
Waktu sudah menunjukkan pukul 11 dan sebentar lagi sudah waktunya makan siang. Silvia sedang menyiapkan makanan dan memasukkannya kedalam tempat karena dia ingin pergi kekantor Abraham dan mengajak suaminya makan siang.
Ini sudah jadi kebiasaannya semenjak dia menikah dan tinggal di Australia, dia menyibukkan dirinya dengan membuat makanan dan membawa makanan untuk suaminya karena dia bosan sendirian dirumah.
Setelah selesai Silvia masuk kedalam kamarnya untuk bersiap-siap, rumahnya begitu sepi dan dia jadi rindu dengan Edward dan Jacob.
Jika ada anak-anak mungkin dia tidak akan kesepian lagi dirumah, dia akan punya kegiatan nanti dan tidak akan merasa bosan seperti ini.
Selama dia mengganti bajunya, Silvia mengelus perutnya,entah kapan dia bisa hamil dan dia sudah sangat mengharapkannya.
"Ck sudahlah, cepat atau lambat aku pasti hamil." ucapnya pada diri sendiri.
Setelah selesai dia segera keluar dari kamarnya dan berjalan menuju dapur untuk mengambil makanan yang sudah dia siapkan.
Lebih baik dia segera pergi kekantor suaminya dari pada sendirian dirumah, mungkin nanti dia akan mengajak suaminya pergi makan malam bersama dengan ibu mertuanya.
Saat diluar sana,Silvia memegangi kepalanya yang tiba-tiba pusing sambil mengerutu kesal.
"Oh aku benci cuaca di Australia!"
Dia segera masuk kedalam mobilnya dan meminta supir pribadi yang disiapkan oleh Abraham untuk mengantarnya kekantor suaminya.
Tidak butuh waktu lama dia sudah tiba dikantor suaminya, lagi-lagi kepalanya terasa pusing saat dia turun dari mobilnya dan lagi-lagi dia menyalahkan cuaca panas di Australia.
Silvia masuk kedalam kantor suaminya dengan cepat, dia benar-benar tidak tahan berada diluar sana.
Dia bahkan sudah tidak sabar untuk tiba didalam ruangan Abraham hanya untuk sekedar duduk.
Setelah tiba tanpa mengetuk lagi Silvia segera masuk kedalam sana, saat melihat kedatangan istrinya Abraham tersenyum dan tampak senang.
"Abraham aku datang."
"Sayang, kenapa tidak mengabariku jika ingin datang?" Abraham bangkit berdiri dan menghampiri Silvia yang sudah berjalan menuju sofa.
"Aku datang setiap hari buat apa aku mengabarimu lagi?"
Abraham terkekeh dan duduk disamping Silvia, sedangkan Silvia langsung bersandar pada bahunya.
"Aku tidak suka tinggal disini." keluhnya.
"Hei, kenapa?"
"Aku lebih suka di Amerika dari pada disini!"
"Ini karena kau belum terbiasa sayang."
"Cuaca disini panas Abraham dan aku tidak suka, kepalaku sakit jika keluar dari rumah."
"Jika begitu diam saja dirumah jangan pergi kemana-mana."
"Tidak mau, aku bosan sendirian dirumah."
Abraham tersenyum dan mengusap kepala Silvia dengan lembut, dia sangat ingin menemani Silvia tapi dia tidak bisa karena pekerjaannya.
"Jadi apa kau sakit kepala sekarang?"
"Hmm." jawab Silvia sambil mengangguk.
__ADS_1
"Baiklah." Abraham bangkit berdiri.
"Mau kemana?" tanya Silvia heran.
"Ayo keruangan pribadiku." Abraham menggendong Silvia dan membawanya masuk kedalam ruang pribadinya.
"Hei aku membawa makan siang untukmu."
"Nanti saja sayang, aku belum lapar."
"Tapi nanti jadi dingin."
"Tidak apa-apa."
Silvia tersenyum dan memeluk leher suaminya dengan erat, mereka masuk kedalam ruangan itu dan Abraham membawa istrinya kearah ranjang.
Abraham meletakkan Silvia diatas ranjang dan duduk disampingnya.
"Jika kepalamu sakit sebaiknya jangan datang kemari, kau bisa menghubungi aku dan aku akan segera pulang." ucapnya sambil memijit kaki Silvia.
"Tidak apa-apa Abraham, aku hanya bosan dirumah karena aku tidak punya teman."
"Maafkan aku sayang karena aku harus meninggalkanmu sendirian dirumah."
"Ck, apa yang kau katakan!"
Abraham tersenyum dan terus memijit lengan istrinya sedangkan Silvia menarik nafasnya, kapan mereka akan punya anak?
"Abraham kapan kita bisa punya anak?" tiba-tiba pertanyaan ini terucap dari bibirnya.
"Astaga, kita baru menikah sayang." Abraham Segera mendekati Silvia dan memeluknya.
"Silvia sayang, baru tiga bulan bukan? Bersabarlah sayang, kita pasti akan segera punya anak."
"Aku tahu, tapi aku sudah tidak sabar. Kau tahu bukan aku sangat suka anak-anak dan rasanya aku sudah tidak sabar untuk segera punya anak agar aku tidak bosan dirumah."
Silvia melingkarkan tangannya kepinggang Abraham dan memeluk suaminya dengan erat sedangkan Abraham mengusap kepala istrinya dengan lembut.
"Abraham."
"Hmm?"
"Jika aku hamil dan melahirkan nanti dan badanku ini jadi gemuk juga jelek, apakah kau akan tetap mencintaiku?" Silvia mengangkat kepalanya dan menatap suaminya dengan lekat.
Abraham terseyum dan mengecup bibir Silvia dengan lembut, cintanya untuk Silvia tidak akan berubah sampai kapanpun juga.
"Tentu saja tidak sayang, aku akan selalu mencintaimu sampai kapanpun juga."
"Terima kasih abraham, bagaimana jika nanti sore kita mengunjungi mommy."
"Boleh, aku juga ingin melihat keadaannya."
Silvia kembali memeluki suaminya dengan erat sedangkan kebahagiaan terpancar dari Wajahnya.
"Sudah tidak sedih lagi bukan?"
"Hmm." jawab Silvia sambil mengangguk.
__ADS_1
"Tidak perlu khawatir sayang, sebentar lagi kau pasti hamil dan kita akan berusaha setiap hari."
"Sekarang?" Silvia menatap suaminya kembali.
"Ah hei, apa maksudmu?"
"Mumpung ada ranjang."
"Oh my kau, tapi ini dikantor sayang."
"Kenapa? Tidak mau?"
"Tidak menolak!"
Tanpa menunggu lagi Abraham segera menciumi bibir istrinya dan me**matnya dengan lembut, Silvia membalas ciuman suaminya sedangkan tangan mereka sudah begerilya menyentuh sana sini.
Erangan mulai terdengar dari bibir mereka dan dalam sekejap mata saja, baju mereka sudah terlepas dan terlempar diatas lantai.
Silvia membiarkan Abraham melakukan apapun yang suaminya mau, dia bukan wanita munafik dan jujur dia sangat suka dengan sentuhan bibir, lidah dan jari jemari suaminya yang terus membuatnya mengerang karena nikmat.
Tubuhnya bergetar hebat saat lidah suaminya bermain disana, dia terus mengerang dibalik nafasnya yang sudah memburu.
"Nggh, Ab...raham!" Silvia meremas rambut suaminya dan rasanya dia ingin lebih dan lebih.
Abraham menghentikan aksinya dan tersenyum, dia menciumi bibir istrinya dan berbisik.
"Sekarang?"
Silvia melingkarkan tangannya dileher suaminya dan mengangguk, pada saat itu Abraham membuka kedua kakinya dan menancapkan belalainya didalam sana.
"Oh Abraham."
Abraham mulai menggerakkan tubuhnya sedangkan Silvia terus mendesah dibawahnya.
"Faster Abraham, please." pintanya memohon.
"Oh Silvia kau begitu menggairahkan."
Abraham semakin memacu tubuhnya dengan cepat dan cepat, nafas mereka berdua semakin memburu dan memenuhi ruangan itu.
Mereka terus menikmati permainan mereka dan berganti posisi, Silvia mencengkram sprei dengan erat saat Abraham memacu tubuhnya dengan cepat dibelakangnya.
"Abraham, aku..aku sudah?"
"Aku tahu."
Dengan cepat Abraham menghentakkan tubuhnya dan pada saat itu mereka berdua mengerang bersama-sama saat mencapai puncak kenikmatan.
Silvia mengatur nafasnya begitu juga dengan Abraham, mereka berdua berpelukan diatas ranjang sedangkan Abraham mengelus perut istrinya dan berkata:
"Semoga kau bisa cepat hamil sayang."
"Hmm ya, aku juga harap begitu jadi kau harus rajin menabur".
"Pasti." jawab Abraham sambil terkekeh.
Mereka berpelukan dan mereka berharap semoga mereka bisa secepatnya diberikan seorang anak.
__ADS_1
#La..la..la..la..la...💃💃💃💃💃ðŸ¤ðŸ¤#