
Dirumah Ellen Smith, rumah yang telah lama sepi semenjak kematian Ellen Smith kini tampak ramai kembali dan terdengar suara anak kecil didalamnya.
Saat itu Michael Smith membawa keluarganya kembali ke Australia, tentu untuk menjenguk putri mereka yang baru saja melahirkan.
Sudah satu bulan lebih Silvia melahirkan dan mereka baru punya waktu untuk mengunjunginya.
Michael dan keluarganya sedang berada dirumah lama ibunya dan disana banyak kenangan akan masa kecilnya.
Saat mereka datang Dave tampak begitu senang, ini kepulangan yang pertama kali bagi Michael sejak ibunya meninggal.
Michael sedang berdiri dibelakang rumah ibunya dan memandangi taman bunga yang selalu ibunya rawat sedari dulu, taman itu bahkan masih terawat dengan baik sampai sekarang dan semua yang ada disana bunga kesukaan ibunya.
Sudah lama memang dia tidak kembali, sudah 30 puluh tahun berlalu sejak kematian ibunya dan baru kali ini dia kembali, rasanya berat baginya saat mengingat ibunya selalu menikmati teh dan memandangi bunga kesukaannya disana setiap pagi.
Setelah ini dia mau pergi mengajak istrinya untuk mengunjungi makam ibunya, sudah lama juga dia tidak pergi kesana.
Xiau Yu berjalan menghampiri suaminya dan berdiri disamping suaminya.
"Michael, apa yang kau pikirkan?"
"Oh aku hanya teringat dengan mommy."
"Mommy pasti sudah bahagia disana Michael dan maafkan aku, demi melindungiku mommy jadi?"
"Lupakan sayang, itu sudah tiga puluh tahun berlalu, jika ibu tidak berkorban untukmu mungkin aku tidak bisa memiliki kau, Jhon dan Silvia."
(Yang gak ngerti baca di Love letter)
Xiau Yu tersenyum dan melingkarkan tangannya dipinggang suaminya, benar, jika dia mati saat itu mungkin Jhon dan Silvia tidak akan pernah ada.
"Michael, anak-anak kita sudah besar jadi jika kau ingin tinggal disini maka aku akan mengikutimu."
"Tidak sayang, kita akan tinggal di Amerika sampai seumur hidup kita."
"Jika begitu ayo masuk, mungkin Silvia sebentar lagi akan datang dengan suaminya."
"Hei kenapa tidak kita saja yang pergi ketempat mereka?"
"Silvia bilang tidak perlu karena dia ingin mengunjungi panti asuhan."
"Panti asuhan."
"Ya." jawab Xiau Yu, dia segera mengajak suaminya masuk kedalam untuk menunggu putri mereka.
__ADS_1
Saat itu memang Silvia sedang mengunjungi panti asuhan bersama dengan suaminya, dia mampir kesana sebentar untuk memberikan donasi pada panti asuhan itu.
Saat dia tiba, dia disambut oleh anak-anak panti dan para suster disana, tempat yang dia beli sudah direnovasi sehingga layak untuk para anak-anak yang ada disana.
Bahkan dilahan kosong yang ada disamping panti asuhan, dibangun sebuah gereja kecil sesuai keinginannya dan semua itu Abraham yang mengerjakannya.
Sekarang anak-anak tidak takut lagi saat melihat kedatangan Abraham, tidak seperti dulu pertama kali dia datang, semua anak takut padanya dan bersembunyi dibalik pintu.
Sekarang para anak panti sudah berani mendekatinya bahkan menyapanya, sifat arogannya sudah hilang entah kemana bahkan dia juga sudah berani mengusap kepala anak-anak panti yang ada disekitarnya.
Seperti saat ini, Abraham dikelilingi Oleh anak-anak dan mereka tampak sedang membicarakan sesuatu sambil menikmati Pizza yang dia beli untuk anak-anak yang ada disana.
Silvia tersenyum melihat suaminya yang telah berubah drastis, penyakit OCDnya juga mulai hilang dan sifat kasarnya juga sudah tidak ada.
Ini perkembangan yang sangat bagus dan dia tidak menyesal telah menikah dengen Abraham, walaupun diawal pertemuan mereka dipenuhi dengan pertengkaran tapi siapa yang menyangka jika mereka berjodoh.
Suster Maria menghampiri Silvia yang sedang menggendong putranya, dia sedang duduk disebuah sofa dan suster Maria duduk disampingnya.
"Nona Silvia, kau baru saja melahirkan, kenapa kau datang?"
"Oh suster, aku hanya mampir sebentar karena aku ingin pulang kerumah keluargaku."
"Apa ada hal penting?"
"Sesuai janjiku suster, aku akan tetap memberikan donasi setiap bulan, maaf aku tidak datang beberapa bulan ini."
"Suster, bagaimana dengan tempat ini, apa kalian merasa nyaman?"
"Tentu saja, tempat ini jauh labih baik dari pada yang dulu, para donatur juga lebih banyak. Apalagi gereja yang sedang dibangun sudah hampir jadi, tempat ini akan menjadi tempat yang jauh lebih baik untuk anak-anak."
"Aku sangat senang mendengarnya suster, aku harap anak-anak disini selalu senang dan betah ditempat ini."
"Terima kasih nona Silvia, ini semua berkatmu dan berkat tuan Abraham, sekarang aku lihat dia sudah banyak berubah tidak seperti dulu lagi."
"Suster benar, aku sangat senang dia tidak berbuat kasar pada anak-anak lagi."
"Ini berkat nona Silvia, aku yakin tuan Abraham berubah berkat cinta yang diberikan oleh nona Silvia."
"Benarkah?"
Suster Maria mengangguk dan tersenyum, dia memandang kearah Abraham dan dia percaya cinta dapat merubah sifat arogan juga sifat jahat seseorang menjadi lebih baik.
Silvia juga menatap suaminya dengan senyum diwajahnya, dia juga tidak menyangka jika sifat suaminya bisa berubah seperti itu dan hal ini adalah hal yang sangat baik.
__ADS_1
Abraham bangkit berdiri dan berjalan mendekati istrinya yang tersenyum kearahnya.
"Sayang, apa belum selesai?"
"Hmm ya, tolong kau ambilkan cek didalam tasku." pintanya.
"Tidak perlu sayang, aku sudah menyiapkannya."
Abraham mengambil dompetnya dan mengeluarkan selembar cek dari sana, setelah itu dia memberikan cek itu pada suster Maria.
"Mulai sekarang aku yang akan memberikan donasi, anggap ini untuk menebus semua kesalahan yang aku perbuat pada anak-anak yang ada disini."
"Oh tuan Abraham, terima kasih banyak." suster Maria bangkit berdiri dan mengambil cek yang diberikan oleh Abraham.
"Aku doakan semoga real estate yang kau bangun sukses tuan Abraham."
"Terima kasih suster."
Setelah selesai dengan urusan mereka dipanti asuhan itu, Silvia dan Abraham segera berpamitan pada anak-anak panti dan para suster yang ada disana, yang Pastinya mereka akan datang lagi mengunjungi mereka dan para anak panti melepas kepergian mereka dengan ceria.
Berkat anak pantilah mereka bertemu, dua orang asing berbeda negara menjadi satu. Selama diperjalanan, Abraham memeluki Silvia yang sedang menggendong William dengan erat.
Dari wajahnya terpancar kebahagiaan begitu juga dengan Silvia, walaupun waktu menikah terasa berat baginya meninggalkan keluarganya di Amerika tapi sekarang, disinilah dia berada,di Sydney bersama dengan suami dan anaknya.
Dan yang pastinya dia akan selalu berada disana untuk seumur hidupnya bersama dengan keluarga kecilnya.
Mereka pergi menjemput ibu Abraham terlebih dahulu barulah mereka menuju kerumah mendiang nenek Silvia dimana keluarga Silvia sudah menunggu mereka.
Saat sudah tiba dirumah neneknya, wajah Silvia semakin memancarkan kebahagiaan karena keluarganya ada disana.
Walaupun keluarganya hanya mengunjunginya untuk sebentar tapi dia bahagia bisa bertemu dengan ibu dan ayahnya juga dengan kakak dan keluarganya.
Saat melihat kedatangan Silvia,Dave tampak senang, keluarga majikannya sudah berkumpul sekarang.
Xia Yu dan Michael sangat senang melihat putri dan menantu juga besan mereka yang sudah datang, mereka semakin senang saat melihat cucu mereka yang ada didalam gendongan putri mereka.
Kini keluarga mereka bertambah dan semua yang ada disana tampak begitu bahagia karena mereka bisa berkumpul, waktu seperti itu adalah waktu yang paling berharga, karena keluarga sangat berarti dari pada apapun juga.
END
#TERIMA KASIH UNTUK PARA PEMBACA
#TERIMA KASIH ATAS LIKE, COMENT, VOTE DAN KOIN YANG DIBERIKAN
__ADS_1
#SEMOGA CERITA INI MENGHIBUR
#TERIMA KASIH😘😘😘