
6 jam sebelumnya.
Lily sekarang berada dirumah sendirian, dia sudah membaca surat dari Chua. Lily benar-benar tak mengerti maksud dari surat itu, ada kata-kata yang kurang dipahami Lily. Tapi intinya Chua telah pergi, ia sendiri lagi. Walau bagitu Lily tak menangis malahan ia bermaksud menyusul Chua disana.
Yahhh walau Lily tak tau dimana kota Black Blood itu berada, yang pasti dia akan pergi! Chua itu! Pergi tak ngajak-ngajak, yang dicari itu kan adiknya Lily bukan adiknya Chua.
"Aaahh Chua ceroboh banget"
"Kalo ada apa-apa gimana?"
"Cuman lo yang tersisa dihidup gue kalo Arza gak ada cha"
Ucap Lily dan mengemasi barang-barangnya. Ia juga membawa senjata tajam untuk jaga-jaga. Begini-begini juga Lily hebat mengendalikan sejata tajam.
Lily menaiki motor gedenya yang dulu pernah ia beli, biar begaye (chua yang suruh). Dan melajukan motornya ke gerbang perbatasan.
Lily sampai di perbatasan, tangannya disuntik dan diambil darahnya. Setelah menunggu 5 menit ia dibolehkan melalui gerbang itu dan Lily melaju dijalan tol yang panjang disertai sisi-sisinya yang berdampingan dengan hutan lebat, belum lagi suasana yang sepi. Ishh tangan Lily mulai gemetaran.
Saat dipertengahan jalan tiba-tiba saja motor yang dia kemudi mogok, saking tiba-tibanya Lily tak bisa menyeimbangkan motor dan malah terjatuh.
"Aw aw aw, aduhhh lagi sial deh gue kayaknya"
Ucap Lily merasakan bokongnya sakit
Lily bangkit dari tengkurapnya dan mendirikan motornya itu lagi, berat! Seharusnya Lily tak membeli motor yang menyusahkan ini!.
Lily meneliti apa yang terjadi dengan motornya, ternyata dia lupa mengisi bensin diperbatasan tadi, belum lagi Lily tak membawa cadangan bensin, padahal Lily sudah mencatat itu diotaknya kalai dia harus membeli bensin.
"Duh Gusti, kenapa sekarang pelupa banget akunya ya?"
Walau masih siang, disini sudah sangat mengerikan. Hutanya kanan kiri sangat lebat, Lily pun tak berani mengepinggirkan motornya ia masih keukueh berada ditengah jalan.
Lily juga tak tau, harus putar balik atau terus saja, padahal tinggal sedikit lagi ia akan menemukan simpangan ke kota Black Blood. Lily tahu itu dari internet, seorang Lily pemuja internet hanya bisa memasrahkan otak tak mendukung itu keinternet yang serba tahu.
Tapi Lily memutuskan untuk lanjut saja, Lily menggiring motornya yang berat itu selama berpuluh-puluh menit. Sialnya tak ada seorangpun yang melalui tol ini, padahal Lily berencana untuk meminta sedikit bensin atau numpang nebeng sampai simpangan. Kalau mau tau, tol ini boleh dilalui oleh semua kendaraan mau itu sepeda atau motor, haha yang mau saja ada orang bersepeda disana.
"Brmm brmmm"
Bunyi sepeda motor gede yang berpapasan dengan motornya Lily.
Pengendara itu berhenti didepan motor Lily, karena Lily juga ada ditengah jalan dan menghalangi dia juga.
Lily merasa senang akhirnya ia bertemu orang selain cuma pohon dan rerumputan semak belukar.
"Ha halo, bisa tolong bantuannya?"
Tanya Lily menatap wajah orang itu yang masih ditutupi oleh helm. Orang itu tak merespon ia hanya turun dari motornya dan mendatangi Lily yang sedang menahan beratnya motor itu.
"Ma maaf, to-"
Ucap Lily terpotong. Orang itu bertanyalebih dahulu.
"Ini kenapa?"
Tanya si orang berhelm.
"Kehabisan bensin"
Jawab Lily. Jantungnya berdegup setelah mendengar suara lelaki itu, Lily tak pernah mendengar suara yang begitu cool, slowly and manly. Baru mendengar suara berat nan rendah beritu saja Lily sudah meleleh, ia harap wajahnya tak mengecewakan. Bergini-begini juga Lily itu cewek normal yang tak terlalu naif saat memilih pasangan. Apalagi akhir-akhir ini Lily sering disuruh chua untuk membaca novel romantis yang membuat Lily jungkir balik saat membacanya.
"Oh, mau kemana?"
__ADS_1
Tanya dia dengan suara gantengnya
"Ke Black Blood"
Ucap Lily. Saking terpesonanya dengan suara itu, ia lupa menyaring kata-katanya. Bagaimana kalau orang ini akan mengira Lily itu mapis, bisa-bisa Lily ditangkap dan dihukum mati nantinya.
"Hemm? Kekota Black Blood?"
Tanya orang itu terus.
"Gak gak gak salah ngomong, maksudnya ke kota Cooper"
Ucap Lily. Kota Black Blood tak jauh dari kota Cooper, dan kota Cooper tak jauh dari kota Glod. Karena itulah Lily memilih jalan tol yang menghubungkan ke kota silver dan Cooper.
"Hem? Yang bener, menurutku kalimat pertama yang diucapkan orang itulah yang benar"
"Ayo jujur, mau ke Cooper atau Black Blood"
Ucapnya main-main
"Emangnya kenapa?"
Tanya Lily
"Biar diantar"
Jawab orang itu
"Oh ho ho, gak perlu bisa sendiri kok, kasih sedikit bensin aja buat aku, ntar aku jalan sendiri aja"
Kenapa harus ikut dia, kalau Lily sendiri punya motor. Mau ditinggal ya motornya kalau Lily ikut dia.
"Kalau dibagi dua bensinnya gak cukup manis"
Ucap orang itu manis. Lily yang mendengar sempat oleng dipanggil manis.
"Tapi motornya?"
Tanya Lily mengkhawatirkan motornya, mana bisa ia meninggalkan motor kelewat mahal ini.
"Dah lah cuman motor itu"
"Cuman!!? Kang sultan, denger ya! Aing beli ini mahal-mahal pake duit tabungan. Enak ae disuruh tinggal"
"Ooo yaudah, jalan kaki aja sambil sambil giring tuh motor"
"Bay manis"
Ucap orang itu menepuk puncak helm yang dipakai Lily.
"Gak mauuu jangan ditinggalin dong, disini serem, ntar kalo ada genderwo nyulik gue gimana? Genderwokan hentai"
Ucap Lily yang memakai bahasa formal lagi. Ternyata orang itu menyebalkan juga.
"Makanya tinggalin aja tuh motor, sini aku anterin kemana kamu mau"
"Aku gak bisa bawa motor kamu juga"
Ucap orang itu lalu melepas helm yang membuat kepalanya pengap.
Lily terpana. Nikmat mana yang engkau dustakan. Melihat wajah paripurna orang itu setelah melepaskan helmnya. Kulitnya agak eksotis tapi juga agak kuning Langsat, hidungnya mancung sedikit merah di ujungnya, warna matanya hitam kubas tapi indah dipandang apalagi saat dia menatap Lily itu sangat intens, belum lagi rambutnya yang basah dan berantkan uww jadi pengen rapiin, trus pinggir jidatnya agak keringetan yang kelihatan tambah cekchi, owhhh bagian terakhir, bibirnya gak dower gak tipis pas banget, warnanya pink oren-oren merah, basah lagi UwU habis diapain bang?.
__ADS_1
Tapi yang sangat disayangkan adalah dia pakai jaket, hedehhh lepaas dong bang Lily pengen liat. Tuh tangan uratnya dah keliatan apa belum?.
"Ganteng"
Gumam Lily
"Hem?"
Kaget orang itu. Gak salah ni dipuji ganteng?
"Makasih"
Ucapnya
"Eh? Kedengaran ya?"
Ucap Lily malu. duhhh Gusti ya ampun!! orangnya senyum habis dibilang ganteng. Ahayy bangeddd, jadi pengen makan odading mang oleh deh.
"Iya kedengaran"
"Nahh jadi?"
Tanya orang itu melanjutkan percakapan sebelumnya.
"Jadi apa?"
Tanya Lily. Jadi? Jadi tuh maksudnya apa sih? Jadi pacar? Baru juga dibilang ganteng dah ngajak pacaran. Tapi gak papa juga sih, itung-itung biar gak jomblo lagi, mayan bisa ngalahin Chua yang katanya punya gebetan alias orang disuka.
"Jadi gak mau ninggalin motornya disini, supaya aku bisa nganterin"
(Yahhh)
"oh ya, IYA jadi kok JADI"
Angguk Lily semangat sampai helm yang dia pakai bergoyang. Tak apa lah meninggalkan motornya asalkan Lily bisa boncengan sama cogan? Lily ikhlas kok.
|
2 jam sebelumnya dari 6 jam sebelumnya wkwkw
Arza dan Ace sekarang sedang mabar padahal masih subuh, mereka bahkan belum mandi. Tapi tak apa, gantengnya mereka membuat bau badan mereka tersamarkan.
"Ahh kalah"
Ucap Ace dan Arza bersamaan. Entah sejak kapan mereka sangat akrab. Ace memperlakukan Arza sangat baik seperti adik sendiri, dan hari ini Ace menjanjikan kalau dia akan membelikan Arza baju, soalnya Arza ke sana cuman membawa tas yang isinya hanya uang saja bukan baju atau barang-barang yang berguna.
Padahal uang disini tidak terlalu penting, barang-barang mewah pun haya sedikit yang dijual disini, karena tak ada mepis yang mau menjadi pedagang, kecuali satu orang, kalian dah tau kan?.
"Dah lah pusing, kalah mulu"
"Gue pergi ya, gue kan udah janji beliin lo baju"
"Lo mau ikut? Biar gak bosen dirumah"
Ace mengabil jaket kulit berwarna hitam yang tergeletak disofa dan memakainya. Bersiap untuk pergi kekota Silver, supaya Azra tak memakai bajunya lagi. Baju Ace sangat besar, Arza yang masih 13 tahun pasti kebesaran memakainya.
"Gak gue disini aja"
"Males kena angin"
Jawab Arza menolak.
__ADS_1
"Yaudah, jan lupa masak"
"Y"