
Abraham semakin mendekatkan wajahnya sedangkan Silvia semakin salah tingkah, apa yang mau dilakukan oleh Abraham?
Apa Abraham mau menciumnya?tapi bukankah Abraham tidak memiliki perasaan padanya?
Dia tidak mau hal ini terjadi apalagi hanya karena mereka berdua terbawa oleh suasana, ditambah lagi mereka berdua tidak memiliki perasan satu sama lain.
Sebaiknya dia segera mengalihkan perhatian mereka berdua sebelum mereka berdua semakin terbawa oleh suasana yang ada.
Silvia memalingkan wajahnya dan mendorong tubuh Abraham, dia juga berkata:
"Hmm...pancinya, bagaimana dengan pancinya?"
Abraham tersadar dan berdehem pelan, apa yang sedang ingin dia lakukan?
Dia segera melepaskan pelukannya dan memutar langkahnya, dia juga mengusap wajahnya dengan kasar dan merasa frustasi.
Kenapa dia ingin menciumi Silvia? Kenapa? Apa dia hanya terbawa suasana atau jangan-jangan!
Silvia berdiri disampingnya dan membuka pintu lemari yang ada diatas sana sambil berjinjit.
Dia sedang mencari panci didalam sana dan menurunkan satu persatu panci yang dia temukan.
"Ck kenapa sih kau membuat lemari begitu tinggi!" gerutunya kesal.
Abraham melihat Silvia yang tampak sedang bersusah payah mencari panci diatas sana, dia merasa lemari itu tidak tinggi tapi untuk ukuran seorang perempuan mungkin memang terasa tinggi.
"Yah aku memang berencana mencari seorang istri yang tinggi tapi ternyata aku malah mendapat calon istri yang pendek." godanya.
"Ck, aku tidak pendek!" gerutu Silvia kesal.
"Hei akukan bilang calon istriku, memangnya kau merasa sebagai calon istriku?"
"Hah?" Wajah Silvia tampak memerah karena malu, Sialan!
"Uh, kau menyebalkan! Cepat ambil pancinya kalau tidak aku tidak bisa membuat apapun."
"Aku akan ambilkan tapi jawab dulu pertanyaanku?"
"Apa?"
Abraham memegangi tangan Silvia dan menarik Silvia hingga masuk kedalam pelukannya, Silvia sangat heran, mau apa lagi?
"Jawab aku baik-baik, kenapa kau merasa aku sedang mengataimu pendek? Apa kau merasa bahwa kau calon istriku hmm...maksudku apa kau mau menjadi calon istriku?" tanyanya dengan senyum menawan diwajahnya.
"Ck Abraham, aku hanya salah paham dan jangan bercanda disaat seperti ini! Jangan melontarkan pertanyaan yang bisa membuat seseorang salah paham apalagi kita tidak memiliki perasaan satu sama lain!aku bukan orang gampangan jadi sebaiknya jangan menggodaku bahkan melemparkan lelucon yang tidak lucu seperti ini!"
Silvia mendorong tubuh Abraham dan melepaskan dirinya dari pelukan Abraham, dia juga menyambar sebuah panci yang dia ambil tadi dan berjalan melewati Abraham begitu saja.
Walaupun dia memiliki perasaan terhadap seseorang tapi dia juga tidak akan mudah dilamar seperti itu!
__ADS_1
Apalagi oleh Abraham Achilles,dia yakin pria itu hanya ingin menggodanya dan mempermalukan dirinya saja saat ini.
Abraham melihat punggung Silvia dengan perasaan tidak menentu, entah apa yang dia rasakan saat ini dan dia sendiri tidak tahu.
Dia memang hanya ingin menggoda Silvia dengan pertanyaan yang dilontarkannya tapi entah kenapa dia merasa kecewa saat mendengar jawaban dari Silvia.
"Maafkan aku, aku hanya menggodamu saja." ucapnya.
Silvia memutar tubuhnya dan tersenyum dengan manis, seperti tebakannya, Abraham hanya ingin menggodanya.
"Sudahlah lupakan, aku tahu kau hanya ingin menggodaku. Tapi jika kau serius juga tidak apa-apa, mungkin aku akan mempertimbangkanmu tapi dengan sebuah syarat, kau harus memberikan seluruh lahan panti itu padaku!" ujar Silvia sambil mengedipkan sebelah matanya.
Abraham tampak tersenyum dan mengangkat satu alisnya, sungguh hanya Silvia saja yang berani melawannya dan hal itu membuatnya semakin penasaran.
"Kau menggodaku sekarang?"
"Yes, aku memang menggodamu model celana dalam jadi sebaiknya kau keluar karena dapur bukan tempat yang cocok untuk seorang Mysophobia sepertimu!"
"Sudah berapa kali aku katakan! Jangan memanggilku model celana dalam!"
"Tidak akan karena aku merasa kau sangat cocok menjadi model celana dalam dan aku suka!"
"Jadi diam-diam kau menyukaiku, eh?"
"Aku tidak bilang menyukaimu, aku bilang aku suka memanggilmu model celana dalam jadi jangan salah paham dan keluar sana!"
Abraham terkekeh dan kembali berkata:
"Jangan dipikirkan, aku bisa memakai yang lain."
Silvia segera mendorong tubuh Abraham untuk keluar dari sana, dia harus segera membuat makanan supaya dia bisa cepat pulang.
Setelah Abraham keluar dari dapur, Silvia mulai sibuk mengolah bahan makanan untuk dijadikan sebagai hidangan lezat.
Monica kembali kedalam dapur untuk membantu Silvia setelah berbicara dengan ibu Jenny,mereka berbicara cukup lama karena ibu Jenny tidak terima putrinya hanya dijadikan seorang cleaning service saja dikantor Abraham.
Itu posisi yang sangat memalukan untuk seorang lulusan universitas nomor 2 di Inggris.
Tapi Monica tidak perduli,dia mengatakan jika memang Jenny tidak mau Jenny bisa berhenti dan tidak perlu bekerja lagi dikantor putranya.
Hal itu membuat ibu Jenny sebal tapi Monica juga tidak perduli karena yang dia inginkan saat ini adalah Silvia, dia berharap Silvia mempunyai perasaan pada putranya begitu juga dengan Abraham, dia juga berharap putranya segera memiliki perasaan pada Silvia sebelum Silvia pergi.
Hampir satu jam Silvia dan Monica berada didalam dapur untuk membuat makanan, beberapa hidangan makananpun sudah jadi dan terhidang diatas meja.
Silvia segera mencuci tangannya setelah itu dia berjalan keluar untuk mencari Abraham, diluar sana tampak Abraham sedang berbicara dengan seseorang melalui ponselnya.
Dia menyentuh lengan Abraham dan mengatakan jika sudah waktunya makan dengan bahasa isyarat.
Abraham mengangguk dan mematikan ponselnya, dia juga merangkul pundak Silvia dan mereka berjalan memasuki dapur bersama-sama.
__ADS_1
Saat melihatnya Monica begitu senang, dia sangat senang melihat kedua anak muda itu sudah ada sedikit kemajuan dan dia berharap dalam hati jika mereka berdua bisa berjodoh.
Mereka makan seperti sebuah keluarga kecil yang harmonis, sesekali mereka juga tampak bercanda dan tertawa.
Tak henti-hentinya Monica memuji masakan yang dibuat oleh Silvia, begitu juga dengan Abraham, dia tidak menyangka jika Silvia bisa membuat makanan yang enak.
Sekarang dia merasa sedikit menyesal, seharusnya dia tidak membuang makanan yang diberikan oleh Silvia waktu itu.
Setelah selesai makam, Silvia pamit pulang pada ibu Abraham, waktu sudah menunjukan pukul delapan malam dan dia sudah harus pulang.
Tentu saja Abraham mengantarnya pulang hingga tiba didepan rumahnya, sebelum Silvia turun dari mobilnya, Abraham mengusap kepada Silvia dengan lembut dan berkata:
"Segeralah beristirahat ini sudah malam."
"Terima kasih, berhati-hatilah dijalan."
Abraham mengangguk dan melepaskan tangannya, saat Silvia keluar dari mobilnya dia juga ikut keluar.
"Silvia."
"Ya."
Silvia memutar langkahnya dan melihat kearah Abraham. Apa ada yang tertinggal?
"Jangan lupa mainan untuk anak-anakmu.
"Oh my God, aku lupa."
Abraham membuka bagasi mobilnya dan mengeluarkan mainan dari sana, setelah itu dia menutup pintu bagasi itu kembali dan menghampiri Silvia.
"Boleh besok aku bertemu dengan mereka?" tanyanya sambil memberikan mainan yang dia bawa kepada Silvia.
"Bertemu dengan siapa?"
"Tentu saja bertemu dengan anak-anakmu!"
"Oh itu, eng?" Silvia jadi serba salah, anak dari mana? Diakan hanya berbohong saja.
"Aku akan datang besok malam, segeralah masuk dan segeralah beristirahat."
"Ng ya, terima kasih."
"Good night."
Abraham menciumi dahi Silvia setelah itu dia segera melangkah pergi masuk kedalam mobilnya dengan senyum diwajahnya, dia segera membawa mobilnya untuk pulang.
Silvia masih berdiri disana, melihat mobil Abraham sampai menghilang dari pandangannya sedangkan tangannya menyentuh dahinya.
"Good night model celana dalam." ujarnya sambil tersenyum.
__ADS_1
Dia segera masuk kedalam dan entah kenapa dia merasa senang.