
Chua sudah hampir sampai kekota Black Blood, dan jalan terakhir yang harus dia lalui adalah perbukitan yang agak curam dan menanjak, sedikit saja melakukan kesalahan bisa-bisa dia akan mengalami cacat sampai kematian.
Chua mengendarai motornya agak kencang karena harus menaiki tanjakan, kalau jalan bawah yang ada hanya bebatuan besar dan menghalangi jalan.
"Ishh kenapa tangan gue gemetaran sih? Ini udah sedikit lagi sampai"
Ucap chua, tangannya gemetaran dan membuat stang yang ia pegang bergetar juga
"Haha kenapa ya? Saat nginget kota itu malah gue keringat papa gue?"
"Pliss Chua pilss, lupain itu, gue yakin organisasi gak tau lagi siapa diri lo sekarang"
"Ah iya, lo cuman harus pura-pura aja jadi orang lain"
"Walau gitu"
"Kenapa gue malah makin gemetaran"
Ucap Chua, ia ingin menangis melihat kondisi terpuruknya sekarang. Ketakutan terbesarnya adalah para organisasi yang dulu membunuh ayah Chua didepan matanya sendiri. Dan ia sangat beruntung bisa kabur dari sana.
"Stop Chua stop! Jangan pikirin tentang itu lagi! Stop"
Ucap Chua menahan diri. Ia tak ingin bayang-bayang itu selalu menghantui hidupnya. Ia harus fokus! Yang dilakukan Chua saat ini adalah harus fokus kejalan. Tapi percuma, tangannya gemetaran, kekejaman organisasi selalu menghatuinya, dan kematian papanya selalu terekam jelas di memorinya, sehingga fokusnya terpecah.
Chua berbelok ke arah curam bukit. Ia dan motornya terpelanting dan terguling kebawah sampai sebuah batu menahan motor Chua merosot lebih kebawah lagi. Tapi Chua yang terpisah dari motornya harus terlambung tinggi dan terhempas keras dibelakang batu itu.
Badan Chua sakit, tubuhnya terkapar lemah dibalik batu itu. Chua mulai meminta pertolongan dengan berteriak kecil, saking kecilnya itu malah terdengar seperti berbisik. Walau begitu ada suara berat laki-laki yang akan menolongnya, Chua sangat bersyukur, sebuah keberuntungan ada orang yang mau menolongnya dibukit sepi ini. Apalagi mapis adalah seseorang yang tek kenal simpati atau empati kepada orang lain.
Chua menunggu beberapa menit sampai orang itu menyelamatkannya, tapi matanya benar-benar berat. Chua ingin sekali menutup matanya apalagi kepalanya sangat sakit belum lagi badannya serasa remuk. Hingga Chua akhirnya menutup matanya, tapi Chua masih sedikit melihat orang tersebut. Sepertinya dia terjatuh, Chua melihat wajahnya menegang yang tak bisa dimengerti maksud dari ekspresi tersebut. Sampai Chua benar-benar menutup matanya.
Kenzo yang menyaksikan Chua yang tak berdaya dibalik batu itu tak bergeming. Ia hanya diam sambil menatap gadisnya itu terkapar di tanah. Bukan tanpa alasan kenzo melakukan itu.
Saat ini kenzo sedang berperang dengan pikirannya, Kenzo tak menyangka kalau Chua akan kembali lagi, seingatnya Chua mengatakan kepadanya kalau dia tak mau lagi tinggal di kota Balck Blood dan meninggalkan kelompoknya karena kesalahpahaman diantara mereka. Tapi yang Kenzo lihat disini faktanya adalah kalau gadisnya itu kembali kesini. Kenzo bahagia, sedih, terharu karena saat ia bertemu dengan matenya sedang keadaan yang sekarat. Dan ia tak tau ada alasan apa dia kesini.
Kenzo melihat apinya membesar dan membakar rumput-rumput disekitar Chua berada.
"Chua!"
Kenzo segera bangkit dari duduknya dan langsung mengangkat Chua ketempat yang lebih aman. Kenzo mendaki dengan hati-hati tak mau gadisnya ini terluka lagi, luka yang dialaminya sudah cukup parah.
Setelah sampai kepuncak, kenzo menidurkan Chua dibawah pohon yang ia tempati tadi. Kenzo membersihkan luka di tubuh Chua dengan air lalu ia tutupi dengan kain agar pendarahan yang dialami berkurang.
__ADS_1
Tapi Kenzo tak cukup kain untuk menutup semua luka ditubuh Chua, kain yang ia gunakan tadi adalah sapu tangan dan bandananya. Kenzo pun merobek kaos yang dipakainya dan menutupi luka yang cukup besar dipergelangan kaki Chua.
Kenzo kelewat khawatir dengan keadaan Chua yang tak kunjung membuka mata, dikota Black Blood ini tak ada rumah sakit ataupun puskesmas. Kalau harus ke kota lain membutuhkan waktu berjam-jam. Ahhhh Kenzo pusing.
"Aah iy! Markas! Markas banyak obat dan alat-alat kesehatan"
"Chua tunggu sebentar lagi ya"
"Tahan! Kamu bakalan selamat kok, aku janji"
Ucap Kenzo sungguh-sungguh sambil mencium punggung tangan Chua yang sudah tak berdaya.
Kenzo menggendong Chua dan mulai menuruni bukit dimana motornya berada. Kenzo menaiki motor sambil menggendong Chua, Chua direbahkan kesamping dan bersandar kedada Kenzo. Kenzo melajukan motornya agak kencang dengan satu tangan menyangga tubuh Chua.
13 menit perjalanan akhirnya kenzo sampai didepan markas. Dengan cepat kenzo memasuki markas dan merebahkan chua diranjang biasa Ace tidur-tiduran. Tanpa peduli dengan orang didalam markas, Kenzo mengobrak abrik semua alat yang tersusun rapi didalam lemari.
"Woy! Ngapain lu Ken? Itu siapa"
Tunjuk Ray keChua. Sepertinya Ray melupakan wajah Chua karena lama tak bertemu.
Kenzo tak membalas pertanyaan Ray dan masih mencari barang yang ia butuhkan.
"Kalo lo cari tabung gas oksigen sama obat antiseptik ada dipojok sana!"
Ucap Meta tau apa yang ingin dicari Kenzo. Kenzo segera berlari kearah yang dibilang Meta tadi dan benar! selain ada tabung gas dan obatnya, ada beberapa barang lagi yang berguna lainnya.
"Sini Ken gue bantu"
Sepertinya orang yang ingin diselamatkan Kenzo itu orang yang sangat penting, Meta tak pernah melihat Kenzo sekhawatir ini kepada orang lain apalagi mata Kenzo yang sedang seperti menahan tangis sehingga bola matanya memerah.
"Iya"
Jawab Kenzo, iya baru ingat kalau Meta ini pernah menjadi dokter sementara sehingga tahu apa saja yang diperlukan Chua sekarang. Kenzo benar-benar merasa beruntung mempunyai sahabat yang selalu membantunya.
Karena markas yang mempunyai alat yang cukup membantu Chua, Kenzo merasa bersyukur. Kenzo sudah setengah mati mengkhawatirkan kondisi Chua.
Sejam
Dua jam
Tiga jam
__ADS_1
Chua masih belum bangun. Kenzo mengelus pipi Chua yang sedikit lecet. Meta dan Ray yang masih dilanda kebingung, hanya menunggu Kenzo menjawab pertanyaan mereka tadi 'siapa dia?' tapi sepertinya Kenzo tak merespon pertanyaan mereka.
Meta dan Ray memperhatikan wajah Chua sangat intens, rasanya Mereka pernah melihat wajah ini tapi dimana? Sthhh Mereka lupa.
"Chua"
Ucap Kenzo pelan
"Chua?"
Ucap meta dan ray bersamaan dan saling bertatapan.
"APAH!!"
triak mereka berdua. Benarkah ini? Oh astaga saking lamanya tak bertemu mereka lupa bagaimana wajah Chua sekarang.
"Diam! Lo gak liat dia lagi sakit?"
Tunjuk Kenzo
"Haha iya maaf, tapi Ken ini udah malam, lo gak mau pulang?"
Tanya Ray
"Gak! Gue tetap disini jaga Chua"
Kenzo
"Ah iya bro, tapi gue pulang ya? Gak bisa lama-lama gue disini"
"Hemm"
Kenzo. Pergi aja! Tak apa ko, siapa juga butuh ditemenin.
"Yaudah kalo gitu bayyy, gue juga gak bisa nemenin padahal kita baru ketemu ama Chua"
"Oiya jan lupa kasih tau Vaska Ken, telpon dia"
"Gue juga balik kerumah buat kasih tau Shally"
Ucap Meta menyuruh Kenzo menelepon kakaknya, dia pasti senang bertemu dengan teman lama. Shally juga, tapi Shally selalu menonaktifkan hendphonnya jadinya harus ditemui dengan offline. Lagi pula Meta dan Shally serumah.
__ADS_1