masih butuh beberapa hari buat mutusin kita kekota Black Blood atau atau enggak"
"Masih takut soalnya, gue masib trauma sama cerita yang dikisahin mama gue dulu"
Ucap Lily masih terbayang-bayang, tapi itu salah Lily juga, sapa suruh nanya-nanya tentang bapaknya yang dihabisi oleh mapis.
Hufttttt hampir aja gue dicurigaain sama Lily
Chua membatin.
"Cerita tentang bokap lo ya?"
Tanya chua
"Iya"
Jawab Lily
"Iya gak papa kok ly, gue juga gak berani-berani amat juga"
"Gue juga butuh waktu"
Ucap Chua
Setelah itu merekapun pulang dengan menaiki sepeda motor yang mereka parkir jauh dari rumah kakek Afar.
|
"Nah duduk aja disini"
"Jangan kemana-mana dulu gue mau ambil makan"
Perintah Ace. Setelah sepulang dari rapat, mereka berdua (Aca dan Arza) langsung pulang kerumah, Ace memang tinggal sendirian.
Tapi sebenarnya rumah ini juga pernah ditinggali oleh ayah dan ibunya. Tapi ibu Ace sudah tak tinggal lagi bersamanya karena ia diusir dari rumah oleh Arnold dan Arnold sekarang tak tinggal lagi dirumahnya, ia hanya tidur dirumah baru yang ia dapatkan setelah menjadi Lord mapis.
"Iya"
Jawab Arza seadanya. Ace pun pergi ke dapur dan memasak nasi goreng yang biasa saja dan rasanya biasa-biasa juga, itu karena Ace punya pendirian yaitu 'hanya biniku yang boleh masakannya enak, yang lain gak boleh termasuk gue sendiri'. motto memasak itu dia buat karena dia telah menemukan mate-nya.
Arza yang menunggu diruang tamu merasa bosan dan memutuskan untuk melihat Ace memasak.
"Lo mirip sama kaka gue"
Ucap Arza memulai percakapan, tak seperti biasanya tumben sekali Arza mau bicara.
"Apanya yang sama?"
Tanya Ace
"Gak ada sih"
Jawab Ace
__ADS_1
"Gimana sih katanya mirip sekarang enggak"
Dumel Ace
"Entah, setelah ngeliat lo masak, gue jadi kangen aja"
Ucap Arza
"Apa hubungannya gue masak sama kaka lo"
Tanya Ace, aneh sekali bicara anak ini.
"Dia sering masakin gue nasi goreng tiap pagi, bau masakannya sama makanya gue kangen"
Ucap Arza jujur, kakaknya yang satu itu sangat perhatian kepadanya walau Arza bersikap dingin.
"berarti masakan kakak lo gak enak"
"Hahaha btw apa maksud lo cil? Gue pikir lo mapis murni? Gue dulu waktu kecil jadi mapis murni gak pernah kangen atau apalah itu, ibu gue pergi gue biasa-biasa aja"
"Itu dulu kan? Kalo sekarang?"
tanya Arza
"Ah gitu lah, susah jelasinnya"
ucao Ace pelan, ia masih bingung dengan dirinya sendiri.
"Apa kalau gue gedenya kayak lo, apa gue bisa jadi manusia lagi?"
tanya Arza sungguh-sungguh
"Emangnya kenapa? Lo gak suka jadi mapis?"
tanya Ace heran, bukannya bagus jadi mapis murni? toh dia juga jadi orang kaya habis jadi mapis.(dilihat dari uang yang dia bawa didalam tas dan Ace udah nebak dari mana tuh duit berasal)
"Pastilah, gue punya kaka sama mami yang sayang banget sama gue tapi gue gak pernah merasa kalau gue sayang sama mereka, gua cuman pura-pura jadi anak yang baik didepan mereka"
"Kenapa? Kenapa sih harus gue yang dipilih jadi ekperimen kalian? Bukannya dirapat tadi bilang kalau generasi ketiga kayak kalian sudah punya perasaan dan belas kasih sama orang lain"
"Tapi gue gak ngerasain kalau kalian orang baik tuh?"
"Kalian masih aja bikin hidup orang menderita"
"Kalau-"
"Pengorbanan"
"Itu cuman pengorbanan kecil yang kami buat supaya rencana kami berjalan baik"
"Lo juga bakalan tau kok nanti"
"Gue bukannya pengen terlihat baik didepan lu aja, sebenarnya gue orang jahat kok"
"Makanya dibalik kebaikan yang gue lakuin ada kejahatan juga yang jadi pengadil"
"Mungkin lo gak paham maksud gue ini apa, tapi liat aja nanti!!! lo pasti bakalan balik lagi kok"
jelas Ace, tak ingin bocah ini mendrama.
"Ya gue gak paham, tapi gue bakal nuggu apa sih yang lo maksud itu"
"Dan ya, gue pegang janji lo!"
ucap Arza ingin kepastian dan diangguki oleh Ace
"Iya bocah"
"Nih makan, badan lo kayak lidi"
"Lo selama ini tinggal dimana? Dua tahun yang lalu lo kabur dari rumah kan?"
__ADS_1
"Gue kabur kesini trus tinggal dijalanan, karena gak ada apa-apa gue pindah kekota Ruby juga shappire"
"Gue tinggal disana hampir dua tahun dan kerja jadi pembunuh disana, gue dibayar mahal buat ngebunuh orang yang diinginin klayen gue, biasanya sih saingan bisnis"
"Selain menuhin kebutuhan hidup gue, kebutuhan hasrat ngebunuh orang lain juga terpenuhi"
"Tapi akhir-akhir ini gue mau kesini, entah buat apa tapi firasat gue gue harua disini dulu"
jelas Arza panjang lebar dan ini adalah rekor tertinggi sejarah hidup nya.
"Udah berapa banyak orang yang udah lo bunuh?"
tanya Ace, kepo dikit.
"Cuman 23, gue bunuhnya sebulan sekali"
"Oh cuman 23 toh"
"Kalo lo?"
tanya Arza balik.
"Maybe sekitar nol orang, gue cuman pernah mukulin orang sampai sekarat"
"Oh, cuman segitu kemampuan lo"
"Iya segitu aja kemampuan gue, gue kan baik hati dan penyayang kepada sesama, mana tega gue bikin Mereka mati"
"Ceritain banyak tentang mapis dong"
"Males, gue mau makan"
ucap Ace dan mengambil ikan goreng.
"Gue tinggal disini kan?"
Tanya Arza memastikan apa dia benar-benar boleh tinggal disini bersama Ace.
"Iya"
"Kenapa mau nampung gue?"
"Kan gue dah bilang kalau gua ini baik hati"
"Makasih"
"Hm"
"Oh iya!"
"PAAN SIH BOCIL? NANYA MULU!"
Emosi Ace ia tak kunjung makan kalau sibocil ini masih berbicara saja dari tadi.
"Tentang orang yang sama kayak gue"
"Maksudnya Kimberly? Yang jadi eksperimen kami juga?"
Tanga Ace balik
"Iya"
"Vaska yang jaga, dia memang suka mungut anak kecil yang comel-comel"
"Kenapa? Lo suka yang comel juga?"
"Bukan, pengen tanding aja siapa yang banyak ngebunuh orang, kami kan sama-sama hasil eksperimen kalian"
"Gak! Dia cewek beda sama lo, cewek gak suka ngebunuh orang"
"Oh gitu ya, beda ternyata"
__ADS_1
"Iya beda, gak usah sombong bocil"