
"Gak papa kan?"
"Sakit gak kalo Kim duduk disampingnya kak Chua?"
Tanya Kim mau mau tak mau
"Hahaha kamu kenapa sih? Yang gak papa lah"
"Coba sini cerita kok kamu segitunya takut kalo kakak kenapa-kenapa"
Tanya Chua dan Kim menceritakan dengan semangatnya. Mereka bercerita berbagai macam hal dari siang hari sampai menjelang sore.
Kim dan Chua yang sudah lelah tertawa dan ngebacot akhirnya tertidur pulas sambil bersender-senderan berdua.
Klek
Kenzo membuka pintu kamarnya, hari ini dia sangat ditantang untuk pulang lebih awal karena dia mempunyai dua gadis yang harus diurus.
Kenzo tersenyum ternyata kedua gadis yang disayanginya sedang tertidur pulas ditempat tidurnya.
Kenzo mendekati mereka berdua. Diamatinya wajah yang selama ini dia rindukan, manis.
Kenzo mendekat dan mengecup kening
Kimberly
Dan juga dengan tangan yang mengelus rambut Kim lembut tapi tatapannya intens ke arah Chua. Dekat. Sangat. Itu karena posisi Kim dan Chua yang rapat, Kenzo juga merasakan hembusan nafas Chua ditangannya yang sedang mengelus-elus rambut Kim.
Tangan Kenzo bergerak keatas bermaksud menyentuh luka dipipi Chua. Tapi belum sempat menyentuh, Chua terbangun terlebih dahulu karena merasakan pergerakan seseorang.
Mata Kenzo dan Chua bertemu, tak ada salah satu orang tersebut yang ingin memutuskan hubungan mata itu. Mereka tetap saling memandang terus menerus.
"Eghhr"
Geliat Kim merasa sesak dan panas karena tak ada oksigen yang masuk ke paru-parunya yang pengap.
Kenzo dan Chua kaget, mereka memalingkan mukanya sendiri-sendiri karena malu.
"Ehem"
"Ini aku bawain makanan buat kalian"
"Maaf gak bisa bawa kerumah sakit cuman bisa ngerawat kamu dirumah aku yang masih kurang alat buat ngerawat kamu"
Ucap Kenzo canggung dan merasa bersalah tak bisa memenuhi kebutuhan Chua yang perlu perlatan dan perawatan medis.
"Iya gak papa kok, lagian sama aja bunuh diri kalo kita kerumah sakit"
Ucap Chua benar, seumur hidupnya ia selalu menghindari namanya rumah sakit. Cuman waktu ibunya Lily meninggallah Chua pernah kerumah sakit, untuk pertama kalinya.
"Em anu"
Panggil Chua saat Kenzo ingin pergi
"Ya?"
Tanah Kenzo berbalik
"Nama lo siapa? Biar gak susah nanyanya"
Tanya Chua. Kenzo yang mendengar itu tersenyum tipis, dan mulai mendekati Chua. Duduk disebelahnya. Dan meletakkan tangannya dikepala Chua.
"Kenzo sayang. Kamu lupa?"
"Haha aku sakit hati looh, kok kamu bisa lupa? Padahal tiap hari kita sering main sama-sama"
Jawab Kenzo tersenyum miris
Chua yang tadinya senang karena dia mendekat dan memegang kepalanya, tiba-tiba langsung melunturkan senyumannya dan memalingkan wajahnya.
__ADS_1
"Ada apa? Kamu gak senang?"
"Bukannya kamu balik kesini karena mau ketemu kita, iya kan?"
Tanya Kenzo seperti terlihat memohon. Ia sudah menilai sikapnya Chua
"Gak! Gak sedikitpun gue kangen kalian apalagi lo Kenzo!"
"Cih! Ada urusan lebih penting yang ingin gue sampaiin dan bagusnya gue langsung ketemu sama lo"
"YA!! Gak salah kok kalo gue kesini karena pengen ketemu kalian"
"Jadii"
Grepp
"Dimana Arza?!"
Tanya Chua terdengar seperti sedang mengancam
"Kalo aku gak tau gimana?"
Ucap Kenzo mengangkat sebelah alisnya
"Jangan bohong!!"
Bentak Chua.
"Ada perlu apa kamu sama dia, bukannya dia bukan siapa-siapanya kamu"
Ucap Kenzo tersenyum miris, Belum pernah Chua membentaknya seperti ini, apalagi Chua orang yang periang dan mudah memaafkan orang lain. Kalau seperti ini bererti kesalahan yang mereka perbuat keChua kesalahan besar, sebenarnya apa yang mereka perbuat ke Chua, kenapa Chua sampai semarah itu. Tidak mungkin tentang Arza saja, pasti ada yang lain.
"Jadi bener kalo lo tau?! Balikinn, balikin dia supaya jadi kayak anak-anak yang lain"
"Kalian ini! Kalian ini gak punya hati!!"
"Lo tau gak Ken? Seberapa menderita orang lain gara-gara kalian"
Ucap chua menunduk setelah membentak dan merasakan hatinya sakit saat mengucapkan kalimat terakhir.
"Dann"
"Siapa ini Ken? Anak ini?"
"Jangan-jangan?"
"Hahaha jangan sok baik kalian! Kalian pikir kalo ngurus mereka bisa bikin dosa kalian berkurang, gitu?"
"Gak!"
Ucap Chua yang masih dilanda kemarahan
Kimberly terbangun mendengar keributan disampingnya. Kim melihat Chua yang menangis dan Kenzo yang seperti menahan amarah. Kim mengerti, ia bukan anak-anak lagi yang harus bertanya ada apa dengan mereka. Kim pamit keluar dan menelpon Vaska agar perkelahian mereka tak bertambah besar.
Kimberly mendengar kata-kata kasar yang diteriaki oleh Chua. yaaa~ Masalah tentang mereka yang merenggut kemanusiaan Kim dan Arza.
Kim merasakan matanya sangat panas, Kim sedari tadi menahan tangisnya supaya tak keluar. Kata-kata Chua yang sepertinya sangat memahami keadaan Kim sekarang, seakan ada yang tau isi hati Kim sebenarnya.
Haha. Kim selama ini memang kelihatan sangat bahagia dan tak peduli dengan dirinya yang sebenarnya seorang mapis, tapi sebenarnya tidak. Kim tak pernah merasakan adanya kehidupan dihidupinya, dia hanya menjadi boneka orang lain, kalau orang itu inginnya Kim harus seperti ini atau itu maka Kim siap melakukannya.
Mempunyai kehidupan yang berwarna abu-abu itu membuatnya sesak. Dan yang sekarang Kim lakukan hanyalah menyendiri dilamarnya, selama ini sebenarnya Kim itu kesepian, Kim juga teringat dengan kakeknya yang dulu sering menghibur dan merawat Kim dengan sangat baik.
Kim jadi merasa bersalah, meningalkan kakeknya yang tua seorang diri tanpa kerabat atau keluarga yang menemani.
"Chua pliss stop"
"Kamu salah paham. Tolong dong dengerin kita semua dulu"
Ucap Kenzo yang ingin menjelaskan, tapi Chua selalu mengelak
__ADS_1
"Apa?"
"APA!?"
"UDAHLAH AKU MAU KELUAR AJA DARI SINI"
Triak Chua emosi dan berdiri untuk bermaksud pergi dari kamar Kenzo.
"Chua, jangan kamu masih sakit"
Cegah Ken m nangkap tangan Chua
"Gak Ken, lepas"
Desis Chua dan menghempaskan tangan Kenzo yang menahannya untuk pergi
"Akh"
"Awww"
Chua tersungkur. Ternyata kakinya masih sangat lemah dan sakit untuk bisa dibawa berjalan atau berlari.
"Chua!"
"Kamu gak papa?"
Tanya Kenzo khawatir
"Sa-"
"Kit"
Ucap Chua terbata. Ia tak bohong, kakinya benar-benar sakit, padahal seorang mapis mempunyai ketahanan tubuh yang kuat tapi kenapa kaki Chua sampai sesakit ini.
"Sini Chua, kamu harus tenang dulu"
Kanzo mengangkat tubuh Chua dan didudukan ke tepi ranjang, karena Chua masih tak sanggup berdiri.
"Maaf ya Chua, kita semua memang salah, maaf"
Ucap Kenzo merasa benar-benar bersalah. Ia mendudukan dan memeluk Chua, berharap pelukannya dapat menenangkannya.
"Haah"
Tarik embus nafas Chua yang berat, ia tak kuasa menahan amarah didadanya. Sebenarnya Chua tak mau seperti ini, ia ingin semuanya seperti semula tak ada penghianatan atau paksaan yang membuat seseorang tertekan.
Yahh tapi yang sudah terjadi maka terjadilah. Tak ada yang bisa menentang takdir.
"Kenn~"
Ucap Chua lemah dan bergetar
"Iya"
kenzo
"Sebenarnya aku punya pertanyaan"
Chua
"Apa"
Tanya Kenzo
"Ken-"
Chua memandang lekat iris mata Kenzo, berharap kalau pertanyaannya akan dijawab Kenzo dengan jujur.
"Apa-"
__ADS_1
Chua bertanya tapi masih terpotong-potong