
Silvia sedang duduk disebuah sofa panjang sambil membaca sebuah majalah sedangkan Abraham sedang memijit kakinya dengan pelan.
Semenjak Silvia hamil dia jarang pergi kekantor dan lebih banyak menghabiskan waktu dirumah untuk menemani istrinya.
Dia tidak mau Silvia keluar dari rumah apalagi dicuaca yang masih panas, dia takut Silvia pingsan ditengah jalan dan dia juga tidak mau membuat Silvia kesepian dirumah jadi dia akan berusaha untuk selalu berada dirumah untuk menemani istrinya.
Silvia melihat kearah suaminya dengan kesal, entah kenapa suasana hatinya begitu buruk hari ini dan jujur dia benci saat melihat wajah suaminya.
Rasanya dia ingin pergi yang jauh dan tidak mau bertemu dengan suaminya terlebih dahulu.
"Abraham aku ingin pulang." pintanya tiba-tiba.
Abraham sangat kaget, dia langsung menghentikan pijitannya dan duduk disamping istrinya.
"Kenapa sayang?"
"Aku mau pulang ke Amerika sekarang!"
"Wow kenapa tiba-tiba ingin pulang dan kenapa begitu buru-buru?"
"Aku benci padamu!"
Abraham terbelalak kaget, kenapa Silvia membencinya? Apa dia telah melakukan kesalahan?
"Sayang,apa aku telah melakukan kesalahan? Apa kau marah padaku?" tanyanya dengan lembut.
"Tidak, kau tidak melakukan kesalahan apapun dan aku tidak marah padamu."
"Lalu? Kenapa tiba-tiba ingin pulang dan berkata kau membenciku?"
"Entahlah, tapi aku benci melihatmu!rasanya aku tidak mau melihat wajahmu dan dekat denganmu!"
"Wow, sayang, kenapa begitu jahat?"
"Aku tidak tahu pokoknya aku mau pulang!"
Silvia bangkit berdiri dan berlalu pergi sedangkan Abraham melihat kepergian istrinya dengan penuh tanda tanya dihatinya, apa yang harus dia lakukan?
Dia segera bangkit berdiri dan berlari untuk mengejar istrinya, jangan sampai istrinya pulang ke Amerika.
Didalam kamarnya Silvia sedang mengambil kopernya karena dia benar-benar ingin kembali ke Amerika, dia benar-benar ingin menjauh dari suaminya untuk sementara waktu.
Abraham langsung mendekati istrinya dan memelukinya dari belakang, dia akan mencegah istrinya supaya tidak kembali ke Amerika.
"Silvia sayang, jangan pulang ke Amerika please, jangan tinggalkan aku." pintanya memohon.
Silvia menghembuskan nafasnya dengan berat, dia juga tidak mau tapi jujur dia benci dengan suaminya saat ini. Apakah ini karena anak yang sedang dikandungnya?
"Maaf Abraham, aku tidak tahu kenapa aku seperti ini, maafkan aku."
"Sayang jika aku memang membuat kesalahan maka maafkan aku tapi jangan tinggalkan aku dan kembali ke Amerika."
Silvia kembali menghembuskan nafasnya dengan berat, sekarang dia benar-benar merasa bersalah karena tiba-tiba membenci suaminya.
"Baiklah, aku tidak akan kembali ke Amerika."
"Benarkah?" Abraham langsung tampak senang dan menciumi pipi Silvia dari belakang.
"Ya, tapi untuk sementara waktu aku akan pulang kerumah nenekku."
"Berapa lama sayang?" Abraham masih merasa berat tapi ini lebih baik dari pada Silvia kembali ke Amerika.
__ADS_1
"Dua minggu."
"Oh sayang jangan lama-lama, aku tidak tahan berjauhan darimu."
"Satu bulan?"
"Kenapa semakin lama?"
Abraham tampak kesal sedangkan Silvia tertawa, dia juga berharap perasaan benci yang dia rasakan bisa cepat hilang.
"Maafkan aku Abraham, sepertinya ini gara-gara sijunior."
"Tidak apa-apa sayang, aku mengerti, nanti aku antar ya?"
"Tidak boleh, aku ingin pergi sendiri tanpa kau antar."
"Kenapa?"
"Entahlah, aku maunya seperti itu."
"Oh ya ampun, jangan katakan jika ini juga permintaan si junior." ujar Abraham frustasi.
"Maafkan aku."
"Sudahlah."
Abraham melepaskan pelukannya dan memutar tubuh istrinya tapi dia kembali memeluki Silvia dengan erat, jujur dia merasa berat ditinggalkan oleh istrinya apalagi ini pertama kalinya Silvia meninggalkannya sejak mereka menikah.
Rasanya dia tidak ingin melepaskan pelukannya tapi Silvia memintanya untuk melepaskannya Karena dia ingin segera pergi.
Dengan berat hati Abraham melepaskan istrinya dan melihat Silvia mengambil beberapa bajunya untuk dia bawa.
"Silvia sayang?"
"Kau benar-benar ingin meninggalkan aku?"
"Ya, kecuali kau mau memakai topeng setiap hari maka aku tidak akan pergi."
"Oh sayang, memangnya ada yang salah dengan wajahku?"
"Tidak ada, tapi si junior tidak mau dekat-dekat denganmu dan aku benci melihat wajahmu."
"Oh ya ampun." Abraham benar-benar frustasi.
Apa ini permintaan wanita yang sedang hamil? Lebih baik dia melakukan sesuatu dari pada harus berjauhan dengan istrinya.
"Jika begitu aku akan memakai topeng."
"Benarkah?"
"Benar, aku akan memakainya asal kau tidak pergi meninggalkan aku."
Silvia tersenyum dan mengambil tasnya.
"Sekarang aku pergi dulu tapi jika kau sudah membeli topengnya maka jemput aku, aku akan pulang."
"Oh ya Tuhan, topeng apa?"
Silvia tampak berpikir sejenak tapi kemudian dia tersenyum.
"Terserah padamu model celana dalam, tapi aku ingin kau memakai topeng itu tanpa baju, pakai celana dalam saja."
__ADS_1
"What? Hei!!" Abraham tidak percaya mendengarnya.
"Mau tidak?"
"Ck, oke baiklah, aku akan beli tapi kau jangan pergi dan tunggu disini!"
"Oke." jawab Silvia sambil tertawa.
Kekesalannya jadi hilang dan berubah menjadi sebuah ketidak sabaran, dia jadi ingin melihat suaminya memakai sebuah topeng dengan menggunakan celana dalam saja.
Abraham Segera mengambil ponselnya, dia ingin meminta Nick mencarikan Sebuah topeng untuknya, terserah topeng apa yang penting Silvia tidak pergi meninggalkannya.
Setelah mendapat perintah tentu Nick langsung mencari apa yang diminta oleh bosnya, walaupun dia merasa heran tapi dia tidak berani bertanya, dia takut jika dia membuat kesalahan lagi dan dia akan dipecat.
Tidak lama kemudian Nick datang dengan sebuah topeng yang diminta oleh bosnya, setelah mengambil barangnya Abraham langsung mengusir Nick dan masuk kedalam kamarnya dimana Silvia sudah menunggunya dengan tidak sabar.
"Apa kau sudah punya topengnya?" tanya Silvia saat melihat suaminya masuk kedalam kamar mereka dengan sebuah paper bag ditangannya.
"Sudah."
"Ayo cepat pakai dan lepaskan bajumu!" pinta Silvia dengan tidak sabar.
"Ya ampun, kau benar-benar tidak sabar."
Abraham meletakkan paper bag yang dia bawa diatas ranjang untuk mengeluarkan isinya, tapi pada saat itu matanya terbelalak kaget melihat topeng yang dibeli oleh Nick.
"Apa ini?" tanyanya sambil melihat topeng itu.
"Kenapa?" Silvia menghampiri suaminya karena dia penasaran tapi setelah melihat topeng yang berada ditangan suaminya dia langsung tertawa terbahak-bahak.
"Ayo sayang cepat pakai, aku menunggu."
"Oh my God, tapi topeng apa ini?" Abraham melihat topeng berwajah manusia dan berwarna hijau yang terlihat menyeramkan.
"Itu topeng Hulk!"
"Hulk, apa?"
"Ha...ha...ha...ha.! Nick sangat pintar, kebetulan Hulk tidak pakai baju ayo cepat." pinta Silvia dengan tidak sabar.
"Ya ampun Nick, kenapa tidak beli yang lain!" ujar Abraham frustasi.
"Ayo..aku menunggu, jika tidak mau tidak apa-apa, aku akan pergi selama dua minggu."
"Oh sialan, topeng sialan!" maki Abraham kesal.
Silvia hanya tertawa sedangkan Abraham mulai membuka bajunya, dia akan melakukan apapun asal Silvia tidak meninggalkannya.
Setelah semua bajunya terbuka dan menyisakan celana dalam saja dia langsung memakai topeng berwarna hijau yang menyeramkan itu.
Silvia tertawa dan mendekati suaminya, sekarang dia merasa puas dan tidak benci lagi sedangkan Abraham menggerutu kesal dan bertanya dalam hati, bagaimana penampilannya saat ini?
"Oh kau Hulk yang sangat seksi." puji Silvia.
"Sudah bukan, jadi jangan pergi."
"Tentu saja tapi kau harus seperti itu sampai malam."
"What? Tapi sayang?"
"Tidak mau?"
__ADS_1
Abraham menghembuskan nafasnya dengan berat dan mengangguk, sampai malam saja bukan? Supaya istrinya tidak pergi dia akan menjadi model celana dalam dengan topeng Hulk.
Yang pastinya dia harus bertahan sampai malam dan Silvia tampak senang.