
Waktu terus berlalu dan perut Silvia sudah membesar, siang itu Silvia sedang merapikan pakaiannya dan memasukkannya kedalam lemari.
Sambil memegangi perutnya Silvia berjalan kearah lemari pakaian, entah kenapa perutnya terasa nyeri dan terkadang dia merasa mulas.
Setelah memasukkan pakaiannya kedalam lemari Silvia berjalan kearah ranjang, dia duduk disisi ranjang sambil mengelus perutnya yang semakin terasa mulas.
Oh mungkin dia harus kekamar mandi, dia bangkit berdiri tapi lagi-lagi rasa mulas dan nyeri kembali terasa.
Baiklah, ini bukan mulas biasa lagi, lebih baik dia mencari ibu mertuanya diluar sana karena dia punya firasat lain.
Dia segera mengambil ponselnya dan mengirimkan pesan untuk suaminya, semoga Abraham membaca pesan yang dia kirimkan.
"Abraham, jika kau membaca pesanku ini maka cepatlah kembali, sepertinya aku hendak melahirkan." setelah menuliskan pesan itu Silvia segera mengirimkannya untuk suaminya. Dia berharap saat Abraham menyelesaikan rapatnya suaminya bisa langsung membaca pesan yang dia kirimkan karena dia berharap Abraham bisa menemaninya saat dia melahirkan anak mereka nanti.
Sambil memegangi perutnya, Silvia bangkit berdiri dan berjalan keluar dari kamarnya, walaupun perutnya semakin sakit tapi dia berusaha bertahan untuk keluar dari kamarnya.
"Mom." panggilnya saat sudah tiba diluar sana.
Tapi ibu mertuanya tidak ada, kemana perginya?
Saat ini ibu mertuanya memang tinggal dengan Mereka, alasannya supaya Silvia punya teman saat Abraham pergi bekerja. Tidak mungkin bukan Abraham harus menemani istrinya setiap hari tanpa pergi kekantor?
Seperti hari ini, Abraham harus pergi kekantor karena ada rapat dan Silvia tidak mempermasalahkan hal itu karena perkerjaan itu penting.
Silvia berjalan kearah ruang keluarga untuk mencari ibu mertuanya, biasanya ibunya ada disana untuk menikmati teh dan cemilan.
"Mom." panggilnya lagi tapi ibu mertuanya tidak ada disana.
Oh kemana ibu mertuanya pergi? Perutnya semakin mulas dan dia berusaha menahan rasa mulas itu.
"Nyonya, apa kau baik-baik saja?" seorang pelayan datang menghampirinya.
"Oh kebetulan, kemana mommy?"
"Nyonya besar sedang dikamarnya untuk tidur siang."
Silvia mulai meringis dan memegangi perutnya yang semakin terasa sakit sedangkan pelayannya mulai tampak panik.
"Nyonya apa kau mau melahirkan?"
"Sepertinya, jadi tolong bangunkan mommy, aku takut aku sudah tidak bisa menahannya." pintanya.
"Baik nyonya." pelayan itu segera berlari masuk kedalam kamar Monica, dia segera memanggil majikannya yang sedang tidur.
Saat mendengar hal itu Monica segera bangun dari tidurnya dan berjalan keluar dari kamarnya, diluar sana tampak Silvia sedang menunggunya dan berusaha menahan rasa sakit yang semakin terasa diperutnya.
"Mom."
"Oh ya Tuhan, Silvia. Ayo cepat."
__ADS_1
Monica segera membawa menantunya kerumah sakit, dia berharap mereka masih punya waktu dan berharap Silvia tidak melahirkan selama diperjalanan.
"Silvia apa kau sudah memberi tahu Abraham?" tanya ibu mertuanya.
"Sudah mom, aku sudah mengirimkan pesan untuknya."
"Aku harap dia bisa cepat kembali untuk menemanimu, nanti aku akan menghubunginya lagi saat kita sudah tiba dirumah sakit."
Silvia mengangguk dan memegangi perutnya kembali, dia juga berharap Abraham bisa menemaninya.
Sedangkan pada saat itu Abraham baru keluar dari ruangan rapat, selama rapat perasaannya sangat tidak bagus dan entah mengapa dia merasa gelisah sedari tadi.
Dia merasa ingin pulang untuk melihat keadaan istrinya, jujur selama kandungan Silvia sudah mencapai waktunya dia mulai merasa khawatir meninggalkan Sivia dirumah, walaupun ada ibunya dirumah tetap saja dia merasa khawatir.
Saat sudah kembali keruangannya Abraham segera mengambil ponsel yang dia tinggalkan disana.
Saat melihat pesan dari istrinya dia segera membaca pesan yang dikirimkan oleh Silvia, matanya terbelalak kaget dan dia langsung tampak senang.
Tanpa menunggu lagi Abraham segera berlari keluar dari ruangannya dan menghubungi ponsel istrinya.
"Abraham, cepatlah kau datang." terdengar suara ibunya dari seberang sana.
"Mommy, dimana Silvia?"
"Kami sudah dirumah sakit sayang dan istrimu sudah dibawa kedalam ruangan bersalin, jika kau ingin menemaninya maka cepatlah datang."
Setelah mendapatkan alamat rumah sakit dari ibunya Abraham mematikan ponselnya dan berkata dalam hati.
"Silvia sayang, semoga kau bisa menunggu kedatanganku."
Tidak mau membuang waktu, dia bahkan berlari keluar dari kantornya dan memerintahkan supir pribadinya untuk segera menuju rumah sakit dimana istrinya akan melahirkan anak mereka.
Setelah memakan waktu kurang lebih satu jam perjalanan akhirnya dia tiba, dia bahkan berlari untuk menemui ibu dan istrinya.
Abraham tampak senang saat Melihat ibunya sedang menunggu didepan ruang bersalin.
"Mom, bagaimana keadaan Silvia? Apa dia sudah melahirkan?" tanyanya dengan tidak sabar.
"Belum, kau masuklah kedalam sayang untuk menemaninya."
"Baik mom."
Abraham segera masuk kedalam sana dan langsung tersenyum saat melihat istrinya.
"Hai sayang bagaimana keadaanmu?"
"Oh Abraham, akhirnya kau datang."
"Bagaimana denganmu sayang?" Abraham mendekati Silvia dan menciumi dahinya dengan lembut.
__ADS_1
"Seperti yang kau lihat."
"Apa sakit?"
"Kau ingin menggantikan aku?"
"Jika aku bisa aku pasti akan menggantikanmu sayang."
"Terima kasih,tapi ini memang tugasku. Terima kasih kau sudah mau datang untuk menemaniku."
"Apa yang kau katakan, aku sangat senang aku diberi kesempatan untuk menemanimu untuk melahirkan anak kita."
Abraham kembali menciumi dahi Silvia dan pada saat itu Silvia kembali merasakan sakit yang luar biasa diperutnya, air bercampur darah mengalir dikakinya dan sepertinya ini sudah waktu untuknya melahirkan buah hati mereka.
Dokter dan para suster yang akan menanganinya mulai bersiap-siap sedangkan Abraham mulai tampak panik, dia tidak tega melihat wajah Silvia yang kesakitan.
Pasti itu sangat sulit dan sangat sakit tapi dia hanya bisa menemani istrinya, menggenggam tangannya dan memberikan semangat untuknya.
Silvia berjuang dengan sekuat tenaga untuk melahirkan anak pertama mereka, sungguh itu sangat sakit tapi dia akan berusaha apalagi suaminya ada disampingnya dan memberikan semangat untuknya.
Abraham menyeka keringat yang mengalir dari dahinya sesekali dan membisikkan cinta ditelinganya, seandainya bisa dia sangat ingin menggantikan posisi istrinya.
"Ayo sayang, kau pasti bisa." bisiknya.
Silvia kembali berjuang dan pada saat itu perjuangannya tidak sia-sia, anaknya lahir dan dia tampak lega.
Silvia mengatur nafasnya dan tampak lemas, tapi dari wajahnya terpancar kebahagian yang teramat sangat.
Tidak lama kemudian terdengar suara tangisan bayi dan dia langsung tersenyum penuh kebahagiaan begitu juga dengan Abraham, dia juga tampak begitu senang saat melihat anak mereka sedang dibersihkan.
"Terima kasih sayang, i love you." bisiknya lagi ditelinga Silvia.
Setelah selesai Silvia tampak bersandar diujung ranjang dan seorang perawat mengantarkan bayi mereka yang telah dibersihkan dan terbungkus kain lampin.
"Selamat nyonya, tuan. Bayi kalian sangat tampan."
Silvia mengambil bayinya dan menciumi pipinya putranya dengan lembut.
"Welcome William sayang." bisiknya.
"Hei siapa namanya?"
"William, kau tidak suka?"
"William nama yang bagus." ujar Abraham sambil melihat wajah putranya.
Dia juga menciumi pipi putranya dan pada saat itu Monica masuk kedalam sana, dia tampak lega saat melihat menantu dan cucunya baik-baik saja.
Monica segera mendekati putra dan menantunya, wajahnya tampak bahagia saat melihat William kecil begitu juga dengan Silvia dan Abraham, mereka juga tampak bahagia karena William telah melengkapi kehidupan mereka.
__ADS_1