
Setelah dari panti asuhan dan menjelaskan semuanya kepada suster Maria dan anak-anak panti jika dia sudah menemukan tempat yang cocok untuk mereka.
Silvia meminta Dave mengantarnya kekantor Abraham, semula Dave sangat heran, untuk apa nona mudanya pergi kesana?
Tapi dia tidak bertanya karena dia berpikir mungkin ada yang ingin dibicarakan nona mudanya kepada Abraham Achilles mengenai panti asuhan itu.
Apa lagi tempat yang akan Silvia beli nanti harus sedikit di renovasi dan dibangun sebuah gereja, pasti akan memakan waktu juga.
Jadi Dave berpikir nona mudanya ingin meminta waktu kepada Abraham untuk tidak menggusur anak-anak yang berada dipanti asuhan itu sebelum tempat yang akan dia beli nanti selesai di renovasi.
Saat Silvia tiba dikantor Abraham, dia meminta Dave untuk pulang dan tentu dia juga meminta Dave mencari kartu identitasnya dirumah, dia harap kartu itu ada dirumah.
Silvia berjalan kearah resepsionis yang ada dan mengatakan jika dia ingin bertemu dengan Abraham, dia diminta menunggu dibawah dan pada saat itu Jenny sedang mengantarkan segelas kopi untuk karyawan lainnya.
Dia sangat kaget dan kesal saat melihat Silvia disana, kenapa wanita China itu bisa berada disana?
Jenny segera menyembunyikan dirinya, jangan sampai Silvia melihatnya dalam keadaan memalukan kalau tidak dia akan menjadi bahan tertawaan.
Silvia segera menuju lift saat seseorang mengatakan bahwa Abraham sedang menunggunya diruangannya, dia tidak perduli dengan sebuah tatapan yang penuh dengan kebencian terarah kearahnya, dia menyadari hal itu tapi dia tidak perduli karena dia merasa tidak memiliki musuh disana.
Saat sudah tiba Silvia keluar dari lift dan berjalan keruangan Abraham dengan santai, dia bahkan mengetuk pintu ruangan Abraham dengan pelan.
Pintu itu terbuka dan Abraham berdiri dihadapannya dengan senyum menawannya, Silvia hanya membalas senyum Abraham sekilas dan segera masuk kedalam sana.
Abraham melihat wajah Silvia yang tidak bersemangat dengan heran, ada apa? Apa yang telah terjadi dengan Silvia?
Kenapa dia tampak begitu tidak bersemangat? Apa Silvia sedang tidak enak badan? Sungguh dia sangat ingin tahu!
"Hei ada apa denganmu?" Abraham menutup pintu itu kembali dan berjalan mengikuti Silvia.
"Tidak ada apa-apa." jawab Silvia dengan malas.
"Lalu kenapa kau tampak murung seperti ini?"
"Aku tidak murung!" Silvia menjatuhkan dirinya diatas sofa dan meletakkan tasnya disampingnya.
__ADS_1
Pikirannya sedang kacau karena memikirkan kartu identitasnya yang hilang, jika tidak ketemu juga maka dengan terpaksa dia harus menghubungi kakaknya dan pada saat itu dia pasti harus langsung pulang ke Amerika.
"Lalu kanapa kau terlihat tidak bersemangat seperti ini?" Abraham duduk disamping Silvia bahkan memegangi tangannya, dia juga mengusap tangan Silvia dengan lembut sampai membuat Silvia sangat heran.
Silvia melihat tangan Abraham yang berada diatas tangannya, wow, ada apa dengan pria ini?
Kenapa memeganginya seperti ini? Dia segera menarik tangannya dari genggaman tangan Abraham sambil berdehem pelan.
"Hmm.....jangan seperti ini kita tidak sedang pacaran!"
"Oh ya? Bagaimana jika kita pacaran saja?"
Silvia sangat kaget mendengar ucapan Abraham tapi tidak lama kemudian Abraham tertawa melihat ekspresi kaget Silvia.
"Kenapa? Apa kau kira aku serius?" tanya Abraham disela tawanya.
Silvia tampak kesal, dia sedang memikirkan kartu identitasnya yang hilang tapi sekarang Abraham malah menggodanya? Ini sungguh tidak lucu.
Silvia bangkit berdiri dan menatap Abraham dengan tajam, dia sedang tidak dalam mood bercanda saat ini.
"Jika kau hanya ingin menggodaku jadi lebih baik aku pulang saja!"
Abraham bangkit berdiri dan memegangi tangannya, padahal dia hanya bercanda saja tapi dia tidak menyangka Silvia akan marah.
Mungkin dia sudah kelewatan karena dilihat bagaimanapun Silvia terlihat sedang tidak bersemangat.
"Oke maafkan aku, aku hanya menggodamu."
Silvia menghembuskan nafasnya dengan berat, kenapa dia jadi marah seperti ini? Padahal dia tahu, Abraham hanya bercanda dengan ucapannya.
Dia segera duduk kembali dan berusaha tersenyum sedangkan Abraham juga duduk disampingnya kembali.
"Sudahlah maafkan aku, aku terlalu berlebihan. Apa kita jadi pergi berbelanja? Jangan membuat ibumu lama menunggu."
"Tentu saja jadi, ayo kita pergi!"
__ADS_1
Abraham bangkit berdiri dan memegangi tangan Silvia, mereka keluar dari ruangan itu sambil berpegangan tangan.
Silvia sangat ingin menarik tangannya dari genggaman tangan Abraham tapi Abraham menggenggam tangannya dengan erat.
Silvia sungguh heran, apa Abraham sadar apa yang sedang dia lakukan? Mereka tidak sedang pacaran tapi sekarang mereka terlihat seperti sepasang kekasih dan dia merasa tidak nyaman dengan hal itu.
"Abraham, tolong lepaskan tanganku!" pinta Silvia saat mereka sudah berada didalam lift.
"Kenapa? Apa kau tidak suka aku mememangi tanganmu?"
"Tidak, bukan begitu."
"Kalau begitu biarkan aku memegangi tanganmu dan asal kau ingat saja, kedua tanganmu sudah menjadi milikku dan kau sendiri yang memberikannya padaku!"
"Iya aku tahu, tangan ini sudah jadi milikmu!" jawab Silvia kesal.
Abraham menyunggingkan bibirnya tersenyum penuh kemenangan, dia semakin menggenggam tangan Silvia dengan erat, tangan yang sudah menjadi miliknya.
Rasanya tidak ingin dia lepaskan dan rasanya dia ingin mengatakan kepada semua orang jika tangan yang berada didalam genggamannya saat ini adalah tangan miliknya dan jangan pernah ada orang yang berani memegangi tangan miliknya jika tidak akan dia habisi orang itu tanpa ampun.
Silvia membiarkan Abraham memegangi tangannya, dia akan mengijinkan Abraham memiliki kedua tangannya selama dia berada di Sydney, Abraham tampak senang dan rasanya dia ingin memeluk pinggang Silvia.
Senyum terus menghiasi wajahnya bahkan sampai mereka keluar dari lift dan berjalan bersama, dalam sekejap mata mereka menjadi pusat perhatian oleh para karyawan Abraham.
Seorang pria yang terkenal sangat mencintai kebersihan dan mengidap Mysophobia sedang memegangi tangan seorang wanita dan mereka tampak begitu mesra, mereka sangat yakin wanita itu pasti sangat istimewa bagi seorang Abraham Achilles.
Ini akan menjadi gosip hangat bagi para karyawan yang ada disana, hal itu tidak jauh berbeda dengan seorang karyawan baru yang sedang belajar disana.
Jenny melihat Silvia dengan tatapan penuh dengan kebencian dan rasanya dia sangat ingin menerkam Silvia dan memukul wanita itu sampai babak belur.
Beraninya wanita China itu datang kesana untuk memanasi dirinya!! Rasanya kepalanya sudah hampir mengeluarkan asap seperi cerobong asap kereta api!
Sepertinya dia harus mencari cara lain supaya dia bisa mendapatkan Abraham dengan cepat, misalnya dengan obat perangsang?
Oh sepertinya ini ide yang hebat, akan dia lakukan nanti dan lihat saja dia pasti akan mendapatkan Abraham dan menjadikan pria itu miliknya, hanya miliknya!
__ADS_1
Jenny memutar langkahnya dengan senyum licik mengembang diwajahnya, dia akan segera melakukan rencananya dan mencari kesempatan yang tepat untuk memberikan obat itu pada Abraham.
#NB OBAT PERANGSANG LAGI LARISπππ#