
"Pocong ue nya yu yayang"
Ajak Ray
"Ayuk"
Angguk Meta
"Bahasanya tolong diminimalisir, gak enak banget didenger"
Shally berucap lagi
"Sory,, puluhan tahun gue dah dikacangin dia mulu"
"Akhirnya bisa jadi pacar tuh"
"Tuh"
"Rasanya wow banget"
"Ngerti gak sih? Usaha gue puluhan tahun terbayar"
"Jadi, kalo gue alay tuh wajar"
"So! Stop bully gue"
Jelas Ray jujur, walau tak terlalu nampak kalau dia sedang mengincar Meta, tapi perasaannya pasti kok lagipula Meta adalah mate-nya.
"Iya gak yang?"
Tanya Ray ke Meta
"He em"
Meta
"Nah kan"
Ray
"Eh! Ini Vaska sama Ace kok belum dateng? Kenapa ya?"
Tanya Chua bosan setelah mendengar perdebatan mereka
"Iya nih, gue juga belum ketemu ma dia"
"Apa perlu kita cari?"
Ucap Shally melirik-lirik semuanya
"Emm gak tau"
"Mungkin lagi sibuk, makanya mereka telat datang"
Pikir Ray
Tok tok tok
Bunyi pintu ketika ada seseorang yang mengetuknya
"Nah itu siapa? Mungkin Ace sama Vaska, bukain gih"
Meta
"Kim aja yang buka"
Ucap Kim dan langsung berlari kearah pintu, lagipula dia sudah kangen dengan kakak greseknya itu.
Klek
"Ka Vaska! Akhirnya dat-"
"Eh? Kak Vaska kenapa?"
Tanya Kim kaget dan membelalakkan matanya saat melihat Vaska yang berlumuran darah di pipi, dada, tangan, dan kakinya. Dengan Lily yang ada digendongannya Vaska, dia pingsan.
"Gak papa Kim, kakak habis main ama kucing makanya luka-luka begini, maaf telat akhh"
Belum selesai dia mengucapkan kalimat terakhir, Vaska sudah jatuh tersungkur, ia kehilangan banyak darah belum lagi luka-lukanya yang menganga lebar.
"Kakak!"
"Kak Kenzo kak Chua! Tolong kak Vaska"
Triak Kim
"Vaska!"
"Vaska lo kenapa?"
Ucap Shally berlari kearah pintu
"Itu siapa?"
Ucap Meta yang melihat Lily berada di pelukan Vaska
"Lily? LILY!!!"
Triak Chua saat melihat Lily berlumuran darah
"Lily kamu kenapa? Kalian kenapa?"
__ADS_1
"Lily bangun Ly"
Chua membenarkan posisi mereka dan membaringkan Lily dipangkuannya sedangkan Vaska dipangkuan Shally, terlihat sekali muka Shally yang sangat khawatir dan bingung.
"Lily saha?"
Ray
"Dia saudara gue"
"Maksudnya sahabat, dia yang dulu pernah gue ceritain sama kalian"
Jelas Chua
"Cepat bawa mereka masuk kedalam, biar gue yang obatin. Kalian tolong ambil peralatannya"
Suruh Meta dan berlari kegudang mengambil semua peralatan medis mereka
"Iya"
Angguk mereka dan bersama-sama mengangkat Lily dan Vaska keruangan khusus.
Flashback on~~
"Kakak kedinginan? Nih pakai aja jaket aku, muat kok soalnya jaket aku lumayan gede"
Tawar Arza melihat kakaknya yang dari tadi menggosok-gosokkan tangan dan pundaknya pertanda kedinginan.
"Gak Ar makasih, kamu aja yang makai, aku gak papa kok"
Tolak Lily
"Ck"
"Nih, cepat pakai"
Arza melemparkan jaketnya, dan tinggalah dia yang hanya memakai kaos.
"Thanks Ar"
Ucap Lily dan memakai jaket itu. Benar pas.
"Hm"
GGGRRRRRR
RRROUURRR
"Apa itu?"
Tanya Lily kaget mendengar suara yang asing baginya
"Harimau"
"Apa?"
Lily
"Kakak hati-hati, ngomonya jangan keras-keras, pendengaran harimau peka banget"
"Kita harus jaga-jaga kalau dia kesini, kita gak bisa apa-apa dia kuat"
Arza
"Iya maaf"
Lily
GGRRROOUURRR
Erang harimau makin kencang saja
"Gawat, dia kesini"
Ucap Arza waspada
"Gimana bisa ada harimau disini? Padahal hutannya gak terlalu luas, kita juga gak terlalu diujung nelusurin hutan ini"
Pikir Lily
"Hutan disini memang beda, aku lupa kalo organisasi sering lepasin makhluk buas kedalam hutan, karena mereka tau, hutan tempat yang bagus buat jadi persembunyian"
Jelas Arza, ia kesal karena bisa lupa akan hal yang sangat penting seperti ini
Srrrtttttt
Suara harimau mencakar batang pohon dan membuat Lily ketakutan
"Kak! Lari! Aku bakal alihin perhatiannya"
Arza mematahkan dahan pohon diatas kepalanya, dan patahannya menghasilkan ujung yang runcing.
"Gak Ar, Ace udah ngorbanin dirinya buat aku. Masa kamu juga ngorbanin diri buat aku lagi?"
"Kita bakal lari sama-sama"
Elak Lily
"Yaudah, kakak diam dibelakang"
"Aku gak ada pengalaman sama hewan buas. Jadi, kalau aku udah gak sanggup lagi ngadapin harimau itu, tolong kakak lari"
__ADS_1
Suruh Arza serius
"Gak Arza, kakak gak bisa"
Tolak Lily lagi dan membuat Arza kesal
"Gak kak, tolong dengerin"
"Aku pengen jadi orang yang berguna untuk keluarga, walau hanya sekali saja. Dan ini saatnya"
"Kakak keluarga aku satu-satunya, aku bakal ngelindungin kakak walau nyawa taruhannya"
Jelas Arza supaya Lily mengerti
"Gak Ar gak!!!"
Ucap Lily menggeleng-gelengkan kepalanya
"Kakak jangan ngelawan"
"Kakak tuh kenapa sih keras kepala banget? Aku gak suka ya"
"Dahlah jangan kebanyakan ngomong. Liat harimaunya, di usah siap nyerang kita"
Tunjuk Arza ke harimau didepan mereka dan membuat Lily tersadar kalau saat ini bukan waktunya berdebat.
Groarrrr
Bukkkk
Harimau itu dan Arza sama-sama menyerang, Arza bisa menghindar dari serangan harimau itu, tapi serangan Arza juga meleset karena mereka sama-sama menghindari terlebih dahulu.
Cih meleset
Batin Arza menyumpah
"Arza kamu gak papa?"
Lily
"Iya gak papa, tenang aja"
Arza
Lily celingak-celinguk mencari benda yang dapat membantu Arza membunuh harimau itu. Mata Lily tertuju pada tombak kayu yang ujungnya seperti sangat runcing, apa bekas pemburu yang tak sengaja meninggalkannya?.
"Dapat"
Ucap Lily dan mengambil tombak itu
"Tunggu kakak, kakak mau ngapain?"
Arza merentangkan tangan kanannya untuk mencegah Lily mendekatinya
"Bantu kamu lah"
Jawab Lily
"Jangan! Sini biar aku aja"
Tolak Azra dan meminta tombak yang ada ditangan Lily
"Ini, moga berhasil"
Lily melemparkan tombak itu kedekat Arza dan Arza mengambilnya
"Hm"
Hyakkk
Grpppp
Rouuuurrrr
Arza menerjang harimau itu sebelum harimaunya menyerang dahulu dan sasaran tombaknya berhasil tertancap tepat mengenai matanya.
Berhasil?
Oh enggak ternyata
Batin Arza. Harimau itu tangguh sekali, ia masih bergerak walau satu matanya sudah tidak bisa difungsikan.
Harimau itu mengaung labih keras karena matanya sangat sakit dan perih. Harimau itu marah dan mengeluarkan cakar yang panjang dari balik kaki berbulunya.
"Dia marah!"
Desis Arza, harimau marah begitu membuat si harimau bertambah semakin kuat
Grp
Grp
Grp
Harimau melaju sangat cepat kearah Arza dan akhirnya tangan Arza terkena cakarnya karena dia tak biaa menghindar dari harimau yang cepat.
"Akhhhh"
Arza menahan kepala harimau yang ingin menggigit pundaknya, tapi apa daya kekuatan harimau itu lebih besar daripada Arza dan akhirnya harimau itu berhasil membuat Arza terluka dan lari mengundurkan diri.
Grrrrrrrrr
__ADS_1
Erang harimau bersiap melakukan serangan lagi kearah musuhnya.
Arza memberi isyarat dari jauh kepada Lily, ia menyuruh Lily untuk lari dan tak perlu mengkhawatirkannya tapi Lily terus menggelang memandang Arza dengan air mata. Ia tak mau meninggalkan adiknya yang sedang berjuang dengan maut.