
Saat pagi, Silvia kembali kerumahnya setelah dia melakukan kegiatan lari pagi yang biasa dia lakukan.
Sambil menyeka keringat yang mengalir didahinya dengan sebuah handuk kecil, Silvia menarik sebuah kursi dan duduk disana.
"Selamat pagi nona." Dave meletakkan segelas minuman diatas meja.
"Pagi Dave." Silvia mengambil minuman itu dan menyeruputnya sedangkan Dave meletakkan sarapan untuknya.
"Dave, apa kau menemukan kartu identitasku?" tanyanya.
"Maaf nona, aku tidak menemukannya."
Silvia menarik nafasnya dengan berat, jatuh kemana kartu identitasnya? Dia mulai mengingat-ingat, kemana saja dia pergi selama dia beradakua di Sydney?
Apa jatuh dipanti asuhan saat dia menulis cek? Atau jatuh direstoran saat dia membayar makanan?
Jika jatuh dipanti asuhan pasti suster Maria akan mengembalikan kepadanya tapi jika direstoran? Itu tidak mungkin terjadi karena dia tidak seceroboh itu. Lalu kemana kartu identitasnya?
"Dave."
"Ya nona."
"Sepertinya aku harus kembali ke Amerika dan bisakah kau membantuku?"
"Tentu nona, katakan padaku. Aku pasti akan membantu nona."
"Dave, beberapa hari lagi aku akan membayar tempat yang aku lihat kemarin, tapi kau tahu kartu identitasku hilang. Aku tidak bisa membeli tempat itu jika tidak punya kartu identitas jadi maukah kau mewakili aku untuk membeli tempat itu?"
"Tentu nona aku pasti akan mewakili nona,nona tidak perlu khawatir, aku akan Mencari seorang pengacara untuk membuat surat jika aku hanya mewakilkan nona saja."
Silvia meletakkan gelasnya dan tersenyum, Dave tidak perlu melakukan hal itu kerena dia percaya pada Dave apalagi Dave telah melayani keluarganya sejak jaman neneknya masih hidup.
Dia yakin Dave pasti tidak akan berhianat apalagi hanya untuk sebuah tempat.
"Kau tidak perlu melakukan hal itu Dave, aku percaya padamu."
"Terima kasih nona." Dave membungkuk dengan hormat dan setelah itu dia melangkah pergi.
Setelah menghabiskan minumannya, Silvia segera bangkit berdiri. Sebaiknya dia segera mandi dan setelah itu dia mau menyiapkan makanan.
Abraham bilang dia mau datang malam ini jadi dia mau membuat makan malam untuk menjamu Abraham nanti.
Sebelum Silvia melangkah pergi, Dave menghampirinya dan berkata:
"Nona, Jimy ingin bertemu dengan anda."
"Jimy? Mana dia?"
"Sedang menunggu anda diluar."
__ADS_1
"Terima kasih Dave." dia segera berjalan keluar untuk menemui Jimy.
Diluar sana tampak Jimy sedang menunggunya, saat melihatnya Jimy langsung tersenyum.
"Hai Jimy, ada apa pagi-pagi mencariku?" tanya Silvia basa basi.
"Maaf, apa aku mengganggumu?"
"Tidak Jimy, ada apa?"
"Aku hanya ingin memberimu makanan."
Jimy memberikan makanan yang dia bawa kepada Silvia, hal itu membuat Silvia merasa tidak enak hati karena Jimy selalu memberinya makanan.
Sepertinya dia harus membalas kebaikan Jimy, mungkin tidak ada salahnya mengajak Jimy makan malam bersama dengannya dan Abraham nanti.
"Terima kasih Jimy, kau sangat baik." ujar Silvia sambil mengambil makanan yang diberikan oleh Jimy.
"Jangan sungkan Silvia, bukankah kita teman?"
"Kau benar, jadi bagaimana jika nanti malam kau datang lagi kemari? Kita bisa makan malam bersama." ajaknya
"Wah, apa tidak apa-apa?" Jimy tampak begitu senang.
"Tidak, kau selalu memberikan aku makanan jadi anggap aku sedang membalas budi."
"Tidak apa-apa Jimy, nanti malam datanglah untuk makan malam denganku."
"Baiklah, jika begitu aku akan datang lagi nanti malam dan jangan lupa makan itu."
"Thanks, aku tunggu." jawab Silvia sambil tersenyum.
Setelah Jimy pergi, Silvia segera masuk kedalam dengan makanan yang diberikan oleh Jimy. Dia meletakkan makanan itu keatas meja dan setelah itu Silvia berjalan kearah kamarnya.
Dia ingin segera mandi dan tentu saja ingin segera menyiapkan makanan untuk menjamu Jimy dan Abraham nanti malam.
Ini memang masih pagi tapi rasanya dia sudah tidak sabar untuk menyiapkan makanan dan dia tampak sudah tidak sabar, dia ingin saat para tamunya datang, makanan sudah terhidang diatas meja.
Dikepalanya mulai memikirkan makanan apa saja yang akan dia buat dan yang pastinya sebagai tuan rumah, dia akan membuat makanan yang enak supaya tamunya nanti puas.
Sementara itu Abraham baru tiba dikantornya, dia sangat tidak sabar supaya malam cepat datang tapi sebelum itu dia harus menandatangani beberapa dokumen penting dan menyelesaikan pekerjaan terlebih dahulu.
Mungkin nanti dia harus membeli seikat bunga dan sebotol anggur untuk Silvia, rasanya ini bukan ide yang buruk. Dia akan memerintahkah Nick utuk menyiapkan semuanya nanti.
Abraham masuk kedalam ruangannya sedangkan Nick mengikutinya dari belakang,dia harus selalu siap menerima perintah dari bosnya
Abraham menarik kursinya dan duduk disana, dia mulai mengambil dokument yang ada diatas meja dan melihatnya.
"Nick, pergi belikan sebotol angur terbaik dan seikat bunga." perintahnya.
__ADS_1
"Baik bos, bunga apa yang kau inginkan?"
Abraham tampak berpikir, bunga apa? Dia belum pernah memberikan bunga pada seorang wanita dan dia juga tidak tahu, bunga apa yang disukai oleh Silvia?
"Hmm....beli saja bunga yang paling disukai wanita." ujarnya.
"Mawar merah?" tanya Nick lagi.
"Ya itu juga boleh."
"Baiklah aku akan segera membelinya."
Nick hendak keluar dari sana tapi Abraham kembali berkata:
"Siapkan segelas kopi untukku."
"Baik bos."
Nick keluar dari ruangan bosnya dan segera mencari seseorang untuk menyiapkan segelas kopi untuk bosnya, pada saat dia melihat Jenny sedang membuat kopi, Nick segera menghampiri Jenny.
"Hei kau karyawan baru."
"Ada apa?" Jenny bertanya dengan ketus.
"Segera siapkan segelas kopi dan antarkan keruangan bos, ingat harus gunakan gelas yang bersih karena bos tidak mau minum jika gelasnya terlihat kotor."
Saat mendengarnya Jenny langsung tersenyum dengan licik, jadi Abraham ingin segelas kopi?
Oh ini sebuah keberuntungan untuknya dan lihatlah, tanpa bersusah payah dia akan menjebak Abraham dan dia yakin Abraham akan menjadi miliknya.
Dia juga sudah menyiapkan obatnya dan inilah kesempatan yang sangat bagus untuknya.
"Baik, aku akan segera membuatnya dan akan segera membawanya keruangan bos." jawab Jenny degan senyum diwajahnya.
"Bagus, segeralah karena bos tidak suka menunggu."
Jenny menggangguk dan segera mengambil sebuah gelas sedangkan Nick segera pergi untuk membeli sebotol anggur dan seikat bunga yang diinginkan olah bosnya.
Jenny membersihkan gelas yang hendak dia gunakan dengan baik supaya nanti Abraham meminum kopi yang dibuatnya.
Dia juga melihat sekelilingnya apakah ada orang? Jangan sampai ada yang melihat aksinya saat dia menasukkan obat perangsang kedalam kopi yang dia buat.
Jangan sampai rencananya gagal hanya kerena dilihat oleh seseorang.
Setelah merasa aman Jenny memasukkan obat itu dengan cepat,dia juga mengaduk kopi itu dengan cepat.
Jenny tersenyum dengan liciknya dan berkata dalam hati:
"Abraham, kali ini kau pasti jadi milikku!"
__ADS_1