
"Hei apa pria itu yang datang semalam mencari Silvia?" tanya Xiau Yu pada Samantha dengan pelan.
"Benar mom, pria itu yang datang dan aku dengar barusan Jhon mengatakan jika dia mau melamar Silvia." jawab Samantha pula.
"Wow, pria itu sungguh berani!"
"Benar, dia sungguh berani mau menikah dengan Silvia."
"Mungkin dia pria gila yang dijerat oleh Silvia sewaktu di Australia."
"Mommy benar, semoga dia tidak menyesal memilih Silvia."
"Hanya orang bodoh yang mau dengannya."
"Mom..stts..nanti didengar!"
Xiau Yu dan Samantha sedang berdiri dibelakang tembok sambil mengintip untuk melihat Silvia dan Abraham, mereka malakukan hal itu karena penasaran.
Silvia mengepalkan kedua tangannya karena kesal, apa-apaan sih ibu dan kakak iparnya? Bergosip dibelakangnya, walaupun samar-samar tapi dia bisa mendengarnya.
Sepertinya mereka tidak akan bisa berbicara dengan nyaman disana karena ada keluarganya, lebih baik dia membawa Abraham pergi saja supaya mereka bisa berbicara dengan nyaman.
Dia segera bangkit berdiri dan memijit pelipisnya, ini sangat menyebalkan!
"Abraham, tunggu sebentar.kita berbicara ditempat lain saja."
"Oke baiklah, jika itu maumu."
Sebelum melangkah pergi Silvia melemparkan senyumannya kepada Abraham, setelah itu dia melangkah pergi dan menghampiri ibu dan kakak iparnya.
"Hei, kalian sudah selesai berbicara? Bagaimana?" tanya ibunya penasaran.
"Mom, kakak ipar, please!bagaimana kami bisa berbicara sedangkan kalian mengintip menggosipkan aku disini!" ucapnya kesal.
"Abaikan saja kami Silvia, kami hanya penasaran pria bodoh mana yang mau denganmu!" bisik Samantha dengan pelan.
"Kakak ipar kau!!" Silvia tampak kesal.
"Semoga pria itu cepat sadar dari kebodohannya."
"Astaga kakak ipar!!"
Samantha langsung melarikan diri saat melihat Silvia semakin kesal sedangkan Silvia langsung mengejarnya, awas saja!
"Kakak ipar, awas kau!"
"Jhon, Silvia sedang jatuh cinta!" teriak Samantha sambil melarikan diri masuk kedalam kamarnya.
"Kakak ipar, kau benar-benar!"
Dengan cepat Silvia mengejar kakak iparnya dan menangkapnya dari belakang, Samantha hanya tertawa karena telah menggoda adik iparnya.
"Hei kenapa kau biarkan saja pacarmu sendirian diluar?"
"Biarkan saja dia menunggu!"
"Betulkan aku bilang, hanya pria bodoh yang mau denganmu!"
"Ih kakak ipar menyebalkan!" gerutu Silvia kesal.
Dia segera melepaskan kakak iparnya dan duduk disisi ranjang sedangkan Samantha menghampiri Silvia dan duduk disampingnya.
"Hei, jangan kau abaikan dia, sana temani diluar."
"Ck,kakak ipar aku ingin mengajaknya pergi supaya kami bisa berbicara tanpa kalian dengar!"
__ADS_1
"Kenapa harus mengajaknya pergi, ajak saja dia berbicara didalam kamarmu!"
"Tapi kak?"
"Sudah sana, lagi pula ada kami semua mana mungkin dia berani melakukan sesuatu padamu didalam kamar."
"Apa daddy dan kakak tidak akan marah?"
"Astaga mereka pasti mengerti, memangnya mereka tidak pernah pacaran!"
"Yah aku hanya tidak mau daddy dan kakak marah saja."
"Sudah sana, bicarakan semua kesalahan pahaman diantara kalian didalam kamarmu, jangan membuatnya menunggu terlalu lama diluar sana."
"Kakak tahu dari mana jika dia salah paham?"
"Ck, dari kakakmu jadi sana pergi!"
"Baiklah,terima kasih atas nasehat kakak ipar."
Silvia bangkit berdiri dan segera keluar dari kamar kakaknya, dia berjalan kembali keruang tamu sedangkan disana Abraham sedang berbicara dengan keluarganya.
Silvia mendekati Abraham dan berdiri disampingnya sambil berkata:
"Hm..ayo ikut denganku?"
"Apa kau sudah siap?"
"Tidak, kita bicarakan dikamarku saja."
"Eh tapi?" Abraham tampak ragu, apa tidak apa-apa?
"Tidak apa-apa, ayo!" Silvia meraih tangan Abraham dan menariknya sedangkan Abraham melihat keluarga Silvia dengan tidak enak hati.
"Pergilah selesaikan permasalah diantara kalian berdua." ujar Xiau Yu.
Abraham bangkit berdiri dan mengikuti langkah Silvia menuju kesebuah kamar, mareka berdua masuk kedalam kamar itu dan Silvia langsung mengunci pintu kamarnya.
Abraham langsung memeluk Silvia dari belakang karena dia sangat merindukan Silvia.
"Hei jangan memelukku!"
"Aku sangat merindukanmu, kau tahu?"
"Tapi aku tidak!"
"Benarkah?"
"Ya, jadi katakan padaku apa yang ingin kau bicarakan sampai kau jauh-jauh datang dari Australia kemari untuk menemuiku!"
"Aku ingin minta maaf padamu."
Silvia memegangi lengan Abraham sedangkan senyum menghiasi wajahnya.
"Minta maaf untuk apa?" tanyanya pura-pura.
"Aku mau minta maaf padamu atas ucapan Nick, apa yang dia katakan itu tidak benar! Aku mendekatimu bukan karena ingin mengalahkanmu atau membuatmu menyerah mengenai lahan panti itu, tidak!"
"Jadi?" Silvia memutar tubuhnya dan menatap Abraham sedangkan senyumnya semakin mengembang diwajahnya.
"Aku mendekatimu karena aku menyukaimu Silvia."
Silvia terbelalak kaget, apa Abraham sadar dengan apa yang dia katakan saat ini?
"Jangan bercanda Abraham, kita belum kenal lama bahkan tidak begitu dekat. Bagaimana mungkin kau bisa menyukaiku dalam waktu yang sangat singkat."
__ADS_1
Abraham menarik Silvia hingga masuk kedalam pelukannya, dia memeluk Silvia dengan erat bahkan tangannya mengusap punggung Silvia dengan lembut.
"Apa cinta datang perlu alasan? Apa kau tidak mengenal Cinta pada pandangan pertama?"
"Jadi kau sudah jatuh cinta padaku saat kita bertemu?"goda Silvia.
"Tidak! Daat itu aku kesal denganmu!"
Silvia tertawa pelan, dia jadi teringat pertemuan mereka saat dibandara dimana Abraham membuka pakaiannya.
"Jadi kapan kau mulai jatuh cinta padaku?"
"Entahlah."
Abraham melepaskan pelukannya dan menatap Silvia dengan lekat, tangannya mulai menyelusuri wajah Silvia sedangkan senyum mengembang diwajahnya.
"Jadi kau mau memaafkan aku bukan? Kau tidak marah padaku lagi karena ucapan Nick?"
"Sudahlah lupakan, lagi pula perkataan itu bukan kau yang mengucapkannya jadi aku akan memaafkanmu."
"Oh akhirnya kau mau mendengarkan penjelasanku dan mau memaafkan aku." Abraham tampak begitu senang, akhirnya kesalahan pahaman diantara mereka telah selesai.
Sekarang tinggal mengutarakan niatnya ingin melamar Silvia tapi pada saat itu Silvia melingkarkan tangannya dileher Abraham dan berkata:
"Aku juga minta maaf karena tidak mau mendengarkan penjelasanmu dan tidak mau menemuimu, maafkan aku."
"Sudahlah itu bukan salahmu, semua kesalahanku dan kau tidak perlu meminta maaf."
Silvia tersenyum dan mendekatkan bibirnya dan berisik:
"Maaf."
Silvia langsung menciumi bibir Abraham begitu juga dengan Abraham, dia menyambut bibir Silvia dan me**matnya dengan lembut.
Setelah beberapa saat, mereka melepaskan bibir mereka dan saling menatap satu sama lain.
"I love you Silvia."
"Hmm." jawab Silvia singkat.
"Kau!!" Abraham langsung membungkam bibir Silvia, apanya yang hmm? Jawaban Macam apa itu?
Silvia mendorong bahu Abraham karena hampir kehabisan nafas, apa Abraham ingin membunuhnya?
Abraham melepaskan bibir Silvia dan mereka berdua tampak terengah-engah sedangkan Silvia tampak kesal.
"Kau ingin aku mati ya?"
"Tidak tapi aku ingin melamarmu, maukah kau menikah denganku Silvia?"
"Tidak!" jawab Silvia tanpa basa basi.
"Hei apa?" Abraham tambah shock.
Silvia kembali mengalungkan kedua tangannya keleher Abraham dan berkata:
"Aku tidak mau dilamar tanpa sebuah cincin jadi lamar aku dengan baik maka aku akan menerimanya."
"Oh Tuhan!" Abraham tampak kesal, padahal dia pikir Silvia menolak lamaran tapi ternyata?
Dia segera memegangi dagu Silvia dan berkata:
"Bersiaplah karena aku akan menyiapkan sebuah cincin dan melamarmu dan pada saat itu kau tidak boleh menolak."
"Aku tunggu."
__ADS_1
Mereka kembali berciuman dengan mesra dan tentunya setelah ini Abraham harus mulai menyiapkan rencana untuk melamar Silvia kembali.